SEJARAH GEREJA KATOLIK DI BALI DAN TRANSMIGRAN BALI
FIRST CATHOLIC CHURCH IN BALI ISLAND | Parish of St. Joseph Denpasar
https://www.youtube.com/watch?v=fgj0wtD_d_4
Pastor Yohanes Kersten, SVD menginjakkan kaki pertama kali di Depasar pada 11 September 1935. 12 September 1935 mulai menetap dengan menyewa sebuah gudang. Paeter Yohanes menjadikan gudang ini sebgai tempat tinggal dan Kapel. Tahun 1936, Pastor Simon Bois, SVD membeli tanah di mana gudang itu berdiri , dibuat Kapel dan pastoran berdidndingkan Gedek. Pada tahun 1947 , kapel sederhana ini direnovasi oleh pastor Agustinus de Broer, SVD.
1936 I made Bronong dan I wayan DiBluk ketemu Pastor Yohanes Kersten. Mereka berciara tentang Iman: Surga, Sakramen,
17 April 1936 . I made Bronong dan 2 anaknya terarik masuk Katolik sehoinga dibaptis. I Wayan dibluk juga dibaptis. Dari sinilah benih Katolki pertama Bali mulai tumbuh.
Pater kerten datang. Dia menyembuhkan seorang sakit , yakni
Pater Simon Buis.
Mereka mendirikan gubuk
Desa Palasari
1940 - Palasari di Bali Barat
1956 -1958 Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Palasari dibangun . Arsitekturnya perpaduan Gaya Bali dan Gothik Eropa.
Gereja Katolik tidak harus menyingkirkan budaya lokal.
Raroki Rh Kudus Unaha awalnya terdiri dari 9 keluarga transmigran aslak Bali. Ketika tiba di tempat transmigrasi di Unaha, Konawe , Sulawesi Tenggara, mereka mendirikan Kapel sederhana dari bambu dengan atat daun rumbia. Lalu ada penambahan anggota tranmigran gelombang kedua. Karena terlalu kecil maka mereka membangun kapel yang lebih besar. Inilah cikal bakal Paroki Unaaha Kanawe, Aukawesi Tenggara, Sekarang sudah menjadi Paroki dengan ribuan KK.
Gereja Katolik lahir tahun 33 Masehi, saat Perayaan Pentekosta d Yerusalem. Pentekosta adalah momen turunnya Roh Kudus kepada para rasul (murid) Yesus.
Sebelum itu, pada saat Yesus masih hidup, dia sudah menyiapkan gembala untuk menuntuk kawanan domba, yakni orang-orang yang percaya kepadaNya. Para Murid itu awalnya 12 orang. Mereka adalah, Simon Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes, Philipus, Bertolomeus, Thomas, Yudas Anak Alfeus, Yudas Iskariot. Matius, Simon orang Zelot, Yakobus anak Zededeus. (Markus 3: 13 - 19); Matius 10: 1-4: Lukas 6: 12 - 16).
Yesus memilih mereka agar menjadi penjala manusia (Matius 4: 18 - 22).
Petrus di[ilih untuk menjadi gembala atas domba-dombaNya. (Yohnes 21: 15 - 17).
JPS, 21 Januari 2026.
2. Gereja Memanas: Deky Ngadas Senggol Uskup, Romo Bayu Bereaksi
Memisahkan diri hingga kembali ke Roma. Perjalanan Gereja Katolik Armenia
https://www.youtube.com/watch?v=a-geiVCNP-c
Ada ordo Fransiskan yang melayani di Armenia.
Gereja Katolik Ritus Timur Armenia.
Umat Katolik Armenia, - Administrasi Apostolik Kaukasus, terdiri dari 12 paroki.
Umat Katolik Ritus Timur - adi di 7 negara, ada 44 paroki.
GEREJA KATOLIK DIBURU,DIHANCURKAN,DIBASMI!
Tapi Tak Pernah MATI! DARI MARTIN LUTHER HINGGA KOMUNISME!
https://www.youtube.com/watch?v=RGG59wPqHok
Note, salah satu dampak solusi perang 30 tahun (1618 hingga 1648) antara Katolik vs Protestan . Perjanjian Westfalen tahun 1648 mengakhiri perang 30 tahun itu. Perang itu mengakui kesetaraan kedua agama .
Perjanjian Westfalia , antara laian berisikan: semua pihak (baik Katolik maupun Protestan - mengakui perdamaian Ausburg 1555 yang mengatakan hawa pangeran kerajaan berhak menentukan agama (Katolik, Kalvinis, Lutherean) bagi kerajaan / negaranya. Di sini berlaku prinsip cuius regio, eius religio / Whose region, his religion) ( agama penguasa, menjadi agama orang yang dikuasai).
Pengakuan kedaulatan seorang raja atas agama wilayahnya, sebelumnya didasarkan pada asas "ubi unus dominus, ibi una sit religio", yaitu di mana ada seorang penguasa, di sana hanya ada satu agama penguasa. Pada perdamaian Augsburg ini para raja boleh memilih agamanya sendiri. Kemudian warga yang tinggal di wilayahnya wajib mengikuti agama pilihan raja tersebut. Hal ini tercantum dalam asas "reservatum ecclesiasticum". Para uskup yang berpindah agama dari Katolik ke Protestan setelah tahun 1552, dan mengalami perampasan harta, akan menerima ganti rugi setelah perdamaian ini. Ganti rugi ini dilakukan oleh orang-orang yang merebut hak milik mereka.[3] Asas fundamental ini juga menyebabkan perpindahan penduduk, dari satu wilayah ke wilayah lain dalam satu negara, karena agama penduduk wilayah tersebut berbeda dengan agama yang dipilih raja. Walaupun iman Protestanisme memperoleh pengakuan resmi dan mendapat wilayah khusus, hak mereka tidak terjamin secara yuridis. Perdamaian ini berlaku sebagai ketetapan gereja dalam Kekaisaran Jerman hingga dideklarasikannya Perdamaian Westfalen pada tahun 1648. Pada tahun 1556, kaisar Karl V turun takhta dan mengasingkan diri ke sebuah biara, lalu meninggal dua tahun kemudian.[3] Sebelum turun takhta, sang kaisar membagikan wilayah kekuasaannya kepada dua anaknya, yaitu Philip I di wilayah Spanyol dan Ferdinand I di wilayah Eropa Tengah yang terdiri dari: Austria, Bohemia, dan Hungaria. Perdamaian Augsburg pertama kali dilanggar oleh Ferdinand II dari Styria, saat terpilih sebagai Raja Bohemia. Dia menjalankan kebijakan diskriminasi agama, bahkan menutup beberapa gereja Protestan yang merupakan awal mula terjadinya peristiwa Pelemparan di Praha, yang juga sekaligus menandai dimulainya Perang Tiga Puluh Tahun.[4]
JPS, 16 Juli 2025. , diedit 7 Mei 2026.
3. Church of Nativity (Gereja Kelahiran Yesus) di Betlehem, Palestina / Israel
https://www.youtube.com/shorts/G7k9mtrWDwM
Church of Nativity (Gereja Kelahiran Yesus) sudah berdiri lebih dari 1700 tahun.
Sekitar tahun 326 M, Gereja ini dibangun oleh Kaiser Romawi, Konstantinus 1 dan Ibunya yakni Helena.
Tahun 539 M, Gereja ini sempat dihancurkan oleh pasukan pemberontakan Samaria. lalu diabangun kembali oleh Kaiser Binzantium , Yustinus I
Tahun 604 M ada invasi Persia. Namun Gereja ini tidak dihancurkan karena ada lukisan 3 orang Majus yang sangat menarik di dalam Gereja. Orang Persia dengan lukisan orang majus itu.
Tahun 2012 , Gereja ini mendapat pengakuan UNESCO sebagai situs warisan sejarah dunia I di Palestina / Israel. .
Gereje ini sekarang dikelola oleh 3 denominasi
Gereja Ortodoks Yunani , Gereja Katolik Roma dan Gereja Apostolik Armenia mengelola situs bersejarah ini
Mateo Bplzano, 35 tahun, pastor dari Italia Uta, diaporkan meninggal dunia pada wal Juli 2025. Ia bertugas di Oratoria , pusta kegiatan Pastoral untuk anak muda di paroki Cannobio, Tsetmon. Italia. Matteo dikenal sebgai pribadi yang aktif, dekat dengan anak muda dan sering membantu kegiatan Paroki. Bahkan pada malam sebelum kepergiannya Ia kelitahan ceria dan aktif dalam kegiatan Gereja. Namun, kesesokannya Ia tidak hadir saat jadwalnya menyelenggarakan Ekaristi. Ketika dicari, Ia ditemukan meninggal dunia di dalam kompleksnya di dalam oratorium . Pihak berweang menyatakan bahwa tindakannya disengara untuk mengakhiri hidupnya. Peristiwa ini mengejutkan banyak umat. Tidak ada tanda-tanda mencolok sebelumnya. Don Matteo sebelumnya dikenal senagai pribadi yang baik dan penuh semangat. Keuskupan Novara mengeluarkan pernyataan resmi yang mengatakan bahwa hanya Tuhan yang mengetahu benar-benar kedalaman hati seseorang. Dalam pernyataan itu disampaikan juga bahwa setiap jiwa membawa pergulatan yang tidak selalu terlihat dari luar. Setelah kejadianm ini beberapa imam dan tokoh Gereja mulai angkat suara . Mereka menyampaikan bahwa banyak imam yang tampak luar baik-baik saja tetapi sesungguhnya menyimpan tekanan batin yang besar. Pastor Frasescp Javier Broncalo dari Spanyol menulis bahwa hal seperti ini terjadi karena kurannya dukungan terhadap imam . Ia mengatakan bahwa sikap acuh dari komunitas justru bisa lebih berbahaya dan kebencian. Imam lain, Pastor Salvador membagikan pengalamannya yang berada dalam kondisi mental yang sangat gelap. I merasa seperti berjalan dalam kehampaan dan hampir menyerah. Tetapi kemuadian Ia mencari bantuan pastoral dan akhirnya pulih. Ia menyebut bahwa salah satu hal yang menyelamatkannya adalah keberanian untuk bercerita kepada orang yang tidak menghakimi. Kejadian ini membuka pemahaman luas tentang pentingnya kesehatan mental para pelayan Gereja, Banyak dari mereka yang harus bekerja tanpa istirahat yang cukup, menghadapi kesepian, dan terus dituntut untuk kuat di hadapan umat. Mtteo dimakamkan di kampung halamannya setelah misa di gereja di tempat Ia bertugas. Tragedi ini mengingatkan kita bahwa bahkan orang -orang yang terlihat paling kuat dan paling suci pun bisa mengalami luka batin yang berat, dan bahwa perhatian, empati serta dukungan yang nyata sangat dibutuhkan oleh siapapun, termasuk mereka yang biasanya memberikan kekuatan untuk orang lain.