Hubertus Leteng (BBC/Bishops' Conference of Indonesia)
Vatican City - Media-media internasional tengah menyoroti
pengunduran diri seorang uskup Indonesia terkait skandal tuduhan
menggelapkan dana gereja. Tudingan itu telah dibantah Uskup Ruteng,
Flores, Nusa Tenggara Timur yang bernama Hubertus Leteng tersebut.
Sejumlah media internasional seperti BBC, AFP, Seattle Times
dan sebagainya melansir pernyataan otoritas Vatikan pada 11 Oktober
2017 yang menyatakan Paus Fransiskus telah menerima permohonan
pengunduran diri Uskup Hubertus.
"Paus Fransiskus telah menerima
pengunduran diri dari penanganan pastoral pada Keuskupan Ruteng,
Indonesia, yang diajukan oleh Hubertus Leteng," demikian pernyataan
resmi Kantor Paus Fransiskus dalam situsnya.
Dengan mundurnya Uskup Hubertus, posisinya akan digantikan sementara
oleh Uskup Denpasar, Sylvester San, sembari menunggu penunjukan yang
baru. Vatikan tidak membahas lebih rinci soal kasus yang menjerat Uskup
Hubertus.
Namun sejumlah media seperti BBC dan AFP,
seperti dikutip pada Kamis (12/10/2017), menyebut Uskup Hubertus
dituding oleh sejumlah pastur di wilayahnya, bahwa dia menjalin hubungan
intim dengan seorang wanita dan menggelapkan dana gereja sebesar US$
124 ribu (Rp 1,6 miliar).
Dilaporkan BBC bahwa Uskup
Hubertus sebelumnya telah membantah semua tuduhan itu. Namun dia tidak
menjelaskan alasannya mengajukan pengunduran diri kepada Paus
Fransiskus.
Dengan diterimanya pengunduran diri ini, Uskup
Hubertus berhenti pada usia 58 tahun, yang berarti 17 tahun lebih awal
dari usia pensiun untuk seorang Uskup.
Sebelumnya pada Juni lalu, seperti dilansir AFP,
total 69 pastur di Indonesia telah mengundurkan diri sebagai bentuk
protes atas perilaku Uskup Hubertus. Hal ini membuat Vatikan melakukan
penyelidikan terhadap tudingan-tudingan yang dijeratkan kepada Uskup
Hubertus. Tudingan yang dimaksud adalah diam-diam meminjam dana US$ 94
ribu dari Konferensi Uskup Indonesia dan mengambil dana US$ 30 ribu dari
keuskupan tanpa mendaftarkan transaksinya.
Saat itu, menurut BBC,
Uskup Hubertus menegaskan dana yang diambilnya digunakan untuk mendidik
kaum muda yang miskin. Soal tudingan dirinya menjalin hubungan dengan
seorang wanita, Uskup Hubertus menyebut hal itu 'fitnah'.
Kesaksian Sipri Palus Tentang Aliran Uang Uskup Hubert Leteng
Ruteng, Vox NTT– Sipri Palus adalah eks
Pastor Keuskupan Ruteng. Ia mengetahui banyak hal seputar hubungan
khusus Uskup Hubert Leteng dengan anak angkatnya, Sayang Decinta Devada
Panjaitan atau biasa disapa Sayang.
Ia tahu hubungan tersebut karena pernah tinggal bersama
anak angkat Uskup Huber itu selama empat bulan di rumah kontrakannya di
Jalan Kububias, Nomor 14 Denpasar. Rumah itu dikontrak oleh Uskup Huber
dengan harga sewa Rp. 59.000.000/tahun.
Keberadaannya di Bali bermula ketika ia ditugaskan Uskup
Huber untuk menjaga Sayang karena, katanya anak angkat Uskup Huber itu
mendapat ancaman pembunuhan dari seorang eks pastor.
Kepada VoxNtt.com Minggu (2/7/2017) Sipri Palus menjelaskan
semua kesaksiannya selama berada di Bali, termasuk aliran uang Uskup
Huber ke anak angkatnya, Sayang Decinta dan keluarganya di Kefa-Atambua.
“Anak angkatnya Bapa Uskup itu sering minta uang dan selalu
saja Bapa Uskup penuhi. Pernah dalam beberapa kesempatan, anaknya
meminta uang tapi saldo rekening Bapa Uskup kurang. Sebab itu, Bapa
Uskup dicaci maki dan diancam,” terang Palus.
“Kalau uang tidak dikirim, puterinya mengancam akan putus
hubungan dan tidak boleh menghubungi puterinya lagi. Sering dalam
keadaan seperti itu, Bapa uskup menjawab; ole….jangan begitukah,
sabar…uang dapat dengan mudah dicari, yang penting enu baik-baik saja,”
ujarnya menirukan Uskup Huber.
Karena itu, Uskup Huber tak segan-segan meminta pinjaman
orang. Segera setelah mendapat pinjaman, Uskup Huber langsung
mentransfernya ke rekening anak angkatnya itu.
Sipri Palus juga mengungkapkan anak angkat itu gemar
membongkar isi tas Uskup Huber tiap kali Uskup Huber tiba di Bali.
Tujuannya satu yakni mengambil uang yang dikumpulkan Uskup Huber dari
pelayanannya di Keuskupan Ruteng. Uang-uang itu digunakan untuk shoping,
bergonta-ganti perhiasan (emas) dengan harga jutaan rupiah dan membeli
pakaian-pakaian mewah
Pernah juga saat berada di Bali, kata Palus, Uskup Huber
melakukan sendiri penarikan uang di Bank BNI. Jumlahnya bervariasi;
Rp.50.000.000 kemudian Rp.100.000.000 dan pernah juga Rp.150.000.000.
“Selanjutnya, uang-uang tersebut dimasukan ke rekening anak
angkat Bapa Uskup atas nama Citra Denada Panjaitan (Bank BRI), Sayang
Decinta Devada Panjaitan (Bank BNI dan Bank Mandiri). Jadi, ada tiga
rekening dengan dua nama berbeda,” jelasnya.
Parahnya lagi, kata Palus, anak angkat Uskup Huber sampai
pernah menyuruhnya untuk mengecek uang yang masuk ke rekening Uskup
Huber. Jika ada uang masuk langsung ditransfer lagi ke rekening anak
angkatnya itu.
“Ada yang merupakan bantuan untuk sebuah panti asuhan dan
ada juga uang stipendium dan itensi dari orang-orang tertentu. Tapi
dikemudian hari, uang-uang tersebut akan ditransfer ke rekening anak
Bapa Uskup,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, ujar Palus, ia juga pernah
menyaksikan anak angkat itu meminta uang Rp. 20.000.000 kepada Uskup
Huber. Permintaan itu pun dipenuhi Uskup Huber, sehingga uang Rp.
20.000.000 itu ditransfer ke rekening anak angkat itu.
Uang sebesar itu digunakan untuk membeli peralatan
olahraga. Padahal, saat itu anak angkat Uskup Huber itu mengeluh sakit
perut, katanya karena hamil.
“Ternyata sebenarnya harga peralatan (olahraga) tersebut hanya 5 juta,” tukasnya.
Selain untuk anak angkatnya, terang Palus, uang Uskup Huber
juga mengalir ke keluarga anak angkatnya di Kefa-Atambua. Uang tersebut
ditransfer dari rekening Uskup Huber ke rekening keluarga anak
angkatnya atas nama Maria Keke (Bank BRI dengan nomor rekening
4665-01-005936-53-1). Transaksi itu menggunakan ATM BNI milik Uskup
Huber dengan nomor PIN saat itu 258013.
“Kemudian, transaksi tersebut berubah tidak langsung dari
rekening Bapa Uskup tetapi melalui rekening saya (Siprianus Palus BRI
Cabang Ruteng nomor rekening 0273-01-014272-50-5) baru kemudian
ditransfer ke rekening Ibu Maria Keke, dengan alasan takut dicurigai
oleh pihak Keuskupan,” jelasnya.
(Berdasarkan rekening koran atas nama Sipri Palus yang
diprint out pada 28/8/2015, pukul 10:54:14 yang diterima VoxNtt.com
tercatat; pada periode Juli 2014, terjadi lima kali transaksi dari
rekening Sipri Palus ke rekening Maria Keke yakni tanggal 4,7,10,12 dan
13. Tiap kali transaksi sebesar Rp. 5.000.000. Jadi, total lima kali
transaksi tersebut Rp. 25.000.000).
Selain minta uang, lanjut Palus, anak angkat Uskup Huber
itu juga merengek minta rumah. Permintaan itu pun dipenuhi Uskup Huber.
Untuk itu, Uskup Huber mengeluarkan uang sebesar Rp. 250.000.000 untuk
membayar uang muka kredit.
Kredit itu diajukan melalui Bank BNI tapi prosesnya gagal.
Kegagalan itu terjadi karena pihak penjamin kredit yaitu Titus (adik
kandung Uskup Huber) menolak membuat surat keterangan.
Ia menolak karena dalam surat keterangan itu dinyatakan
bahwa rumah yang dikredit itu adalah milik anak angkat Uskup Huber
sedangkan Titus hanya sebagai penjamin kredit. Artinya, jika cicilan
kredit tersebut lunas, maka rumah tersebut menjadi milik anak angkat
Uskup.
“Karena itu, Uskup Huber dan anaknya itu merasa dirugikan
oleh keputusan Bapak Titus. Maka sejak saat itu, Uskup dan anaknya benci
dan dendam dengan Bapak Titus. Bahkan, anak Bapa Uskup itu berani
mengeluarkan kata-kata kotor dan kutukan buat Bapak Titus sekeluarga,”
jelas Palus.
Karena proses kredit melalui Bank BNI gagal, mereka
akhirnya beralih mengajukan kredit ke Bank Mandiri sebesar Rp.
1.000.000.000. Kredit sebesar itu bermaksud untuk membeli rumah seharga
Rp. 1.500.000.000. Sebagai jaminan usulan kredit tersebut, yakni Surat
Izin Usaha (SIU) 2 toko milik anak angkat Uskup Huber yang berlokasi di
Ruteng dan Labuan Bajo.
Namun, pihak Bank Mandiri menyatakan jaminan kedua toko tersebut tidak cukup untuk mengabulkan kredit sebesar Rp. 1.000.000.000.
Sementara, Uskup Huber sudah menyerahkan uang sebesar Rp.
500.000.000 sebagai uang muka kredit. Karena takut uang muka tersebut
hangus lagi, maka Uskup Huber dan anak angkatnya bersekongkol dengan
pemilik rumah (Mantan Pegawai Bank Mandiri) membuat data jaminan palsu.
“Seolah-olah anak angkat Uskup Huber memiliki tempat
praktek dokter ahli kandungan di Karang Anyar Bali dengan pendapatan per
bulan 70 juta rupiah, Surat izin buka usaha, izin Lurah, daftar pasien
yang berobat, papan pengumuman praktek, semuanya dibuat dan dipalsukan.
Kredit tersebut pun diloloskan pihak bank. Jangka waktu kredit selama 15
tahun (180 bulan) dengan cicilan per bulan 12 jutaan lebih,” terang
Palus.
Sementara, hingga berita ini diturunkan, Uskup Hubertus Leteng belum memberi konfirmasi, meski sudah dihubungi melalui telepon. (Ferdiano Sutarto Parman/VoN).
Mgr Hubertus Leteng Pr. (Foto: Katedralruteng.com)
Floresa.co – Rabu, 11 Oktober 2017 menjadi hari terakhir bagi Mgr Hubertus Leteng Pr memegang kendali Keuskupan Ruteng.
Ia resmi diganti oleh Uskup Denpasar, Mgr
Silvester San Pr yang menjadi Administrator Apostolik, sambil menanti
Vatikan menunjuk uskup yang baru.
Uskup berusia 58 tahun ini pensiun 17 tahun lebih awal dari yang seharusnya, di di usia 75 tahun, sesuai hukum Gereja.
Permintaan pengunduran diri Uskup Leteng
dikabulkan Paus Fransiskus, Selasa, 10 Oktober, setelah selama sekitar 4
bulan terakhir polemik terkait uskup ini ramai dibicarakan.
Advertisement
Lantas, bagaimana statusnya saat ini dan di mana ia akan bertugas?
Romo Marthen Cen, Ketua Pusat Pastoral
Keuskupan Ruteng mengatakan, meski sudah mengundurkan diri dari jabatan
Uskup Ruteng, namun, Uskup Letengtetap akan menjalankan tugas imamatnya seperti biasa.
“Dia tetap menjadi uskup, hanya uskup emeritus. Dengan kata lain dia sudah pensiun dini,” ujarnya kepada Floresa.co, Rabu malam, 11 Oktober.
“Kalau dia pensiun kan, tidak ada tugas (sebagai uskup), tetapi untuk tugas sebagai imam tetap ia jalankan,” katanya.
Sementara itu, Rm Agustinus Manfred
Habur, sekertaris uskup mengatakan, terkait tempat tugas Uskup Leteng
yang baru merupakan urusan Vatikan.
Yang pasti, kata dia, mengutip pejabat Vatikan, “dia tidak boleh di Ruteng, Denpasar dan Jakarta.”
“Dalam tempo 10 hari, dia diberi waktu berkemas. Tentang kemana (ia akan dipindahkan), rahasia Vatikan,” katanya.
Ferdinand Ambo/ARL/Floresa
Mulai Hari Ini, Keuskupan Ruteng Dipimpin Mgr Silvester San Pr
Floresa.co – Bersamaan dengan pengumuman pengunduran
diri Mgr Hubertus Leteng Pr, mulai hari ini Rabu, 11 Oktober 2017,
Keuskupan Ruteng akan dipimpin oleh Mgr Silvester San Pr, yang juga
Uskup Denpasar Bali.
Penetapan Mgr Sil diumumkan secara resmi oleh Tahta Suci melalui Pastor Fabio Salerno, perwakilan Tahta Suci.
Mgr. Silvester San lahir di Mauponggo, Nagekeo pada tanggal 11
Juli 1961. Ia adalah anak laki-laki ketiga dari sembilan bersaudara,
dari pasangan Roben Robo (ayah) dan Katharina No’o Nore (ibu).
Ia menyelesaikan pendidikan di SDK Maukeli, Seminari Menengah St.
Yohanes Berkmans Todabelu Mataloko Ngada (SMP-SMA), Sekolah Tinggi
Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere dan ditahbiskan menjadi imam
diosesan Keuskupan Agung Ende pada tanggal 29 Juli 1988 oleh
Mgr. Donatus Djagom, S.V.D., Uskup Agung Ende waktu itu.
Surat penunjukkan Mgr Silvester San Pr. (Foto: dok)
Advertisement
Mgr. San diangkat oleh Paus Benediktus XVI menjadi Uskup Denpasar dan
diumumkan oleh Tahta Suci Vatikan pada tanggal 22 November 2008.
Ia ditahbiskan menjadi Uskup pada 19 Februari 2009 di Gereja Katedral
Roh Kudus Denpasar, dengan Penahbis Utama Mgr. Vincentius Sensi
Potokota, Uskup Agung Ende.
Ini Arahan Tahta Suci untuk Para Imam Pasca Pengunduran Diri Uskup Leteng
Situasi saat pembacaan putusan terkait pengunduran diri Mgr Hubertus Leteng Pr pada Rabu, 11 Oktober 2017. (Foto: dok)
Floresa.co – Paus
Fransiskus secara resmi menerima pengunduran diri Mgr Hubertus Leteng
dari jabatan sebagai pemimpin pastoral di Keuskupan Ruteng pada Rabu, 11
Agustus 2017.
Tahta Suci juga secara resmi mengangkat
Uskup Denpasar, Mgr Silvester San, sebagai Administrator Apostolik untuk
menjalankan tugas dan wewenang sebagai uskup di wilayah keuskupan itu,
sambil uskup baru terpilih.
Pastor Fabio Salerno, pelaksana tugas ad
interim dari Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia, dalam siaran pers yang
dirilis Keuskupan Ruteng menyampaikan pesan penting untuk para imam.
Ia mengajak mereka agar dapat “bekerja
sama dengan Administrator Apostolik, menunjukkan kesediaan, rasa
tanggung jawab, dan semangat persaudaraan imamat.”
Advertisement
Dia juga meminta mereka untuk
mengembangkan persatuan, kerukunan, dan keharmonisan umat Allah, agar
umat Allah dapat mengalami sukacita dan damai Tuhan. (FRD/ARL/Floresa)
Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng Pr usai bertemu dengan sejumlah pastor, Senin 12 Juni 2017 malam (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)
Floresa.co – Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng Pr secara resmi mengundurkan diri pada hari ini, Rabu, 11 Oktober 2017.
Keputusan ini disampaikan dalam surat resmi dari Sekertariat Keuskupan.
Keputusan ini, menurut surat tersebut, diumumkan setelah Paus Fransiskus menerima surat pengunduran diri Uskup Leteng.
Dalam surat itu, juga dijelaskan bahwa kini Keuskupan Ruteng akan
dipimpin oleh Administrator Apostolik, Mgr Silvester San, yang juga
Uskup Denpasar.
Advertisement
Rm Manfred Habur, Sekertaris Keuskupan memastikan kebenaran isi pengumuman itu.
“(Ini) sah dari Sekertariat Keuskupan Ruteng,” katanya Rabu sore.
Uskup Leteng memang terlibat skandal, terkait penggelapan uang lebih
dari Rp 1 miliar dan dugaan rahasia dengan seorang perempuan.
Kasus ini membuat puluhan imam pada Juni lalu mengundurkan diri dari
sejumlah jabatan strategis. Vatikan pun bereaksi dengan mengutus
Visitator Apostolik pada Agustus lalu, yaitu Uskup Bandung, Mgr Antonius
Bunjamin Subianto. ARL/Floresa
Penjelasan Keuskupan Ruteng soal Uskup yang Disorot Media Asing
Hubertus Leteng. (BBC/Bishops' Conference of Indonesia)
Jakarta - Pengunduran diri seorang uskup Indonesia, tepatnya
uskup Ruteng, jadi sorotan media internasional. Pihak Keuskupan Ruteng
akan segera bicara soal pengunduran diri yang masih berselubung misteri
itu.
Pihak Keuskupan Ruteng yang dihubungi detikcom
siang ini, Kamis (12/10/2017) sekitar pukul 13.30 WIB, memberi
penjelasan soal pengunduran diri Hubertus. Hal-hal lain terkait
pengunduran diri itu baru akan dijelaskan sore nanti.
Terkait
pengunduran diri Hubertus, Keuskupan Ruteng menjelaskan pemimpin
tertinggi umat Katolik, Paus Fransiskus, sudah menunjuk penjabat
sementara. Dia adalah Mgr Silvestes San, yang saat ini masih bertugas
sebagai Uskup Denpasar.
Hak atas fotoBISHOPS' CONFERENCE OF INDONESIAImage caption
Di usianya yang menginjak 58 tahun, Hubertus Leteng
mengakhiri posisi keuskupannya lebih cepat 17 tahun sebelum masa
pensiunnya tiba.
Paus Fransiskus
telah menerima pengunduran diri seorang uskup Indonesia yang diduga
menjalin hubungan intim dengan seorang perempuan dan mengambil dana
gereja.
Uskup Ruteng, Hubertus Leteng, sebelumnya telah membantah melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.
Dan
tanpa menjelaskan alasannya dia akhirnya mengundurkan diri dari
jabatannya sebagai pemimpin pastoral di Keuskupan Ruteng, Rabu (11/10).
Di usianya yang menginjak 58 tahun, Leteng mengakhiri posisi keuskupannya lebih cepat 17 tahun sebelum masa pensiunnya tiba.
Sebelumnya Vatikan telah menyelidiki laporan-laporan yang
menyebutkan bahwa dirinya secara diam-diam meminjam uang sebesar US$
94.000 atau sekitar Rp 1,2 milyar dari Konferensi Waligereja Indonesia
atau KWI.
Dia juga diduga telah mengambil uang sebesar US$ 30.000 atau sekitar Rp 400 juta dari keuskupannya.
'Fitnah'
Hampir
70 pastur dilaporkan mengundurkan diri pada Juni lalu untuk memprotes
apa yang dituduhkan terhadap Leteng - mengarah ke upaya penyelidikan
oleh Vatikan.
Namun demikian, Uskup Leteng menyatakan dana tersebut digunakan untuk mendidik kaum muda yang miskin.
Dalam
laporannya pada Juni lalu, The Catholic Herald mengungkapkan bahwa
sebagian uang tersebut digunakan Leteng untuk membiayai seorang pemuda
dari keluarga miskin yang tengah sekolah pilot di Amerika Serikat.
Leteng juga mengatakan bahwa tuduhan dirinya memiliki hubungan intim dengan seorang perempuan merupakan "fitnah".
Sejauh ini Vatikan belum menjelaskan kenapa uskup tersebut memilih pensiun dini.
Keuskupan
Ruteng juga tidak menyebutkan tuduhan terhadap Leteng saat mengumumkan
pengunduran diri Leteng serta penggantinya pada Rabu (11/10).
Meski Mundur, Uskup Indonesia Harus Kembalikan Uang Gereja Rp 1,6 M
Jakarta - Monsinyur (Mgr) Hubertus Leteng, pemimpin Keuskupan
Ruteng di Nusa Tenggara Timur, diminta agar mengembalikan dana gereja
sebesar Rp 1,6 miliar yang diduga diselewengkannya untuk kepentingan
pribadi.
Permintaan itu muncul meskipun Paus Fransiskus sebagai
pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma sudah menerima pengunduran diri
Hubertus dari jabatan uskup, Rabu (11/10).
Kewajiban pengembalian
dana gereja itu diutarakan Romo Robert Pelita, yang sejak Juni lalu
bersama 68 pastor lain mendesak agar Hubertus meletakkan jabatan.
Robert mendasarkan ucapannya pada pernyataan perwakilan Vatikan yang datang ke Ruteng pekan ini.
"Ada
penegasan dari utusan Vatikan. Prinsipnya uang itu harus dikembalikan,"
kata Robert yang berstatus wakil Keuskupan Ruteng di Labuan Bajo,
kepada BBC Indonesia.
Namun, kata Robert, utusan Vatikan tidak
memberikan jangka waktu pengembalian uang kepada Hubertus. "Hanya
ditegaskan bahwa uang harus dikembalikan, entah berapa lama," ujarnya.
Ketua
Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr Ignatius Suharyo,
enggan memaparkan duduk perkara di balik pengunduran diri Hubertus. Ia
juga mengaku tidak mengetahui tindak lanjut Vatikan atas dugaan
penyelewengan dana oleh Hubertus.
"Ini adalah urusan rahasia
antara pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma dan yang mereka utus untuk
memverifivikasi perkara itu. Yang seperti itu, kami-kami ini tidak
tahu," kata Ignatius.
Saat berita ini diturunkan, BBC Indonesia
telah berulang kali menghubungi Hubertus sebagai upaya konfirmasi namun
dia tidak mengangkat telepon yang telah tersambung. Ketua Presidium KWI, Ignatius Suharyo, menyebut pengunduran diri Hubertus Leteng hanya diketahui Vatikan. (ROMEO GACAD/AFP)
Sementara
itu, Kabid Humas Polda Nusa Tenggara Timur, Kombes Julies Abraham
Abast, menyebut lembaganya belum menerima aduan apapun terkait dugaan
penyelewengan dana gereja tersebut.
Sebelum Keuskupan Ruteng
melaporkan dugaan itu, kata Julies, kepolisian menganggap isu tersebut
tidak valid dan merupakan urusan internal gereja.
"Sejauh ini
tidak ada indikasi perbuatan pidana dan keuskupan juga tidak melaporkan
kepada kami. Kalau ada aduan, kami pasti akan menindaklanjuti,"
tuturnya.
'Gejolak umat'
Romo Robert Pelita menuturkan, isu
Hubertus mengambil dana gereja tanpa izin telah berkembang sejak 2014
setelah sekelompok imam dan umat menduga Hubertus mengambil Rp1,25
miliar dari common funds milik KWI dan sekitar 425 juta dari kas
Keuskupan Ruteng.
"Keuskupan sesungguhnya sudah punya statuta
mengatur keuangan. Selama ini, itu semua dilangkahi Monsinyur Hubertus,"
ujar Robert.
Hubertus, kata Robert, sudah pernah
mempertanggungjawabkan nominal uang yang hilang itu kepada Dewan Imam
dan Dewan Konsul. Pada forum itu, Hubertus mengaku menggunakan uang
tersebut untuk membiayai pendidikan seorang remaja ke akademi
penerbangan di Amerika Serikat.
"Tapi nama anak, keluarga anak, dan sekolah disebutnya dengan inisial. Dia bilang anak itu dari keluarga miskin," ujar Robert.
"Apakah pengakuan itu betul, masih disangsikan. Kesangsian yang lahir dari pernyataan dia yang menggunakan inisial."
Nusa Tenggara Timur memiliki tradisi Katolik yang mengakar, terutama di
daerah Larantuka yang terkenal dengan prosesi peringatan kematian Yesus
Kristus. (Ulet Ifansasti/Getty Images)
Lebih dari itu, Robert
berharap pengunduran diri Hubertus tidak memicu gejolak baru di antara
para pastor maupun komunitas umat Katolik di kabupaten itu.
Sekretaris
Jenderal Keuskupan Ruteng, Romo Munfred Huber menyebut institusinya
akan mengadakan pertemuan dengan para pastor di daerah itu pada 20
Oktober mendatang. Ia berkata, para imam memegang peran vital untuk
menjaga hubungan baik antara pemeluk Katolik di Ruteng.
"Imam
diminta untuk menyejukkan umat dan memupuk persaudaraan agar semua tetap
bersatu. Semuanya akan didekati melalui para imam," ucap Munfred.
Adapun,
Ketua Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia cabang Ruteng,
Upartus Agat, meminta keuskupan memberikan klarifikasi atas beragam isu
negatif yang mengiringi pengunduran diri Hubertus.
"Keputusan
uskup mundur menguatkan opini yang selama ini berkembang bahwa dia
melakukan penggelapan. Dari kemarin, sejak dikeluarkan berita
pengunduran diri, belum ada konfirmasi soal itu," kata Upartus.
Keuskupan Ruteng berada di bawah Keuskupan Agung Ende, bersama
Keuskupan Larantuka, Maumere, dan Denpasar. (Ulet Ifansasti/Getty
Images)
Publikasi pengunduran diri Uskup Hubertus muncul pada pengumuman
Vatikan tanggal 11 Oktober kemarin. Dalam surat itu, Vatikan menyebut
Paus Benediktus telah menunjuk Mgr Sylvester San untuk menggantikan
posisi Hubertus di Ruteng. Sebelumnya, Syvester berstatus sebagai Uskup
Denpasar.
Gereja Katolik Roma memiliki 37 keuskupan di seluruh
Indonesia, terdiri dari 10 provinsi gerejawi dan satu ordinariat
militer. Merujuk penuturan Mgr Ignatius Suharyo, penunjukan uskup
ditentukan oleh Paus di Vatikan.
Keuskupan Ruteng masuk dalam wilayah administratif Keuskupan Agung Ende, bersama Denpasar, Larantuka, dan Maumere. Hubertus Leteng mengaku menggunakan dana gereja untuk menyekolahkan seorang remaja. (Ulet Ifansasti/Getty Images Ilustrasi)
Seperti
tertuang dalam struktur kepengurusan KWI, Selain menjabat Uskup Agung
Ruteng, Mgr Hubertus Leteng juga memegang jabatan Delegatus Karya
Kesehatan Katolik di organisasi itu.
Terkait tertutupnya gereja
soal pengunduran diri Hubertus, Ignatius Suharyo menyebut kepentingan
umat Katolik sebagai salah satu pertimbangan.
"Semuanya demi
kebaikan. Gereja tidak mau merugikan nama baik siapapun, sehingga dibuat
sangat rahasia, tidak seperti politik yang melengserkan atau memfitnah.
Itu bukan cara gereja menghadapi masalah," ujarnya.
Mantan Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng Mendapat Tugas Baru di Keuskupan Bandung
facebook/beny jaya
Uskup
Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng sedang memimpin misa di lokasi mata air
Wae Poong Waso Ruteng, Kamis (6/4/2017), dalam rangka hari air sedunia,
22 Maret 2017.
POS-KUPANG.COM - Mgr. Hubertus Leteng, Pr telah dipindahtugaskan ke Keuskupan Bandung tanpa wilayah kekuasaan gerejawi.
Mgr. Hubertus Leteng tahun lalu mengundurkan diri dari posisinya sebagai Uskup Ruteng pasca munculnya tuduhan dari para imamnya sendiri bahwa ia menggelapkan dana Gereja dan berselingkuh dengan seorang perempuan.
Penugasan baru untuk Mgr. Hubertus Leteng ini memicu kritik di kalangan imam dan umat awam.
Romo Siprianus Hormat, sekretaris eksekutif Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mengonfirmasi kepada ucanews.com pada 9 Desember perihal penugasan baru ini.
“Uskup Bandung yang menyertai semua proses selama ini diberi wewenang
untuk memberikan beliau kesempatan melayani paroki dalam status penuh
sebagai uskup, tapi tanpa tongkat,” kata Romo Sipri.
Dengan status tanpa tongkat berarti ia tidak memiliki wilayah kekuasaan gerejawi.
Ia menjelaskan, sejak pengunduran dirinya pada Oktober tahun lalu,
Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang menyelidiki
kasusnya telah didelegasikan oleh Vatikan untuk mengawasinya.
Uskup Leteng mengundurkan diri setelah 69 imam di Keuskupan Ruteng
menyerahkan surat pengunduran diri sebagai bentuk protes terhadapnya
karena ia diduga secara diam-diam meminjam dana Rp 1,25 miliar dari KWI
dan Rp 400 juta dari Keuskuapn Ruteng, tanpa memberikan laporan
pertanggungjawaban.
Uskup Leteng mengklaim uang itu digunakan untuk membiayai pendidikan
pemuda miskin yang studi pilot di Amerika Serikat, tetapi menolak
memberikan penjelasan lebih rinci terkait pemuda itu.
Para imam menduga uang itu diberikan kepada seorang wanita yang
mereka duga sebagai selingkuhannya. Tudingan perselingkuhan ini awalnya
muncul pada tahun 2014, yang diungkap oleh salah seorang mantan pastor.
Uskup Leteng berkali-kali menolak tudingan terhadapnya dan menyebut bahwa itu merupakan fitnah.
Pada bulan Agustus, Vatikan menunjuk Uskup Subianto untuk menyelidiki
kasus tersebut, yang berujung pada pengunduran diri Uskup Leteng.
Vatikan tidak memberikan alasan pengunduran dirinya. Namun, sejumlah
imam yang ikut dalam pertemuan dengan delegasi Vatikan kala itu
mengatakan, Uskup Leteng diminta untuk mengembalikan uang yang
diambilnya dan memutuskan hubungan dengan wanita yang dituding sebagai
selingkuhannya.
Pastor Kletus Hekong, dosen Hukum Gereja di Sekolah Tinggi Filsafat
Katolik (STFK) Ledalero, Maumere mengatakan, penugasan kembali Uskup
Leteng adalah wewenang Vatikan.
Ia juga mengatakan, pada dasarnya, ia tetaplah uskup, karena
pengunduran dirinya hanya dari tugas pastoral Keuskupan Ruteng, bukan
dari tugas sebagai uskup dan imam.
“Uskup Bandung tahu soal layak-tidaknya (untuk diberi tugas lagi),” katanya kepada ucanews.com.
Ia juga menambahkan, semua hukuman dalam Gereja bersifat medisinal, yang berarti hukuman dicabut jika ada pertobatan.
Pertobatan itu, tambahnya, tidak harus disampaikan lewat pernyataan.
“Dari seluruh sikap dan perilakunya dapat dibaca mengenai indikasi
pertobatan itu. Bisa juga karena soal yang dituduhkan kepadanya ternyata
lain. Hanya pimpinan Gereja yang berwenang yang bisa menilainya,” jelas
Pastor Kletus.
Sementara itu, Pastor John Mansford Prior, dosen misiologi di STFK
Ledalero mengkiritisi soal pola penanganan kasus ini, di mana tidak ada
keterbukaan dari Vatikan untuk menjelaskan secara resmi apa saja masalah
yang dilakukan Uskup Leteng dan bagaimana pola penanganannya hingga
kemudian ia diberi tugas kembali.
Andai kemudian penugasan ini dianggap sebagai bagian dari upaya
mengampuni apa yang sudah dilakukan Uskup Leteng, Pastor John
mengingatkan bahwa dalam Gereja Katolik
pengampunan terhadap kesalahan adalah fase terakhir, setelah fase
pemeriksaan batin, mengaku dosa, menyatakan tidak akan mengulangi dosa
itu lagi dan menerima absolusi.
“Boleh jadi Leteng sudah memeriksa batinnya, (tapi) dia belum mengaku kesalahannya,” katanya kepada ucanews.com.
“Kalau mau mengampuni Leteng, saya orang pertama yang siap (untuk itu), tapi saya mau ampun dosanya yang mana?” tambahnya.
Ia menjelaskan, kesalahan yang dilakukan Leteng itu adalah skandal di
tengah umat, dan karena itu seharusnya gereja transparan untuk
menjelaskannya.
Sementara itu, Rikard Rahmat, salah seorang awam Katolik yang
terlibat dalam gerakan mendorong mundurnya Uskup Leteng menyebut
penugasan kembali itu kesannya tergesa-gesa, kurang
memperhitungkan sensus fidei atau perasaan iman umat, terutama umat
Keuskupan Ruteng.”
“Ini juga preseden kurang bagus bagi Gereja Indonesia, seakan-akan
skandal semacam itu bukan sebagai sesuatu yang serius, tetapi
pelanggaran yang ringan-ringan saja,” katanya.
Jashinta Hamboer, tokoh awam perempuan yang pernah menulis surat
terbuka menuntut Uskup Leteng untuk mundur mengatakan, baginya, masalah
yang dituduhkan ke Uskup Leteng adalah skandal yang sangat serius.
“Karena itu, ketika mendengar kabar penugasannya ini, saya kaget dan
bertanya-tanya, jangan-jangan masalah seperti yang dia lakukan itu sudah
dianggap sebagai hal biasa dalam Gereja,” katanya.
Ia juga mengatakan, pola penanganan kasus yang tidak transparan dan
tegas bisa melemahkan posisi gereja dalam upaya untuk melawan praktik
korupsi dan mendorong akuntabilitas serta transparansi.
“Hal demikian akan kehilangan nilainya, ketika di dalam gereja
sendiri pun masalah seperti ini tidak dianggap sebagai masalah serius,”
kata Jashinta.
Ia menambahkan, meski demikian, ia memilih untuk menghargai keputusan
Vatikan ini dan berharap, masalah yang terjadi di Keuskupan Ruteng
tidak kemudian pindah ke Keuskupan Bandung.
Sementara itu, Uskup Bandung tidak merespons permintaan ucanews.com untuk memberi penjelasan terkait hal ini. Tanggapan Netizen
Sejak ucanews melansir berita ini, sejumlah warganet memberikan tanggapan beragam. Jenny Marisa: Jika nama seorang pejabat gereja
setinggi uskup sdh dikaitkan pada suatu skandal (apapun) menurut hemat
saya jangan diwariskan ke keuskupan lain. Penanganan ya menurut
peraturan yg ada saja dlm gereja.. Selayaknya dan paling pantas adalah
beliau mengundurkan diri dari penggembalaan umat dan pensiun saja tanpa
kedudukan apapun di tempat asalnya di wisma imam jompo Jangan
dihadiahkan ke paroki manapun.. Dedi Suardi: ”Tradisi” Lama Institusi Gereja.
Seberat apapun skandal para Selibater/Imam…Cuma satu solusi… dimutasi ke
Tempat lain…. Ternyata “Institusi” Gereja sangat pandai “Mafia”.
Menyembunyikan skandal dengan cara-cara yang licik….Kalau sudah begini
realitasnya….Apa bedanya dengan Institusi yang lain….???? Fransiskus Mami:
Saya adalah seorang awam dari keuskupan Ruteng yg juga sangat menyesal
dgn skandal yg menimpa uskup Hubertus pada beberapa bulan lalu yg
berujung dgn pengunduran diri dari uskup Huber. Dalam benak kmi yg awam
kiranya pengunduran diri kemarin tu total bhwa dia keluar dari uskup
(pensiun/emeretus) tpi ternyata sekarang Vatikan kembali memberi dia
tugas sebagai uskup di Bandung tanpa tongkat saja. Yah Vatikan lebih
berkuasa dalam hal penugasan baru.
Saya sebagai awam yah ikuti saja barangkali itu yg terbaik buat uskup
Huber juga buat umat. Dengan satu harapan kalau skandal yg dituduhkan
kemarin itu benar adanya maka uskup Huber sendiri yg tau tentunya dia
bertobat dan tidak mengiulanginya lagi.
Saya cuma berharap dan berdoa agar peristiwa seperti ini jangan terjadi lagi di kalangan para uskup maupun para imam. Sumber: ucanews.com/indonesia
Pastor Senior Katolik Roma Mengaku Punya Istri dan Dua Anak
Kompas.com - 09/10/2017, 11:34 WIB
Pastor Oscar Turrion (WAYN via SCMP)
ROMA, KOMPAS.com – Seorang pastor senior dan mantan rektor seminari
tinggi terkenal, Legion of Christ, di Roma, Italia, meninggalkan
imamatnya setelah secara mengejutkan dia mengaku telah memiliki istri
dengan dua anak.
Keluarganya itu disembunyikannya selama bertahun-tahun dari otoritas Gereja Katolik Roma,
yang secara ketat menerapkan kehidupan selibat, sementara ia sendiri
tetap melayani umat dan seminari dalam balutan juba imamatnya.
Harian The Telegraph, Minggu (8/10/2017), melaporkan, Gereja Katolik Roma telah mengumumkan akhir pekan lalu bahwa Pastor Oscar Turrion (49), pasto asal Spanyol, menanggalkan jubanya. Baca: Paus Terima Pengunduran Diri Uskup Paraiba yang Diduga Terlibat Skandal Seks
Turrion adalah seorang pastor paling senior. Pada 2014 dia diangkat
menjadi rektor Pontifical Maria Matter Ecclesiae International College,
seminari tinggi di Roma, ibu kota Italia, yang dikhususnya untuk para
seminaris utusan dari keukupan-keuskupan di dunia.
Pastor adalah kaum tertahbis dan dalam Gereja Katolik Roma, kaum ini
hidup secara selibater atau tidak menikah dengan tujuan agar lebih fokus
dalam melayani umatnya.
Namun, sebuah pengumuman mengejutkan dari pimpinan gereja lokal di
Italia, mengatakan, Turrion akan meninggalkan pelayanan sebagai imam
agar lebih banyak waktu untuk “sebuah keluarga yang telah dibesarkannya
secara sembunyi-sembunyi sampai sekarang”.
Pada Maret lalu, Turrion pertama-tama memberi tahu atasannya di
Pontificical Maria Matter Ecclesiae International College, yang
menampung sekitar 100 calon imam praja dari seluruh dunia, bahwa dia
baru saja menjadi ayah seorang anak perempuan. Baca: Tokoh Senior Katolik Australia Didakwa Tersangkut Skandal Seks
Sebagai imam Katolik Roma, ia semestinya terikat pada sumpah selibat.
Dia kemudian diberi kesempatan atau waktu untuk melakukan refleksi
diri. Rektor baru telah ditunjuk pada Agustus lalu.
Minggu lalu, Turrion mengatakan kepada pihak berwenang dalam sebuah
surat bahwa dia telah memutuskan untuk meninggalkan imamat dan seminar.
Ia mengakui bahwa anak perempuan yang disebutnya sebenarnya adalah
anak kedua yang lahir dari seorang wanita yang dia cintai beberapa tahun
yang lalu ketika dia terjebak kehidupan ragawi.
Dia memiliki seorang anak sulung, seorang anak laki-laki, yang lahir
delapan tahun yang lalu. Turrion dalam suratnya kepada pimpinannya
meminta doa dan "keabsahan skandal atas contoh burukku.
Romo Fernando Karadima dikelilingi awak media saat meninggalkan gedung pengadilan di Santiago. (Reuters)
Santiago -
Di Cile, lebih dari 100 rohaniwan Katolik tengah diselidiki atas dugaan
kejahatan seksual dan upaya untuk menutupinya. Ini adalah skandal yang
menghantui kepemimpinan Paus Fransiskus dan telah menggiring gereja
Katolik di Cile terjerembab ke dalam krisis.
Skandal itu dimulai
beberapa dasawarsa lalu ketika seorang pria bernama Fernando Karadima,
seorang pastor di Santiago, menjadi predator seksual paling terkenal di
Cile.
"Ia menawarkan visi tentang panggilan dari Tuhan. Ia
menunjukkan kepada Anda sebuah dunia yang sangat indah," kenang Dr James
Hamilton, seorang ahli bedah lambung yang sekarang berusia 50-an tahun.
"Ia
selalu mengatakan kepada kami bahwa ia dianugerahi kelebihan khusus -
semacam keajaiban - yang bisa ia lihat di setiap anak muda, jika
mendapat panggilan dari Tuhan. Ia nyaris bagaikan orang suci."
Pada
awal 1980-an, Pastor Fernando Karadima menawarkan perlindungan kepada
James Hamilton yang kala itu masih remaja. Saat itu, Cile sudah 10 tahun
berada di bawah kediktatoran Jendral Augusto Pinochet.
Di masa
yang sarat akan pembunuhan dan penghilangan paksa itu, Karadima
mendirikan komunitas gereja di kawasan elite Kota Santiago, El Bosque,
yang memberikan jaminan keamanan.
"Bagi seorang remaja, tawaran
itu bak lebah dan madu - terasa manis kala berada di dunia yang
dirundung kesulitan, ketika Anda berjuang dengan keluarga Anda," kata
James Hamilton.
Ayah James sudah lama meninggalkan rumah, sehingga James menjadi remaja yang rapuh - sasaran empuk bagi pelaku kekerasan.
Dan, sebagai seorang idealis muda, ia percaya dirinya hanya memiliki dua pilihan:
"Bergabung
dengan orang-orang yang berperang melawan Pinochet, sebagian besar
lewat jalan kekerasan. Atau, mengikuti jalan yang ditunjukkan Gereja
Katolik kepada Anda - jalan orang-orang suci, perdamaian, dan
menyuarakan firman Tuhan Yesus. Saya ingin belajar kedokteran, ini
adalah jalan yang saya ambil tanpa kekerasan. "
Namun, meski
Gereja Katolik berperan dalam membantu para korban kediktatoran ini,
beberapa pastor percaya bahwa Pinochet adalah juru selamat Cile -
Karadima adalah salah satunya.
James Hamilton diundang untuk
bergabung dengan Catholic Action, sebuah perkumpulan pemuda eksklusif
yang bertemu di El Bosque untuk mendengarkan Karadima yang berbicara
tentang kepahlawanan, orang-orang suci, serta pentingnya menjadi
seseorang rendah hati dan patuh.
James, yang kala itu masih remaja mudah terpengaruh dan merasa seolah-olah telah dipilih.
Lalu pelecehan seksual mulai terjadi.
"Anda
tidak mengiranya - itu adalah sesuatu yang benar-benar membingungkan.
Tidak mungkin orang suci bisa melakukan semua ini karena penyimpangan
seksualnya. Itu tidak mungkin," kata Hamilton, mengingat kebingungannya
saat itu.
"Jelas yang salah adalah saya." James Hamilton di tahun 2018. (Getty Images)
Dan Karadima, yang berkedok spiritualitas semu, tidak melepas rasa bersalah yang dialami James Hamilton.
"Sesuatu
yang sangat mengerikan, adalah setiap kali ia melecehkan saya, ia
menyuruh saya menemui pendeta lain untuk membuat pengakuan dosa," kenang
Hamilton.
"Jadi ia membebankan semua rasa bersalah kepada saya.
Dan pendeta lain yang mengetahui segalanya, selalu diam ketika saya
mengadu tentang perlakuan Karadima. Ia hanya mengatakan kepada saya,
'Bersabarlah, jangan khawatir.'"
Di gereja di El Bosque, Karadima dilindungi dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya.
Ia mempengaruhi para pembantunya, dan melatih puluhan pemuda untuk menjadi pastor - empat anak didiknya akan menjadi uskup. Gereja Hati Kudus di paroki El Bosque. (BBC)
Pelecehan
yang dilakukan Karadima terhadap James Hamilton tak berhenti selama 20
tahun, bahkan ketika James yang sudah menjadi dokter menikah dan
memiliki anak.
Kini sesudah 14 tahun menjalani psikoterapi, tiga kali dalam seminggu, ia memahami dinamika kekerasan ini dengan sangat baik.
Tetapi, saat menjadi seseorang yang lebih muda, ia merasa harus tunduk pada pelaku kekerasan.
Ketika
ia pergi makan malam di El Bosque bersama istrinya, Karadima akan
memintanya untuk meninggalkan meja dan menemaninya di lantai atas dengan
dalih ada keluhan kesehatan yang perlu perhatian.
"Beberapa
kali saya mencoba menjaga jarak dari Karadima, tetapi setiap kali saya
mencoba, ia membuat semacam pengadilan dengan dua atau tiga uskup serta
tiga atau empat pastor. Mereka menempatkan saya di sebuah ruangan, dan
memberi tahu saya bahwa iblis ada di dalam saya."
Ini dikenal
sebagai "pembenahan persaudaraan" di El Bosque - sebuah mekanisme
berdalih pemulihan orang yang kerasukan setan, dan digunakan untuk
membawa kembali anggota jemaat Karadima yang tak patuh ke tempat semula.
Pada tahun 2004, James Hamilton akhirnya lepas dari Karadima.
"Saya merasa anak-anak saya dalam bahaya. Terutama putra saya," katanya.
Karadima terus mengejar sang dokter, dengan mengirim para pendeta dan uskup untuk berbicara kepada keluarga dan karyawannya.
James
Hamilton melaporkan Karadima kepada otoritas gereja, dan meski ia tidak
mengetahuinya saat itu, ia adalah pria kedua yang mengadukan kasus
pelecehan seksual yang dilakukan Karadima dalam dua tahun.
Namun,
Gereja Katolik tetap bungkam. Tidak ada penyelidikan resmi selama
bertahun-tahun, sampai akhirnya banyak bukti yang menghadang Karadima. Fernando Karadima di dalam ruang pengadilan di Santiago, Chile. (Reuters)
Pada tahun 2009, perkawinan James Hamilton menemui kegagalan dan ia berniat untuk membatalkannya.
Dalam
pengajuan pembatalan, James mencantumkan pelecehan seksual yang
dilakukan oleh Karadima, sebagai alasan atas hancurnya pernikahan dengan
istrinya.
Pihak gereja menekannya - seorang pastor mendatanginya dan memintanya untuk berhenti membuat surat pembatalan pernikahan.
"Mereka
meminta saya untuk menandatangani sebuah deklarasi - yang menyebutkan
bahwa saya telah cukup umur ketika bertemu Karadima, dan bahwa itu
adalah hubungan antara dua pria dewasa."
James Hamilton menolak. "Saya tidak bisa menandatanganinya karena itu tidak benar," katanya.
Surat pembatalan pernikahannya pun akhirnya disetujui.
Surat tersebut kemudian bocor ke publik dan pada saat itulah pihak Gereja Katolik menyelidiki Fernando Karadima.
James Hamilton kemudian menghubungi pria-pria lain yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan Karadima.
Pada
2010, mereka membuat pernyataan kepada jaksa sipil. Mereka tahu pastor
itu tidak akan dipenjara karena kasus pidana Cile punya masa kadaluarsa,
tetapi setidaknya mereka tidak ingin apa yang mereka alami ditutupi.
Itu menakutkan.
"Media memuat nama-nama kami - kami (dilihat
sebagai) yang terburuk. Saya pikir seseorang berupaya membunuh saya -
menaruh bom di kolong mobil saya, atau rem mobil saya akan dipotong di
daerah pegunungan.
119 kasus pelecehan seksual"Hal-hal seperti ini
terjadi di Cile di bawah kediktatoran Pinochet. Dan Karadima adalah
seorang pendukung Pinochet - ia berteman dengan semua mantan jenderal
Pinochet. Ia memiliki kekuatan besar - sampai saat ini."
Kini,
Fernando Karadima berusia 88 tahun. Ia tinggal di sebuah biara dengan
sebuah taman luas yang terletak di kawasan mewah Santiago.
Pada
tahun 2011 Vatikan menyatakan ia bersalah atas pelecehan seksual
terhadap anak di bawah umur, kadang-kadang dengan kekerasan.
Ia
dijatuhi hukuman dengan menyendiri sembari berdoa, dan dilarang
berhubungan dengan mantan anggota-anggota paroki, atau melakukan
pelayanan publik.
Tapi mengapa pemrosesan kasus ini begitu lama?
Apa yang menghambat Uskup Agung Santiago, Kardinal Francisco Javier
Errazuriz, dalam melakukan penyelidikan gerejawi terhadap perilaku
Karadima, padahal ia sudah menerima laporan pertama tentang pelecehan
seksual setidaknya tujuh tahun sebelumnya?
"Sayangnya, saya menilai bahwa tuduhan itu tidak kredibel pada saat itu," katanya kepada media pada 2010.
Kasus
Karadima ini mengguncang Cile. Kekesalan terhadap Gereja Katolik makin
membara pada 2015. Kala itu, Paus Fransiskus menunjuk salah satu pemuka
gereja, Juan Barros, sebagai uskup - seorang pria yang diduga melindungi
Karadima.
Warga Cile sangat berang.
Para pengunjuk rasa menyambut kedatangan Paus ketika ia mengunjungi Cile pada Januari 2018.
Sikap Paus yang menyebut tuduhan terhadap Uskup Barros sebagai "fitnah" menimbulkan kemarahan yang sangat besar.
Setelah
ia meninggalkan Santiago, Paus Fransiskus dipaksa untuk menanggapi para
pemrotes, dan mengirim dua utusan ke Cile untuk menyelidiki kasus
pelecehan seksual ini. Uskup Juan Barros memimpin misa Minggu Palem pada bulan Maret 2018. (Getty Images)
Sejak
saat itu krisis parah terjadi di Gereja Katolik. Utusan Vatikan membuat
laporan sebanyak 2.300 halaman, dan Paus mengakui, "budaya pelecehan"
di Cile. Lima uskup mengundurkan diri - termasuk Juan Barros.
Sementara itu, untuk pertama kalinya di Cile, jaksa sipil menyita dokumen gereja dalam serangkaian penggerebekan.
Kini,
aparat Cile sedang menyelidiki 119 kasus pelecehan seksual dan upaya
yang ditutup-tutupi oleh gereja. Sejauh ini sudah ada 178 korban yang
teridentifikasi, hampir separuhnya adalah anak di bawah umur pada saat
tuduhan pelecehan itu terjadi.
Uskup Agung Santiago, Kardinal Ricardo Ezzati, dipanggil oleh jaksa untuk bersaksi.
Meskipun
penyelidikan telah diperluas tak hanya pada Fernando Karadima dan
orang-orang kepercayaannya, komitmen otoritas Cile untuk memberi
keadilan terhadap korban kekerasan seksual malah membuat korban-korban
Karadima lainnya terus bermunculan.
Bulan lalu, Romo Francisco
Javier Ossa Figueroa memberikan kesaksiannya selama dua jam kepada jaksa
tentang apa yang terjadi padanya di El Bosque sejak akhir 1980-an dan
seterusnya. Pastor Francisco Javier Ossa Figueroa juga menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan Karadima. (BBC)
"Sulit
untuk menggali semuanya, tetapi saya tahu itu bisa membantu banyak
orang. Anda memang harus berani, karena bukan hanya saya sebagai pendeta
yang bersaksi - saya, Francisco, orang yang secara pribadi terluka oleh
hal ini. Tapi saya merasa beban telah terangkat, dan bahwa saya tidak
sendirian. "
Setelah beberapa pengakuan yang menggegerkan Gereja
Katolik di Cile, Romo Francisco dipanggil untuk menemui Paus Fransiskus
di Roma untuk membahas pengalamannya tentang pelecehan.
James
Hamilton juga diundang ke Vatikan, bersama dengan dua pria lain yang
juga telah berkontribusi menjatuhkan Fernando Karadima pada tahun 2011 -
Jose Andres Murillo dan Juan Carlos Cruz.
Paus Fransiskus telah
mengakui bahwa ia membuat, "kesalahan besar" dalam penilaiannya atas
peristiwa di Cile, tetapi James Hamilton tidak terkesan.
Para korban pelecehan gereja Chile, Jose Andres Murillo (kanan), James
Hamilton (tengah) dan Juan Carlos Cruz (kiri), dalam sebuah konferensi
pers di Roma. (Getty Images)
"Paus tidak memberi tahu kami
apa-apa. Ia tidak memberi tahu kami apa pun tentang apa yang akan ia
lakukan, ia hanya meminta kami untuk mendoakannya."
Terapi yang
dijalani Dr Hamilton selama bertahun-tahun telah membantunya pulih dari
cobaan beratnya, tetapi ahli bedah yang berpengalaman ini mengatakan, ia
mengorbankan banyak hal dengan mengumumkan pengalamannya kepada publik.
Akibatnya, ia bukan lagi seorang profesor universitas, atau dokter kepala bedah.
Apa
yang ia inginkan adalah, Gereja Katolik mengungkapkan nama dan membuat
malu orang-orang yang masih berkuasa dalam hierarki Katolik Cile. Dia
ingin mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan.
"Mereka
nyaris membunuh hati saya, jiwa saya ... Ketika Anda membunuh jiwa -
dan saya dapat mengatakan ini sebagai seorang dokter - Anda mulai
membunuh tubuh Anda. Anak-anak yang telah dilecehkan akan hidup 20 tahun
lebih sedikit, jadi apa yang kita bicarakan? Mereka adalah penjahat. "
Pemerintah Cile
kini sedang menyelidiki lebih dari 30 anggota Gereja Katolik Roma atas
tuduhan keterlibatan dalam melakukan pelecehan seksual atau upaya
menutup-nutupinya.
Penyelidikan terhadap uskup, pastor dan
pengurus gereja ini berlangsung menyusul kemunculan laporan dari lebih
260 orang yang mengaku korban, 67% di antara mereka masih anak-anak.
Kepala
Gereja Katolik di Cile, Kardinal Ricardo Ezzati, terseret ke tengah
pusaran skandal dengan tuduhan menutup-nutupi kasus dugaan pelecehan
seksual.
Awal tahun ini, sebanyak 34 uskup dari Cile dipanggil ke
Roma bersamaan dengan pernyataan Paus Fransiskus yang mengecam "budaya
pelecehan dan menutup-nutupi".
Setelah mengemukakan pernyataan tersebut, Paus menerima pengunduran diri sebanyak lima uskup. Wartawan BBC News Mundo,Constanza Hola,
berbincang dengan dua mantan pelajar seminari yang mengklaim mengalami
pelecehan. Hola juga berbicara dengan salah seorang uskup yang
mengundurkan diri, Gonzalo Duarte, mantan kepala seminari kepausan di Valparaiso, Cile bagian tengah. Hak atas fotobeeandbee
Mauricio Pulgar
Mauricio
Pulgar merupakan anggota kaum muda Katolik atau mudika pada 1993. Di
masa itu, dia diundang menghadiri acara perenungan di sebuah kota kecil
di Cile bagian tengah di bawah pengawasan Pastor M.
Suatu malam, sang romo menyuruh mereka berenang telanjang di kolam renang.
"Saya
dan seorang teman menolak, namun Romo M memaksa kami. Dia berkata jika
kami tidak melakukannya berarti kami punya masalah seksual," ujarnya
kepada BBC Mundo.
"Pastor M masuk ke kolam dan menyentuh kami. Menurutnya, itu bagus untuk membangun kepercayaan dan percaya diri." Hak atas fotoRawpixelImage caption
Romo M menyuruh sekelompok bocah pria telanjang dan
berenang, kata Mauricio. “Kami pikir itu aneh, tapi dia meyakinkan kami
itu hal yang bagus. Kami masih sangat muda..."
Dua bulan kemudian, Mauricio mulai menekuni studi untuk menjadi pendeta. Di seminari, dia mengaku juga mengalami pelecehan.
"Mereka memeluk saya dari belakang ... Jika saya menolak, mereka marah."
"Saya dirisak jika saya tidak mengizinkan mereka mencium saya."
Dia mengenang kejadian traumatik lainnya dengan Romo H, yang dia bantu di kota tetangga.
"Dia
bertanya mengapa saya tidak mau 'diinisiasi'. Saya tidak paham apa
maksudnya. Dia mengatakan heteroseksualitas tidak ada dan bahwa kita
semua gay dan harus mencoba semuanya."
Uskup Gonzalo Duarte
mengatakan dia sudah pernah mendengar bahwa Romo H "punya masalah
homoseksualitas, namun laporan itu datang dari keuskupan lain yang bukan
di bawah pengawasan saya," ujarnya kepada BBC sebelum mengundurkan
diri, Juni lalu. Hak atas fotoMauricio PulgarImage caption
Mauricio Pulgar (kanan) mengaku diminta memutus
hubungan dengan keluarganya. Dia diberitahu bahwa ibunya merasa "rendah
diri" setelah berpisah dengan ayahnya.
"Romo H pernah meminta saya menginap di rumahnya,"
kata Mauricio. "Dia memberikan saya minuman dan saya mulai merasa mual.
Dia bilang ke saya: 'Berbaringlah di ranjang saya, istirahatlah'."
"Saya
pingsan dan terjaga oleh suara erangan. Dia sedang melecehkan saya.
Saya mencoba mengangkat tangan dan kaki saya, tapi tidak bisa. Saya
akhirnya bisa mengangkat satu tangan, tapi dia menangkapnya dan..."
Tangis Mauricio pecah.
"Dia
lalu membuka laci penuh uang dan berkata bahwa saya telah menjadi
bagian dari lingkarannya. Saya bilang saya tidak mau berada di dalam
lingkarannya dan pergi."
Mauricio akhinya meninggalkan seminari, tapi dia memerlukan 20 tahun untuk membuka pengalamannya.
Pada 2013, dia mengajukan pengaduan ke pihak gereja.
"Memang
ada investigasi, tapi kejahatannya tidak pernah ditemukan," kata Uskup
Duarte, yang meyakini homoseksual adalah "dosa serius" tapi bukanlah
kejahatan selama orang dewasa ikut terlibat. Hak atas fotoSebastián del RíoImage caption
"Perlu waktu sangat lama bagi saya untuk menyadari
bahwa ini adalah pelecehan seksual," kata Sebastián del Río.
Sebastián del Río
Sebastián
del Río sudah tahu cita-citanya adalah menjadi pendeta sejak usia 12
tahun. Pada 1999 dia masuk seminari setelah lulus dari sekolah menengah
atas.
Dekan seminari tersebut adalah Romo M, orang yang dituduh memaksa Mauricio berenang telanjang enam tahun sebelumnya.
Menurut Sebastián, Romo M menjadi terobsesi dengannya.
"Dia biasa datang ke kamar saya untuk basa-basi. Saya mulai membuka pintu ketika dia datang, saya takut."
Suatu
ketika dia melaporkan Romo M kepada uskup yang bertanggung jawab atas
seminari tersebut. Oleh sang uskup, Sebastian diberitahu bahwa Romo M
punya "masalah emosional".
"Saya bertanya apa maksudnya dan dia memberitahu bahwa Romo M telah jatuh cinta kepada saya."
Sang uskup mendorong Sebastián menghadapi Romo M.
"Saya
pikir dia akan membantah semuanya, tapi dia mulai menangis. Dia bilang
kepada saya bahwa dia tidak pernah bermaksud melukai saya."
Romo M akhirnya dipindahtugaskan. Namun, itu bukanlah akhir dari pengalaman buruknya, kata Sebastián. Hak atas fotoReutersImage caption
Paus Fransiskus memanggil 34 uskup asal Cile ke Roma dan mengecam "budaya pelecehan dan menutup-nutupi."
Dia ingat kejadian lain. Sesaat setelah selesai belajar dia menuju kamar Uskup Duarte untuk berbincang mengenai penasbihannya.
"Kami
sedang berbincang dan tiba-tiba dia setengah telanjang dan meminta saya
membalurkan minyak antiperadangan di punggungnya. Itu sangat
memalukan."
Uskup Duarte menepis telah melakukan kesalahan.
"Itu trik kotor," kata Duarte. Menurutnya, asistennya telah memintanya untuk menerima Sebastián karena hari itu "dia menangis".
Sebelum
kejadian di kamar, kenang Duarte, dia telah memimpin sebuah prosesi
yang panjang dan selagi di kamar dia meminta Sebastián membalurkan
minyak ke punggungnya yang lelah selagi dia mendengarkan Sebastián.
"Itu saja!" cetus Duarte.
Akan tetapi, Sebastián menuduhnya turut campur dalam kariernya sehingga dia tidak pernah ditahbiskan.
Pada
2010, Sebastián melayangkan laporan resmi (yang dilihat BBC) berisi
tuduhan terhadap Romo M dan Uskup Duarte. Akan tetapi, Sebastián tidak
pernah menerima jawaban.
Uskup Duarte mengklaim dirinya tidak pernah menerima laporan itu. BBC sudah menghubungi romo yang disebut dalam artikel ini, tapi tidak mendapat jawaban. Romo H kini bermukim di sebuah rumah tetirah, sedangkan Romo M masih aktif menjadi pendeta. Daniel Pizarro berkontribusi pada laporan ini.
Nemo prudens punit, quia peccatum, sed ne peccetur; artinya seorang bijak tidak menghukum karena dilakukannya dosa, melainkan agar tidak lagi terjadi dosa. (https://news.detik.com/kolom/d-3497331/kontroversi-vonis-ahok)
non ultra petita, artinya: seorang hakim dilarang memutuskan suatu perkara yang tidak dituntut oleh jaksa dalam surat tuntutan. (http://megapolitan.kompas.com/read/2017/05/12/06333391/kata.pengacara.ahok.soal.putusan.hakim.dan.dugaan.terpengaruh.tekanan).