RELASI ANTARA AGAMA DAN NEGARA
https://www.youtube.com/watch?v=H2SHvfYIibg
Dari aspek sejarah Gereja, Konsili Nicea yang diadakan pada tahun 325 M merupakan suatu event sejarah di mana ada kerja sama antara agama (Kristen) dengan negara (Romawi). Pada abad ke 4 M, Gereja Kristen mengalami masalah, terutama ada keberagaman cara pandang terhadap konsep Trinitas (Satu Allah tapi terdiri dari 3 pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus).
Hingga abad ke 4 M ada keberagaam agama, tradisi dan budaya. Konstantinus, selalu pemimpin, Kaisar Ramawi, demi mudahnya pemerinathannya, maka dia mau menyamakan konsep .
Konstantinus konsep agama Kristen. Dalam kekristenan , Yesus adalah Raja.
Dalam rangka kelanggengan dan dan kentinuitas serta kestabilan kekuasaannya , maka dia menganut agama Kristen. Maka diapun memerinathkan rakyatnya untuk menganut agama Kristen. Akhirnya agama Kristen menjadi agama Negara. Sementara, dalam kalangan internal agama Kristen , ada perbdaan konsep relasi Allah Bapa dan putra dalam kerangka Trinitas. Atanasius dari Alexandria (?) berepndapat bahwa Yesus Kristus sederajat dengan Bapa yakni sama-sama sebagai Allah. Menurut Arius dari...., berpendapat kodrat keilahian Yeus lebih rendah dari Allah Bapa.
Karena perbedaan konsep tentang relasi Yesus dan Bapa dalam kerangka Trinitas ini, Kaisar Konstantinus bengumpulkan para Uskup untuk mendiskusikan hal ini. Uskup yang hadir saat itu Ada 318 (?) . Kaisar memfasilitasi biaya Konsili. Konsili doadakan di Nicea pada tahun 325. Pada kesempatan itu konsili menolak pemikiran Arius yang mengatakan Yesus lebih rendah kodratnya dari Allah Bapa. Konsili memutus Yesus Kristus sederajat dengan Bapa, yakni sama-sama sebagai Allah.
Menurut Pdt. Dr. Eben. I. Nubantimo, Konsili Nicea tidak lepas dari pengaruh politik. Saat itu Kaisar Konstantinus memfasilitasi konsili dan biaya perjalanan Para Uskup yang ikut Konsili. Kaiser Konstantinus memanfaatkan agama (Kristen) sebagai kendaraan politik. Dia menganut aga,ma Kristen. Dia menjadi agama Kristen sebagai moden untuk kekuasaannya. Dia menuntut agar semua daerah menenima dia seagai Raja/ Kaiser sebagaimana Yesus sebagai Kepala Gereja.
Mgr. Paul Budi Kleden, SVD.
Doxologi: Madah pujian?
Pertayaan.
NB: Anathema: Suatu pemikiran yang dibenci karena berbeda dengan apa yang diyakini.
1. Pater Atanasius: Otoritas merupakan unsur penting dalam menafsir Kitab Suci.? Siapakah otoritras itu menurut masing-masing aliran Gereje (Protestan - GMIT, ...Katolkik)?
1. Pdt. Dr. E. I. Nubantimo (Dosen Progdi Ilmu Pendidikan Teologi) FKIP UKAW "Warisan Konstruktif Konsili Nicea bagi Protestanisme di Abad ini"
Soal Otoritas , ada beda pandangan anatara Katolik ,Protestan dan juga Gererja beraliran Pentekosta.. Untuk Katolik ada yang namanya Magisterium, kuasa mengajar Gereja, saya tidak bermpeten untuk menjawab, nanti Mgr. Paul Budi yang menjawab. , Dalam Gereja Protetan yang menganuut prinsip Presbiteral sinodal dalam mana mengakui atau meyakini bahwa Yesus Kristus adalah pemegang otoritas tertinggi dalam kehidupan menggereja , terutama dalam hal hidup moral dan pengajaranNya. Yesus Kristus yang adalah kepala Gereja itu mendelegasikan separuh otoritasnya itu kepada anggota Gereja, dalam hal ini anggota baptis dan anggota sidi . Selanjutnya anggota baptis dan anggota Sidi menetapkan atau memilih antara mereka satu atau 2 orang untuk menjalankan fungsi kepemimpinan dan pengajaran. yang kemudiaan disebut Majelis Jemaat . Majelis Jemaat ini terdiri dari pejabat - pejabat pendeta, dalam konteks GMIT: - penatua, diaken dan pengajar. Jadi, yang mmiliki otoritas itu ada 2 yang secara kelihatan dalam Gereja, yaitu Majelis Jemaat dan Warga Jemaat. Makanya tadii saya bilang, Teolog- Teolog itu harus diberi kebebasan untuk bereksplorasi, kemudian menginterpretasi dan melahirkan pengajaran-pengajaran baru . Percuma sorang belajar Teologi 10 tahun, 15 tahun tapi pulang hanya omong itu-itu saja seperti yang diterima di sekolah minggu. Tetapi pada sisi lain, Teolog-Teolog itu terikat dalam komuunitas jemaat akan apa yang diimani karena dalam pandangan Protestan, hanya dogma saja yang boleh tidur di dakam Gereja . Dalam Gereja itu bukan hany ada Majelis Jemaat, bukan hanya pejabat, tetapi juga ada warga jemaat, warga sidi, . Mereka yang duduk di bangku, memiliki penghayatan juga akan Tuhan. Maka otoritas itu bersifat dialektis antara 2 kutub itu Majelis Jemaat dan Warga jemaat. Kaerna itu ruang-ruang yang diciptakan Konsili untuk negosiasi , pengajaran sampai pada permufakatan bersama menjadi ruang yang baik begitu yang perlu dolakukan terus menerus sepanjang Gereja masih adasebagai gerja yang di bumi. . Dalam rangka itu yang tadi saya bilang , hal destruktif dari konsili yaitu dalam hal weweang disiplin Gereja dalam hal pengajaran , yaitu konsili tidak menerapkan prinsip pastoral seperti yang diseburkan dalam Matius 18: tetapi dia mengadopsi kekuasaan, terkooptasi dengn kekuasaan dan anatema, mengutuk . Padahal itu mestinya menjadi pengalaman bersama, mencari . Kalau ada yang melakukan pengajaran yang menyimpang yari yang ortodoks (asli) maka mari kita bicara terus menerus . Dan yang yang herannya saya bilang , ada konsili-konsili sebelumnya atau sesudahnya yang tidak sampai mengutuk .Tetapi di sini (Konsili) Arius dikutuk, . Jadi itu noda hitam dalam warisan Konsili. Itu hal yang pertama. Hal yang kedua yang ingin saya sampaikan adalah , pertanyaan yang berkaitan dengan pluralitas , itu yang berhubungan dengan warisan meciptakan batas-batas Teologi bagi dinamika Teologi padah konteks sosial kita berbeda. Yang itu disebur ruang sinode dan ruang konsili, itu yang berkaitan dengan pengajaran, yang berkaitan dengan mati hidupnya Gereja dalam pengakuan. Itu dibicarakan di situ. Dalam ruang -ruang itu bukan hanya para pejabat., tetapi juga ada warga awam. atau anggota jemaaat biasa. Tadi Monsinyur Budi bilang ada perempuan di dalamnya . Konsili yang terakhir itu sampai ada ratusan . Itu ruanbg yang cukup baik untuk dilakukan . Lalu dalam hubungan dengan itu kita harus menempatkan , mengatur batasan-batasan apa sejati rumusan Teologi atau ajaran keenaran bisa doakomodir untuk menjadi pegangan bersama. Nah Kalau saya belajar dari Seknap (?) yang menulis Doing Kontekstual (?), Saya menyarikan di situ 4 kriteria yang saya sebut kriteria Teologi . yaitu, 1). Kita hidup sebagai manusia di hadapan Allah, membaktikan hidup kita demi kemuliaan namanya, masing-masing dengan latar belakang dan budayanya, 2). Kriteria eris yaitu, cara-cara atau bentuk bentuk devosi yang kita hasilkan itu memampukan kita membedakan yang baik dan yang buruk . 3) Kriteria Estetis , yaitu memberikan harapan atau memciptakan alternatif bagi kehidupan yang lebih bermartabat . 4) Kriteria pastoral , yaitu mengeksplorasi potensi-potensi yang kita miliki untuk ..atau Daniel Adams menyebut 3 kriteria juga tetapi berbeda. saya setuju dengan itu . Kemanusaiaan sebagai keprihatinan Teologi. Kita menyeimbangan pengajaran untuk melayani kemnusiaann, lalu pengtahuan akan Allah sebagai definsi Teologi . Pengetahuan akan Allah itu beragam. Daniel Adams, menyebut 4 Kriteria dan saja=ya setuju dengan 4 Kriteria itu yaiyu, kemanusiaan sebagai keprihatinan Teologi, . Rumusan ajaran -ajaran (dogma-digma) kita harus melayani kemanusiaan, Kemanusiaan itu berisifat universal. , tanpa pandang dia perempuan, laki-laki, diabilitas atau tidak. , dewasa tau anak-anak . Mereka adalah gambar Allah. Dan Teologi kita harus mempromosikan mnusia sebagai gambar Allah . Lalu pengetahuan akan Allah sebagai defiisi Teologi itu sangat beragam, dalam pelbagai konteks, . Tetapi keragaman itu tidak boleh mnenjadi alasan untuk menghancurkan atau menkerdirkan kemanusiaan. Lalu kemudian Gereja sebagai konteks berteologi . Apapun hebatnbya suaty rumusan teologi yang mutakhir, bertolak dari apapun filosofi tetapi dia harus ada dalam komunitas orang beriman . Orang beruman itu menjadi filter bagi rumusan -rumusan Teologi kita, dipkai atau tidak. Lalu yang ketiga ialah pencarian kebenaran . Pencarian kebenaran itu suatu proses yang berkelanjutan, maka kita tidak bisa sera merta karena perpedaan ajaran maka kita membuat anatema , kita mengutuk atau membuang orang dari kehidupan bersama . Itu kira -kita jawaban yang atas pertanyaan yang berakaitab dengan ....
Lalu ada lagi yang bertnaya soal Anaktema. Yang tulis ini dari Leo Takubesi: Saya pikir itu bukan pertanyaan tetapi himbauan supaya Gereja bertoibat. Karena suka atau tidak suka, suasana di mana Gerwja Konsili Nicea dikoptasi oleh kekuasaan. Itu juga masih mewarnai sistem pemerinatahan kita dalam Gereja-gereja, terutama dalam Gereja - Gereja Protestan , yaitu ada hirarki yang mengatakan bahwa ada orang -orang tertentu yang berhak mengawasi sahabat-sahabat atau rekan-rekannya dalam pelayanan , dan itu diawasi dengan semangat kekuasaan. Nilai-nilai pastoralnya menjadi terabaikan. Itu sangat semangat Konsili Nicea, yaitu pakai kekuasaan untuk menghukum dan menganatema.
Apalagi. Yang saya dapat kira-kira itu dulu. Kecuali kalau saya baca dulu. Nanti bisa ditambahkan kemudian. Saya mesti baca dulu. Kalau boleh pembicara kedua atau ketiga dulu. Kembali kalau ada waktu, Kembali kalau ada yang menwarkan / belum sempat disampaikan a atau direspons.
Pendeta Prof. Dr. Rachel Iwamoy (dari Maluku):
2. Pdt. Prof. Dr. Rachel Iwamony (Dosen Fakults Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku) "Prespektif Feminis terhadap Warisan Konsili Nicea bagi Keadilan Gender Masa Kini"
Sial Orititas yang memberikan menafsir KS dan atau Tradisi.
Imamat orang percaya: memahami Alkitab yang berkaitan dengan pergumulan hiduyp umat.
Ada kekebesan tetapi ada rambu-rambu yang ditetatpkan oleh masing-masing Gereja .
Konsili Nicea dari perspektif Femisme:
Siapa Allah dalam perspektif Femisnisme?
Tidak bisa dibatasi pada feminisme tertentu saja.
Renkonstruksi tentang konse Allah dan manusia.
Siapa itu Allah dan manusia menunrut faminisme?
Apa yang yang lakukan oleh manusia berkaitan dengan konsili Nicea yang merumuskan Allah sangat patriarkat? dan sangat Antriposentrisme?
Komunitas Pneumatologis Allah: - Konunitas dalam Kitabn Yoesl dan Kisah Para Rasul: Ada bersama dalam suasana haraan akan hidup yang penuh sukacita.
Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (Uskup Agung Ende/ Dosen IFTK Ledalero) "Warisan Konsili Nicea bagi Relasi Ekuminis Gereja-gereja Sedunia, Khususnya di Nus Tenggara Timur"
Iven:
Penggunaan sosial Media yang punya dampak yang luar:
Penggunaan medsos yang bertanggung jawab. Diskusi yang menguatkan iman,mempersatukan. tanpa mempersalahkan orang lain. Iman kita adalah iman yang inkarnatif , iman yang membunmi, iman yng dipraktekan dalam perbuatan baik. Kita butuh forum untuk maksud ini. Kita butuh tempat, waktu yang baik supaya ada diskusi yang membangun, salung menguatkan, . Kita tidak perlu menunjukkan iman yang kita percayai dengan mempersalahkan orang lain tetapi pendalaman iman adalah menggali kekayaan iaman sendiri. Bagaimana iman itu menyata dalam perilaku hidup. Iman kita itu iman inkarnatif. Iman itu tidak hanya melayang pada dunia kata-kata dan ide tetapi ditunjukkan pada perilaku yang kongkrit. Karena itu apa gunanya menjadi apologet apabila tidka menghayati imannya secara bertanggung jawab. Maka satya sering merasa risih kalau menggunakan medsos untuk menyerang orang lain, Gereja lain, agama lain. Saya tidak tahu apa yang menjadi intensinya. Untuk Gereja Katolik, yang paling penting adalah soal katekese, bagaomana kita mencari jalan suapaya orang memahami iman secara lebih baik, tanpa membuat orang lain menjadi sasaran kebencian, karena ungkapan-ungkapan yang tidak bertanggung jawab. Itu yang pertama.
Kedua,
Peran Maria dan perempauan dalam Gereja Katolik :
Dari perspektif Teologi sejarah , dalam konteks Gereja Katolik sudah banyak kemajuan atau perkembangan Paus Fransiskus berbicaara ytentang Petrenia dan Marian. Intensinya adalah untuk memisahkan otoritas kepemimpinan dalam Gereja dari Tahbisan, bahwa yang memimpin tidak harus orang yang tertahbis. Bahwa orang tertahbis memiliki keweangan dan otoritas tertentu ya, tetapi tidak harus dikaitkan dengan kepemimpinan. Karena itu dalam masa kepemimpinan Paus Fransiskus , ada banyak hal yang sudah dibuat , misalnya Mengundang 56 perempaun untuk mengikuti konsili yang smapai waktu itu didominasi laki-laki. Sekarang Di Vatikan sudah ada perempauan yang duduk dalam kepemimpinan untuk mengambil keputusan. Juga di Departemen-Deartemen di Vatikan sudah ada perempauan yang mengambil posisi sebagai pemimpin. Ini menunjukkan Gereja Katolik masih harus berbuat banyak untuk berkontribusi bagi hidup Gereja. Partisipasi tadi suatu hal yang sangat penting. Para perempauan diberikan tanggung jawab untuk memecahkan maslah dalam perbagai tnatangan dan persoalan dalam Gereja.
Dalam Gereja Katolki, tantangan bagi Teolog itu adalah terus mengeksplorasi kemungkisan memisahkan tanggung jawab kepemimpinan dari tahbisan . Beberapa langkah sudah diambil oleh Paus Fransiskus . Pendasaran Teologsis erus dupiyakan supaya terus berjalan . Itu sial peran Marian dan perempuan dalam Gereja Katolik. Juga dalam rangka semangat zaman, apa yang dipekajari dari Gereja lain , agama-agama lain tetapi juga dari hidup dalam masyarakat . Ini menjadi tantangan juga bagi Gereja Katolik yang konteksrual dengan membuka diri untuk menemukan kekayaan yang terdapat dalam imannya tetapi yang mungkin dalam .... tidak tercermin dalam keputusan-keputusan disipliner.
Lalu soal otoritas yang memiliki wewenang dalam menafsur Kitab Suci dan tradisi:
Dalam Gereja Katolik, Magisterium itu yang tertinggi , para Uskup yang memiliki otoritas defenitif, juga Gereja Katolik memiliki apa yang disebut sensus fidelium (rasa keberimaman umat), Ini yang harus diperhatikan, apa yang menjadi iman, tradisi umat , itu harus ditangkap, ditanggapi oleh Magisterium sehingga itu menjadi rumusan imn yang doktrinal . Selain itu, Gereja Katolik juga tetap mengakui kontribusi para Teolog. Para Teolog dengan fasilitas kemampuan, dengan pengetahuan yang mereka miliki, dengan pengalaman yang mereka miliki memiliki kewajiban dan tanggung jawab serta hak juga dalam berkontribusi dalam kehidupan menggereja, dalam memberikan kontribusi dalam bagaimana magisterium, para Uskup menanggapi tafsiran -tafsiaran tertentu dalam Gereja. Jadi, bukan sama sekali mengcounter, menutup pintu bagi krativitas tetapi ada salurannya demi menjamin keutuhan bersama menuju kessatuan Hereja tadi. Saya pikir itu yang menjadi tambahan saya atas pertanyaan -pertanyaan tadi. Terima kasih.
JPS, 27 Mei 2025.
JPS, 26 Mei 2025.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar