Senin, 26 Mei 2025

RELASI ANTARA AGAMA DAN NEGARA

 RELASI  ANTARA AGAMA DAN NEGARA



https://www.youtube.com/watch?v=H2SHvfYIibg


Dari  aspek  sejarah  Gereja, Konsili Nicea yang diadakan pada tahun 325 M  merupakan  suatu event sejarah di mana  ada  kerja sama antara agama (Kristen)  dengan negara (Romawi).  Pada  abad ke 4 M, Gereja Kristen  mengalami masalah, terutama  ada  keberagaman cara pandang  terhadap konsep Trinitas (Satu Allah tapi terdiri dari  3 pribadi, Bapa, Putra dan Roh Kudus). 

Hingga  abad ke 4 M  ada keberagaam  agama, tradisi dan budaya. Konstantinus, selalu pemimpin, Kaisar Ramawi, demi mudahnya pemerinathannya, maka  dia mau  menyamakan  konsep .

Konstantinus  konsep agama Kristen.  Dalam kekristenan , Yesus adalah Raja. 

Dalam rangka kelanggengan dan dan kentinuitas  serta  kestabilan  kekuasaannya , maka dia menganut agama Kristen.  Maka diapun memerinathkan  rakyatnya untuk menganut agama Kristen. Akhirnya  agama Kristen menjadi agama Negara.  Sementara, dalam kalangan internal agama Kristen , ada perbdaan  konsep relasi Allah Bapa dan putra dalam  kerangka Trinitas.  Atanasius dari Alexandria (?) berepndapat bahwa  Yesus Kristus   sederajat  dengan  Bapa yakni sama-sama sebagai Allah.  Menurut Arius dari...., berpendapat  kodrat keilahian Yeus lebih  rendah dari Allah Bapa. 

Karena perbedaan konsep tentang  relasi Yesus dan Bapa dalam kerangka Trinitas ini,  Kaisar Konstantinus bengumpulkan para Uskup untuk mendiskusikan hal ini.  Uskup yang  hadir saat itu Ada 318 (?) .  Kaisar memfasilitasi   biaya  Konsili. Konsili doadakan di Nicea pada tahun 325.  Pada kesempatan itu  konsili menolak pemikiran Arius yang mengatakan Yesus lebih rendah kodratnya dari Allah Bapa. Konsili memutus Yesus Kristus  sederajat dengan Bapa, yakni sama-sama sebagai Allah. 


Menurut Pdt. Dr. Eben. I. Nubantimo, Konsili Nicea tidak lepas dari pengaruh politik. Saat itu Kaisar Konstantinus memfasilitasi konsili dan biaya perjalanan Para Uskup yang ikut Konsili. Kaiser Konstantinus memanfaatkan agama (Kristen) sebagai kendaraan politik. Dia menganut aga,ma Kristen. Dia menjadi agama Kristen sebagai moden untuk kekuasaannya. Dia menuntut agar semua daerah menenima dia seagai Raja/ Kaiser sebagaimana Yesus sebagai Kepala Gereja.




Mgr. Paul Budi Kleden, SVD. 

Doxologi: Madah pujian? 



Pertayaan. 

NB: Anathema: Suatu pemikiran yang dibenci karena  berbeda dengan apa yang diyakini.


1. Pater Atanasius: Otoritas merupakan  unsur penting dalam menafsir Kitab Suci.? Siapakah otoritras  itu menurut masing-masing aliran Gereje (Protestan - GMIT, ...Katolkik)?


1. Pdt. Dr. E. I. Nubantimo (Dosen Progdi Ilmu Pendidikan Teologi) FKIP UKAW "Warisan Konstruktif Konsili Nicea bagi Protestanisme di Abad ini"

Soal  Otoritas , ada beda pandangan  anatara Katolik ,Protestan dan juga Gererja  beraliran Pentekosta.. Untuk Katolik ada yang namanya Magisterium, kuasa mengajar Gereja, saya  tidak bermpeten untuk menjawab, nanti Mgr. Paul Budi yang menjawab. , Dalam Gereja Protetan  yang menganuut  prinsip Presbiteral sinodal dalam mana mengakui  atau meyakini  bahwa Yesus Kristus  adalah pemegang otoritas tertinggi  dalam kehidupan  menggereja , terutama dalam hal  hidup moral dan pengajaranNya. Yesus Kristus yang adalah kepala Gereja itu  mendelegasikan separuh  otoritasnya  itu kepada   anggota Gereja, dalam hal ini anggota baptis dan anggota sidi . Selanjutnya anggota baptis dan anggota Sidi menetapkan atau memilih  antara mereka  satu atau 2 orang  untuk  menjalankan fungsi kepemimpinan  dan pengajaran.  yang kemudiaan  disebut Majelis Jemaat . Majelis Jemaat ini terdiri dari pejabat - pejabat pendeta,  dalam konteks  GMIT: - penatua, diaken dan  pengajar.  Jadi, yang mmiliki otoritas itu ada 2  yang secara kelihatan dalam Gereja,  yaitu Majelis Jemaat dan Warga Jemaat.  Makanya  tadii saya  bilang,  Teolog- Teolog itu harus diberi kebebasan untuk bereksplorasi, kemudian menginterpretasi  dan melahirkan pengajaran-pengajaran baru . Percuma sorang belajar Teologi 10 tahun, 15 tahun   tapi pulang hanya  omong  itu-itu saja  seperti  yang diterima di sekolah minggu.  Tetapi pada sisi lain,  Teolog-Teolog itu terikat dalam  komuunitas jemaat  akan apa yang diimani  karena dalam pandangan Protestan,  hanya dogma saja yang boleh   tidur di dakam Gereja . Dalam Gereja itu bukan hany ada Majelis Jemaat, bukan hanya  pejabat,  tetapi juga ada  warga jemaat, warga sidi, . Mereka yang  duduk di bangku, memiliki penghayatan  juga  akan Tuhan. Maka  otoritas itu   bersifat  dialektis antara  2 kutub itu Majelis Jemaat dan Warga jemaat.  Kaerna itu ruang-ruang yang diciptakan Konsili  untuk  negosiasi , pengajaran sampai pada permufakatan bersama  menjadi ruang yang baik begitu  yang perlu dolakukan terus menerus sepanjang  Gereja   masih  adasebagai gerja yang  di bumi. . Dalam rangka itu yang  tadi saya  bilang , hal destruktif dari konsili yaitu  dalam hal weweang disiplin Gereja  dalam hal pengajaran , yaitu  konsili tidak menerapkan prinsip pastoral  seperti yang diseburkan dalam Matius 18:  tetapi dia mengadopsi kekuasaan, terkooptasi  dengn kekuasaan  dan  anatema, mengutuk  . Padahal itu mestinya menjadi pengalaman bersama, mencari  . Kalau ada yang melakukan pengajaran yang menyimpang yari yang ortodoks (asli)  maka  mari kita  bicara terus menerus . Dan yang  yang  herannya saya  bilang , ada konsili-konsili sebelumnya atau sesudahnya yang tidak sampai mengutuk .Tetapi di sini (Konsili)  Arius dikutuk, . Jadi  itu  noda  hitam dalam  warisan Konsili. Itu hal yang pertama.  Hal yang  kedua yang ingin saya sampaikan adalah , pertanyaan yang berkaitan dengan pluralitas , itu yang berhubungan dengan warisan  meciptakan batas-batas  Teologi  bagi dinamika Teologi  padah konteks sosial  kita berbeda.  Yang itu disebur ruang sinode  dan ruang  konsili, itu  yang berkaitan dengan pengajaran, yang berkaitan dengan mati hidupnya Gereja dalam   pengakuan.  Itu dibicarakan di situ.  Dalam ruang -ruang itu bukan hanya para pejabat., tetapi juga ada warga  awam. atau anggota jemaaat  biasa.  Tadi Monsinyur  Budi  bilang ada perempuan di dalamnya . Konsili yang terakhir itu sampai ada ratusan . Itu  ruanbg   yang  cukup baik untuk dilakukan . Lalu dalam  hubungan  dengan itu  kita  harus menempatkan , mengatur batasan-batasan  apa sejati  rumusan Teologi  atau ajaran keenaran  bisa  doakomodir untuk menjadi pegangan bersama.  Nah Kalau saya  belajar dari Seknap (?) yang  menulis Doing Kontekstual   (?), Saya  menyarikan di situ 4  kriteria yang saya sebut kriteria  Teologi . yaitu, 1). Kita hidup sebagai manusia di hadapan Allah,  membaktikan hidup kita  demi kemuliaan namanya,  masing-masing dengan  latar belakang  dan  budayanya,  2). Kriteria eris yaitu,  cara-cara atau bentuk  bentuk devosi yang  kita  hasilkan itu memampukan kita  membedakan yang  baik dan yang buruk . 3) Kriteria Estetis , yaitu   memberikan harapan atau memciptakan alternatif bagi kehidupan yang lebih bermartabat . 4) Kriteria pastoral  , yaitu mengeksplorasi potensi-potensi yang kita miliki  untuk  ..atau    Daniel Adams menyebut 3   kriteria  juga tetapi  berbeda. saya setuju dengan itu . Kemanusaiaan sebagai keprihatinan Teologi. Kita  menyeimbangan pengajaran untuk melayani kemnusiaann,  lalu  pengtahuan  akan Allah sebagai definsi Teologi . Pengetahuan akan Allah itu beragam.   Daniel Adams, menyebut 4 Kriteria dan saja=ya setuju dengan 4 Kriteria itu   yaiyu, kemanusiaan sebagai  keprihatinan Teologi,  . Rumusan ajaran -ajaran (dogma-digma) kita  harus melayani  kemanusiaan,   Kemanusiaan itu berisifat universal. , tanpa  pandang dia perempuan, laki-laki,   diabilitas atau  tidak.  , dewasa tau anak-anak . Mereka adalah gambar Allah. Dan Teologi kita  harus mempromosikan mnusia sebagai gambar Allah . Lalu pengetahuan akan Allah  sebagai defiisi Teologi   itu  sangat beragam, dalam pelbagai konteks,  . Tetapi keragaman itu tidak boleh mnenjadi alasan untuk  menghancurkan atau  menkerdirkan kemanusiaan.  Lalu kemudian Gereja sebagai konteks berteologi   . Apapun hebatnbya suaty  rumusan teologi  yang mutakhir, bertolak dari  apapun filosofi tetapi  dia  harus ada dalam komunitas  orang beriman .  Orang beruman itu menjadi  filter bagi  rumusan -rumusan Teologi kita, dipkai  atau  tidak.   Lalu yang ketiga ialah pencarian kebenaran  . Pencarian kebenaran itu suatu proses yang berkelanjutan,  maka  kita tidak bisa sera merta  karena  perpedaan ajaran  maka  kita  membuat anatema , kita mengutuk   atau membuang orang dari kehidupan bersama . Itu kira -kita  jawaban yang atas pertanyaan yang berakaitab dengan ....

Lalu ada lagi yang  bertnaya soal Anaktema. Yang  tulis ini dari Leo Takubesi:   Saya pikir  itu bukan pertanyaan tetapi himbauan supaya Gereja bertoibat.  Karena suka atau  tidak suka, suasana di mana Gerwja Konsili Nicea  dikoptasi oleh  kekuasaan. Itu juga masih mewarnai  sistem pemerinatahan kita dalam Gereja-gereja, terutama dalam Gereja - Gereja  Protestan  , yaitu ada hirarki yang mengatakan bahwa  ada orang -orang tertentu yang berhak mengawasi  sahabat-sahabat atau rekan-rekannya dalam pelayanan , dan itu diawasi dengan semangat kekuasaan.  Nilai-nilai pastoralnya menjadi terabaikan.  Itu sangat semangat Konsili Nicea, yaitu pakai kekuasaan  untuk  menghukum dan menganatema. 

Apalagi. Yang saya  dapat kira-kira  itu  dulu. Kecuali kalau saya  baca  dulu. Nanti  bisa ditambahkan kemudian. Saya mesti baca dulu. Kalau boleh pembicara kedua atau ketiga dulu.   Kembali  kalau ada  waktu, Kembali kalau ada yang  menwarkan / belum sempat disampaikan a atau direspons. 


 Pendeta Prof. Dr. Rachel   Iwamoy (dari Maluku): 

2. Pdt. Prof. Dr. Rachel Iwamony (Dosen Fakults Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku) "Prespektif Feminis terhadap Warisan Konsili Nicea bagi Keadilan Gender Masa Kini"


Sial Orititas yang memberikan menafsir KS dan atau Tradisi.


Imamat orang percaya: memahami Alkitab yang berkaitan dengan pergumulan hiduyp umat.

Ada kekebesan tetapi ada rambu-rambu yang ditetatpkan oleh masing-masing Gereja .

Konsili Nicea dari perspektif Femisme:

Siapa Allah dalam perspektif Femisnisme?

Tidak bisa dibatasi pada feminisme tertentu saja.

Renkonstruksi tentang konse Allah dan manusia.

Siapa itu Allah dan manusia menunrut faminisme?


Apa yang yang lakukan oleh manusia berkaitan dengan konsili Nicea yang merumuskan Allah sangat patriarkat? dan sangat Antriposentrisme?

Komunitas Pneumatologis Allah: - Konunitas dalam Kitabn Yoesl dan Kisah Para Rasul: Ada bersama dalam suasana haraan akan hidup yang penuh sukacita.


Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD (Uskup Agung Ende/ Dosen IFTK Ledalero) "Warisan Konsili Nicea bagi Relasi Ekuminis Gereja-gereja Sedunia, Khususnya di Nus Tenggara Timur"

Iven:

Penggunaan sosial Media yang punya dampak yang luar:


Penggunaan medsos yang bertanggung jawab. Diskusi yang menguatkan iman,mempersatukan. tanpa mempersalahkan orang lain. Iman kita adalah iman yang inkarnatif , iman yang membunmi, iman yng dipraktekan dalam perbuatan baik. Kita butuh forum untuk maksud ini. Kita butuh tempat, waktu yang baik supaya ada diskusi yang membangun, salung menguatkan, . Kita tidak perlu menunjukkan iman yang kita percayai dengan mempersalahkan orang lain tetapi pendalaman iman adalah menggali kekayaan iaman sendiri. Bagaimana iman itu menyata dalam perilaku hidup. Iman kita itu iman inkarnatif. Iman itu tidak hanya melayang pada dunia kata-kata dan ide tetapi ditunjukkan pada perilaku yang kongkrit. Karena itu apa gunanya menjadi apologet apabila tidka menghayati imannya secara bertanggung jawab. Maka satya sering merasa risih kalau menggunakan medsos untuk menyerang orang lain, Gereja lain, agama lain. Saya tidak tahu apa yang menjadi intensinya. Untuk Gereja Katolik, yang paling penting adalah soal katekese, bagaomana kita mencari jalan suapaya orang memahami iman secara lebih baik, tanpa membuat orang lain menjadi sasaran kebencian, karena ungkapan-ungkapan yang tidak bertanggung jawab. Itu yang pertama.

Kedua,

Peran Maria dan perempauan dalam Gereja Katolik :

Dari perspektif Teologi sejarah , dalam konteks Gereja Katolik sudah banyak kemajuan atau perkembangan Paus Fransiskus berbicaara ytentang Petrenia dan Marian. Intensinya adalah untuk memisahkan otoritas kepemimpinan dalam Gereja dari Tahbisan, bahwa yang memimpin tidak harus orang yang tertahbis. Bahwa orang tertahbis memiliki keweangan dan otoritas tertentu ya, tetapi tidak harus dikaitkan dengan kepemimpinan. Karena itu dalam masa kepemimpinan Paus Fransiskus , ada banyak hal yang sudah dibuat , misalnya Mengundang 56 perempaun untuk mengikuti konsili yang smapai waktu itu didominasi laki-laki. Sekarang Di Vatikan sudah ada perempauan yang duduk dalam kepemimpinan untuk mengambil keputusan. Juga di Departemen-Deartemen di Vatikan sudah ada perempauan yang mengambil posisi sebagai pemimpin. Ini menunjukkan Gereja Katolik masih harus berbuat banyak untuk berkontribusi bagi hidup Gereja. Partisipasi tadi suatu hal yang sangat penting. Para perempauan diberikan tanggung jawab untuk memecahkan maslah dalam perbagai tnatangan dan persoalan dalam Gereja.

Dalam Gereja Katolki, tantangan bagi Teolog itu adalah terus mengeksplorasi kemungkisan memisahkan tanggung jawab kepemimpinan dari tahbisan . Beberapa langkah sudah diambil oleh Paus Fransiskus . Pendasaran Teologsis erus dupiyakan supaya terus berjalan . Itu sial peran Marian dan perempuan dalam Gereja Katolik. Juga dalam rangka semangat zaman, apa yang dipekajari dari Gereja lain , agama-agama lain tetapi juga dari hidup dalam masyarakat . Ini menjadi tantangan juga bagi Gereja Katolik yang konteksrual dengan membuka diri untuk menemukan kekayaan yang terdapat dalam imannya tetapi yang mungkin dalam .... tidak tercermin dalam keputusan-keputusan disipliner.


Lalu soal otoritas yang memiliki wewenang dalam menafsur Kitab Suci dan tradisi:

Dalam Gereja Katolik, Magisterium itu yang tertinggi , para Uskup yang memiliki otoritas defenitif, juga Gereja Katolik memiliki apa yang disebut sensus fidelium (rasa keberimaman umat), Ini yang harus diperhatikan, apa yang menjadi iman, tradisi umat , itu harus ditangkap, ditanggapi oleh Magisterium sehingga itu menjadi rumusan imn yang doktrinal . Selain itu, Gereja Katolik juga tetap mengakui kontribusi para Teolog. Para Teolog dengan fasilitas kemampuan, dengan pengetahuan yang mereka miliki, dengan pengalaman yang mereka miliki memiliki kewajiban dan tanggung jawab serta hak juga dalam berkontribusi dalam kehidupan menggereja, dalam memberikan kontribusi dalam bagaimana magisterium, para Uskup menanggapi tafsiran -tafsiaran tertentu dalam Gereja. Jadi, bukan sama sekali mengcounter, menutup pintu bagi krativitas tetapi ada salurannya demi menjamin keutuhan bersama menuju kessatuan Hereja tadi. Saya pikir itu yang menjadi tambahan saya atas pertanyaan -pertanyaan tadi. Terima kasih.



JPS, 27 Mei 2025.







JPS, 26 Mei 2025. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar