Kotbah Uskup Agung Ende, Mgr. Vincent Sensi Potokota,Pr
Kedua diakon ini mengambil motto tahbisan imamat: "Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat" ( 2Kor 4:7)
Motto ini diambil berdasarkan refleksi yang mendalam dan mengungkapkan sikap tahu diri, sikap rendah hati bahwasanya manusia begitu rapuh seperti tanah liat.
Imam pada tempat pertama dan terutama adalah milik Allah.
JPS, 24 Januari 2023.
Refleksi ini ditulis tangan saat jalan salib menjelang paskah 1996. Dikotbahkan sejak 1998. Ditulis di Pos Kupang 2001. Disadur lagi 2020.
SALIB ILAHI vs SALIB IBLIS
Rm. Ino Sutam
1
Golgotha, bukit tengkorak
Terpancang tiga salib
Satu salib ilahi, dua salib iblis
Di tengah, salib Kristus, penyelamat
Di kanan, salib Dismas, penjahat yang bertobat
Di kiri, salib Gestas, penjahat yang tak sadar
2
Rupa luar salib itu sama
Kayunya mungkin sama
Yang membuatnya mungkin sama
Cara membuat dan ukurannya sama
Namun arti dan isinya sangat berbeda
3
Salib tengah tergantung Penyelamat Dunia
Kristus yang tak berdosa, tak bercela
Korban kejahatan, ketamakan
Kurban penghapus dosa tak terhitung
Kekuatan untuk mengubah hidup
Sehingga manusia disucikan, dikuduskan
4
Salib kanan tergantung Dismas
Perampok, yang berdosa,
Namun ia sadar dan bertobat dari dosanya
Ziarahnya dalam kejahatan berakhir
Ia mengaku salah, balik badan, metanoia
Masih ada secercah sinar ilahi dalam hatinya
tentang keagungan hidup
Ia pun dijanjikan firdaus
5
Salib kiri tergantung Gestas
Sang penjahat yang tumpul hatinya
Gelap-gulita melanda nuraninya
Ia menuntut Tuhan
untuk membuat mukjizat pembebasan
Tapi ia lupa menuntut diri,
untuk tobat, bebaskan diri dari dosa
Ini dosa yang tidak bisa diampuni,
yaitu tidak mau mengaku dan bertobat
Pengampunan butuh kebebasan dari diri
untuk sadar diri dan mengakui dosa
6
Kita sering merasa hidup ini beban
Secara spontan, hal itu diartikan sebagai salib
Tapi, tunggu dulu ya…, salib siapa?
Salib Kristus? Atau salib iblis?
7
Kedua jenis salib ini perlu direnungkan
Secara nyata dalam pengalaman hidup
Simak contoh atau ilustrasi berikut
9
Dua orang sakit jantung
Dirawat di Rumah Sakit yang sama,
Oleh tenaga medis yang sama,
Dengan obat dan tindakan medis yang sama
Yang satu sakit jantung karena kebiasaan buruk:
minum alkohol, makan tak teratur, jarang istirahat
tapi untuk kesenangan hidup sendiri, egois-hedonis
Punya uang tetapi tidak merawat kesehatan
Diingatkan tapi tapi tak diterima
Yang satu sakit jantung karena bekerja keras
untuk membiayai keluarga
Uang terbatas untuk rawat rutin kesehatan
Keduanya menderita, pikul beban, tapi
mana yang sungguh bebannya sejalan
dengan salib Kristus?
10
Dua orang patah kakinya
persis kaki yang sama,
kejadiannya persis di tempat yang sama,
jatuh dari pohon cengkeh yang sama
tetapi waktunya berbeda,
satunya siang hari, pemilik kebun
yang jatuh malam hari, pencuri
Ini beban untuk keduanya,
dan kalau beban itu, diartikan salib,
Apakah keduanya memikul salib yang sama?
11
Salib dalam kasus Dismas, Gestas, dan empat orang tadi
adalah kasus individual, bagaimana yang kolektif?
Mengapa Dismas dan Gestas jadi penjahat?
Mengapa yang sakit jantung tadi menjadi masa bodoh?
Mengapa seorang yang patah kakinya tadi menjadi pencuri?
Apakah ini karena kesalahan pribadi saja?
Ataukah ini kesalahan dan dosa sosio-kultural, politis?
Mereka mungkin hanya menjadi korban dari titisan
salib iblis sosial dalam sifat-sifat jahat kolektif,
entah secara struktural-politis, ekonomis, yuridis
Ahhhh, rumit…..
12
rupanya tidak cukup kita mengumpat Dismas dan Gestas,
Tidak adil kita hanya marah pada pencuri cengkeh tadi,
Mencela yang masa bodoh rawat kesehatannya
Mereka tidak menjadi penjahat sehari, dan sendirian
Kejahatan selalu butuh inang/rahim, seperti covid-19,
Inang/rahim itulah adalah saya, Anda, kita, masyarakat
Tapi yang dihukum secara sosial-politis adalah individu
Tidak kebetulan Yesus disalibkan bersama dua penjahat
Bukan sendirian, bukan juga hanya dengan satu penjahat
Tidak kebetulan Yesus mati di salib, bukan dengan cara lain
Sebab salib itu simbol diskriminasi sosial, politis dan hukum
Mungkin itu sebabnya Gereja katolik tolak hukuman mati
13
Beralih ke contoh/ilustrasi berikutnya, lebih rumit lagi
Dua orang tentara sama-sama katolik taat,
penyayang keluarga, berdoa, baca Kitab Suci,
berkalung Rosario dengan salibnya
Tapi keduanya berasal dari Negara yang berbeda
Satu saat kedua Negara mereka berperang,
Mereka pun turun ke medan perang, pikul senjata,
dan bukannya pikul salib secara fisik,
Keduanya dan keluarganya berdoa yang sama
untuk keselamatan masing-masing
Namun malang tak dapat ditolak
salah satu kaki keduanya tertembak,
kedua kaki mereka diamputasi
Itu beban bagi hidup mereka dan keluarganya
Jika beban itu diartikan dengan salib
Siapa di antara keduanya yang pikul salib Kristus?
Apakah penderitaan perang bisa dikatakan salib ilahi?
Salib harus direnungkan dalam konteks yang lebih luas
Aduhhhh rumit…..
Itulah sebabnya violence/kekerasan ditolak
Anda bisa mengangkat contoh atau ilustrasi lain lagi
14
Pertanyaan terakhir adalah
Bukankah dengan membiarkan diriNya diperlakukan
tidak adil, dan disalibkan, Kristus dalam arti tertentu
membiarkan ketidakadilan itu berkembang?
Salib, simbol ketidakadilan dalam semua dimensi:
sosio-politis, ekonomis, yuridis, dan religius
Salib menjadi titik simpul dari semua rantai setan:
kejahatan, perampokan, penindasan, teror, KKN.
Kristus menjadi korban dan kurban
Untuk putuskan rantai setan kejahatan itu
Salib dengan darah, air dan bilur Kristus
menjadi antibodi spiritual untuk dosa
Kalaupun kita berdosa, minimal seperti Dismas,
kita tidak kehilangan kesadaran untuk bertobat
15
Jadi, jika Anda merasa hidupmu beban, dan dibebani
Jangan dengan cepat menyamakannya
dengan salib Kristus, salib ilahi
Perlu bertanya: beban salib siapakah ini?
Salib ilahi, artinya menderita karena dan demi hal baik
Demikian juga salib iblis orang per orang,
harus dilihat dalam konteks salib sosial dan kolektif
Tetapi jangan takut, salib ilahi juga adalah kekuatan
untuk menyucikan salib iblis yang kita pikul dalam dosa
Asal kita sadar dan mau meletakkan salib iblis itu
pada kaki salib ilahi Kristus seperti Dismas
16
Salib Kristus secara historis adalah karya/salib iblis
Hadirnya Yesus di sana mengubahnya,
mentransformasi dan mentrasubstansinya
menjadi sarana dan sinergi kekuatan keselamatan
Salib ilahi Kristus bekerja dalam proses
Dengan salib Kristus menyelamatkan manusia, artinya
Ia mengembalikannya ke gambar dan citranya semula
Ia menjadikannya sungguh manusiawi, hominisasi
Ia menjadikannya lebih manusiawi, humanisasi
Ia bimbing untuk mencapai kesempurnaannya, divinisasi
17
Wabah virus corona/covid-19 ini seperti rantai setan
Ia menjadi beban dan penderitaan bersama
Apakah dia salib ilahi Kristus atau salib iblis?
Rupanya bukan saat yang tepat untuk membahasnya
Satu hal yang pasti, karena wabah ini seperti rantai setan
Perlu ada korban dan kurban dari setiap individu
untuk memutuskan dan memusnahkannya
Ini mungkin spiritualitas salib yang cocok saat ini
Ruteng, 10-11 April 2020
Catatan: sebagian tulisan ini disadur dari artikel opini yang pernah ditulis dan dimuat
Di Harian Umum Pos Kupang, menjelang paskah tahun 2001.
Kisah St. Longinus perwirra Romawi yang menikam lambung
Yesus dengan tombak:
LONGINUS:
Inilah nama perwira yg menombak Yesus saat tergantung di
Salib. Ia yg hampir buta, disembuhkan ketika sebagian darah & air dari
lambung Yesus jatuh ke matanya dan ia langsung berseru, "Sungguh, Ia adl
Anak Allah!" [Mrk 15:39]
Ia keluar dari ketentaraan dan menjadi biarawan di
Kapadokia. Tombaknya kini berada di pilar Basilika St Petrus - Vatikan.
Kisah Santo Longinus.
Gereja Katholik memberi nama Longinus kepada komandan
prajurit Romawi (Centurion) yang memimpin dan mengawasi prosesi penyaliban
Yesus di bukit Tengkorak.
Gereja bahkan menganugerahkan kepadanya gelar Santo.
Longinus adalah orang yang telah menikam lambung Yesus
dengan tombak saat Ia tergantung tak berdaya di kayu salib.
Anugerah Santo untuk penikam Orang Yang Dikuduskan? Menarik.
Jati diri persis si perwira sebenarnya tak diketahui pasti,
tetapi kesaksian hidupnya sangat luar biasa hingga gereja mencatat
perjuangannya, memberinya nama bahkan gelar sebagai orang suci.
Pertama, mengapa lambung harus ditombak?
Penikaman lambung adalah prosedur standar yang selalu
dilakukan oleh komandan Romawi saat memimpin prosesi hukuman penyaliban.
Alasannya begini: Orang yang telah tak berdaya di kayu salib
bisa jadi ia hanya pingsan, dan tentara yang mengawal prosesi tentu tak mau
bertindak ceroboh dengan meninggalkan si pesakitan begitu saja.
Bisa jadi kemudian, saat semua orang telah pergi, pengikut
si hukuman akan datang menolong dan menurunkan dari salib.
Nah, untuk mencegah kemungkinan si pesakitan hidup lagi
sekaligus guna mempercepat kematian si terhukum -bila ia hanya pingsan- maka
lambung harus ditikam. Itu prosedur bakunya.
Setelah melihat Yesus sudah lemah tak berdaya, Longinus lalu
meminjam Hasta bawahannya dan mendekat ke tiang salib.
Hasta adalah tombak khas prajurit infantri Romawi. Diambil
dari bahasa Latin. Panjangnya sekitar lengan orang dewasa terentang penuh lebih
sedikit.
Prajurit pemakainya disebut Hastati.
Pasukan Hastati biasanya juga membawa pedang ( disebut
Gladius) di pinggang dan tangan kanan menenteng tameng kotak (dinamakan Scutum)
Nama Hasta (bukan Hasta - lengan- dari bahasa Sansekerta)
biasanya juga dipakai untuk mengukur panjang. Di beberapa daerah masih dipakai
hingga saat ini. Kita pernah mendengar, misalnya, kata-kata "panjang
tanahmu berapa Hasta atau berapa tombak?"
Kembali ke Longinus.
Setelah memegang Hasta, ia berdiri tepat di bawah salib.
Longinus harus mendekat agar tak salah sasaran. Maklum, penglihatannya
bermasalah. Matanya sakit dan sejatinya ia nyaris buta.
Sejenak ia mengedip-kedipkan matanya, berusaha untuk melihat
lebih fokus. Setelah yakin, tombak ia hunjam dengan mantap.
Baja tajam langsung menancap masuk lambung! Cleb! Darah
bercampur air langsung muncrat keluar. Percikan darah diantaranya juga
menciprat mata Longinus!
Secara reflek ia mundur sambil mengusap matanya, ia kembali
mendongak dan seketika itu juga ia merasakan keajaiban pada matanya.
Penglihatannya menjadi terang benderang! Spontan mulut nya langsung memuji,
"sungguh, orang ini adalah Anak Allah" (injil Markus 15: 39)
Ucapannya demikian mantap hingga Longinus termasuk dalam
hitungan sebagai orang yang Percaya pertama kali akan Kekudusan Yesus.
Lubang di lambung adalah luka kelima, luka terakhir.
Luka pertama adalah luka punggung karena dicambuk, disusul
luka kepala karena ditancapkan mahkota dari anyaman tanaman berduri, lalu luka
kaki dan telapak tangan karena dipaku.
Meski melewati berbagai penyiksaan, tapi, tak ada tulang-Nya
yang diremukkan. Sebelumnya, ada seorang prajurit yang sudah mengambil martil
besar yang tadi digunakan untuk memaku, dan siap meremukkan tulang kering-Nya,
tetapi seorang prajurit lain mencegahnya. Hal ini tepat seperti nubuatan para
nabi yang hidup sebelum Yesus, bahwa tubuh-Nya akan disalibkan tetapi tulangnya
tak ada yang diremukkan.
Setelah kesembuhan ajaib pada penglihatannya , Longinus lalu
melakukan perubahan drastis dalam hidupnya.
Ia keluar dari dinas militer, meninggalkan kepercayaan
Romawi kuno yang masih menyembah berhala dan mempelajari ajaran Yesus Kristus.
Setelah mantap ia masuk dan berkeliling sekitar Yunani-Turki
untuk mewartakan Kabar Keselamatan kepada semua orang.
Longinus berkelana ke berbagai kota yang penduduknya masih
menyembah berhala.
Ajarannya kerap mendapat penolakan keras dan akhirnya ia ditangkap
di kawasan dataran tinggi Turki bernama Kapadokia. Giginya dicabut paksa dan
lidahnya dipotong, dalam ketakberdayaannya Longinus tetap mewartakan Kabar
Baik.
Perwira pemberani itu akhirnya meninggal dan pengikutnya
menganggap ia seorang martir.
Gereja Katholik Roma mengakui semua pengorbanannya dan
menobatkan Longinus sebagai seorang Santo, sebuah sebutan luhur untuk orang
yang telah terbukti menjalani hidup dengan penuh kebajikan yang heroik, atau
disebut juga suci (kudus).
Tombak Longinus masih tersimpan dan sebuah patung didirikan
untuk mengenang Longinus ditempatkan di Basilika Santo Petrus di kota Vatikan.
Beberapa film dan novel dibuat untuk melukiskan kemartiran
Longinus.
Moral kisah ini: Seorang lawan -musuh- yang paling jahat dan
pendosa sekalipun bisa diubah Tuhan menjadi seorang martir yang hebat. Longinus
menyambut uluran Tangan Tuhan untuk berjalan bersama Dia, selagi masih ada
waktu.
Selamat Paskah saudaraku, Tuhan memberkati. Teruslah berbuat
kebajikan selagi masih benderang.
Diilhami dari postingan rekan "AHG" (Andika
Hananto Gunawan)
Sumber WAG.
JPS, 10 April 2023.
Video kotbah Rm Wilfrid Valiance Pr, Imam disosesan Keuskupan Maumere, Flores.