PEMIKIRAN TEOLOG KATOLIK
Pertanyaan Hans Küng
Saya sempat bertemu dengan pemikir besar ini ketika ia mengunjungi Jakarta. Harus diakui, ada rasa bangga saat saya dapat berpose sejenak dengan guru saya, Rm. Magnis-Suseno, mendampingi Küng. Tapi saya lupa apa yang kami obrolkan. Pasti bukan sesuatu yang serius.
Namun saya akan selalu mengenang Küng. Walau tidak pernah kuliah teologi formal, buku-buku Küng adalah penjelajahan yang sangat memukau bagi siapapun yang ingin memberi pertanggungjawaban iman dalam dunia modern.
Bagi saya, dua buku Küng yang paling fenomenal adalah tafsirnya tentang Hegel (buku itu sudah hancur dimakan rayap), dan karya yang disebutnya sendiri sebagai "small Summa" iman kristiani: On Being a Christian (1976, aslinya Christ Sein, 1974). Dalam buku tebal (lebih dari 700 halaman), Küng membahasakan ulang iman kristiani yang diyakininya secara kritis dalam dialog dengan situasi modern, mulai dari tantangan ateisme, tuntutan keadilan sosial, sampai situasi pluralistik (religius maupun etis) yang menandai kondisi sekarang.
Pertanyaan yang diajukan Küng di awal bukunya sederhana, tapi menggelitik: "Is there something more to being a Christian than to being human?" Namun kita sadar, untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, butuh penjelajahan sangat luas, jujur, dan kritis. Tentu jika kita mau menjawabnya sungguh-sungguh, bukan sekadar membuat repetisi bebal dogma-dogma gereja yang sudah baku.
Küng menjalani dan bahkan menghidupi pertanyaan itu secara konsisten. Karena pillihannya, ia sempat dicabut "venia legendi"-nya sebagai teolog resmi Gereja Katolik, padahal sebelumnya ia ikut memainkan peran dalam Konsili Vatikan II yang mengubah wajah gereja. Tetapi ia tetap setia dan mempertahankan pilihan selibatnya, walau tidak lagi menjadi imam.
Saya kira, siapapun orang Kristen yang mau sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi imannya di masa sekarang, harus bergumul dengan pertanyaan Küng tadi. Tentu saja, orang tidak harus mengikuti jawaban Küng. Tetapi pertanyaan yang diajukan sangat fundamental dan tak terelakkan.
RIP Küng (meninggal 6 April 2021). Terima kasih sudah merumuskan pertanyaan abadi yang akan terus menginspirasi saya. Tinggallah dalam keabadian bersama Sang Misteri yang terus menerus memesonamu 🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar