TANYA JAWAB TENTANG AGAMA KRISTEN (KATOLIK)
Agama Kristen (Nasrani) mendadarkan diri pada Yesus Kristus. Pada mulanya agama Kristen ada hanya satu. Tetapi kemudian mengalami keterpecahan . Secara umum agama Kristen (Nasarani) terbagi terbagi dalam dua bagian besar. yakni: Katolik dan Protstan dan Anglikan . Katolik terbagi atas Katolik Roma (Barat) dan Katolik Timur - Ortodoks dan Koptik (
Mengapa salib orang Protestan biasanya digambarkan kosong, sedangkan salib orang Katolik biasanya digambarkan dengan Yesus?
Sumber: https://id.quora.com/Mengapa-salib-orang-Protestan-biasanya-digambarkan-kosong-sedangkan-salib-orang-Katolik-biasanya-digambarkan-dengan-Yesus
Salib orang Katolik ada Corpus atau tubuh Yesus.?
Ini berbeda dengan umat Protestan.
Salib yang digunakan orang Katolik beda dengan Salib yang digunakan orang Protestan. Salib Katolik ada corpus atau tubuh Kristus, sementara Salib Protestan tidak.
Salib yang digunakan orang Katolik mengikuti tradisi kuno yang menaruh hormat sangat tinggi pada pengorbanan Yesus.
Salib tanpa corpus adalah simbol Kekristenan umum yang kita jumpai di semua gereja Kristen. Sementara Salib orang Katolik berbeda karena memperlihatkan corpus atau tubuh Yesus Kristus yang didera.
Jika demikian, Salib Katolik mengikuti tradisi yang mana?
Sejak awal Kekristenan, Gereja Katolik menaruh penghormatan yang tinggi pada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ketika Gereja dan umat Katolik masih dimusuhi dan dikejar-kejar, salib yang digunakan tidak seperti sekarang. Umat Kristen waktu itu menggunakan simbol tertentu yang melambangkan Yesus di Kayu Salib.
Misalnya, penggunaan huruf TAU (T) dan hurut RHO (P). Umat Kristen awal juga menciptakan simbol abstrak yang melukiskan sosok seseorang di salib.
Bentuk-bentuk salib yang digunakan orang Kristen selama agama Kristen masih di bawah pengejaran.
Umat Kristen awal juga menggunakan simbol lumba-lumba yang melingkar di sekitar trisula. Simbol yang dipinjam dari mitologi Yunani ini melambangkan pengorbanan Yesus di salib.
Keadaan berubah ketika agama Kristen menjadi agama resmi negara di abad ke-4 Masehi. Sejak saat itu, para seniman dan pematung mulai berani melukis Yesus secara jelas di atas salib. Salah satu inspirasi di balik ungkapan artistik ini berasal dari surat Santo Paulus kepada jemaat Korintus. Di situ Paulus menulis demikian: “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan, batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang bukan Yahudi” (1 Korintus 1:23).
Tujuan dari penyaliban selalu untuk menunjukkan kasih Yesus yang tak terhingga kepada seluruh umat manusia. Sementara salib Kristus sendiri meneguhkan kita supaya selalu memiliki harapan akan kebangkitan dari kematian. Salib dan Sengsara Kristus adalah lambang kemenangan manusia.
Di abad ke-4 Masehi, Santo Agustinus membuat ringkasan yang sempurna tentang mengapa umat Katolik menggunakan salib. Santo Agustinus mengatakan:
Kematian Tuhan, Allah kita seharusnya tidak menjadi penyebab rasa malu bagi kita. Kematian Tuhan Yesus harus menjadi harapan terbesar kita. Itulah kemuliaan terbesar kita. Dengan menanggungnya sendiri kematian yang Dia temukan di dalam kita, Yesus telah menggenapi janji setia-Nya untuk memberi kita kehidupan di dalam diri-Nya, kehidupan yang tidak bisa kita miliki dari diri kita sendiri.
Kristus sangat mengasihi kita sehingga, diriNya yang tanpa dosa, rela menderita bagi kita orang berdosa. Padahal kita memang layak menerima ganjaran atas dosa-dosa kita. Tidak mungkinlah bagi Yesus untuk gagal menganugerahkan kepada kita pahala kebenaran dan keselamatan, karena dia adalah sumber kebenaran? Bagaimana Dia, yang janji-janjiNya adalah benar, gagal menganugerahkan kepada para kudusNya ketika dia menanggung sendiri hukuman yang layak bagi orang berdosa, tanpa Dia sendiri berdosa?
Saudara-saudara, marilah tanpa rasa takut kita mengakui, dan bahkan memaklumkan secara terbuka, bahwa Kristus telah disalibkan untuk kita. Mari kita mengakuinya, bukan dalam ketakutan tetapi dalam sukacita, bukan dalam rasa malu tetapi dalam kemuliaan.
Dengan salib kita diingatkan bahwa tidak ada kebangkitan tanpa salib. Kita juga dipanggil untuk memikul salib kita sendiri dan mengikuti Yesus. Dia telah menunjukkan kepada kita contoh kehidupan Kristen yang sejati dan kita harus meniru Dia. Mari kita juga mencontoh kasihNya yang besar kepada semua umat manusia, bersedia melakukan apa saja, bahkan sampai harus menyerahkan hidup kita bagi orang lain.
Catatan saya (Frans Jelata).
Salib Katolik ada korpus Yesus karena Agama (Gereja) Katolik berasaskan ajaran para rasul (Apostles). Salah satu rasul itu adalah St. Paulus. Tentang Kristus yang disalibkan, Rasul Paulus dalam
1 Kor 1: 23-25, menulis:
1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: t untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan u dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, v 1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, w baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah x dan hikmat Allah. y 1:25 Sebab yang bodoh z dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah a dari Allah lebih kuat dari pada manusia.
____
Perdebatan tentang ikon religius (religious icon) ini tidak akan lengkap jika kita tidak membicarakan tentang ikonoklasme dalam kekristenan. Ikonoklasme adalah sebuah gerakan memusnahkan ikon atau gambar-gambar (seni) religius. Ikon religius ini punya banyak fungsi terutama untuk menyampaikan kisah-kisah dan orang-orang dalam alkitab. Namun, ikonoklasme memandang ikon ini mengarahkan kekristenan kepada pemberhalaan (idolatry).
Gereja Hagia Irene, gereja yang dibangun pada periode ikonoklasme di Romawi Timur.[1]
Ikonoklasme awal muncul di gereja ritus timur Romawi Timur, gerakan ini menghancurkan banyak ikon.[2] Setelah pergantian kekuasaan dalam Romawi Timur, ikon dipulihkan kembali fungsinya sebagai pengajaran dalam Konsili Nikea kedua yang merupakan konsili ekumenikal ke tujuh.[3]
Gerakan serupa kemudian muncul di gereja ritus barat. Saat periode reformasi gereja, banyak reformer yang mengikuti ikonoklasme. Gereja Lutheran, meskipun tidak terlalu mengandalkan peran ikon dalam pengajaran, mengizinkan ikon berupa lukisan. Martin Luther tidak setuju dengan penghancuran ikon karena tidak ada alasan untuk menghancurkan.[4] Gereja Kalvinis tidak menyetujui penggunaan ikon dalam pengajaran.[5] Untuk gereja aliran lain saya tidak tahu.
Ikon di Katedral St. Martin yang dihancurkan pada masa reformasi.[6]
Akhirnya gereja-gereja protestan memilih/punya preferensi tidak menggunakan salib dengan Corpus Christi.
Opini saya, argumen gereja-gereja protestan menjadi relevan karena gerakan ini muncul saat ada mesin cetak. Pengajaran alkitab menjadi less incentive untuk menggunakan ikon karena ada akses mendapatkan alkitab. Berbeda dengan Gereja Ortodoks dan Katolik yang saat pembentukan institusinya tidak memiliki mesin cetak untuk pengajaran. 2 gereja terakhir terus mempertahankan tradisi untuk menggunakan ikon.
Kata teman saya
Tidak ada alkitab, jika tidak ada tradisi.
__________
Setahu saya, ini hanya masalah preferensi saja. Bukan sampai ke arah bahwa inilah yang membuat orang Kristen Protestan dan Katolik berbeda.
Lambang salib baik pada pajangan atau hiasan rumah, atau pada kalung kalau pada orang Katolik biasanya ada figur Yesus yang masih digantung di salibnya.
Lambang ini bagi orang Katolik lebih sebagai peringatan akan kesengsaraan Yesus bagi manusia.
Sedangkan lambang salib yang biasa ditemukan di rumah orang Kristen Protestan, bentuknya hanya salib, tanpa ada figur Yesus yang masih disalib pada salibnya.
Orang Kristen Protestan memandang salib sebagai lambang kemenangan Yesus atas maut. Jadi karena Yesus menang atas maut, makanya Ia sudah tidak ada lagi di salib itu, karena Ia sudah naik ke surga. Bukan berarti orang Kristen Protestan tidak mau mengingat kesengsaraan Yesus di kayu salib, tetapi karena fokus mereka lebih ke Yesus SUDAH menang atas maut.
Soal mana yang benar, itu tidak penting.
Karena lambang salib intinya bagi Katolik maupun Kristen Protestan adalah hanya sebagai lambang peringatan akan Yesus. Itu saja.
______
Ini pendapat pribadi saya (Protestan):
Salib orang Katolik digambarkan ada figur Yesus, karena mereka menekankan pada pengorbanan Yesus untuk menebus dosa manusia.
Salib orang Protestan kosong, karena mereka menekankan pengajaran Yesus agar pengikutNya menyangkal diri dan memikul salib.
Dengan kata lain, melalui lambang Salib yang dipakai, orang Katolik menyatakan: Lihatlah Tuhan yang mati untukmu di atas kayu Salib, sedangkan orang Protestan: mengingatkan: (Salib) inilah yang harus kita pikul menurut ajaran Yesus.
Trims atas requestnya, William.
Tradisi ini berawal dari para pengaut-pengaut Protestan awal yang berpendapat bahwa pemakaian patung atau ukiran figur tidak diperbolehkan. Mereka menggunakan Keluaran 20:4 sebagai referensinya. Untuk mempertahankan netralitas pada jawaban ini, saya tidak memiliki opini tentang pentafsiran ayat tersebut.
Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Hal ini bukan karena masalah politik atau apapun, tapi memang karena ajaran Katolik dan Kristen memang berbeda dan tidak bisa disama-samakan. Beberapa perbedaannya:
- Katolik percaya masih ada keselamatan setelah kematian, Kristen tidak.
- Katolik punya hirarkis imam, Kristen menolak adanya imam. Pemuka agama Kristen adalah “hamba Allah” yaitu setiap umat awam yang memutuskan untuk hidup dekat dan melayani Allah. Katolik memiliki hirarkis para biarawan/ biarawati (suster) yang hidup selibat/ tidak menikah; Kristen tidak.
- Katolik menghormati (bukan menyembah) orang2 suci (termasuk Bunda Maria dan malaikat) serta meneladani hidup mereka. Kristen umumnya menolak (kecuali aliran Lutheran) dan tidak meneladani hidup oramg suci. Bagi Kristen, hidup mereka hanya berdasarkan Alkitab (Sola Scriptura).
- Katolik percaya bahwa keselamatan bukan hanya oleh iman tapi juga perbuatan. Kristen beranggapan bahwa keselamatan hanya oleh iman (Sola Fida).
- Katolik memperbolehkan memakai patung dan gambar, bahkan Katolik mewajibkan menggunakan salib dengan corpus (patung Yesus). Kristen menolak itu semua dan menolak salib yang ada patungnya. Ini cara gampang membedakan gereja Katolik dan Kristen dari luar.
- Katolik terikat dengan berbagai aturan ritual yang ketat serta seragam di seluruh gereja. Bahkan, bacaan kitab suci di tiap2 minggu dipastikan sama di seluruh dunia, karena Katolik punya tanggalan liturgis sendiri. Kristen tidak mengakui ritual dan lebih bebas akan hal ini, dan akhirnya memiliki banyak sekali aliran yang beragam serta berbeda satu sama lain.
- Katolik cenderung membaur dengan budaya setempat dan mengadopsi budaya setempat. Itu sebabnya ada gereja Katolik yang mengadopsi candi, pakai hio, ada mata air/ sumur, dll. Kristen menganggap semua itu sebagai bidaah.
- Pokok kepercayaan Katolik dan Kristen sangat berbeda: pandangan terhadap Tuhan pun berbeda. Katolik mengakui kitab2 Deuterokanonika, Kristen menolak. Umat Katolik bisa murka jika ada orang yang mencemari hosti (bbrp tahun lalu kan ramai berita ada orang digebugi karena ikut ngambil hosti tapi dibuang), kalau sebagian Kristen menganggap hosti cuma roti biasa. Sebagian besar Kristen tidak memiliki hosti malah.
Tanpa politik pun Katolik dan Kristen sudah berbeda secara ajaran. Itu sebabnya yang satu tidak bisa ikut beribadah menurut aturan yang lain.
Lalu yang disebut Orthodoxy dan Orientalis itu sebenarnya adalah aliran dalam Katolik. Ada 3 aliran Katolik: Roma (pusat Vatikan, mayoritas Katolik di Indonesia), Orthodox (Rusia), dan Oriental (Mesir, Coptic). Semuanya adalah Katolik dengan kepercayaan sama, bedanya hanya di aturan liturgis/ tata cara ibadah. Tapi secara kepercayaan sama.
Kristiani secara garis besar dapat dibagi menjadi 3: Katolik, Protestan, dan Anglican. Ketiganya merupakan agama yg berbeda. Bisa dikatakan bahwa Katolik dan Anglican lebih dekat secara liturgis dan kepercayaan dibandingkan Katolik dengan Kristen Protestan. Persamaan ketiganya adalah sama2 agama Abrahamik/ Samawi saja, sebagaimana juga Yahudi dengan Islam.
Tambahan: teman saya yang Kristen berkata bahwa pada prinsipnya mereka boleh beribadah di mana saja. Berbeda dari Katolik, umat Katolik belum dikatakan beribadah jika tidak mengikuti tata ritual yang sudah ditetapkan (ritual Gregorian untuk Katolik Roma). Itu sebabnya bagi umat Katolik yang diundang hadir ke ibadah Kristen, mereka hanya menganggap datang ke perayaan/ pesta peringatan saja, bukan datang ibadah. Ada yang bisa menambahkan penjelasan terkait hal ini?
_________
Note: Saya akan menjawab dari sisi sejarah lahirnya agama Protestan ya, saya tidak menjudge bahwa Agama katolik sesat karena saya bukan Protestan. karena ini perspektif sejarah, dan saya membahas "asal mula" munculnya dua sekte besar ini, mohon dipahami secara penuh 😊🙏
Pertama-tama, kita kenala dulu yuk dengan Marthin Luther.
Ini dia orangnya.[1]
Dia adalah tokoh pembaharu Kristen yang lahir dari keluarga petani tahun 10 November 1483 di Thurigen. Singkat cerita, dia ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1507.
Luther banyak belajar tentang Filsafat ketika pendidikan sekolah tingginya dan dia ada di generasi renaissance dimana ilmu pengetahuan sedang viral-viralnya pada masa itu.
Suatu ketika, pada tahun 1510, Luther ditunjuk untuk pergi ke Roma untuk menjadi utusan ordonya.
Ketika di sana, betapa kagetnya dia melihat sistem yang diterapkan oleh Gereja Roma Katolik.
Dia melihat bahwa gereja disana menjual surat pengampunan dosa yang pada masa lalu disebut dengan "Indulgesi" kepada orang-orang yang mau bertaubat!
Ilustrasi penjualan Indulgesi kepada jamaah Katolik Roma.Google Image Result for https://kesaksiansegalabangsa.files.wordpress.com/2015/08/gereja-roma-katolik-menjual-kertas-indulgensi.gif
Luther pada saat itu sangat sedih dan gelisah, menurut nya, kok bisa sistem ini terjadi? Bahkan sudah bertahun-tahun sistem ini berjalan.
Luther menganggap bahwa, sistem ini merendahkan Tuhan. Karena pengampunan dosa dan perdamaian bisa dengan mudahnya didapatkan dengan uang, bukan dengan penyesalan dan sakramen-sakramen. Kasian warga misqueen pada masa itu gak boleh masuk surga. 🙄
Bahkan diceritakan bahwa kemewahan di Istana Paus mengalahkan kemewahan di istana raja-raja Prancis dan Inggris. Sangat mengejutkan! Ketika agama benar-benar jadi trend Center manusia pada masa itu.
Akhirnya, dia melancarkan kritik-kritik lewat tulisan-tulisan dan mimbar-mimbarnya. Dari narasi-narasi yang disampaikan dia mendapatkan banyak dukungan dari seantero Eropa pada masa itu.
Tetapi, pihak Katolik tentu saja tidak tinggal diam, mereka yang sudah lebih mapan menentang gerakan reformasi ini dengan berbagai cara ingin memadamkan semangat ajaran Luther dengan cara ancaman-ancaman pengucilan, fisik, hujatan dan lain sebagainya.
Sampai-sampai diadakan rapat negara raja-raja yang disana dihadiri oleh mayoritas rajanya beragama katolik, hanya raja-raja minoritas yang terpengaruh dengan ajaran Luther.
Sampai akhirnya, dalam sidang tersebut mengeluarkan dekrit pelanggaran gerakan reformasi yang digagas oleh Luther dan memperbolehkan misi Kudus bagi gereja katolik.
Dekrit tersebut tentu saja ditentang oleh raja-raja yang pro Luther. Sampai akhirnya, raja-raja tersebut membuat sebuah surat resmi yang isinya adalah protes keras terhadap hasil dekrit tersebut.[2]
Dari situlah istilah "Protestan" muncul. 😊
Sebenarnya ada banyak hal-hal yang dikritisi oleh Luther terhadap gereja Katolik pada masa itu, selain sistem penjualan surat penebusan dosa. Luther juga memiliki cara pandang teologis yang berbeda terhadap ajaran Katolik. Luther yang mulai aktif di generasi renaisans, merasa perkembangan gereja Katolik sangat lambat, sehingga perlu adanya "booster" agar ajaran Kristen bisa berkembang lebih pesat lagi.
Tulisan ini bukanlah tulisan yang sempurna, bagaimana pun saya hanyalah seorang akademisi yang mempelajari agama lewat metodologi Ilmiah dan observasi, bukan sebagai pelaku ajaran Kristen itu sendiri.
Jadi, saya sangat terbuka kepada siapapun khususnya penganut langsung ajaran dua aliran ini dan umumnya untuk Netizen Quora yang ingin mengoreksi dan memperbaiki tulisan ini, agar lebih lengkap dan valid dari segi data-data yang disampaikan.
Semoga menjawab. 😊
Catatan Kaki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar