Rabu, 28 April 2021

LAGU-LAGUKU

 LAGU-LAGUKU


SIAPAKAH


6        7 1     21      7      1    1   12   12 77
Siapakah   Tu     han.   Tu   han itu  Allah




VMG, 9 Desember 2018. dan 28 April 2021


NB: Belum  selesai

___________________

SIAPAKAH TUHAN

1. 

3 . 45     5..     56   55           1 .  1 66    71 7 . 6...765          6  55                56 5      4.  3 2
Sia -pa kah    Tu- han         Tu han  itu adalah Allah         Demikianlah     war-ta   Al - kitab


2 3              4     56  5       4         23         42       3 .     
da lam      Keluaran          bab   enama  ayat   empat .


SIAPAKAH ALLAH

2. 

3 . 45     5..     56   55           1 .  1 66    71 7 . 7  765   454 3                 6  55                56 5      4.  3 2
Sia -pa kah    Al- lah            Al  lah  itu adalah Roh  atau Pneuma       Dmikianlah     war-ta   Al - kitab


2 3              4     56  5       4         23         42       3 .     
da lam      Yohananes        bab   empat   ayat   dua puluh  empat .


JPS, 28 April 2021 - Ide  kreatif  di JPS Jogging Track







Rabu, 07 April 2021

PEMIKIRAN TEOLOG KATOLIK

 PEMIKIRAN TEOLOG KATOLIK


Pertanyaan Hans Küng


Saya sempat bertemu dengan pemikir besar ini ketika ia mengunjungi Jakarta. Harus diakui, ada rasa bangga saat saya dapat berpose sejenak dengan guru saya, Rm. Magnis-Suseno, mendampingi Küng. Tapi saya lupa apa yang kami obrolkan. Pasti bukan sesuatu yang serius.


Namun saya akan selalu mengenang Küng. Walau tidak pernah kuliah teologi formal, buku-buku Küng adalah penjelajahan yang sangat memukau bagi siapapun yang ingin memberi pertanggungjawaban iman dalam dunia modern.


Bagi saya, dua buku Küng yang paling fenomenal adalah tafsirnya tentang Hegel (buku itu sudah hancur dimakan rayap), dan karya yang disebutnya sendiri sebagai "small Summa" iman kristiani: On Being a Christian (1976, aslinya Christ Sein, 1974). Dalam buku tebal (lebih dari 700 halaman), Küng membahasakan ulang iman kristiani yang diyakininya secara kritis dalam dialog dengan situasi modern, mulai dari tantangan ateisme, tuntutan keadilan sosial, sampai situasi pluralistik (religius maupun etis) yang menandai kondisi sekarang. 


Pertanyaan yang diajukan Küng di awal bukunya sederhana, tapi menggelitik: "Is there something more to being a Christian than to being human?" Namun kita sadar, untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, butuh penjelajahan sangat luas, jujur, dan kritis. Tentu jika kita mau menjawabnya sungguh-sungguh, bukan sekadar membuat repetisi bebal dogma-dogma gereja yang sudah baku. 


Küng menjalani dan bahkan menghidupi pertanyaan itu secara konsisten. Karena pillihannya, ia sempat dicabut "venia legendi"-nya sebagai teolog resmi Gereja Katolik, padahal sebelumnya ia ikut memainkan peran dalam Konsili Vatikan II yang mengubah wajah gereja. Tetapi ia tetap setia dan mempertahankan pilihan selibatnya, walau tidak lagi menjadi imam. 


Saya kira, siapapun orang Kristen yang mau sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi imannya di masa sekarang, harus bergumul dengan pertanyaan Küng tadi. Tentu saja, orang tidak harus mengikuti jawaban Küng. Tetapi pertanyaan yang diajukan sangat fundamental dan tak terelakkan. 


RIP Küng (meninggal 6 April 2021). Terima kasih sudah merumuskan pertanyaan abadi yang akan terus menginspirasi saya. Tinggallah dalam keabadian bersama Sang Misteri yang terus menerus memesonamu 🙏



Minggu, 04 April 2021

TANYA JAWAB TENTANG AGAMA KRISTEN

 TANYA  JAWAB TENTANG AGAMA KRISTEN (KATOLIK)


Agama Kristen (Nasrani)   mendadarkan diri pada Yesus Kristus. Pada mulanya agama Kristen ada hanya satu. Tetapi  kemudian  mengalami keterpecahan . Secara umum agama Kristen (Nasarani) terbagi terbagi dalam  dua  bagian besar. yakni: Katolik dan Protstan dan Anglikan .  Katolik terbagi atas Katolik  Roma (Barat) dan Katolik Timur - Ortodoks dan Koptik (


Mengapa salib orang Protestan biasanya digambarkan kosong, sedangkan salib orang Katolik biasanya digambarkan dengan Yesus?


Sumber: https://id.quora.com/Mengapa-salib-orang-Protestan-biasanya-digambarkan-kosong-sedangkan-salib-orang-Katolik-biasanya-digambarkan-dengan-Yesus



Salib orang Katolik ada Corpus atau tubuh Yesus.?

Ini berbeda dengan umat Protestan.

Salib yang digunakan orang Katolik beda dengan Salib yang digunakan orang Protestan. Salib Katolik ada corpus atau tubuh Kristus, sementara Salib Protestan tidak.

Salib yang digunakan orang Katolik mengikuti tradisi kuno yang menaruh hormat sangat tinggi pada pengorbanan Yesus.

Salib tanpa corpus adalah simbol Kekristenan umum yang kita jumpai di semua gereja Kristen. Sementara Salib orang Katolik berbeda karena memperlihatkan corpus atau tubuh Yesus Kristus yang didera.

Jika demikian, Salib Katolik mengikuti tradisi yang mana?

Sejak awal Kekristenan, Gereja Katolik menaruh penghormatan yang tinggi pada pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ketika Gereja dan umat Katolik masih dimusuhi dan dikejar-kejar, salib yang digunakan tidak seperti sekarang. Umat Kristen waktu itu menggunakan simbol tertentu yang melambangkan Yesus di Kayu Salib.

Misalnya, penggunaan huruf TAU (T) dan hurut RHO (P). Umat Kristen awal juga menciptakan simbol abstrak yang melukiskan sosok seseorang di salib.

Bentuk-bentuk salib yang digunakan orang Kristen selama agama Kristen masih di bawah pengejaran.

Umat Kristen awal juga menggunakan simbol lumba-lumba yang melingkar di sekitar trisula. Simbol yang dipinjam dari mitologi Yunani ini melambangkan pengorbanan Yesus di salib.

Keadaan berubah ketika agama Kristen menjadi agama resmi negara di abad ke-4 Masehi. Sejak saat itu, para seniman dan pematung mulai berani melukis Yesus secara jelas di atas salib. Salah satu inspirasi di balik ungkapan artistik ini berasal dari surat Santo Paulus kepada jemaat Korintus. Di situ Paulus menulis demikian: “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan, batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi orang bukan Yahudi” (1 Korintus 1:23).

Tujuan dari penyaliban selalu untuk menunjukkan kasih Yesus yang tak terhingga kepada seluruh umat manusia. Sementara salib Kristus sendiri meneguhkan kita supaya selalu memiliki harapan akan kebangkitan dari kematian. Salib dan Sengsara Kristus adalah lambang kemenangan manusia.

Di abad ke-4 Masehi, Santo Agustinus membuat ringkasan yang sempurna tentang mengapa umat Katolik menggunakan salib. Santo Agustinus mengatakan:

Kematian Tuhan, Allah kita seharusnya tidak menjadi penyebab rasa malu bagi kita. Kematian Tuhan Yesus harus menjadi harapan terbesar kita. Itulah kemuliaan terbesar kita. Dengan menanggungnya sendiri kematian yang Dia temukan di dalam kita, Yesus telah menggenapi janji setia-Nya untuk memberi kita kehidupan di dalam diri-Nya, kehidupan yang tidak bisa kita miliki dari diri kita sendiri.

Kristus sangat mengasihi kita sehingga, diriNya yang tanpa dosa, rela menderita bagi kita orang berdosa. Padahal kita memang layak menerima ganjaran atas dosa-dosa kita. Tidak mungkinlah bagi Yesus untuk gagal menganugerahkan kepada kita pahala kebenaran dan keselamatan, karena dia adalah sumber kebenaran? Bagaimana Dia, yang janji-janjiNya adalah benar, gagal menganugerahkan kepada para kudusNya ketika dia menanggung sendiri hukuman yang layak bagi orang berdosa, tanpa Dia sendiri berdosa?

Saudara-saudara, marilah tanpa rasa takut kita mengakui, dan bahkan memaklumkan secara terbuka, bahwa Kristus telah disalibkan untuk kita. Mari kita mengakuinya, bukan dalam ketakutan tetapi dalam sukacita, bukan dalam rasa malu tetapi dalam kemuliaan.

Dengan salib kita diingatkan bahwa tidak ada kebangkitan tanpa salib. Kita juga dipanggil untuk memikul salib kita sendiri dan mengikuti Yesus. Dia telah menunjukkan kepada kita contoh kehidupan Kristen yang sejati dan kita harus meniru Dia. Mari kita juga mencontoh kasihNya yang besar kepada semua umat manusia, bersedia melakukan apa saja, bahkan sampai harus menyerahkan hidup kita bagi orang lain.


Catatan saya (Frans Jelata).

Salib Katolik ada  korpus Yesus karena Agama (Gereja) Katolik berasaskan ajaran para rasul (Apostles). Salah satu  rasul itu adalah St. Paulus. Tentang  Kristus yang disalibkan, Rasul Paulus  dalam  

1 Kor 1: 23-25,  menulis: 

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: t  untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan u  dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, v  1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, w  baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah x  dan hikmat Allah. y  1:25 Sebab yang bodoh z  dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah a  dari Allah lebih kuat dari pada manusia.



____

Perdebatan tentang ikon religius (religious icon) ini tidak akan lengkap jika kita tidak membicarakan tentang ikonoklasme dalam kekristenan. Ikonoklasme adalah sebuah gerakan memusnahkan ikon atau gambar-gambar (seni) religius. Ikon religius ini punya banyak fungsi terutama untuk menyampaikan kisah-kisah dan orang-orang dalam alkitab. Namun, ikonoklasme memandang ikon ini mengarahkan kekristenan kepada pemberhalaan (idolatry).

Gereja Hagia Irene, gereja yang dibangun pada periode ikonoklasme di Romawi Timur.[1]

Ikonoklasme awal muncul di gereja ritus timur Romawi Timur, gerakan ini menghancurkan banyak ikon.[2] Setelah pergantian kekuasaan dalam Romawi Timur, ikon dipulihkan kembali fungsinya sebagai pengajaran dalam Konsili Nikea kedua yang merupakan konsili ekumenikal ke tujuh.[3]

Gerakan serupa kemudian muncul di gereja ritus barat. Saat periode reformasi gereja, banyak reformer yang mengikuti ikonoklasme. Gereja Lutheran, meskipun tidak terlalu mengandalkan peran ikon dalam pengajaran, mengizinkan ikon berupa lukisan. Martin Luther tidak setuju dengan penghancuran ikon karena tidak ada alasan untuk menghancurkan.[4] Gereja Kalvinis tidak menyetujui penggunaan ikon dalam pengajaran.[5] Untuk gereja aliran lain saya tidak tahu.

Ikon di Katedral St. Martin yang dihancurkan pada masa reformasi.[6]


Akhirnya gereja-gereja protestan memilih/punya preferensi tidak menggunakan salib dengan Corpus Christi.


Opini saya, argumen gereja-gereja protestan menjadi relevan karena gerakan ini muncul saat ada mesin cetak. Pengajaran alkitab menjadi less incentive untuk menggunakan ikon karena ada akses mendapatkan alkitab. Berbeda dengan Gereja Ortodoks dan Katolik yang saat pembentukan institusinya tidak memiliki mesin cetak untuk pengajaran. 2 gereja terakhir terus mempertahankan tradisi untuk menggunakan ikon.

Kata teman saya

Tidak ada alkitab, jika tidak ada tradisi.


__________

Setahu saya, ini hanya masalah preferensi saja. Bukan sampai ke arah bahwa inilah yang membuat orang Kristen Protestan dan Katolik berbeda.

Lambang salib baik pada pajangan atau hiasan rumah, atau pada kalung kalau pada orang Katolik biasanya ada figur Yesus yang masih digantung di salibnya.

Lambang ini bagi orang Katolik lebih sebagai peringatan akan kesengsaraan Yesus bagi manusia.

Sedangkan lambang salib yang biasa ditemukan di rumah orang Kristen Protestan, bentuknya hanya salib, tanpa ada figur Yesus yang masih disalib pada salibnya.

Orang Kristen Protestan memandang salib sebagai lambang kemenangan Yesus atas maut. Jadi karena Yesus menang atas maut, makanya Ia sudah tidak ada lagi di salib itu, karena Ia sudah naik ke surga. Bukan berarti orang Kristen Protestan tidak mau mengingat kesengsaraan Yesus di kayu salib, tetapi karena fokus mereka lebih ke Yesus SUDAH menang atas maut.

Soal mana yang benar, itu tidak penting.

Karena lambang salib intinya bagi Katolik maupun Kristen Protestan adalah hanya sebagai lambang peringatan akan Yesus. Itu saja. 

______

Ini pendapat pribadi saya (Protestan):

Salib orang Katolik digambarkan ada figur Yesus, karena mereka menekankan pada pengorbanan Yesus untuk menebus dosa manusia.

Salib orang Protestan kosong, karena mereka menekankan pengajaran Yesus agar pengikutNya menyangkal diri dan memikul salib.

Dengan kata lain, melalui lambang Salib yang dipakai, orang Katolik menyatakan: Lihatlah Tuhan yang mati untukmu di atas kayu Salib, sedangkan orang Protestan: mengingatkan: (Salib) inilah yang harus kita pikul menurut ajaran Yesus.