Selasa, 30 Desember 2014

Kedewasaan Iman



Kedewasaan Iman

Sumber: https://www.facebook.com/notes/871182712901035/
           Sebuah petisi tentang “skandal” uskup Ruteng, Mgr. Hubert Leteng, Pr baru-baru ini  cukup mengagetkan. Pihak keuskupan mengklarifikasi bahwa informasi itu tidak benar adanya. Lantas apakah persoalan sudah selesai?

            Saya sendiri tetap menangkap suatu kejanggalan tatkala reaksi beberapa orang menjadi tak wajar. Dikatakan tidak wajar apabila hanya sekadar fokus pada soal klarifikasi fakta dan merasa terganggu kalau isu ini terus dibahas karena seolah-olah dapat mengancam iman umat beriman.

            Peristiwa demikian justru menjadi momen terbaik merefleksikan iman kalau kita mau bertanya, apakah adanya peristiwa demikian mengganggu iman kita kepada Kristus melalui Gereja seandainya apa yang diutarakan dalam petisi tersebut “benar-benar” terjadi atau akan terjadi dengan pemeran yang berbeda pada masa mendatang?

Pertanyaan Dasar

           Beberapa kasus sebelumnya yang melibatkan para klerus membuat pikiran saya terbuka. Pelanggaran nilai-nilai moral oleh kaum klerus tidak lagi begitu mengejutkan, apalagi harus ditutup-tutupi.

           Pada tahun lalu di Maumere, kasus pembunuhan bayi dan ibu oleh seorang mantan pastor bernama Herman Jumat terungkap. Hal itu memberikan kesan bahwa tindak kejahatan moral bukan lagi sesuatu yang mustahil dilakukan kaum rohaniwan. Apalagi soal skandal seks yang sudah semacam bayangan yang  selalu mengikuti kehidupan kaum selibat.

            Apabila menengok berita-berita dari belahan dunia lain, kita tak seharusnya kaget. Mantan uskup, Fernando Lugo yang menjadi presiden Paraguay pada 2008 tersandera oleh skandal. Semasih menjadi uskup ia mempunyai istri dan anak. Kasus pedofilia juga marak terjadi di Amerika serikat dan Eropa. Apalagi kalau menengok lebih jauh kebelakang, pada abad pertengahan, perilaku kaum religius termasuk Paus membuat kita risih membacanya.

            Sebetulnya semua skandal itu adalah masalah yang harus ditanggapi dan direfleksikan. Akan tetapi keengganan kita untuk berbicara terang-terangan karena beranggapan itu sebagai sebuah ancaman iman adalah juga sebuah persoalan serius.

            Salah satu jawaban yang mungkin dari keengganan kita itu adalah kita belum menyentuh pertanyaan dasar dalam kehidupan beriman, “mengapa kita perlu beriman kepada Allah?”

Mengapa Harus Beriman?

            Beriman berbeda dari beragama. Beriman adalah hasrat dasar manusia. Beragama adalah cara-cara untuk menjawabi hasrat itu. Beriman berada pada level metafisis dan kegiatan keagamaan adalah praktikal.

           Beriman kepada Allah merupakan suatu jawaban dari kerinduan dasariah manusia akan makna hidup. Hakikat manusia adalah makluk rasional. Cepat atau lambat, ia akan bertanya, “kemanakah arah hidupku?” dan “darimanakah saya berasal?”. Entah para ateis, kaum beragama, ilmuwan, maupun penduduk di suku-suku terpencil akan berhadapan dengan tantangan dasar yang sama.

           Berhadapan dengan pertanyaan tersebut, umat beragama dan suku-suku primitif cukup dimanja. Tak perlu harus mencari-cari, pertanyaan demikian sudah terjawab dalam Kitab Suci agama masing-masing atau dalam mitos-mitos. Agama-agama samawi percaya bahwa Allah adalah asal dan tujuan hidup manusia.

           Tentang keberadaan Allah itu, kitab suci bukanlah sumber satu-satunya. Melalui beberapa langkah penalaran logis, filsafat sudah coba memberikan definisi rasional tentang Allah. Allah, misalnya dianggap sebagai prima causa, penggerak akhir yang tak digerakkan oleh penggerak yang lain. Keberadaan Allah dapat diketahui dari ilustrasi sederet gerbong kereta yang menarik satu oleh yang lain.  Pada titik ujung dari rangkaian itu ada lokomotif yang bergerak karena kemampuannya sendiri.

           Begitupun hubungan kausalitas dalam duniawi ini. Jika terus ditelusuri ke belakang, kita harus menerima bahwa ada suatu realitas yang tak diciptakan oleh sesuatu yang lain kecuali oleh dirinya sendiri. Tanpa harus dibuktikan secara empiris, penalaran demikian harus diterima. Kalau tidak, kita tidak akan berhenti bertanya. Selain itu, tuntutan dari sudut epistemologis, kita juga harus mampu membangun suatu landasan bagi pengetahuan. Tidak bisa jatuh dalam sikap skeptis yang terus-menerus.

           Berhubung kepercayaan akan Allah itu adalah rasional, kaum ateis dan kaum evolusionis menemukan kesulitan. Di satu pihak, mereka tidak menerima Allah dan tidak mengakui realitas transenden, di lain pihak mereka akan terus terdesak oleh pertanyaan akan makna hidup.

           Franz Magnis-Suseno dalam buku menalar tuhan mengatakan bahwa kritikan para filsuf ateis pada zaman modern sebetulnya tidak tepat sasaran. Sartre, Feuerbach, Nietzsche, Marx tidak begitu dalam membahas apakah Allah ada atau tidak ada. Mereka justru jatuh pada kritikan terhadap citra Allah yang digambarkan melalui sikap-sikap gereja yang mengatasnamakan Allah saat itu.

          Ambil contoh adalah Sartre. Ia mengatakan bahwa adanya Allah membuat manusia tidak bebas. Ia menempatkan Allah pada level setara dengan manusia sehingga membuat keduanya bersaing dan menjadikan manusia tidak bebas. Allah adalah pribadi yang sempurna dan transenden, sementara manusia masih berada kehendak untuk menjadi sempurna dan masih berubah-ubah. Tentu Allah tidak punya kepentingan untuk menjadi sempurna, sehingga harus mau bersaing dengan manusia. Namun kritikannya tersebut dapat dipahami ketika melihat situasi gereja yang saat itu yang terlampau menekan hidup umat beriman.

          Sementara itu,  kaum evolusionis lebih menunjukkan pemikiran-pemikiran yang menggelikan berhadapan dengan pertanyaan dasariah tersebut. Kita tidak punya basis etika yang kuat ketika manusia hanya dianggap sebagai makhluk “antara” yang mengantar kepada bentuk evolutif manusia berikutnya melalui mekanisme persaingan. Kaya dan miskin, misalnya adalah realitas yang harus diterima sebagai bagian dari persaingan. Seolah kemiskinan tak seharusnya diretaskan. Pengemis tak seharusnya ditolong sebab perasaan belaskasihan hanyalah hasil interaksi zat-zat kimiawi dalam tubuh.

          Kaum evolusionis mereduksi semua perasaan dan pikiran pada pandangan materialisme. Padahal perasaan dan pikiran merupakan sesuatu yang immaterial. Menolong orang miskin adalah suatu dorongan untuk mencapai pengetahuan tertinggi yakni keadilan sebagai kebutuhan dasar dari manusia yang haus akan nilai-nilai. Atau otak, misalnya tidak sama dengan pikiran. Otak hanyalah kondisi yang memungkin terjadinya proses berpikir.
Sebetulnya tendensi yang terlampau ilmiah itu disebabkan oleh ambisi sains untuk melihat realitas dari kaca mata sains semata-mata.  Pada dunia keseluruhan hanya dapat dijelaskan melalui kerja sama lintas disiplin ilmu seperti sains, agama, filsafat, budaya, seni, dll.

Bertahan dalam Iman

            Dengan demikian, iman adalah kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk rasional. Beriman tidak sekadar warisan orangtua atau nenek moyang.

           Institusi keagamaan adalah suatu struktur yang mengakomodasi hasrat kita berhadapan dengan pertanyaan bagaimana seharusnya menanggapi pemahyuan Allah dalam kehidupan kita. Lagu, gambar, ritus, simbol dalam liturgi keagamaan adalah instrumen mempertemukan hasrat hati kita dengan realitas transenden. Dan melalui Kitab Suci kita belajar bagaimana orang-orang dalam sejarah menanggapi pewahyuan realitas transenden tersebut.

            Namun institusi keagamaan masih berada dalam ruang duniawi. Institusi agama tidak sempurna. Ia berubah-ubah dan berkembang seturut dinamika sejarah manusia. Maka kritikan adalah sesuatu yang perlu dan lumrah agar baju agama tetap layak untuk dikenakan oleh makhluk beriman.

            Persoalannya adalah acapkali kita tidak bisa membedakan beriman dan beragama. Kelemahan dalam institusi keagamaan akhirnya membuat kita menampik keterarahan dasar kita untuk beriman. Bahwa kita kecewa terhadap berbagai skandal para imam, para uskup, dan lain sebagainya, satu hal yang pasti adalah tidak boleh mengkianati diri kita sebagai makhluk beriman.

            Kita harus membedakan iman sebagai sebuah kebutuhan dasar manusia dan penghayatan iman dalam baju institusi agama yang disertai kelemahan-kelemahan manusiawi. Inilah yang membuat kita harus semakin kritis dalam menanggapi isu-isu negatif seputaran dinamika keagamaan.
Like · ·

Senin, 22 Desember 2014

Paus Fransiskus Kritik Tajam Vatikan


News / Internasional

Paus Fransiskus Lancarkan Kritik Tajam kepada Vatikan dalam Pidato Pra Natal

Selasa, 23 Desember 2014 | 05:24 WIB 
 http://internasional.kompas.com/read/2014/12/23/0524034/Paus.Fransiskus.Lancarkan.Kritik.Tajam.kepada.Vatikan.dalam.Pidato.Pra.Natal
 
AP Photo Paus Fransiskus saat menyampaikan pidato pra-Natal di hadapan Curia, Vatican, Senin (22/12/2014).
VATICAN CITY, KOMPAS.com - Paus Fransiskus melancarkan kritik tajam kepada birokrasi Vatikan dalam sebuah pidato pra-Natal yang disampaikan Senin (22/12/2014). Dalam pidato yang disampaikan di hadapan para kardinal, uskup dan imam, Paus mengkritik birokrasi Vatikan yang dianggapnya masih ada yang menyimpan nafsu akan kekuasaan dan memiliki sejumlah penyakit spiritual.
Mengutip AFP, Selasa (23/12/2014), Paus mengatakan, saat ini Vatikan tidak hanya diisi oleh kelompok yang saleh, tapi juga kelompok yang memiliki "skizofrenia eksistensial", "eksibisionisme sosial", "Alzheimer spiritual" dan hasrat untuk berkuasa. Ini menyebabkan otoritas Katolik itu memainkan "orkestra yang tidak sesuai irama".
Paus asal Argentina ini juga mengingatkan akan bahayanya serakah, egoisme, dan orang-orang yang menganggap dirinya "abadi". Ini memang bukan pertama kalinya Paus yang kini berusia 78 tahun melancarkan kritik terhadap Curia, hierarki Vatican. Tapi ini pertama kalinya Paus melancarkan kritik dengan istilah-istilah yang begitu "hidup" dan gamblang.
Karena itu Paus yang punya nama lahir Jorge Mario Bergoglio ini pun terus mengingatkan hierarki yang didominasi orang Italia itu untuk menjauhi gosip dan mengemban penuh sifat yang bertanggung jawab. Paus berharap tidak ada lagi yang menjadi hamba bagi "nafsu, hasrat sesaat dan sifat mania".
Paus juga tak lupa menyampaikan tema favoritnya: kejahatan gosip. Menurut Paus, pelaku gosip itu layaknya "pengecut yang tak punya keberanian untuk menyampaikan kata-katanya secara terbuka". Bahkan Paus menyebut pelaku gosip sama seperti "pembunuh berdarah dingin".
Dilansir dari laman BBC, suasana terasa penuh keheningan saat Paus pertama dari ordo Jesuit itu menyampaikan kritiknya. Paus Fransiskus memang belum pernah menjadi anggota Curia yang jumlahnya mencapai 3000 orang tersebut.
Sebelum Jorge Mario Bergoglio resmi mengemban nama Paus Fransiskus, ia memang mengungkap akan melakukan reformasi di Curia. Paus Fransiskus kemudian mempersiapkan badan spesialis untuk memerangi korupsi dan manajemen yang buruk di hierarki Vatikan ketika terpilih. Salah satu yang dilakukannya adalah melakukan aksi bersih-bersih di Bank Vatikan yang secara resmi dikenal dengan nama Institute for the Works of Religion (IOR).

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bayu Galih
Sumber: AFP/BBC

Minggu, 30 November 2014

Paus Fransiskus Berdoa di Masjid


News / Internasional

Paus Fransiskus Berdoa di Masjid Biru Istanbul

Sabtu, 29 November 2014 | 21:43 WIB 
 http://internasional.kompas.com/read/2014/11/29/21435161/Paus.Fransiskus.Berdoa.di.Masjid.Biru.Istanbul?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news
bbc Paus Fransiskus saat berada di Masjid Biru, Istanbul, Sabtu (29/11/2014)

ISTANBUL, KOMPAS.com — Pemimpin umat Katolik, Paus Fransiskus, memanjatkan doa dengan tenang bersama ulama senior Turki di Masjid Biru (Blue Mosque) Istanbul, Sabtu (29/11/2014), sebagai pertanda terjalinnya hubungan yang harmonis antar-umat beragama.

Paus melepaskan sepatunya sebelum memasuki masjid tersebut, dan berdoa menghadap ke arah Mekkah yang merupakan kiblat bagi umat Muslim. Berdiri di samping Paus Fransiskus, ulama besar Turki, Mufti Rahmi Yaran. Vatikan menyebut momen ini sebagai "pujian dalam diam" kepada Tuhan.

Hal serupa juga pernah dilakukan oleh pendahulu Paus Fransiskus, yakni Paus Benediktus, pada 2006.

Momen berdoa itu disaksikan oleh ratusan orang, yang sebagian di antaranya adalah wisatawan. Setelah berdoa di Masjid Biru, Paus melanjutkan perjalanan ke Museum Aya Sofya yang terletak tidak jauh dari tempat tersebut.

Kehadiran Paus Fransiskus ke Istanbul mendapatkan sambutan yang cukup hangat. Sejumlah anak-anak sekolah dengan membawa bendera Turki dan Vatikan melambaikan tangan ke arah rombongan sambil meneriakkan, "Hidup Paus...."

"Bagaimanapun, kita harus menghormati orang lain meski berbeda agama dan kehadiran Paus, akan semakin mendorong kami untuk lebih saling menghormati umat lain," ujar Halil Ibrahim Cil (24), seorang karyawan rumah sakit di Istanbul. "Kami ingin menjalankan ajaran agama kami dalam perdamaian. Kami ingin semua orang memahami Islam, dan kami tidak butuh perang," lanjutnya.

Sementara itu, pada hari sebelumnya, Paus Fransiskus menyatakan bahwa kunci untuk menghentikan gerakan militan Islam adalah dengan melawan kemiskinan dan kelaparan, dan bukan dengan intervensi militer.

Masjid Biru Istanbul, yang dikenal dengan nama Masjid Sultanahmet, mulai dibuka pada 1616 dan menjadi lokasi yang paling terkenal di Turki. Nama Masjid Biru muncul karena banyaknya ornamen keramik Iznik warna biru yang berada di ruang utama masjid itu.


Editor : Bambang Priyo Jatmiko

 Sumber: Reuters








News / Internasional

Jumlah Umat Katolik di Amerika Latin Menipis

Kamis, 13 November 2014 | 15:05 WIB
ALEXANDER HASSENSTEIN / POOL / AFP Paus Fransiskus menyalami manajer Bayern Muenchen Pep Guardiola di Vatikan pada Rabu (23/10/2014).
WASHINGTON, KOMPAS.COM - Walau Paus Fransiskus yang kelahiran Argentina populer di Amerika Latin, jumlah orang dewasa di kawasan itu yang menyebut diri mereka Katolik merosot, kata sebuah penelitian yang diterbitkan hari Kamis (13/11/2014).

Dalam sebuah studi di 18 negara di Amerika Latin dan Karibia serta wilayah AS Puerto Rico, Pew Research Center mengatakan Gereja Katolik Roma kehilangan penganut karena beralih ke Protestan atau sama sekali meninggalkan agama.

Studi tersebut mengatakan, data historis menunjukkan, dari tahun 1900 sampai tahun 1960-an setidaknya 90 persen penduduk Amerika Latin bergama Katolik. Namun dewasa ini, hanya 69 persen orang dewasa yang disurvei yang mengidentifikasi diri mereka sebagai Katolik, kata studi tersebut.

Amerika Latin memiliki lebih dari 425 juta umat Katolik. Jumlah itu hampir mencapai 40 persen dari populasi umat Katolik di dunia, kata lembaga itu. Namun jumlah orang yang beralih ke agama lain, terutama ke gereja-gereja Protestan, terus meningkat.

Berdasarkan laporan tersebut, 84 persen orang dewasa Amerika Latin saat ini mengatakan bahwa mereka dibesarkan secara Katolik. Jumlah itu 15 persen lebih banyak dari mereka yang masih menyebut dirinya sebagai orang Katolik.

Pada saat yang sama, keanggotaan gereja-gereja Protestan dan orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya tidak berafiliasi dengan gereja manapun meningkat. Sembilan persen orang Amerika Latin mengatakan bahwa mereka dibesarkan sebagai Protestan, tetapi sekarang hampir satu dari lima orang menyebut diri mereka Protestan.

"Di hampir setiap negara yang disurvei, Gereja Katolik mengalami jumlah umat yang berkurang karena orang berpindah agama, saat banyak orang Amerika Latin bergabung dengan gereja-gereja Protestan evangelis atau sama sekali tidak mau terikat dengan agama," kata studi tersebut.

Terkait mengapa umat Katolik meninggalkan gereja, Pew mengatakan bahwa dari delapan jawaban yang tersedia dalam jajak pendapat itu, yang paling sering dipilih adalah bahwa orang-orang "sedang mencari koneksi yang lebih pribadi dengan Tuhan."

Studi tersebut mengatakan, secara umum orang Amerika Latin menyukai mantan Kardinal Argentina Jorge Mario Bergoglio, seorang Jesuit yang terpilih menjadi paus pada Maret 2013 dan memakai nama Fransiskus. Di negara asalnya, 91 persen dari mereka yang disurvei punya pandangan positif terhadap Paus. Namun dukungan itu tidak merata di seluruh kawasan itu.

"Di antara para mantan orang Katolik, relatif sedikit yang memberikan nilai positif buat Paus. Kebanyakan mengatakan, terlalu dini untuk menilai dia," kata studi tersebut. "Demikian pula, walau mayoritas umat Katolik di sebagian besar negara itu menggambarkan pemilihan Fransiskus mencermikan perubahan besar bagi Gereja Katolik, pandangan ini hanya diamini oleh sejumlah kecil para mantan orang Katolik itu," tambah studi tersebut.


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: AFP



News / Internasional

Paus Fransiskus: Evolusi Itu Nyata dan Tuhan Bukan Penyihir

Rabu, 29 Oktober 2014 | 09:23 WIB
 http://internasional.kompas.com/read/2014/10/29/09234311/Paus.Fransiskus.Evolusi.Itu.Nyata.dan.Tuhan.Bukan.Penyihir?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news
Reuters Paus Fransiskus membaptis salah satu dari 32 bayi dalam sebuah misa di Kapal Sistine di Vatikan, Minggu (12/1/2014).
VATIKAN, KOMPAS.com — Paus Fransiskus melanjutkan kebiasaan provokatifnya dengan melontarkan pernyataan-pernyataan progresif ketika menyampaikan pidato kepada Pontifical Academy of Sciences, Selasa (28/10/2014). Paus tampaknya mendukung teori Big Bang dan mengatakan dalam pertemuan di Vatikan itu bahwa tidak ada kontradiksi antara percaya kepada Tuhan serta teori-teori ilmiah umum tentang ekspansi alam semesta kita.

"Saat kita membaca kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, kita menghadapi risiko untuk membayangkan Tuhan sebagai seorang penyihir, yang dengan sebuah tongkat sihir mampu untuk melakukan segalanya. Namun, itu tidaklah demikian," kata Fransiskus. "Dia (Tuhan) menciptakan manusia dan membiarkan mereka berkembang sesuai dengan hukum internal yang Dia berikan kepada masing-masing orang sehingga mereka akan mencapai kepenuhannya."

Paus tidak menyinggung masalah pelik (setidaknya bagi sebagian orang Kristen) terkait apakah manusia berasal dari kera.

Kaum ateis berpendapat bahwa pemahaman tentang Big Bang dan apa yang muncul dari momen kosmik itu menyingkirkan kebutuhan untuk percaya pada sesuatu yang ilahi. Terkait hal itu, Fransiskus jelas tidak setuju. Dia mengulangi gagasan tentang Tuhan bukan "pesulap", suatu entitas yang menyihir semua menjadi ada.

"Tuhan bukan seorang dewa atau penyihir, tetapi Pencipta yang membuat segala sesuatu menjadi hidup," kata Fransiskus. "Evolusi di alam tidak bertentangan dengan gagasan penciptaan karena evolusi memerlukan penciptaan makhluk yang berevolusi."

Dengan kata lain, meminjam gagasan dari zaman Pencerahan, Tuhan lebih merupakan seorang pembuat jam ketimbang tukang sihir.

Pemikiran semacam itu bukan hal baru bagi Gereja Katolik, yang selama enam dekade, sejak reformasi Paus Pius XII, telah mendukung keyakinan akan evolusi yang teistik.

Sebuah artikel tahun 2006 di harian utama Vatikan juga menjauhkan Gereja Katolik dari gagasan tentang "teori desain yang cerdas", yang dikatakan tidak boleh diajarkan di sekolah-sekolah sebagai ilmu pengetahuan. Catholic News Service, yang merangkum artikel itu, menjelaskan apa yang membedakan pemikiran Vatikan dari pemahaman yang lebih sekuler tentang evolusi.

Apa yang gereja tegaskan adalah bahwa munculnya manusia mengandaikan suatu tindakan yang sengaja dari Tuhan, dan bahwa manusia tidak bisa hanya dilihat sebagai produk dari sebuah proses evolusi, kata artikel itu. Unsur spiritual manusia bukanlah sesuatu yang bisa dikembangkan dari seleksi alam, tetapi memerlukan suatu "lompatan ontologis".

Pendahulu Fransiskus yang lebih konservatif, yaitu Paus Benediktus XVI, menganut pandangan ini dan berpendapat bahwa perdebatan di kalangan orang Amerika antara kaum kreasionis dan mereka yang mendukung evolusi "tidak masuk akal". Pada tahun 2007, dia bertanya, mengapa "orang-orang yang percaya pada Sang Pencipta tidak mampu memahami evolusi, dan mereka yang mendukung evolusi harus menyingkirkan Tuhan?"

Pada hari Selasa itu, Paus Fransiskus juga menyampaikan sebuah ensiklik kecil tentang hak-hak orang miskin, ketidakadilan terkait pengangguran, dan perlunya perlindungan lingkungan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak sedang berkhotbah tentang komunisme, tetapi tentang Injil. Dia mengatakan, orang miskin butuh tanah, atap di atas kepala mereka, dan pekerjaan. Dia menambahkan, dirinya tahu betul bahwa "jika saya membicarakan hal ini, beberapa orang akan berpikir bahwa Paus itu komunis".

"Mereka tidak mengerti bahwa kasih terhadap orang miskin merupakan pusat dari Injil," katanya. "Menuntut hal ini tidak luar biasa, ini merupakan ajaran sosial gereja."

Pernyataan Fransiskus kepada World Meeting of Popular Movements itu disampaikan dalam bahasa ibunya, yaitu bahasa Spanyol, setebal enam halaman, dengan spasi tunggal.

Fransiskus telah dicap marxis oleh sejumlah komentator konservatif AS terkait kritik kerasnya tentang ekses kapitalis, permintaannya bahwa pemerintah mesti mendistribusikan manfaat sosial kepada mereka yang membutuhkan, dan seruannya kepada gereja untuk menjadi "gereja miskin, bagi orang miskin".


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: Washington Post, Sydney Morning Herald, AFP


News / Internasional

Para Arsitek Turki Desak Paus Fransiskus Tak Kunjungi Istana Erdogan

Rabu, 12 November 2014 | 23:12 WIB
 http://internasional.kompas.com/read/2014/11/12/23121621/Para.Arsitek.Turki.Desak.Paus.Fransiskus.Tak.Kunjungi.Istana.Erdogan.?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news
Telegraph Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpose di salah satu sudut istana barunya di Ankara. Istana ini memiliki 1.000 kamar dan tiga kali lebih besar dari Istana Versailles, Perancis.
ANKARA, KOMPAS.com — Paus Fransiskus menghadapi dilema diplomatik saat akan berkunjung ke Turki untuk kali pertama, bulan ini. Dilema itu muncul ketika para arsitek Turki meminta Paus tidak mengunjungi istana presiden Turki yang baru.

Istana yang kini menjadi kediaman resmi Presiden Recep Tayyip Erdogan itu memiliki 1.000 kamar dengan luas keseluruhan mencapai 2 juta meter persegi atau tiga kali lebih luas dari Istana Versailles, Perancis. Istana Ak Saray atau Istana Putih ini dianggap sebagai istana terbesar di dunia untuk presiden.

Paus akan mengunjungi Ankara dan Istanbul dalam kunjungan kerja selama tiga hari, serta dijadwalkan akan membicarakan masalah ancaman ekstremisme Islam dan kekerasan yang dialami umat Kristen di Irak dan Suriah.

Paus direncanakan menjadi pemimpin pertama dunia yang akan mengunjungi istana baru Presiden Erdogan itu begitu tiba di Ankara pada 28 November mendatang.

Namun, Persatuan Arsitek Turki mendesak agar Paus tidak menginjakkan kaki di istana tersebut. Para arsitek Turki menilai, jika Paus hadir di tempat itu, maka dia akan melegitimasi sebuah pembangunan ilegal.

Presiden organisasi arsitek itu, Tezcan Karakus, bahkan sudah mengajukan permohonan untuk bertemu Paus Fransiskus dan membicarakan masalah ini.

Istana kepresidenan megah itu, yang lebih besar dari Kremlin dan Istana Buckingham, dibangun dengan biaya 384 juta poundsterling atau hampir Rp 7,5 triliun. Biaya pembangunan istana itu lebih besar dua kali lipat dibanding perkiraan awal.

Sebagian warga Turki mengecam pembangunan istana itu sebagai sebuah pemborosan dan simbol pemerintahan autokratis Presiden Recep Tayyip Erdogan.

"Bagi sebagian besar warga Turki, pembangunan istana itu adalah simbol dari keserakahan dan ambisi meraih sebuah kekuasaan absolut," kata Yaviz Baydar, seorang bloger, kepada harian La Repubblica.

"Paus sangat memahami nilai-nilai kerendahan hati, kesederhanaan dan kesetaraan sebagai penganjur nilai-nilai Fransiscan. Sangat menarik, apakah Paus memutuskan untuk mengunjungi istana itu atau tidak," tambah Baydar.

Paus Fransiskus akan menjadi paus keempat yang berkunjung ke Turki setelah Paus Paulus VI, Paus Yohanes Paulus II, dan Paus Benediktus XVI.

Kunjungan ke Turki ini menjadi perjalanan luar negeri keenam Paus Fransiskus setelah Brasil, Timur Tengah, Korea Selatan, dan Albania serta mengunjungi Parlemen Eropa di Strasbourg pada 25 November mendatang.


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: The Telegraph

Sabtu, 15 November 2014

PATER WASER,SVD

News / Internasional

Ikut Bangun Masjid di Flores, Pastur Swiss Perkuat Persaudaraan Warga

Jumat, 14 November 2014 | 21:36 WIB 
 https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2998058624424870159#editor/target=post;postID=5261159695209603063
IST Pastor Ernst Wasser.
BERN, KOMPAS.com - Ada yang tak biasa dalam misa minggu pagi di gereja Katolik Stans, Nidwalden, Swiss Tengah, Minggu (9/11/2014). Di antara doa dalam bahasa Jerman  yang dipanjatkan pastur David dan Martin Chen, mengalun secara bergantian lagu-lagu rohani berbahasa Indonesia.

"Memang misa kali ini ada hubungannya dengan Indonesia,“ ujar Albert Nampara, pastur asal Flores yang juga ikut dalam misa ini.

Semua tak lepas dari sosok  Ernst Waser. Pastur kelahiran Oberdorf, Stans ini,  memang sedang dirayakan kehadirannya oleh para umat, khususnya  Waser Freundeskreis, kawan seperjuangan Ernst Waser.

"Jasa jasanya sangat besar untuk Indonesia, khususnya bagi masyarakat Flores,“ tutur Gogi Soegiarto, salah satu anggota komunitas Kristiani Indonesia di  Swiss.

Thomas Mueller,  mantan pekerja LSM yang pernah bertemu beberapa kali dengan Ernst Waser di Kupang, NTT, mengungkapkan hal senada. "Banyak yang dilakukannya untuk rakyat Flores. Dia memperbaiki sistem pengairan, jalan raya, hingga sekolah SMU,“ kenang  Thomas,

Stans, meski ibu kota provinsi, jangan dibayangkan segemerlap Bandung, Jakarta atau Semarang. Kota ini tak jauh lebih ramai ketimbang Depok. Di kelilingi lahan hijau pertanian, Stans merupakan salah satu kota paling indah di Swiss.

Di sebuah peternakan kelas menengah di kota inilah Ersnt Waser dilahirkan 85 tahun lalu. Namun, tak banyak catatan kehidupan sang pastor yang diketahui publik. "Pak Ernst orang pendiam, lebih suka bekerja ketimbang berbicara,“ tutur Martin Chen, pastur yang akan meneruskan cita-cita Ernst Waser.

Menginjak usia 20 tahun, Ernst memutuskan menjadi pastur dan melanjutkan kuliah teologi di Bonn, Jerman. Tahun 1954, Ernst resmi  ditasbihkan sebagai pastur.

Seperti umumnya misionaris, Ernst sangat ingin menjalankan misinya di negara berkembang. Sayang, keinginannya melihat dunia luar, selalu ditolak atasannya.  Sambil menunggu kesempatan menjadi misionaris di luar negeri, Ernst bekerja sebagai guru di SMU Merienburg, Saint Gallen, Swiss Timur.

Di waktu luangnya Pastur Ernst menambah wawasannya dengan melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Zurich.

Pergi ke Flores

Akhirnya kesempatan menjadi misionaris datang ketika berkenalan dengan seorang uskup dari Ruteng, Flores.  Pada 1978, berangkatlah Ernst Waser ke Flores, tepatnya di Wangkung.  Jalan desa yang semula terlalu menanjak, kata Thomas, dibuat Ernst menjadi landai dan berliku.

"Kalau tidak demikian, akan cepat rusak,“ kata Thomas.

Anak-anak yatim piatu di Wangkung dan sekitarnya, juga diajak untuk bergabung di asrama yang didirikannya. "Ada bengkel, ada juga pelatihan untuk menjadi perawat,“ lanjut Thomas. 

Sementara sekolah swasta yang dibangunnya, dari tingkat SD sampai SMU, masih kata Thomas, mendapatkan pengakuan dari pemerintah Indonesia. "Orang mungkin gampang bikin sekolah, tapi Ernst membangunnya sekaligus mendapatkan pengakuan pemerintah,“ kata Thomas.

Hubungannya tak hanya terpaku dengan masyarakat Kristiani. Hubungan Ernst dengan umat Muslim juga sangat baik. Dia bahkan sempat membangun sebuah masjid untuk masyarakat muslim di Flores.

Atas jasanya, masyarakat Muslim setempat, menghadiahi Ernst sebidang tanah. "Pastor Ernsh orangnya memang terbuka, menolong baginya tidak ada batasan agama,“ imbuh Albert Nampara.

Meskipun Swiss terbilang negara kaya, makmur dan rapi, Ernst Waser memilih tidak kembali ke kota kelahirannya.  Dia bertekad mengabdikan hidupnya untuk masyarakat Wangkung, Flores, sampai akhir hayatnya. "Nggak akan mau kembali ke Swiss, kalau mati pun ingin dikubur di sana,“ kata Albert Nampara.

Bagi warga Stans, kepergian Ernst ke Indonesia, disyukuri sekaligus disesali. Walter, salah satu umat yang mengikuti misa khusus itu, mengaku bangga ada warga kotanya yang berjasa bagi sekelompok warga di negara lain.

"Kalau memang dia memilih mengabdikan hidupnya di Indonesia, dan ingin mentap disana, kami akan selalu berdoa yang terbaik untuknya,“ imbuh Walter. (Krisna Diantha)

Rabu, 15 Oktober 2014

Keuskupan Ruteng Desak Pencabutan IUP

Inilah Alasan Keuskupan Ruteng Desak Pencabutan IUP


http://www.floresa.co/2014/10/13/inilah-alasan-keuskupan-ruteng-desak-pencabutan-iup/

Floresa.co – Keuskupan Ruteng-Flores, Nusa Tenggara Timur menggelar aksi unjuk rasa menolak kehadiran tambang pada hari Senin (13/10/2014).
Aksi ini yang digelar secara simulatn di tiga tempat, yakni di Ruteng, Labuan Bajo dan Borong, ibukota masing-masing kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur diikuti ratusan pastor dan ribuan umat.
Keuskupan Ruteng memang sudah secara tegas menyatakan sikap menolak tambang dalam Sinode yang digelar di Ruteng, September lalu.
Dalam dokumen hasil Sinode, mereka menyatakan secara tegas alasan mereka menolak kehadiran tambang. Hal itu dikatakan, sebagai hasil dari “refleksi kritis dan diskusi mendalam dalam terang Iman Katolik”.
Bagi Keuskupan Ruteng, tidak ada sikap lain, selain menuntut agar para bupati mencabut semua Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Berikut merupakan dokumen lengkap hasil sinode yang sudah diunggah di situs milik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mirifica.net.
Setelah melakukan refleksi kritis dan diskusi mendalam dalam terang Iman Katolik tentang persoalan tambang mineral dan dampak destruktifnya di Manggarai Raya, Kami, Uskup, Para Pastor, Suster, Bruder, Pimpinan Lembaga Pendidikan dan Bapak/ibu awam peserta Sinode III yang mewakili umat Keuskupan Ruteng, pada hari ini, Kamis, 25 September 2014, mengungkapkan solidaritas yang  sangat mendalam  dengan para korban tambang. Sekaligus kami menuntut pencabutan semua izin usaha pertambangan mineral yang diterbitkan Pemerintah daerah di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng yang mencakup tiga wilayah administratif pemerintahan, yakni Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur.
Dasar Tuntutan
Pertambangan mineral (mangan, emas, pasir besi, batu bara, dll) mengakibatkan kerusakan ekologis yang sangat masif dan radikal. Entah model terbuka atau tertutup, kegiatan pertambangan merusak ekosistem kehidupan. Bukan hanya tanah, hutan dan sumber-sumber air yang dihancurkan oleh pertambangan mineral tetapi juga kestabilan iklim yang menjamin kehidupan manusia dan eksistensi planet bumi. Pelepasan masif karbon ke udara akibat kegiatan tambang merupakan pemicu perubahan iklim serta pemanasan global dewasa ini.
Dengan demikian dampak pertambangan mineral tidak hanya merusak alam lingkungan tetapi juga kehidupan manusia. Pencemaran tanah, air, udara oleh zat-zat beracun akibat kegiatan pertambangan menimbulkan pertama-tama bahaya kerusakan kesehatan manusia khususnya para pekerja maupun warga sekitar lingkar tambang berupa  penyakit kulit, pernafasan (ISPA), dan pencernaan. Penyakit-penyakit ini selanjutnya mengakibatkan kerusakan fungsi alat-alat vital tubuh seperti paru-paru, jantung dan hati.
Lebih dari itu kegiatan pertambangan mengakibatkan proses pemiskinan dan pemelaratan yang sistematis dan masif bagi masyarakat. Wilayah isin usaha  pertambangan yang meliputi puluhan ribu hektar ternyata  mencakup juga wilayah sumber mata air, wilayah hutan, perkebunan, pertanian serta pusat pemukiman masyarakat. Hal Ini mencaplok sumber-sumber kehidupan orang banyak dan generasi selanjutnya. Maka yang terjadi perusakan kehidupan ekonomi masyarakat. Argumen Pemerintah tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat oleh usaha pertambangan juga tidak terbukti. Pertambangan ternyata tidak membawa dampak ekonomis yang sangat signifikan baik bagi masyarakat setempat maupun terhadap struktur APBD Pemerintah Daerah. Sebaliknya keuntungan kecil dari kegiatan pertambangan tidak sebanding dengan biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau recoverylingkungan hidup yang rusak. Uang sebanyak apapun tidak mampu memulihkan kembali tanah, lembah, dan bukit yang telah dirusakkan oleh usaha pertambangan.
Yang paling merisaukan akhir-akhir ini adalah konflik sosial yang diakibatkan oleh pertambangan. Masyarakat lingkar tambang dipecahbelahkan antara yang pro dan kontra terhadap kehadiran perusahan tambang. Hal ini membawa konflik horizontal dan rusaknya keharmonisan, persaudaraan, persatuan dan perdamaian baik dikampung-kampung atau komunitas adat di daerah lingkaran tambang maupun dalam skala yang lebih luas antara warga (umat) di desa, kecamatan atau seluruh wilayah Manggarai Raya.
Selain itu kegiatan pertambangan juga merusak budaya. Tanah adat atau lingko adalah unsur penting dalam budaya Manggarai sebagaimana terlihat dalam ungkapan gendang one, lingkon pe’ang (rumah adat didalam, lingko di luar). Rumah adat/kampung dan tanah adat/lingko adalah unsur dwitunggal yang hakiki dalam budaya Manggarai; kehilanggan salah satunya adalah kepincangan budaya dan kehidupan masyarakat Manggarai. Perusahan tambang sering berdalih bahwa mereka telah membangun rumah adat (Mbaru Gendang/Mbaru Tembong), anehnya pada saat yang sama mereka merusak lingko, padahal gendang tanpa lingko tak bermakna.
Secara iuridis kegiatan pertambangan yang dilakukan diatas tanah masyarakat wajib hukumnya untuk mendapat izin penggunaan hak atas tanah dari pemiliknya. UU Pertambangan Minerba No.4 Tahun 2009, Pasal 136 dengan tegas menyebutkan bahwa   izin usaha pertambangan bukan bukti izin penguasaan hak atas tanah. Pemegang izin kuasa pertambangan sebelum melakukan kegiatan pertambangan wajib mendapat persetujuan dari masyrakat sebagai pemilik hak tas tanah tersebut.  De facto, pemerintah daerah dan perusahan-perusahan tambang telah melakukan upaya-upaya manipulatif  untuk mendapat izin masyarakat dengan cara membuat tanda tangan palsu, rekayasa tokoh adat, melibatkan masyarakat adat lain untuk membuat pernyataan dukungan.
Investasi kegiatan pertambangan selalu melibatkan aparat keamanan baik Polri maupun TNI untuk menjaga keamanan tetapi juga menjadi alat penindas investor terhadap masyarakat. Beberapa kenyataan sudah membuktikan bahwa banyak masyarakat yang mengalami penindasan fisik dan penindasan mental melalui kriminalisasi hak-hak dasar masyarakat. Kasus Tumbak, Sabtu 13 September 2014 bukan hanya menjadi tragedi ekologis tetapi juga tragedi kemanusiaan. Pater Simon Suban, SVD dan masyarakat mengalami perlakuan kasar yang dilakukan secara teroganisir oleh pihak perusahan dan aparat keamanan. Selain itu, aparat pemerintah (Bupati, Dinas, Camat, Kepala Desa) juga turut membela perusahaan tambang dan dengan cara memanipulasi dan mengintimidasi  masyarakat lingkar tambang. Yang terjadi adalah kolaborasi mutualistis tetapi membahayakan antara investor tambang, aparat pemerintah dan aparat keamanan dalam menindas dan mengeksploitasi warga.
Panggilan dan Kewajiban Iman Katolik
Gereja Katolik memahami lingkungan hidup sebagai hal tak terpisahkan dari kehidupan beriman. Allah telah menciptakan alam semesta baik adanya (Kej 1). Karena itu perusakan terhadap lingkungan hidup merupakan tindakan yang melawan sang Pencipta. Iman Katolik menuntut seluruh warga Gereja untuk memperjuangkan keutuhan ciptaan (integritas) dan melestarikan lingkungan hidup.
Lebih dari itu iman Katolik mengakui peran kunci Yesus Kristus dalam tata penciptaan. Sebab “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3; bdk. 1 Kor 8:6). Kristus adalah sumber segala sesuatu dan pemersatu dari segala sesuatu yang diciptakan oleh BapaNya. Dia adalah “yang sulung dari segala yang diciptkana. Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu” (Kol 1:15-16). Maka perjuangan menegakan keutuhan dan kelestarian lingkungan hidup dan penolakan terhadap pertambangan mineral berakar dalam panggilan dan tuntutan iman Katolik yang ingin menemukan wajah Kristus dalam keharmonisan, keindahan dan kelestarian ciptaan.
Oleh sebab itu perjuangan untuk menolak pertambangan mineral bukan sekedar perjuangan ekologis dan sosial tetapi juga perjuangan yang bersumber dari panggilan dan tuntutan iman Katolik. Perjuangan ini mengalir dari komitmen untuk meneledani dan berpartisipasi dalam pelayanan Yesus, sang Nabi dan Pembebas, yang memperhatikan dan menolong orang-orang miskin dan korban-korban penindasan sosial serta yang mengkritik situasi ketidakadilan sosial akibat hilangnya kesetaraan dan keadilan dalam akses terhadap sumber-sumber alam yang disediakan oleh bumi, Ibu Pertiwi. Gereja Katollik dipanggil dan dituntut untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan umum dan integritas ciptaan (bdk. GS 27; CA 37)
Tuntutan-tuntutan
Bertolak dari hal-hal di atas, maka kami, peserta Sinode yang mewakili seluruh umat Keuskupan Ruteng menuntut kepada:
  1. Bapak Bupati Manggarai Timur, Bapak Bupati Manggarai, dan Bapak Bupati Manggarai Barat pimpinan wilayah administratip Pemerintahan yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mencabut segera izin tambangyang telah diberikan, membatalkan  pemberian izin tambang yang masih dalam proses dan selanjutnya tidak mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) baru. Peraturan harus melindungi masyarakat dan menjamin hak-haknya. Peraturan adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk peraturan. Karena itu peraturan yang menindas manusia dan merusak hak dan martabatnya harus dikoreksi atau bahkan dicabut.
  2. Seluruh aparat pemerintah dari Kabupaten, Kecamatan sampai Desa di seluruh Wilayah Administratif Pemerintahan yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mengayomi dan melindungi masyarakat, terutama masyarakat lingkar tambang dan menjamin hak-hak dan martabat Kami mengecam keras dan melawan semua tindakan aparat Pemerintah yang memanipulasi, mengintimidasi dan mengancam masyarakat.
  3. Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat serta para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTT serta para anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun DPD Dapil NTT untuk melakukan fungsi kontrolnya dan legislasinya dengan mengawasi dan meminta pertanggungjawaban Pemerintah Daerah di tiga kabupaten dalam wilayah Keuskupan Ruteng berkaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayahnya masing-masing serta membuat peraturan daerah yang membebaskan wilayah Manggarai Raya dan NTT pada umumnya dari investasi pertambangan mineral.
  4. Aparat keamanan dalam hal ini Polri dan TNI di seluruh Wilayah Administratif Pemerintahan yang ada di wilayah Keuskupan Ruteng untuk mewujudkan fungsi penjamin keamanan, kenyamanan dan kedamaian bagi seluruh warga masyarakat serta tidak memihak investor tambang apalagi memprovokasi pihak manapun dalam konflik pertambangan dan lingkungan hidup.
  5. Lembaga-lembaga peradilan yang menanggani perkara yang berkaitan dengan pertambangan untuk menegakkan keadilan dan kepastian hokum, menjamin perlindungan hukum terhadap hak-hak dasar masyarakat dan mengutamakan keutuhan ciptaan dan keadilan bagi warga.
  6. Seluruh umat Katolik Keuskupan Ruteng di tiga wilayah Kabupaten Manggarai Raya untuk terlibat aktif, konstruktif dan berkelanjutan dalam gerakan bersama tolak tambang melalui doa, katekese, publikasi dan penyadaran sosial kritis serta demonstrasi damai sampai seluruh ijin pertambangan di Manggarai Raya dicabut.

Ruteng, 25 September 2014
Dalam persaudaraan Sinodal,
Uskup Ruteng
Mgr. Hubertus  Leteng


Duka Tumbak dalam Serbuan Tambang

 http://www.floresa.co/2014/10/14/duka-tumbak-dalam-serbuan-tambang/
 
Romo Max Regus Pr
Romo Max Regus Pr
Oleh: Romo Max Regus Pr, pernah meneliti resistensi lokal dan tambang di Flores (2009-2010),  Kandidat Doktor Graduate School for Humanities, Universitas Tilburg, Belanda
Dentingan nestapa itu sedang mengalun dari Tumbak, sebuah kampung kecil di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Dengan kepala keluarga tidak lebih dari 70-an, pendapatan berkisar dari Rp 400.000 hingga Rp 1.000.000 per bulan dan mata pencarian bertani, kampung kecil ini sedang mengirimkan pesan penting ke pusat kekuasaan.
Pada hari-hari ini, ketika para penguasa sedang sibuk membincangkan posisi politik, sejumlah kecil warga bangsa terkurung dalam ruang kepedihan. Sesuatu yang terus berulang dalam beberapa tahun belakangan ini. Itu terjadi ketika industri tambang mengepung dan merobek pulau kecil di ujung timur Indonesia itu.
Pembantaian ekologis
Dalam catatan sejumlah aktivis antitambang di Flores, kemunculan sekian banyak korporasi sejak tahun 2007 sudah mengundang keprihatinan.
Kampung Tumbak, dalam artian keseluruhan komunitas sosial termasuk hak ulayat atas kawasan, menjadi incaran utama perusahaan tambang.
Dalam konteks pemekaran wilayah, Tumbak berada di daerah pemekaran, Manggarai Timur. Kondisi transisi politik lokal ini memberikan peluang kepada pelaku tambang untuk masuk dan kemudian merusak pertahanan masyarakat lokal di sana. Dari tahun ke tahun, korporasi tambang terus berusaha mendapatkan izin usaha pertambangan (IUP) dari pemerintah daerah Manggarai Timur.
Secara formal yuridis, korporasi tambang kemudian menggenggam hak eksplorasi tambang di Tumbak. Bayangan kerusakan segera mengintai masyarakat dan lingkungan hidup. Kawasan incaran perusahaan tambang langsung berhubungan dengan wilayah pendukung aktivitas pertanian warga. Pembantaian ekologis (ekolosida) bergerak dengan cepat dan mencuri masa depan warga lokal.
Ironisnya, ketragisan ekologis ini dibingkai oleh IUP dari pemerintah daerah. Dengan secarik kertas IUP di tangan, perusahaan tambang seolah memiliki privilese mendapatkan pengawalan dari pihak keamanan.
Inilah yang saat ini menjadi salah satu persoalan krusial dalam konteks duka Tumbak.
Dari kacamata masyarakat dan kelompok advokasi, kepolisian dianggap telah menunjukkan keberpihakan kepada korporasi tambang. Mereka lebih sering tampil sebagai alat yang memperlancar operasi perusahaan tambang ketimbang menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
Perlawanan masyarakat, yang kemudian cenderung berujung pada konflik terbuka, terjadi pada 13 September 2014 ketika Pastor Simon Suban Tukan, salah seorang aktivis Komisi Keadilan dan Perdamaian Gereja Katolik Flores, mengalami kekerasan.
Berkaitan dengan kejadian ini, sejumlah jaringan advokasi penentang tambang di Flores mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur untuk membatalkan semua IUP. Bahkan, Komnas HAM yang melakukan investigasi atas persoalan Tumbak merekomendasikan moratorium eksplorasi dan eksploitasi tambang di kawasan ini.
Politik lokal
Sekurangnya, dalam konteks tragedi Tumbak, pemerintah lokal selalu mengajukan dua argumentasi unggulan dalam mendukung operasi perusahaan tambang.
Pertama, pemerintah lokal tidak dapat menghalangi UU yang memberikan basis yuridis-formal bagi keberadaan investasi tambang. Padahal, sebenarnya argumentasi ini bisa dipatahkan dengan pernyataan fundamental tentang karakter sosio-kultural masyarakat. Masyarakat agraris dengan paham kosmologis yang tertaut erat dengan alam sekitar menghadapi keterancaman dengan kehadiran mesin tambang di pulau kecil itu.
Kedua, alasan percepatan pertumbuhan kesejahteraan ekonomi selalu diletakkan di belakang izin yang diberikan kepada perusahaan tambang di Flores. Tambang akan menghadirkan volume kemakmuran bagi masyarakat Flores.
Hingga sekarang, argumentasi ini belum menghadirkan pembuktian sahih selain semakin banyak kawasan yang berubah rupa menjadi lubang-lubang raksasa. Kerusakan area penyanggah kultur masyarakat agraris justru mengancam klaim logika kesejahteraan ekonomi.
Maka, rakyat banyak berharap pada kehadiran pemerintahan baru yang memiliki ikhtiar memperkuat dan membangun kampung (desa). Dengan demikian, kisah serupa Tumbak seharusnya segera mendapatkan jalan keluar terbaik.
Pertanyaannya adalah apakah pemerintah daerah masih berkukuh mengeluarkan IUP dengan logika percepatan kemakmuran ekonomi warga desa dengan akan hadirnya dana semiliar rupiah per tahun yang akan masuk ke kampung-kampung kita?
Pemerintahan Jokowi-JK harus menyikapi deretan ekolosida yang tergelar semakin ramai di pelosok-pelosok negeri akibat meriahnya salah kaprah kepemimpinan politik lokal.
Politik lokal kerap memunculkan tengkulak politik lokal yang dengan mudah menggadaikan kuasa mereka untuk menerbitkan IUP dengan kemudahan-kemudahan ekonomis di depan mata mereka.
Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Kompas Siang pada Sabtu, 11 Oktober. Diterbitkan lagi di sini untuk pencerahan bagi publik.