KOOR
1. HALLELUJAH - Handel's 'Hallelujah!' - Canductor ? Coach : Felix
KAWANUA kATOLIK -
MUKHIZAT (VIDEO)
1. MUKJIZAT SAKRAMAN MAHA KUDUS (EKARISTI)
Perempuan muda yang ke Gereja dengan kursi roda . Dia mau menyambut tubuh Tuhan dengan menggunakan kursi roda. Tapi pastor menantang dia untuk berani percaya. Pastor mendekat padanya sambil menunjukkan Tubuh Kristus. Ketika dia siap-siap untuk menerimanya, pastor mundur perlahan-lahan menuju ke panti imam dengan menaikkan tangga panti imam. Dia tetap menunjukkan Tuubuh Kristus kepada gadis sakit itu. Gadis itu bingung. Juga umat dan para petugas bingung. Mereka menilai tindakan pastor itu salah karena mustahil gadis sakit di kursi roda itu bisa bangun, bersiri menyambut Tubuh kristus yang dipegangnga. Namun, pastor itu tetep tegar dengan keyakinannya bahwa Tubuh Kristus mampu memnyembuhkan gadis muda ini. Dia menantang gadis muda ini untuk bangun dan datang mendekat, mendaki tangga panti imam untuk menyambut Tubuh Kristus yang sedang dipegang dan dihunjukkannya. Gadis itu perlahan percaya dan mulai berani. Dia mencoba bangun dari kursi rodanya. Lalu perlahan leangkah lalu menaiki tangga panti imam dan ternyata dia bisa berjalan untuk menyambut Yubuh Kristus yang sedang dihunjukkan imam itu. Wow.....mukjizat Sakaramen Maha Kudus / ekaristi. Mereka yang pada mulanya mencicirkan bibir, menjadi percaya.
JPS, 3 November 2023.
1. MENGAPA SALIB
https://neksonministries.wordpress.com/2019/02/16/pemberitaan-tentang-salib-adalah-kekuatan-dan-hikmat-allah/
Bagi orang percaya , Salib adalah hikmat dan kekuatan Allah (I Kor 1:18).
JPS , 30 Oktober 2023.
2. RENDAH HATI
Kotbah Rm. Angga Indraswara,SJ
Sumber WAG _ Keluarga Besar Wela, diposting oleh Any
https://web.whatsapp.com/
******
3. COMPASSION
Kisah 2 orang wisatawan mampir di coffe di Venisia Italia.
JPS, 18 Juni 2024.
4. RAHMAT BAPTISAN (Oleh: Mgr. Kardinal Ignatius Suharyo,Pr)
https://www.youtube.com/shorts/VFZ8BuGXpmM
Ketika kita dibaptis , hidupnya dimasukkan , diikursetakan, di dalam hidup Trinitaris itu, dalam persekutuan Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Saya menggunakan 3 kata, yaitu hominisasi, humanisasi, Difinisasi
Hominisasi: Menjadi manusia. Kalau kita mempertimbangkan teori evolusi, kita dulu bukan manusia. Perkembangannya evolutif. Nah, manusia itu tidak selalu manusiawi watak-wataknya. Maka terjadilah humanisasi., orang menjadi semakin manusiawi. Tetapi sebagai orang beriman, proses itu belum slesai, Proses puncak adalah difinisasi, manusia menjadi semakin ilahi.
Humanisasi : Manusia semakin manusiawi
Difinisasi: Manusia semakin menjadi ilahi.
JPS, 9 Juli 2024.
5. .......
https://www.youtube.com/watch?v=qeO4mYrt2XU
Ada cerita
Kisah Pertama.
Seorang Ibu guru mengajar di kelas yang muridnya punya latar belakang beragam: Menado, Jawa, Papua. Ia mengajar murud kelas I. "Ini Ibu Budi, lalu ia meminta murid-murid membaca tulisan itu. Ia meminta anak yang dari Menado: , Anak Menado membaca: Ini Ibu Budi.'."aoo, , kita tepuk tangan. Lalu dia meminta Yono - dari Java - untuk membaca: Ini Ipu Pudi (loga Jawa). Lalu Ibu guru meminta Frans, dari Pauan untuk membaca tulisan itu. Frans membaca. "Ini Budi, dia punya mama,". Ibu guru bingung, dia meminta untuk membaca ulang. Frans membaca: "Ini Budi, dia punya mama,. Ibu guru marah lalu menjewer telingan Frans, Frans menangis.
Pesan cerita: Kita menjadi formator, artinya membentuk anak-anak. Tapi anak-anak buka kertas kosong. Ada yang sudah memmbentuk mereka lebih dahulu. Mereka punya pikiran, perasaan, kehendak. Mereka sudah diformat senelumnya. Kita tinggal melanjutkan format itu agar sesuai dengan cita-cita kita, cita-cita Gereja yakni " menyampaikan kabar gembira, sebagaimana amanat Agung Yesus dalam Matius 28: 19. Ini tidak mudah. Mendidik anak-anak (formandi / seminaris tidak mudah. Maka di tengah situasi sperti ini, kasih adalah jembatan penghubung. Bila ada kasih maka beres. Kasih iu sabar, mirah hatri, tak angkuh, tak dengki, tak memegahkan diri, (I Kor 13: 4).
Kita ini pengikut Kristus, kita adalah Kristus yang lain. Kita harus mengasihi Kristus. Pertanyayan Yesus kepada Petrus, Petrus, anak Yohanses , pakah engkau mengasihi aku? (Yoh 21: 15 - 17).
Tuhas kita selaki formator bagaimana membuat anak didik bertumbuh menjadi lebih baik dalam pelbagai aspek (otak, otot, perilaku).
Kita perlu mendidik mereka dengan kasih Kristus, kasih Allah . Ada perbedaan kasih kita mnusia dengan kasih Allah. Kasih Allah itu agapao (tanpa syarat), kasih kuta phileo, itu bersyarat.
Kita orang Katolik perlu mendidik sesuai dengan kasih Allah, dalam diri Yesus Kristus.
. ______
Kisah Kedua: Oma dan kambingnya dan kotbah pastor.
Seorang oma memelihara kambing jantan, berjenggot. Dia sangat mencintai kambingnya. Sayang kambingya mati pada hari Jum'at. Dia tidak menjadiannya daging. Dia memperlakukan kambingnya seperti manusia. Menutupinya dengan kaif putih, mendoakannya dan menguburkannya. Lalu hari minggu , dia ke Gereja untuk mengikuti Misa. Pastor Paroki berkobath sengan sangat bersemangat, sambil jalan -jalan. Pastor itu berjenggot. Saat pastor berkotbah oma menangis. Pastor berpikir tentu karena tersentuh oleh kotbahnya. Maka dia tambah bersemangat dalam berkobah. Lalu saat selesai misa, pastor menyalami umat. Pastor penasaran dengan Oma yang menangis saat dia berkobah saat misa. Dia ingin tahu bagaian mana kotbahnya yang menyentuh sehingga dia menangis. Lalu Oma menjawab, Pasotr, saya menangis karena mengingat kambing saya, yang sudah mati. Kambing saya berjenggot seperti pastor. Ketika melihat pastor, saya mengingat kambing saya. Itu alasan saya menangis. Kita kadang salah duga , salah reaksi terhadap aksi orang, salah kaprah dengan maksud orang. Untuk mendapatkan kepastian butuh konfirmasi. Jangan merasa paling benar sendiri. Kita perlu konformasi dan neyelaraskan kenenaran yang obyektif, termasuk rec dan re check, supaya tidak terjebak dalm subyektifisme.
Kita hadir membawa atau mewartakan siapa?
Kita wewartakan Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Maka hidup kita harus mencerminkan Allah Tritunggal. Hidup kita harus menghadirkan Alah, jangan menjadi kesaksian palsu.
Kadang kita mewartakan diri dan ego kita.
Ada kisah lain. Seorang pastor paroki - asl Belanda yang bertugas di Maluku. Tahun 1983. . Saat misa dia menyanyikan aklamasi yang menjadi jawban umat. " Tanamkanlah SabdaMu ya Tuhan , dalam hati kami. Sebelumnya dia sudah melakukan latihan sebelum misa. Sayangnya saat misa dia menyanyikan alamamasi umat. " Tanamkanlah SabdaMu ya Tuhan , dalam hati kami.". Setelah itu dia menunggu jawaban umat, tetapi umat diam saja. Dia ulangi lagi tetapi umat diam saja,, Dia marah. Jawab, jawab, jaab. Dia berpikir, umat yang keliru. Dia tidak menyeadi kekliruannya. Lalu lectpr memberi tahunya, pastor, umat diam karena aklmasi atau bagian umat, pasotr sudah nyanyikan. Pastor lupa bagian pastor sendiri. Dia baru sadar. "Oh ya...." .
Sering kita memaksa sesuatu, tapi ternyata yang kita sampaikan itu salah, tetapi kita menganggapnya sebagai kebenaran. Kita memaksa pendengar sebagai obyek yang harus menerima apa yang kita sampaikan. Ternyata itu tidak benar. Maka perlu berhati-hati. Maka perlu belajar pada Yesus karena dia, "Kalan, kebenaran dan hidup. Dia juga lemah lembut dan rendah hati.
Ceritera ketiga , terakhir,
Di kampung yang semua pendudduknya beragama Katolik, pada perayaan Pekan Suci ada Tablo, drama kish sengsara Yesus hingga kematianNya. Ada seorang yang berperan sebagai Yesus. Saat skenario masuk pada bagian Yesus menghembuskan nafas terakhir, dan mengucapkan kata" Selesailah : sudah, tanda bahwa Yesus meninggal. . Otang tunggu-tunggu dia mengucapkan kata itu tetapi tidak ada, ternyata. dia diserang semut merah pada ketiaknya, sementara dia tidak bisa menghalaunya karena tangannya terentang . Dia sangat menderita. Dia berusaha kasih kode kepada teman prianya yang menjadi algojo untuk menggaruk ketiaknya sekaligus mematikan semut merah itu. Kose itu adalah "Eh..em..... Sayangnya temannya tidak melihat ke atas, sibuk tunduk ketanah karena manis iba. Lalu narator perpikir dia tidak dengar, alu mengulari kisahnya, "Lalu Yesus berseru demngan suar nyaring...... Tetapi tetap tidak ada suara. Karena dia sudah merasa tidak tahan dengan gigitan semut merah pada ketiaknya, dia turukan tangan kanannya lalu m,enggaruk ketiaknya. Orang beretak bereriak. "Yesus gagal mati".
Pesannya: Bukan hal-hal besar yang membuat kita gagal tetapi hal-hal kecil. Itu baru serangan semut kecil, apalagi bila serangan dari kala Jenmgking atau binatang lebih besar lagi.
Kita perlu mentingkirkan hal-hal kecil yang menghalangi kita intuk melaksanakan sesuatu yang lebih besar.
Kita perlu keluarkan lebih dulu balok di mata kita. Kita perlu diformat oleh Yesus lalu setelah itu baru kita memformat orang lain.
JPS, 26 Juli 2025.
6. KOTABAH RM.KOKO ;
JANAGAN TAKU MENDERITA KARENA TUHAN YESUS SUDAH MELAKUKANNYA LEBIH AWAL
https://youtube.com/shorts/OJ7i3pxZdC8?si=1lQdvfUV3rPj6bPJ
Dalam kisah Penderitaan Yesus, ada sungai di sebelah Timur Sungai Kidron. Mata iarnya dekat dengan Bait Allah. Kidron dalam Bahasa (Ibrani - kadar?) artinya hitam. Sungai ini sekali seathun warnanya hitam. Hitam karena darah. Ada sekitar ratusan hingga ribuan doamba yang drahnya dicurahkan ke Sungai Kidron. Yesus melihat sungai ini. Yesus membayangkan bahwa kesesokannya Dia disembelih dan darahnya dicuarjkan seperti anak domba yang di kurbankan. Tentu ada rasa gentar. Maka Yesus memohon: "Bapa sekiranya boleh biarlah oiala ini berlalu dari padaKu, tetapi bukalah kehendakKu tetapi jadilah kehendakMu. . Inilah doa Anak Domba. Kita sebagai pengikut Kristus harus berani memikul salib kehidupan. Kita harus berani memikulnya karena Yesus sudah lebih dahulu memberi teladan kepada kita.
.
JPS, 26 Mei 2026.
AGEN GEREJA PENCINTA BUDAYA
Penampilan Ptr Kosmas Smm asal Dayak di poco Hari ini di acara Resepsi Misa Sulung Pater Aris Dominggus SMM
Sumber gambar: Rensy Ambang : WAG ALUMNI ST. KLAUS _ 20 Oktober 2023.
TIGA (3) NEGARA TANPA GEREJA DI DUNIA
TEKS ALKITAB
Iman Yonggi Cho, S.Th.Diposkan pada25 Oktober 2017
https://imanyonggi.wordpress.com/2017/10/25/kalau-yesus-adalah-allah-mengapa-yesus-beseru-eli-eli-lama-sabakhtani/
Pertanyaan : Dari kata-kata Yesus jelas bahwa di atas salib Ia ditinggalkan oleh Allah, tetapi Allah yang mana? Terus kalau Yesus adalah Allah mengapa Dia harus berseru: “Eli Eli Lama Sabakhtani” (Lukas Matius 27:46; Markus 15:34?
Injil Matius 27:46 mengatakan : “Eli, Eli, lama sabakhtni”? artinya”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Injil Markus 15:34 mengatakan: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani”? artinya ‘ Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Keterangan:
Versi Injil Matius menggunakan bahasa Yunani ditulis sebagai berikut : eli eli lema sabakhthani. Bahasa Aram dari kalimat Matius adalah “eli eli lma svaqtani.”
Versi Injil Markus hampir sama tetapi menggunakan bahasa Aram dengan memulai ‘elohi elohi” dalam LAI “Eloi, Eloi,….”.
Mazmur 22:1-3 mengatakan : “…….Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” bahasa Ibrani yang kanonik (resmi) adalah “eli eli zabtoni”
Yesus tidak mengutip dari sumber Ibrani yang kanonik tetapi Ia menggunakan sebuah terjemahan dalam bahasa Aram.
Jawaban:
1. Yesus Kristus lahir dan dibesarkan dalam masyarakat orang Yahudi maka Ia tidak akan mengatakan suatu kalimat tanpa tujuan. Kalimat “Eli Eli Lama Sabakhtani” adalah kalimat ke 4 dari 7 perkataan Yesus. Perkataan Yesus tidak secara kebetulan diucapkan tetapi memang menggenapi nubuat dalam kitab Mazmur 22:2 bahkan mengutip dari ayat Mazmur 22:2 (Lihat Lukas 24:44). Sekaligus Mazmur 22:2 sering diucapkan oleh masyarakat Yahudi sebagai ungkapan doa pada masa kesukaran dan penderitaan.
2. Awalnya, dalam Yohanes 10;30 mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”. Dalam Yohanes 14:10 Yesus berkata: Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku….Bapa yang diam di dalam Aku…mereka tak dapat dipisahkan oleh apapun kecuali oleh dosa (Habakuk 1:13). Hukum dosa adalah keterpisahan, memisahkan Allah dan manusia (Kejadian 3:23-24; Yes. 59:1-2; 2 Tes. 1:9). Nah, Ungkapan Yesus Kristus tentang “Eli Eli lama sabakhtani ” menyerukan kepahitan dan kesedihan bahkan penderitaan yang dialami Yesus karena Ia harus terpisah dari Allah Bapa karena Ia harus menanggung dosa manusia. Ia yang tidak berdosa menjadi berdosa karena semua dosa manusia sudah dialihkan pada kemanusiaan Yesus (2 Kor.5:21). Hukuman dosa membuat keterpisahan dan kematian. Nah, ketika Yesus menanggung hukuman dosa, maka Dia mengalami keterpisahan dan kematian juga. Keterpisahan itulah yang menyakitkan hatiNya.
Pertanyaan : Dari kata-kata Yesus jelas bahwa di atas salib Ia ditinggalkan oleh Allah, tetapi Allah yang mana? Terus kalau Yesus adalah Allah mengapa Dia harus berseru: “Eli Eli Lama Sabakhtani” (Lukas Matius 27:46; Markus 15:34?
Injil Matius 27:46 mengatakan : “Eli, Eli, lama sabakhtni”? artinya”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Injil Markus 15:34 mengatakan: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani”? artinya ‘ Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Keterangan:
Versi Injil Matius menggunakan bahasa Yunani ditulis sebagai berikut : eli eli lema sabakhthani. Bahasa Aram dari kalimat Matius adalah “eli eli lma svaqtani.”
Versi Injil Markus hampir sama tetapi menggunakan bahasa Aram dengan memulai ‘elohi elohi” dalam LAI “Eloi, Eloi,….”.
Mazmur 22:1-3 mengatakan : “…….Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” bahasa Ibrani yang kanonik (resmi) adalah “eli eli zabtoni”
Yesus tidak mengutip dari sumber Ibrani yang kanonik tetapi Ia menggunakan sebuah terjemahan dalam bahasa Aram.
Jawaban:
1. Yesus Kristus lahir dan dibesarkan dalam masyarakat orang Yahudi maka Ia tidak akan mengatakan suatu kalimat tanpa tujuan. Kalimat “Eli Eli Lama Sabakhtani” adalah kalimat ke 4 dari 7 perkataan Yesus. Perkataan Yesus tidak secara kebetulan diucapkan tetapi memang menggenapi nubuat dalam kitab Mazmur 22:2 bahkan mengutip dari ayat Mazmur 22:2 (Lihat Lukas 24:44). Sekaligus Mazmur 22:2 sering diucapkan oleh masyarakat Yahudi sebagai ungkapan doa pada masa kesukaran dan penderita.
2. Awalnya, dalam Yohanes 10;30 mengatakan “Aku dan Bapa adalah satu”. Dalam Yohanes 14:10 Yesus berkata: Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku….Bapa yang diam di dalam Aku…mereka tak dapat dipisahkan oleh apapun kecuali oleh dosa (Habakuk 1:13). Hukum dosa adalah keterpisahan, memisahkan Allah dan manusia (Kejadian 3:23-24; Yes. 59:1-2; 2 Tes. 1:9). Nah, Ungkapan Yesus Kristus tentang “Eli Eli lama sabakhtani ” menyerukan kepahitan dan kesedihan bahkan penderitaan yang dialami Yesus karena Ia harus terpisah dari Allah Bapa karena Ia harus menanggung dosa manusia. Ia yang tidak berdosa menjadi berdosa karena semua dosa manusia sudah dialihkan pada kemanusiaan Yesus (2 Kor.5:21). Hukuman dosa membuat keterpisahan dan kematian. Nah, ketika Yesus menanggung hukuman dosa, maka Dia mengalami keterpisahan dan kematian juga. Keterpisahan itulah yang menyakitkan hatiNya.
3. Di dalam Kristus (satu Pribadi) ada dua natur yaitu Tuhan dan manusia…maka hal yang wajar kalau Yesus berdoa kepada Allah BapaNya karena Dia mempunya kodrat manusia. Jadi, Allah Bapa yang meninggalkan kemanusiaan Yesus. Bukan hanya Allah Bapa saja meninggalkan Yesus melainkan kodrat ke-Ilahi-an Yesus harus pergi meninggalkan tubuh kemanusiaan Yesus. Keilahian Yesus harus meninggalkan kemanusiaan Yesus agar Yesus dapat mengalami kematian. Jika Keilahian Yesus tidak meninggalkan kemanusiaan Yesus maka Yesus tidak dapat mengalami kematian. Lagi pula, kodrat manusia Yesus berdoa mengingatkan Firman Tuhan dalam Mazmur 22.
Mazmur 22:2 merupakan syair yang sering diucapkan oleh orang Yahudi sebagai Doa, di saat mereka mengalami penderitaan. Mazmur 22:2 dikenal oleh kalangan Yahudi sebagai “AYELET SHAKHAR’ (Rusa dikala fajar) digunakan dalam Mishna Celim, bab 15:6 dan 16:7 oleh terutama kalangan wanita Yahudi untuk “meratapi” sesuatu yang terjadi, dan dilakukan juga oleh sebagian kaum pria. Waktu orang Yahudi pun menghadap tembok ratapan mengucapkan “AYELET SHAKHAR” ini. Demikian juga dengan Yesus, sewaktu Yesus di Salib di atas Kayu salib, mengucapkan kalimat “AYELET SHAKHAR”. Yesus ingin menggenapi Firman Tuhan dalam Mazmur 22:2. Yesus mengucapkan dan mengulang kembali Firman Tuhan dalam Mazmur 22:2 menunjukkan bahwa Yesus bagian dari kalangan orang Yahudi.
4. Dalam sebuah tulisan “Pulpit Commentary” dikatakan; Ia “ditinggalkan “ (oleh Allah Bapa) supaya Ia bisa menanggung dosa-dosa manusia dalam beratnya yang penuh dan menghancurkan, dan dengan menanggungnya, Ia menyelamatkan. Karena Kristus memikul hukuman dosa itu sebagai Allah dan manusia, maka penebusanNya mempunyai kuasa yang tak terbatas. Artinya Ke-Allahan Yesus tidak hilang atau pun mati melainkan Keilahian Yesus hanya terpisah dari kemanusiaan Yesus selama 3 hari. Status Yesus tetap saja sebagai Allah dan manusia di kayu salib walaupun Dia mengalami kematian dan penderitaan.
JPS , 18 Oktober 2023.
SAKRAMEN- SAKRAMEN
Sakaramen-sakramen Dalam Gereja Katolik: