Jumat, 13 Maret 2026

ALLAH DAN TUHAN MENURUT PERSPEKTIF ALKITAB (katolik)

 ALLAH DAN TUHAN  MENURUT PERSPEKTIF ALKITAB  (katolik)


Apa itu Tuhan?


Ul 6:4Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

Mrk 12:29Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.


Apa itu Allah?

Yoh 4:24Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."


Apakah Allah dan Tuhan itu berbeda?

Menurut saya   mesekipun   Tuhan dan Allah itu 2 nama yang berbeda tetapi esensinya  sama, yakni  Yang menyertai.  Dalam  Lukas 1: 28: , dikatakan hawa Tuhan meyertai Maria. 

Luk 1:28Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Lalu dalam Matius 1: 23

Mat 1:23"Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" ?yang berarti: Allah menyertai kita.



JPS, 13 dan 14  Maert 2026. 




Sabtu, 07 Maret 2026

LAGU ROHANI - KOOR

 LAGU ROHANI  - koor

LAGU ROHANI: YESUS  CAHAYA HATIKU

https://youtube.com/shorts/Im16d7hf83c?si=onS1tCnuOiuRatTk



JPS, 7  Maret 2026.


Jumat, 27 Februari 2026

MASALAH GEREJA KATOLIK DUNIA

 MASALAH GEREJA KATOLIK DUNIA

1. GEREJA DITUTUP / BANGKRUT

Tangis Umat PECAH, GEREJA ini RESMI DITUTUP & PAROKI DIBUBARKAN‼️Mengapa?

 

https://www.youtube.com/watch?v=_xB2-9B_hH0

Paroki Katolik  - Gereja St. Adalbertus, Keuskupan  Scarton, Philadepphia,  AS  dibubarkan karena kekurangan umat dan hanya sedikit umat yang datang misa., pergeseran demografis (pendudkuk),

 

  Gereja ini berusia 130 tahun.  Cikar bakal Gereja ini adalah Warga Polandia yang pindah ke USA.

 Gereja ditutup  karena   biaya operasional perawatan Gereja  cukup mahal.  Maka Gereja  dibubarkan pada   11 Janari 2026 dengan dislenggarakannya  misa erakhir yang dihadiri uskup  Keuskupan Scarton Mgr. Banbera .

JPS, 28 Feb. 2026.


Kamis, 12 Februari 2026

MASALAH GEREJA KATOLIK DI INDONESIA

MASALAH GEREJA KATOLIK   DI INDONESIA 



1.  MASALAH KEUSKUPAN  BOGOR


REFLEKSI AKHIR MGR. PASKALIS BRUNO SYUKUR OFM PADA SAAT MENGUMUMKAN PENGUNDURAN DIRINYA SEBAGAI USKUP BOGOR (Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, 19 Januari 2026)

Sumber:
https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=26462894569962377&id=100000055816101&post_id=100000055816101_26462894569962377&rdid=kxkJqMZuAve7FyN8#




Saudara-saudari sekalian yang terkasih dalam Kristus, para Imam, biarawan/ti, dan seluruh umat beriman di seluruh wilayah Keuskupan Bogor. Hari ini saya berdiri di hadapan Anda bukan dengan hati yang berat, melainkan dengan jiwa yang penuh syukur. Saya ingat moto saya sebagai uskup “Magnificat Anima mea Dominum.”
Gereja adalah milik Kristus. Dan kita semua hanyalah hamba yang mencoba melakukan tugas kita. Pengunduran diri saya, yang telah diterima oleh Bapa Suci, saya maknai sebagai sebuah pengalaman mistik yang luar biasa. Walaupun dalam konteks tertentu, ada hal-hal yang saya juga tidak pahami. Tetapi di situlah, saya menyatakannya sebagai sebuah pengalaman mistik.
Saya teringat akan kata-kata Rasul Paulus dalam 2 Timoteus 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik. Aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” Di balik setiap Keputusan administratif, saya mengimani ada tangan Tuhan yang sedang merajut rencana-Nya. Saya menerima ini dengan sukacita batin karena ketaatan kepada Tahta Suci adalah janji yang saya pegang teguh dan tentu untuk kita semua.
Hal yang kedua, secara singkat, saya mau mengklarifikasi dalam terang kebenaran. Demi kasih saya kepada Gereja dan agar tidak terjadi kebingungan yang berkepanjangan, izinkan saya menyampaikan beberapa refleksi atas permasalahan yang beberapa waktu lalu dikaitkan kepada [dengan] saya sebagai pribadi maupun dalam tugas saya sebagai Uskup, sebagai bentuk tanggung jawab saya.
Pertama mengenai misi di Lebak dan suster SFS. Berita negatif mengenai penghentian misi Gereja Katolik di Lebak dan keberadaan suster SFS seringkali tidak berpijak pada fakta. Keputusan tersebut adalah upaya reorganisasi demi keberlanjutan misi yang lebih sehat. Kita harus ingat pesan dalam Yohanes 8: 32: “Dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Saya berusaha berdiri di atas dasar kebenaran berkaitan dengan misi kita di Lebak dan kehadiran Suster SFS di sana.
Walaupun yang terakhir, dalam surat dari dua imam kita itu mengatakan ada pengusiran. Itu ungkapan yang tidak berdasarkan fakta, tapi itu disebarluaskan. Maka saya mau menyampaikan di tempat ini. Mohon itu ditarik kembali dan saya sudah meminta kepada suster SFS untuk menyatakan bahwa saya memang tidak mengusir mereka. Dari awal bersama Rm. Andre dan teman-teman yang lain kita mengikuti proses itu.
Yang kedua mengenai stabilitas keuangan keuskupan Bogor, isu mengenai kebangkrutan keuskupan, terbukti tidak berdasar. Isu ciptaan bahwa saya menggunakan uang keuskupan untuk keluarga atau orang lain sudah tidak terbukti. Saya mengikuti kefransiskanan saya, dengan tidak menggunakan uang keuskupan untuk pribadi saya. Kondisi finansial kita tetap terjaga dan stabil. Tuduhan tanpa data mungkin cepat menyebar. Namun seperti tertulis dalam Mazmur 37: 6, “Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang”. Waktu telah membuktikan integritas pengelolaan rumah tangga Keuskupan kita. Saya kira Mgr. Tri juga sudah melihatnya.
Ketiga mengenai relasi personal dan tata kelola terkait tuduhan relasi personal. Saya tegaskan bahwa setiap kerja sama didasarkan pada profesionalitas demi kemajuan keuskupan. Seringkali niat baik disalahpahami. Namun saya berpegang teguh pada 1 Korintus 10:31, “Jika engkau makan atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
Yang keempat mengenai dinamika prebisterium Unio dan Kuria. Kepemimpinan seringkali menjadi jalan yang sunyi. Saya sering merasa bekerja sendiri tanpa dukungan yang semestinya. Mungkin tampaknya ada dukungan, tapi dalam kenyataan kadang-kadang jalan sunyi. Ketika saya melakukan perombakan Kuria demi penguatan struktur, hal itu justru dianggap keliru. Pergantian melalui proses pendekatan. Pergantian dilakukan melalui proses pendekatan yang biasa. Namun saya teringat akan Yesaya 41: 10: “Jangan kamu takut sebab Aku menyertai engkau. Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” Kemenangan yang saya maksud bukanlah jabatan melainkan keteguhan prinsip, kepentingan kebaikan keuskupan daripada kepentingan sekelompok orang.
Hasil Visitasi Apostolik dan Penutup.
Bapa Suci telah mengirimkan Visitator Apostolik. Saya bersyukur karena hasilnya adalah juga positif. Dia menegaskan bahwa integritas pelayanan saya tetap terjaga kepada Tuhan dan Gereja Universal.
Mengenai pengunduran diri saya, pertama mengenai surat penunjukan diri saya sebagai Kardinal oleh Paus Fransiskus, saya diminta untuk mengundurkan diri dengan alasan, dianggap membiarkan kasus pedofilia yang terjadi di Keuskupan. Kasus ini sungguh saya kawal dan ditangani dengan baik sampai selesai.
Kedua soal pengunduran diri sebagai Uskup, memang ada tekanan dan situasi sulit yang mengikutinya. Namun saya memilih untuk tidak melihatnya sebagai suatu kekalahan manusiawi dan duniawi. Saya mundur bukan karena saya bersalah, tetapi karena saya mengasihi persatuan Gereja khususnya Keuskupan Bogor ini, seperti Kristus yang diam di hadapan para pengikut-Nya. Saya pun menyerahkan segalanya kepada Hakim yang Adil, “Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm 23:1).
Akhirnya saudara/i, jabatan dan gelar hanyalah titipan yang bersifat sementara. Saya teringat akan momen suci dalam hidup Santo Fransiskus Assisi, ketika ia dengan penuh keberanian menanggalkan jubah keduniaannya; untuk melepaskan segala keterikatan duniawi demi hanya memiliki Allah sebagai Bapa-Nya.
Hari ini saya pun melakukan hal yang sama. Saya menerima keputusan dari Paus Leo XIV dan tentu saja menanggalkan jabatan sebagai uskup, bukan dengan rasa kehilangan, melainkan dengan kebebasan hati.
Seperti Fransiskus, saya ingin menyatakan bahwa mulai saat ini saya dapat berkata, “Bapa Kami yang ada di Surga.” Karena hanya kepada-Nyalah, saya bersandar sepenuhnya.
Kepada para imam yang saya kasihi, kita sudah berjalan bersama kurang lebih 11 tahun dan saya mengampuni setiap kesalahpahaman dan tetap memeluk kalian dalam doa. Hiduplah dengan hati yang saling mengampuni dan tulus. Ini yang paling penting untuk selanjutnya. Jangan berbicara di belakang-belakang dan lempar batu. Sesama imam Unio adalah saudara. Apapun kekurangan, apapun kelebihan. Terimalah dia sebagai saudaramu untuk perjalanan selanjutnya.
Kepada seluruh umat, tetaplah setia pada Gereja, bukan pada sosok manusia, tetapi pada Kristus Sang Kepala. Saya berterima kasih atas persahabatan tulus kita dan saya meminta maaf dari kalian semua atas kekurangan dan kesalahan yang telah saya lakukan.
Saya menyerahkan estafet penggembalaan ini dengan sukacita dan damai yang melampaui segala akal. Di dalam Tuhan tidak ada yang benar-benar hilang. Yang ada hanyalah perubahan bentuk.
Saya akan kembali ke Rumah Persaudaraan OFM. Terima kasih untuk persaudaraan yang menerima kami. Terima kasih untuk Keuskupan yang juga menerima dalam perjalanan kurang lebih 11 tahun.
Aku teringat lagi akan kata-kata Santo Paulus: “Sebab bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Terima kasih atas perjalanan indah yang telah kita lalui bersama. Walaupun banyak hal juga boleh dikatakan ombak-ombak dalam kehidupan kita.
“In Hoc tempore gratiarum, animus detum pro opera domini obidientia" (Pada waktu ucapan syukur ini, jiwa bersukacita untuk menjadi sarana karya Tuhan).
Tuhan memberkati.


*******


Pihak kontra (menolak / benci)  Uskup Bogor: 

Laurentius Malau

Liat di Fransisca Tri Susanti eh ada video-nya Yustinus Prastowo dlm silahturahmi ke Kedubes vatican..

Nah, gw personally respect integritas beliau sbg staff ahli dan andalan Menkeu Sri Mulyani, expertise Belio di bidang ekonomi gak diragukanlah.., hence, so secara ekonomi dan management persfektif tentang RS misi, sptnya ini sy satu frekwensi sama Belio bahwa change management RS misi tidak dimaknai utk perbaikan tp hal "lain", most likely bermodal "uneducated" redaksional surat penghentian kerjasama (ini hrs dicari jg knp lebih bagus redaksi surat kelas RT/RW 🤭),

Monggo Romo Agustinus Surianto Himawan , Theos , Floribertus Rahardi , Denny Hardianto data RS Misi perlu kita kuliti sama2x, Krn ini adalah root cause procons yg makin dalam dan kadang disertai bumbu "nyinyiran" tanpa ada penyelesaian akhir..

Kalo agama sebelah bilang, "dosa" ini terus beranak-pinak.. 🤣🤣🤣🤣

Last but not the least, semoga kita bs dptkan data thn ke thn utk Ebit dan Ebitda sebelum dan sesudah change terjadi..



Pihak pendukung Uskup Bogor: 

https://www.facebook.com/

Dipost 13 Feb. 2026. 


PERSEKONGKOLAN POLITIK DI BALIK PEMBATALAN KARDINAL USKUP PASKALIS
Rahardi, wartawan senior, mengatakan:
“Tanggal 6 Oktober 2024 Paus Fransiskus mengumumkan pengangkatan 21 kardinal baru, salah satunya Mgr. Paskalis. Nuncio MARAH karena tidak mengetahui proses awal yang semestinya melibatkan dirinya. Ketua KWI dan 2 kardinal Indonesia yang ditanya Nuncio juga tidak mengetahui proses sebelum pengumuman.”
Tanggapan:
Siapa sih yang sebenarnya yang berhak untuk memilih seorang Kardinal?
Di dalam KHK 351 art.1 dijelaskan demikian: “Paus memilih dan mengangkat kardinal secara bebas, yang bertugas membantu Paus (baik secara individu maupun kolektif), minimal harus sudah ditahbiskan imam dan menonjol dalam iman, moral, kesalehan, serta kearifan”.
Dari kanon ini menjadi sangat jelas bahwa pemilihan kardinal menjadi wewenang Paus. Ini adalah wewenang tunggal. Ini adalah hak prerogatif seorang paus. Tidak ada pihak luar yang berhak atau merasa bertanggungjawab atas pemilihan seorang kardinal karena itu semata-mata wewenang Paus.
Sangat besar kemungkinan si Wartawan senior ini menggunakan logika pemilihan Uskup di dalam pemilihan Kardinal. Sama sekali berbeda Pak Wartawan. Tidak ada proses pemungutan suara di dalam pemilihan kardinal.
Tidak ada proses pembagian kuesioner rahasia untuk memilih kardinal. Tidak ada aturan harus bertanya atau meminta pendapat kepada Nunsius, Ketua KWI, atau 2 orang kardinal yang lain.
Yang harus digarisbawahi oleh umat: Hanya Paus sendiri yang berhak memilih dan mengangkat seorang menjadi kardinal. Yang lain tidak punya hak sama sekali berdasarkan hukum.
Mari kita mengikuti logika F. Rahardi! Menurut Beliau ada 4 orang yang ‘mestinya’ mengetahui dari awal proses pemilihan kardinal Indonesia, yaitu Mons. Piero Pioppo (Nuncio), Mgr. Antonius S. Bunjamin, OSC (Ketua KWI), Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo, dan Kardinal Julius Darmaatmadja.
Bahkan diceritakan, Nuncio marah karena ia tidak terlibat di dalam prosesnya; atau paus tidak meminta pendapatnya.
Pertanyaannya: mana hukum kanonik yang memerintahkan bahwa mereka harus terlibat di dalam proses pemilihan kardinal? Tidak ada! Itu omong kosong.
Berdasarkan KHK 351, art. 1 di atas, kita lantas bertanya Sang Wartawan yang tidak lulus SMA ini: mengapa keempat orang itu harus merasa gelisah karena mereka tidak dilibatkan? Atau jangan-jangan ada nama lain yang mereka ‘jagokan’, dan pada kenyataannya Paus Fransiskus tidak memilih jagoan mereka? Apakah itu yang membuat Nuncio marah? Apakah Nuncio sudah punya jagoan di sakunya? Para bapa uskup dan kardinal: kenapa kalian harus gelisah untuk sesuatu yang bukan menjadi tanggungjawab dan tugas kalian?
Atau jangan-jangan orang-orang yang disebutkan oleh sang wartawan senior ini yang memang terlibat di dalam penjegalan ini? Kita tidak bisa menjawab “ya” terhadap pertanyaan ini karena berbagai alasan. Dan juga tidak bisa mengatakan “tidak” karena berbagai indikasi yang terlihat samar.
Setidaknya selama ini kita disuguhkan oleh berbagai alasan mengapa Mgr. Paskalis menolak jabatan kardinal, di mana yang paling dominan adalah:
1. Berbagai gosip atau tuduhan atas dirinya yang sampai pada kesimpulan ‘skandal’.
2. Isu primordialisme.
Pada pidato pengunduran dirinya, Mgr. Paskalis secara tegas mengatakan bahwa berbagai tuduhan atau gosip atas dirinya tidak terbukti. Jika hipotesis yang pertama tidak ditemukan kebenarannya, apakah pengundurannya berkaitan dengan hipotesis yang kedua? Apakah karena ia bukan jawa dan bukan didikan almamater Mertoyuda* sehingga dia tidak boleh/tidak layak menjadi kardinal sebagaimana ketiga pendahulunya? (hanya sekedar bertanya lhoo…jangan baper)
Tetapi lebih dari itu, konon berita-berita seksi mengenai konferensi waligereja konoha sudah sampai ke telinga Paus Fransiskus jauh sebelum ada rencana untuk memilih kardinal:
- Siapa yang membangun Gedung KW* baru yang begitu megah itu? Dari mana uang-uang itu berasal?
- Apa kabar investasi jumbo yang bernilai triliunan rupiah untuk hotel mewah KW* di Labuan Bajo di mana lengkap dengan kapel juga. Apakah ada yang tau apa nama hotel itu? Tolong kasih tau kami!!!
- Apakah Wartawan Senior, FH, juga tahu tentang dana pensiun di Menteng? Apakah Anda juga pernah merasakan nikmatnya naik private jet bersama jagoan-jagoan Anda?
Mgr. Paskalis…..Anda di mana!!!! Apakah Anda tahu tentang hal-hal ini! Kalau Anda tahu, bisikkan sedikit saja ke telinga kami tentang Menteng dan Labuan Bajo. Bisik sedikit saja!!!
Tetapi saat ini Anda sudah memilih istirahat untuk menjaga persatuan gereja. Jangan lupa terus-menerus berdoa untuk persatuan Gereja konoha.
Tetapi memang kalian hebat yahhh…mengalihkan perhatian umat ke gosip-gosip skandal (karena itu memang yang paling mudah diterima) sambil tetap berusaha untuk menyembunyikan dosa-dosa sosial
dan dosa-dosa politik kalian. Semoga ada yang bisa menulis ini: Dosa Personal Vs Dosa Sosial (Politik).
Ini sangat menarik lhoo…. Sambil tulis ini, teringat nikmatnya makan daging babi Iberica (Spanyol), nasi liwet (Sunda), dan gudeg (Jogja). Nikmat mana yang hendak kau dustakan kawan. Apalagi sambil menikmati indahnya sunset di Labuan Bajo, dari balkon hotel……..? (bantu jawab donk!).





AKUN FB: Franciscus Anton

https://www.facebook.com/

Dipost 13 Feb. 2026. 


TANGGAPAN, BANTAHAN DAN PERTANYAAN TERHADAP KRONOLOGI F. RAHARDI (4)
Rahardi, wartawan senior, mengatakan:
“Beberapa Imam dan elite umat Keuskupan Bogor mulai mempergunjingkan afair
Mgr Paskalis dengan Ibu Puri. Imam dan umat Katolik di luar Keuskupan Bogor tidak
tahu.”
Tanggapan:
Para imam dan elit keuskupan Bogor itu sedang bergosip Mas Wartawan senior.
Pergunjingan itu sama dengan gosip, prasangka, dan asumsi. Pergunjingan itu
biasanya divalidasi dengan berbagai foto ataupun kesaksian orang. Mungkin
wartawan senior ini tidak bisa membedakan antara prasangka, asumsi, hipotesis,
pengetahuan dan kebenaran.
Pertanyaannya: bagaimana menguji setiap asumsi, prasangka, dan berbagai hipotesis menjadi sebuah KEBENARAN. Yang dilakukan wartawan senior ini hanyalah sebatas asumsi dan hipotesis.
Dia mengatakan: “menurut kesaksian orang terdekat”, “menurut foto-foto”, menurut ini…menurut itu… Dan kemudian dia menyimpulkan bahwa itu adalah KEBENARAN.
Hal-hal itu bukan kebenaran. Itu hanya prasangka dan asumsi yang kebenarannya
masih perlu diuji dan dibuktikan. Caranya bagaimana: harus konfirmasi kepada
pribadi yang disebutkan, apakah memang prasangka dan asumsi itu benar atau
tidak?
Mintalah pertanggungjawaban dari setiap gosip itu. Dan pada kenyataannya
memang keduanya hanya sebatas relasi profesional. Keduanya sudah membantah,
bahkan di depan Visitator Apostolik bahwa tidak ada relasi seperti yang dituduhkan
itu. Dan kalau mau jujur yahhh… Banyak tuh uskup punya relasi dengan ibu-ibu.
Lihat saja…siapa yang jemput uskup-uskup kalau datang pertemuan di Jakarta. Atau
siapa yang mengajak mereka pergi makan? Dan itu bukan hal yang salah atau dosa.
Itu adalah relasi yang wajar.
Sejauh uskup-uskupnya merasa terbantu, dan juga sejauh ibu-ibu itu dengan tulus membantu, tidak ada yang salah dengan relasi itu.
Pertanyaan: Rahardi yang banyak tahu, siapa imam-imam dan elite umat Keuskupan Bogor yang menggunjing Uskupnya itu?
Ini adalah salah satu bentuk klarifikasi untuk mencari kebenaran. Apakah nama-nama imam itu bisa disebutkan?
Mari kita bertemu dengan imam-imam atau elit-elit itu dan mengklarifikasinya secara bersama-sama agar hal-hal itu tidak sebatas gosip atau asumsi semata.


JPS, 13 Feb, 2026. 


*******


AKUN FB:  MANGGARAI POst - NTT

https://www.facebook.com/mapost123

Dipost: 11 Feb. 2026. 

LILIN KECIL
PERTANYAAN BESAR
MEREKA membentangkan spanduk lalu menyalakan lilin. Dua baris tulisannya sederhana: “Vatikan… Kami bertanya…”
Tidak ada amarah yang meledak. Tidak ada teriakan sampai urat leher putus. Hanya cahaya kecil dan sebuah pertanyaan.
Bertanya sejatinya adalah tindakan moral. Kebenaran paling dalam tidak selalu diumumkan dengan suara yang memecah udara. Ia sering dibangunkan oleh pertanyaan yang membuat nurani tak lagi bisa tidur.
Di situlah kekuatan aksi tanya dan bakar lilin di depan Kedutaan Besar Vatikan, Selasa, 10 Januari 2026. Digelar setelah pengunduran diri Paskalis Bruno Syukur OFM dari jabatan Uskup Bogor.
Lilin adalah simbol yang sederhana. Ia tidak memukul. Tidak merusak. Ia menyala dengan mengorbankan dirinya sendiri. Di tangan mereka yang datang ke Kedubes, lilin berubah menjadi pernyataan moral. Kami hadir untuk menerangi, bukan menghanguskan. Kami bertanya, bukan menuduh.
Pertanyaan itu pun tidak liar. Ia terarah: ada apa di balik pengunduran diri itu? Mengapa simpang siur dibiarkan berlarut? Bukankah transparansi adalah bagian dari tanggung jawab moral sebuah institusi rohani?
Kiranya lilin-lilin itu mampu menerangi wajah-wajah yang sebelumnya tersembunyi. Pertanyaan-pertanyaan itu menerangi alasan-alasan yang mungkin selama ini ditutup rapat. Ketika cahaya dan tanya hadir bersamaan, kehadiran mereka berubah menjadi refleksi kolektif, bukan sekadar ekspresi kekecewaan.
“Aksi ini berangkat dari keprihatinan tentang simpang siur seputar pengunduran diri Monsinyur Paskalis. Kami ingin mendorong keterbukaan, transparansi, dialog, dan rekonsiliasi,” ujar Yustinus Prastowo.
Peserta lainnya, Prof. Robertus Robert, menyebut aksi tersebut sebagai seruan profetis—harapan tulus agar para gembala Gereja menggunakan otoritas rohaninya untuk merangkul dan mengajarkan kebenaran, bukan terjebak dalam logika kuasa yang menyerupai politik duniawi.
Pada akhirnya, lilin dan pertanyaan berdiri di sisi yang sama yaitu etika. Setiap pertanyaan yang jujur adalah cahaya yang menolak padam. Dan setiap lilin yang dinyalakan adalah pesan sunyi bahwa nurani belum selesai berbicara.
Sebab jika pertanyaan dianggap ancaman dan cahaya dipandang gangguan, yang sesungguhnya sedang gelap bukanlah jalan di depan Kedubes, melainkan ruang batin yang enggan diterangi.
Kiranya bukan api yang besar yang mengubah sejarah, melainkan lilin kecil yang berani menyalakan pertanyaan besar.
Sumber: FB @Gaudensius Suhardi

JPs, 13 Feb. 2026.


*********


Yustinus Prastowo 

oesptSnrod2gi72rf 0u1iiu.1u5Fa4meu94 p980 bklllu2ml913r51mgh ·

Dipost: 5 Feb. 2026

Akun FB: Yustinus Prastowo 

Aksi di Kedubes Vatikan. Ada Apa?

 

Sejak kami melakukan Aksi 1000 Lilin di depan Kedubes Vatikan, banyak pertanyaan dan pro kontra berdatangan. Dari yang sungguh2 ingin tahu dan mendalami hingga yang sekadar mendukung atau mencela. Untuk semua respon, saya berterima kasih. Itu tanda Gereja masih hidup, berdenyut. Bukan fosil atau monumen tua tak berguna. Di titik ini kita patut bersyukur.

Selanjutnya ada gugatan, kenapa mesti mengumbar urusan internal Gereja ke publik, khususnya di jalanan. Gereja bukan entitas politik dan tidak menganut demokrasi, tetapi hierarki yang punya cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan.

Saya jawab lugas. Ruang publik kini tak dibatasi yang fisik. Justru belakangan ini media sosial menjadi ruang publik yang paling aktif dan berpengaruh. Warganet berjejaring, bertukar informasi, saling kritik, bahkan tak jarang saling serang. Kini advokasi pun kerap dilakukan via medsos dan efektif: mulai dari menggugat jalanan rusak, tak setuju dengan perilaku pejabat, mendukung penindakan pada perusak lingkungan, hingga menolak kenaikan tunjangan pejabat negara. Agustus 2025 adalah gerakan cukup besar yang dimulai dari medsos.

Maka mempartisi jalanan vs medsos itu kurang tepat. Keduanya sudah menjadi lokus perbuatan hukum yang diatur dan punya implikasi. Bisa sama2 memalukan atau memuliakan.

Kenapa tak berkomunikasi dengan hierarki? Terus terang saya sendiri bingung. Silang sengkarut soal pengunduran diri Mgr Paskalis ini terkesan dibiarkan. Begitu banyak informasi membanjiri medsos tanpa penjelasan otoritas yang memadai. Bahkan ada beberapa tudingan yang dijadikan rujukan banyak orang dan terkesan valid. Implisit mendaku bersumber dari otoritas. Makian, hujatan, dan serangan ke pribadi Mgr Paskalis, yang didahului surat dua pastor Keuskupan Bogor, menambah kebingungan.

Jika ekspresi jalanan disayangkan dan dihujat, kenapa ada surat dua pastor yang sangat telanjang dan mengumbar aib uskupnya, dibiarkan terjadi. Lagi2, dijadikan rujukan. Apakah mereka yang secara formal belajar hukum gereja dan teologi itu pantas melakukan itu? Dan kenapa ini tak dianggap sebagai pelanggaran dan hal aneh? Kami bahkan buru2 dihardik dengan hukum kanonik, tanpa kesediaan membaca substansi seruan dan ajakan refleksi kami.

Saya sengaja posting dan diserang di Threads, platform medsos yang sengaja saya pilih untuk menguji arus opini umat Katolik. Saya sudah kebal dengan serangan begini. Lima tahun membantu Bu Sri Mulyani, saya terbiasa menghadapi urusan yang lebih berat dan keras, dan biasa saya hadapi sendiri.

Prinsip saya jelas: saya tak gegabah bersikap sebelum mendengarkan dan mendapatkan cukup informasi dan mengujinya. Begitu yakin saya melakukan sesuatu yang benar, urusan selanjutnya tinggal sanggup sediakan energi untuk bertarung opini. Dan saya sungguh merasakan Roh Kudus bekerja. Begitu banyak yang berempati dan berbagi informasi dan perasaan, bahwa kami sedang berjuang demi cinta tulus pada Gereja.

Di trotoar depan gerbang Kedutaan, kami tak memaki, tak ada hujatan atau tuntutan. Kami sepenuhnya menerima keputusan Paus. Tak ada desakan Mgr Paskalis diangkat kembali menjadi Uskup Bogor. Kami hanya ingin ada terang pada kabut pertanyaan yang menyelimuti. Pernyataan Mgr Paskalis bahwa ada tekanan, dan di sisi lain ada orang yang dengan percaya diri mendaku punya informasi akurat tentang kesalahan Mgr Paskalis.

Mudah merekonstruksi ini. Jika klaim orang tersebut benar, bahwa informasi yang dia terima akurat, maka hanya ada kemungkinan: hasil visitasi apostolik bocor. Saya yang awam beranggapan semua ini rahasia dan hanya boleh diketahui hierarki sangat terbatas, guna pengambilan keputusan Bapa Suci. Jika klaim itu keliru, bersamaan dengan surat terbuka dua pastor Keuskupan Bogor yang diumbar ke publik dan memantik perpecahan: dibiarkan tanpa penjelasan apapun.

Apakah dalih Gereja tak menganut demokrasi lantas bisa dimaknai anti pada pertanyaan2 mendasar tanpa prasangka seperti yang kami ajukan? Dan apakah otoritas sudah berhitung cermat jika ini berlarut maka akan menggerus trust? Kenapa beberapa pihak begitu mudah bersikap formal-legalistik, sikap yang oleh Paus Fransiskus ditentang dengan pendekatan pastoral yang lebih humanis.

Ada pula kritik ke kami, seolah hanya fokus dan militan ke isu Mgr Paskalis dan abai pada isu lain seperti Papua, Maumere, dan lainnya. Sama sekali tidak. Di tempat dan kesempatan lain kami turut mengadvokasi dengan cara kami. Tapi lebih mendasar, isu2 besar itu hanya akan tersentuh dan tuntas diadvokasi jika kita bisa menyelesaikan isu internal ini secara terang. Mestinya tak sulit memahami korelasi ini. Kita hanya sanggup menuntaskan perkara besar saat sudah teruji pada perkara2 kecil.

Tampaknya kita mesti menyadari ada yang salah dan masalah di internal Gereja. Barangkali kita ini hipokrit, menjalankan hidup-ganda dengan menyembah Tuhan dan Mammon sekaligus. Dalam situasi seperti ini menjadi tak penting berapa orang yang mendukung kita. Ini jika kita sepakat kita tak sedang menang-menangan. Bahkan saya mendapat kabar banyak pastor yang mestinya bisa dengan mudah mengambil sikap hitam-putih, tetiba menjadi abu2.

Saya tak pesimis. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Dan saya secara sadar dan bertanggung jawab telah memilih jalan saya. Barangkali berisiko, tapi hidup ini cuma sekali, dan saya ingin sesekali berarti. Martin Luther banyak dihujat dan baru memperoleh pengakuan baik dan tulus dari Vatikan, 500 tahun kemudian.

Sesuai bidang keilmuan saya, saya akan fokus pada pemeriksaan aspek keuangan saja. Kebetulan saya sudah membaca dan sedang mempelajari dengan cermat dan mendalam laporan keuangan dan dokumen2 otentik lain terkait RS Misi Lebak. Ini pintu masuk polemik dan titik tengkar awal. Saya tidak mau berdebat teologis dan dogmatis, termasuk masuk ke sensasi isu perempuan. Bagi saya semua ini urusan moral publik yang seharusnya tak rumit.

Mohon ditunggu dalam beberapa hari ke depan saya akan merilis analisis saya terhadap hal ini. Kebetulan saja saya pernah belajar akuntansi dan pernah menjadi auditor. Dan rasanya tak akan ada yang abu2 lagi, semestinya hitam-putih dan benderang.

Langkah ini saya tempuh sebagai kontribusi saya untuk penyelesaian yang lebih objektif dan fair: menguji tuduhan soal keuangan dengan standard keilmuan yang teruji. Agar tak jatuh pada suka atau tak suka yang subyektif. Temasuk menangkal kemungkinan para Sengkuni pecundang merasa jadi pemenang.

Seorang sahabat berusaha meyakinkan saya bahwa Mgr Paskalis bukan orang baik. Saya pun bukan orang baik. Dan yang merasa lebih baik, silakan melemparkan batu pertama kali! Di sini kita tak hendak membuktikan baik-buruk tetapi benar-salah. Dasarnya adalah tuduhan yang telah diumbar dan tersebar.

Saya hanya ingin Gereja Katolik memanfaatkan momen ini untuk berkaca, berbenah, membuka dialog yang terbuka, dan rekonsiliasi. Tak akan ada pengampunan tanpa penyingkapan kebenaran. Juga tak perlu saling menyalahkan.

Saya hanya umat biasa yang ingin terlibat. Di kerja sunyi dan tak populer ini saya senantiasa merunduk untuk mendapat terang Roh Kudus, dan dengan rendah hati hormat dan taat pada Bapa Suci dan para Uskup gembala kami. Usai ini, semoga Gereja Katolik Indonesia sanggup kembali menjadi kompas moral bagi banyak urusan bangsa. Bangsa yang sedang dilanda masalah korupsi, kerusakan lingkungan, kemiskinan dan ketimpangan ekstrem, hedonisme akut - yang jangan2 iblis saja sudah gagal memahami.

Yustinus Prastowo 

oesptSnrod2gi72rf 0u1iiu.1u5Fa4meu94 p980 bklllu2ml913r51mgh ·

Dipost: 22 atau 23  Feb. 2026

 

Tentang Sensus Fidei dan Cara Baru Menggereja

Pasca aksi di depan Kedubes Vatikan dan tulisan pertama saya, kami mendapat respon yang luar biasa. Ada pro kontra, hal yang amat wajar dan jadi tanda Gereja berdenyut dan hidup. Ada satu hal yang agak mengusik saya, penggunaan adagium Roma locuta causa finita est dan sindiran sebagai kelompok kepo, pembangkang Paus, atau Katolik jalanan. Saya paham pasti ada goncangan. Namun lagi-lagi saya percaya tulisan pada obat batuk: kocok dahulu sebelum diminum! Goncangan yang membawa kemujaraban dan penyembuhan. Di pusara Bapak saya, katekis dan misionaris awam yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk Gereja, saya menulis permenungan ini.

Adagium kuno Roma locuta causa finita ini sering dikutip saat terjadi perdebatan teologis. Artinya kurang lebih, jika Roma sudah bicara, maka perkara selesai. Ini menegaskan otoritas Paus dalam hal ajaran iman. Adagium ini kerap diasalkan ke Santo Agustinus sebagai ucapan untuk melawan Pelagianisme, sebuah bid'ah yang dianggap menyimpang dari ajaran resmi Gereja.

Cukup pasti, prinsip itu dipakai dalam urusan ajaran iman dan moral yang menjadi kuasa Magisterium, bukan untuk hal-hal terkait manajerial dan tata kelola. Maka terburu-buru menggunakan adagium ini dalam sebuah perdebatan di ranah non-teologis bisa jadi tanda kemalasan berpikir atau residu ultramontanisme radikal yang kurang percaya diri pada prinsip fides quaerens intellectum, iman yang haus akan pencarian pemahaman. Di tulisan berikutnya saya akan bahas ini berdasarkan buku Catholicism karya sejarawan gereja masyur, John T McGreevy, agar kita punya konteks historis yang utuh dan sanggup rendah hati justru karena paham.

Kitab Hukum Kanonik kan 212 mengatur demikian:

*§ 2 Adalah hak sepenuhnya kaum beriman kristiani untuk menyampaikan kepada para Gembala Gereja keperluan-keperluan mereka, terutama yang rohani, dan juga harapan-harapan mereka.

*§ 3 Sesuai dengan pengetahuan, kompetensi dan keunggulannya, mereka mempunyai hak, bahkan kadang-kadang juga kewajiban, untuk menyampaikan kepada para Gembala suci pendapat mereka tentang hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja dan untuk memberitahukannya kepada kaum beriman kristiani lainnya, tanpa mengurangi keutuhan iman dan moral serta sikap hormat terhadap para Gembala, dan dengan memperhatikan manfaat umum serta martabat pribadi orang."

Jelas diatur, umat beriman mempunyai hak, bahkan dalam taraf tertentu, kewajiban menyampaikan dan melakukan hal-hal demi kebaikan Gereja. Ini disebut sensus fidei atau perasaan iman umat, yang ada, hidup, dan tumbuh senafas dengan eksistensi Gereja itu sendiri. Lumen Gentium 12 meneguhkan bahwa keseluruhan kaum beriman, yang telah diurapi oleh Yang Kudus (lih 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam beriman. Ini bukan berarti opini umat selalu benar, melainkan ada intuisi iman kolektif yang berasal dan dipelihara oleh Roh Kudus, dan tak boleh dikesampingka begitu saja.

Maka penting membedakan opini publik dan sensus fidei, agar upaya dialog mencari kebenaran tak mudah dipatahkan dengan pendekatan legalistik-kekuasaan, dan sebaliknya, umat tak jatuh dalam opini publik yang sekadar emosional, partisan, dan memecah belah. Yang di era medsos ini direpresentasikan oleh viralitas hingga melahirkan konsep epistemologi: apa yang benar adalah yang dipercakapkan berulang-ulang.

Jika demikian, maka kita dapat menguji tuntutan umat akan transparansi penanganan suatu kasus manajerial atau tata kelola, tentang prosedur penanganan yang adil, atau pentingnya menjaga martabat seorang uskup ini merupakan opini publik belaka atau sensus fidei? Batu uji pertama ada pada motif, apakah sekadar ekspresi sikap mbalelo dan tidak suka atau justru dilandaskan pada rasa cintai pada Gereja? Upaya merawat kebenaran dan keadilan dalam Gereja mestinya cukup meyakinkan untuk memperlakukan kritik sebagai sensus fidei.

Sejarah Gereja tak kurang memberi contoh keterlibatan ini justru menyelamatkan dan menjaga Gereja. Misalnya, jemaat mula-mula yang dilibatkan dalam pemilihan uskup, kaum religius yang mengingatkan bahkan menegur Paus, misalnya dalam kasus St Bernardus dari Clairvaux yang menegur Paus Eugenius III demi kebenaran, atau saran para teolog yang menjaga Paus dan Gereja dari kesesatan iman.

Dokumen Komisi Teologi Internasional tahun 2014 bertajuk Sensus Fidei in the Life of the Church mempertegas ini dengan beberapa kriteria seperti partisipasi aktif dalam hidup Gereja, kesetiaan pada ajaran Gereja, kerendahan hati dan keterbukaan, dan orientasi pada kesatuan, bukan perpecahan. Jika ini terpenuhi maka apa yang terjadi bukanlah sikap melawan hierarki melainkan ekspresi peduli dan cinta pada persekutuan.

Hal berikutnya yang dapat menjadi rujukan dan penerang adalah gagasan Paus Fransiskus tentang sinodalitas. Sinodalitas bermakna berjalan bersama, baik hierarki maupun umat. Cukup jelas bahwa umat bukan sekadar objek pastoral, melainkan subyek eklesial. Pertanyaan tentang transparansi dapat diletakkan dalam kerangka partisipasi umat, kedewasaan iman awam, dan juga bukti bahwa Gereja bukan milik kaum berjubah semata.

Maka di sini kita tiba pada aspek yang krusial. Esensinya bukan pada umat yang bertanya tetapi pada bagaimana sebaiknya hierarki merespon. Bila suara umat beriman yang tulus itu kerap diabaikan dan gampang dipadamkan demi stabilitas semu, akan berpotensi menciptakan jurang lebar antara hierarki dan umat, lalu melahirkan distrust yang membesar. Sebaliknya, buru-buru dan serampangan memperlakukan tiap kritik sebagai sensus fidei juga berbahaya lantaran menjadi jebakan relativisme dan rawan jatuh pada populisme dangkal.

Tidak semua protes adalah sensus fidei, dan kritik tidak serta merta pembangkangan. Dengan demikian penting diupayakan proses discernment kolektif yang disandarkan pada kesediaan saling menerima, sikap hormat, dan saling mendengarkan. Dari dialog yang sehat ini dapat muncul daya kreatif yang memungkinkan lahirnya pembaruan. Transparansi lantas dapat didekati dalam tegangan kreatif pentingnya merawat kekhasan kepemimpinan komunio-hierarkis seraya menimba apa yang baik dari buah modernitas. Yesus sendiri menegaskan:"Kebenaran akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32). Dalam semangat ini, diskursus tentang transparansi bukan lagi perkara teknis melainkan pastoral dan moral. Sebagaimana buah-buah baik demokrasi tetap dapat dipetik tanpa harus mengancam model komunio-hierarkis.

Betul bahwa Gereja tak boleh dipaksa menjadi korporasi, namun tak perlu pula ini jadi alasan untuk berlindung pada ketertutupan. Hierarki tetap dapat berjalan beriringan dengan penguatan regulasi, keterlibatan awam yang punya kompetensi, dan tata kelola yang profesional. Transparansi bukan pula penelanjangan dan gerakan mempermalukan tanpa privasi, yang menjurus pada anarkisme. Kerahasiaan kurial dan keterbukaan publik dapat dikelola secara proporsional dalam batas-batas yang terukur. Di sini sekali lagi sinodalitas menemukan pijakan pastoral yang kuat. Mendengarkan umat bukan lagi pilihan melainkan spiritualitas Gereja itu sendiri.

Akhirnya saya ingin berkontribusi dengan memberikan masukan konkret berdasarkan pengalaman dan keterlibatan di ruang publik, yakni pentingnya membangun model komunikasi baru yang lebih terbuka, casual, dan merangkul. Zaman sudah berubah, suka tak suka era medsos dan digital kini menjadi ruang percakapan dominan, lengkap dengan keunggulan dan eksesnya. Apa yang dulu selesai dengan diumumkan, kini justru hal tersebut mengundang pertanyaan-pertanyaan baru. Ini bukan pembangkangan atau kemunduran iman tetapi tanda kedewasaan iman yang partisipatif.

Salah satu bentuk kegagapan memahami pergeseran makna ruang publik adalah tudingan aksi di depan Kedubes Vatikan sebagi tindakan memalukan mirip yang dilakukan Martin Luther tahun 1517, tapi bungkam terhadap penggunaan medsos untuk menebar fitnah dan syakwasangka yang memecah belah.

Bukan saatnya lagi diam itu emas dan bicara itu aib. Justru saat ini diperlukan membuka ruang-ruang percakapan otentik yang dilambari semangat pencarian dan saling hormat. Komunikasi satu arah dengan bahasa ketaatan tampaknya tak mencukupi lagi. Dibutuhkan gestur kegembalaan yang merangkul, hangat, dan akrab. Edukasi tentang mekanisme visitasi dan pengambilan keputusan tetap dapat disampaikan secara empatik dan terbuka tanpa kekhawatiran melunturkan kewibawaan.

Mungkin ini saat yang tepat menyusun protokol baru, menunjuk juru bicara yang luwes, kredibel, berwawasan luas, dan empatik. Pula menjadi momen tetap menangkap arus keingintahuan umat dengan membuka kanal yang lebih luas dan variatif. Jangan sampai mekarnya rasa memiliki Gereja ini layu dan patah.

Saya ingin mensyukuri proses ini seraya mengajak sahabat awam untuk terus berproses dalam semangat pencarian kebenaran yang tulus. Sikap hormat pada hierarki dan pentingnya menjaga marwah dan persatuan Gereja perlu terus dipertahankan. Saya optimis dan menaruh harap apa yang sedang terjadi akan menjadi peristiwa spesial yang memupuk modal sosial bagi transformasi Gereja Katolik Indonesia yang ditunggu kiprahnya menjadi kompas moral dan rekan sepeziarahan mewujudkan kehadiran Allah bagi yang miskin papa dan terpinggirkan. Per mundum ad coelum!

Gunungkidul, 22 Februari 2026

Dengan penuh cinta pada Gereja

Yustinus Prastowo

Awam Biasa


JPS, 23 Feb. 2026.

 

*********
SURAT GEMBALA - Ditulis oeh Floribertus Rahardi)
Catatan: F. Rahardi merupakan salah satu orang yang menghendaki Uskup Bogr, Paskalis Bruno Syukur, OFM mundur senagai Uskup Bogor. Dia turut menyoarkan di medsos bahwa Uskup Bogr, Mgr. PBS layak mundur karena peyalanggunaan kekuasaa (otoriter - mengusir konggregasi suter OSF - keluar dari RS Misi Lebak ), korupsi (penyelewengan keuangan) dan melanggar janji imamat (masalah dengan perempuan, yang bernama Puri) .

BENARKAH F RAHARDI BERTOBAT?
Apakah F Rahardi sudah bertobat? Semoga saja, biar dia sebagai pelaku kejahatan pemfitnah untuk meluruskan pembisiknya para Pastor yg tidak setia, pembangkang dan berkhianat kepada uskupnya...



Oom Floribertus Rahardi kehilangan arah.... linglung.......???
SURAT DOMBA UNTUK GEMBALA
Keprihatinan Umat Keuskupan Bogor di Masa Sede Vacante
Oleh : F.Rahardi
Kepada Para Gembala Terkasih di Keuskupan Bogor,
Salam dalam Kristus, Gembala Agung kita.
Saya menulis surat ini bukan dengan kemarahan, melainkan dengan hati yang hancur. Saya menulis bukan sebagai hakim, melainkan sebagai domba yang kehilangan arah. Saya menulis bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengingatkan panggilan suci yang telah Bapak-bapak terima pada hari tahbisan.
I. Keprihatinan Domba yang Kehilangan Gembala
Keuskupan Bogor kini sede vacante tanpa gembala. Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM telah pergi, meninggalkan kami dalam kebingungan dan kepedihan. Selama bertahun-tahun, kami mendengarkan surat gembala yang dibacakan dari mimbar, memberi kami arahan, penghiburan, dan harapan. Kini, di tengah kehampaan ini, izinkan saya sebagai domba menulis Surat Domba untuk Gembala.
Bukan karena saya merasa lebih suci atau lebih tahu. Bukan karena saya ingin memberontak terhadap hierarki Gereja yang saya cintai. Tetapi karena Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Gereja adalah "Umat Allah" (Lumen Gentium 9), di mana setiap orang beriman termasuk kami, para awan memiliki hak dan kewajiban untuk menyuarakan keprihatinan demi kebaikan Gereja.
"Kaum awam, seperti semua orang beriman kristiani, berhak menerima dengan berlimpah dari para gembala rohani yang kudus, terutama bantuan sabda Allah dan sakramen-sakramen."
Lumen Gentium 37
Tetapi apa yang kami terima? Gembala yang tidak berbau domba.
II. Ketika Gembala Lupa Bahwa Mereka Juga Domba
Yesus berkata kepada Petrus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh 21:17). Bukan "Kuasailah domba-domba-Ku" atau "Pilihlah domba-domba yang kamu sukai."
Menggembalakan berarti mengenal, mencintai, dan melayani tanpa diskriminasi, tanpa pamrih, tanpa agenda tersembunyi.
Namun, apa yang kami domba-domba-Mu, ya Tuhansaksikan?
1. Klerikalisme: Ketika Gembala Menjadi Raja
Paus Fransiskus berulang kali mengkritik klerikalisme sebagai "salah satu kejahatan terburuk" dalam Gereja (Letter to the People of God, 2018). Klerikalisme adalah ketika imam menempatkan diri mereka di atas umat, bukan di tengah umat.
Kami menyaksikan:
Gembala yang ketika dombanya ingin bertemu, harus dijadwalkan seperti CEO perusahaankami harus isi formulir, buat janji, antre, seolah-olah beliau terlalu sibuk untuk domba-dombanya sendiri.
Gembala yang tidak hadir di tengah umat setelah Misa Minggu, tidak menyapa, tidak mendengarkan keluh kesah kami, seolah-olah tugas sudah selesai begitu Misa usai, lalu masuk kamar, tidur, atau karaoke, minum wine dan makan babi panggang.
Gembala yang memilih-milih domba: yang kaya dilayani dengan senyum, yang miskin diabaikan; yang berpengaruh diundang makan malam, yang tidak berdaya disuruh tunggu.
Ini bukan yang Yesus ajarkan. Yesus mencuci kaki para murid (Yoh 13:14-15). Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 9:10-11). Yesus menyentuh orang kusta yang dijauhi masyarakat (Mat 8:3).
"Hendaklah para imam mengingat bahwa mereka dalam melaksanakan tugas mereka tidak boleh berpihak kepada orang atau golongan tertentu. Perhatian mereka harus ditujukan pertama-tama kepada mereka yang paling memerlukan bantuan rohani."
Presbyterorum Ordinis 6
Pertanyaan kami: Apakah Bapak-bapak masih berbau domba? Atau sudah berbau parfum kemewahan dan jabatan?
2. Karierisme: Ketika Imamat Menjadi Tangga Karier
Ada gembala yang melihat imamat bukan sebagai panggilan untuk melayani, melainkan sebagai tangga untuk naik. Mereka mengejar jabatan, posisi strategis, kedekatan dengan uskup atau bahkan dengan Roma, bukan karena cinta pada domba, melainkan karena ambisi pribadi. Ada gembala yang tidak mau digeser dari posisi Kuria, hingga nangis Bombay ke umat menggembar gemborkan bahwa dirinya sudah tidak dianggap lagi oleh uskup padahal dia punya banyak jasa menjadi penghubung dengan Forkompimda Bogor dan Kepolisian serta Ormas di luar Gereja Katolik.
Paus Yohanes Paulus II dalam Pastores Dabo Vobis (1992) memperingatkan bahwa imamat harus "pelayanan, bukan kekuasaan" (PDV 21). Imam dipanggil untuk menjadi hamba, bukan tuan.
Tetapi kami melihat:
Gembala yang bermain politik, membentuk kubu, mencari dukungan untuk posisi tertentu.
Gembala yang tidak setia kepada uskup mereka sendiri, bahkan berjalan berseberangan, padahal pada saat tahbisan mereka berjanji ketaatan (Presbyterorum Ordinis 7).
Gembala yang berkumpul secara sembunyi-sembunyi di paroki tertentu, bahkan mengundang uskup dari keuskupan lain, tanpa sepengetahuan uskup mereka, untuk merencanakan agenda besar mungkin untuk menjatuhkan gembala utama mereka.
Ini bukan Gereja. Ini adalah istana dengan intrik politik kotor.
"Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Matius 23:10-11
3. Gaya Hidup Hedon: Ketika Gembala Hidup Seperti Dunia
Kami tidak meminta Bapak-bapak hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kami tahu Bapak-bapak juga manusia yang butuh istirahat, rekreasi, dan kesejahteraan yang layak. Tetapi ada batas antara kesejahteraan yang wajar dan gaya hidup hedon yang bertentangan dengan sumpah kesederhanaan. Bukan ketika temu pastoral atau retreat parkiran berubah menjadi show room mobil, sementara domba-dombamu harus naik turun angkot untuk pulang pergi gereja demi mendapatkan pelayanan sakramen dari para gembala mereka.
Kami mendengar dan mohon, buktikan ini salah jika memang salah:
Gembala yang gemar judol (judi online)bagaimana mungkin seorang imam, yang seharusnya mengajarkan penguasaan diri, terjerat dalam kecanduan?
Gembala yang hobi memancing ditemani perempuan ini bukan hanya soal rekreasi, tetapi soal penampakan (scandal) yang merusak kepercayaan umat.
Gembala yang hidup mewah dengan uang persembahan umat sementara banyak umat berjuang untuk hidup sehari-hari.
Gaudium et Spes 72 mengingatkan bahwa semua harta milik harus digunakan "untuk kebaikan bersama" dan bukan untuk kepuasan pribadi yang berlebihan.
Pertanyaan kami: Jika imam saja hidup seperti ini, apa bedanya dengan dunia yang Bapak-bapak khotbahkan untuk kami tinggalkan?
4. Ketidaksiapan Pastoral: Gembala yang Tidak Memberi Makan
Yesus berkata kepada Petrus tiga kali: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh 21:15-17). Menggembalakan berarti memberi makanmemberi makanan rohani yang bergizi, bukan sekadar formalitas.
Namun, kami merasakan:
Kotbah yang tidak dipersiapkan terlihat jelas ketika pastor berbicara tanpa arah, mengulang-ulang hal yang sama, atau bahkan tidak relevan dengan bacaan hari itu. Kalimat di kotbah tidak jelas subyek, predikat, obyek dan keterangan. Apakah lulus mata kuliah homiletic dan retorika serta public speaking atau sudah lupa semua pedoman itu?
Gembala yang malas membaca bagaimana bisa memberi makan jika sendiri tidak makan dari Sabda Allah?
Gembala yang sok tahu dan tidak mau mendengarkan seolah-olah hanya mereka yang punya Roh Kudus, sementara kami, umat, hanya objek yang harus diajar, bukan subjek yang bisa berkontribusi, umat yang bodoh, calon penghuni neraka dan mereka pasti masuk surga, karena kuncinya ada di tangan mereka.
Presbyterorum Ordinis 4 menegaskan bahwa imam dipanggil untuk "mewartakan Injil Allah kepada semua orang" dengan "penuh semangat dan kebijaksanaan". Ini membutuhkan persiapan, studi, dan keterbukaan hati.
Pertanyaan kami: Jika gembala tidak memberi makan, apakah kami tidak akan kelaparan rohani?
III. Ketika Gembala Tidak Menghormati Gembala Utama
Yang paling menyakitkan bagi kami adalah ketidaksetiaan beberapa imam kepada uskup mereka sendiri. Pada saat tahbisan imamat, setiap imam berlutut di hadapan uskup dan berjanji ketaatan (Ritus Tahbisan, Janji Imam).
Namun, apa yang kami lihat?
Imam yang tidak mendukung uskup mereka, bahkan bekerja untuk menjatuhkannya.
Imam yang menyebarkan gosip tentang uskup tanpa bukti ini adalah fitnah, dosa berat menurut Katekismus Gereja Katolik 2477.
Imam yang bersekutu dengan kekuatan luar (termasuk uskup dari keuskupan lain) untuk menggulingkan uskup mereka sendiri.
Ini bukan hanya ketidaktaatan ini adalah pengkhianatan.
"Imam-imam dikhususkan untuk membantu tata imam; karena itu mereka, berkat sakramen imamat, dibentuk menurut gambaran Kristus Imam Agung, dan bersama dengan Uskup terikat dalam kesatuan Imamat."
Lumen Gentium 28
Jika imam tidak taat pada uskup, bagaimana kami, umat, bisa percaya pada kesatuan Gereja?
IV. Apakah "Sinodal" Hanya Slogan?
Tema APP 2026 adalah "Keluarga Sinodal yang Misioner dalam Perwujudan Iman". Kata "sinodal" berasal dari bahasa Yunani synodos—"berjalan bersama".
Tetapi bagaimana kami bisa berjalan bersama jika gembala berjalan sendiri, atau bahkan berjalan ke arah yang berlawanan?
Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium 31 menulis:
"Gereja yang 'keluar' adalah Gereja yang pintunya terbuka... bukan Gereja yang terjebak dalam dirinya sendiri."
Sinodal berarti:
Mendengarkan umat, bukan hanya memerintah
Berjalan bersama dalam kerendahan hati, bukan dalam arogansi
Melayani tanpa diskriminasi, bukan memilih-milih
Pertanyaan kami: Apakah Bapak-bapak benar-benar memahami apa itu sinodal? Atau ini hanya tema liturgis yang indah di atas kertas tetapi hampa dalam praktek?
V. Doa dan Harapan Domba yang Patah Hati
Bapak-bapak yang terkasih,
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi. Hanya Allah yang tahu hati. Saya menulis karena saya mencintai Gereja dan mencintai Bapak-bapak sebagai gembala kami. Saya menulis karena saya tidak ingin Gereja kami hancur oleh politik kotor, klerikalisme, dan karierisme.
Saya masih percaya pada Bapak-bapak. Saya percaya bahwa di balik semua kesalahan dan kelemahan, masih ada hati yang dipanggil Kristus. Saya percaya bahwa pertobatan itu mungkin, bahkan untuk gembala yang telah tersesat.
Permohonan Saya:
1. Bertobatlah. Akui kesalahan di hadapan Allah dan di hadapan kami, umat-Mu. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita" (1 Yoh 1:9).
2. Kembalilah kepada panggilan awal. Ingatlah hari tahbisan Bapak ketika Bapak berlutut dengan hati yang tulus, ingin melayani Kristus dalam diri domba-domba-Nya. Jangan biarkan ambisi duniawi menghancurkan keindahan panggilan itu. Kalau tidak kuat menahan hawa nafsu tinggalkan imamatmu, tanggalkan jubahmu dan menikahlah. Daripada tetap menyandang identitas imam, tapi suka jalan dengan istri orang.
3. Hiduplah sederhana. "Jangan kamu mengumpulkan harta di bumi... Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Mat 6:19-21). Hidup sederhana bukan berarti hidup melarat, tetapi hidup dengan prioritas yang benar: Allah, umat, kerajaan-Nya.
4. Dengarkan umat. Kami bukan objek pelayanan. Kami adalah rekan seperjalanan (synodos). Dengarkan kami. Belajarlah dari kami. Berjalan bersama kami.
5. Setialah kepada uskup. Jika ada masalah dengan uskup, selesaikan dengan cara yang Kristiani dan sinodal dialog terbuka, bukan intrik politik. Jika uskup salah, koreksi dengan kasih (Gal 6:1), bukan dengan pengkhianatan.
VI. Penutup: Kami Masih Berdoa untuk Bapak-Bapak
Meskipun hati kami hancur, kami tidak berhenti berdoa untuk Bapak-bapak. Setiap Misa, kami mendoakan para gembala kami meskipun kadang kami merasa sia-sia karena banyak gembala yang terjebak dalam karierisme.
Tetapi doa itu bukan untuk Bapak-bapak yang sempurna. Doa itu untuk Bapak-bapak yang lemah, yang tergoda, yang jatuh agar Bapak-bapak bangkit kembali.
Karena kami tahu: Bapak-bapak juga domba. Bapak-bapak juga butuh Gembala Agung, Yesus Kristus, untuk menuntun Bapak-bapak kembali ke jalan yang benar.
"Aku adalah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." Yohanes 10:11
Jadilah gembala yang baik, Bapak. Bukan gembala upahan yang lari ketika serigala datang.
Dengan doa dan harapan,
Floribertus Rahardi (F.Rahardi)
Seorang Domba yang Mencintai Gereja
Keuskupan Bogor, Indonesia
Masa Prapaskah 2026


********

KWI, JANGAN MUNAFIK!!!
Oktavia A. Maming - Umat

Akun FB: Fransiscus Anton
Dipost 24 Feb. 2026.
Disclaimer: Tulisan ini bukan sebuah tuduhan atau gugatan. Tetapi pertama2 adalah kerinduan untuk bertanya mengenai hal yang masih abu-abu. Ingin mencintai Gereja dengan cara yang jelas dan terang.
Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi Katolik, saya diajarkan bahwa "kebenaran akan memerdekakan kamu". Namun, melihat dinamika di Gereja Katolik Indonesia terutama yang melibatkan penerus para rasul di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) belakangan ini, saya justru merasa terjebak dalam keheningan yang menjengkelkan. Di bawah kepemimpinan Mgr. ASB (2022-sekarang), para hierarki sedang memainkan standar ganda yang sangat suci tetapi bo’ong. Dan, umat diajarkan oleh ASB untuk menjalankan dua hal ini: Pertama, bersikap munafik. Dua, membunuh saudara sendiri (umat sendiri boleh asal tidak ganggu kepentingan Gereja).
ANTARA MIMBAR EKOLOGI DAN PORTOFOLIO SAHAM
Sejujurnya, saya sempat bangga ketika KWI dengan tegas menolak izin tambang dari pemerintah pada tahun 2024. Itu langkah profetik. “Bukan kompetensi Gereja untuk menggali bumi,” kata mereka. Namun, kebanggaan itu luntur saat saya melihat data investasi Dana Pensiun KWI (DP KWI). Bagaimana mungkin mereka menolak tambang di depan umum, sementara di balik pintu bendahara, dana KWI disinyalir masih menghasilkan dividen dari emiten batubara, nikel, bahkan industri tembakau? Juga pembangunan gedung KWI didanai oleh pengusaha tambang. Ini munafik! Jadi kalau ada khotbah-khotbah suci melindungi ibu bumi, tahan-tahan dulu yah untuk puji.
Nah, jika ada yang membela dengan mengatakan, "Itu kan data lama (Portofolio DPKWI yang bisa diakses di web dpkwi), sekarang mungkin sudah tidak ada," maka pertanyaan saya sederhana: Mana buktinya?
Dalam etika investasi modern, pertobatan itu bukan sekadar niat batin, tapi transparansi radikal. Jika benar DPKWI sudah "bersih" dari saham pendarahan dan industri yang merusak paru-paru umat, mengapa tidak ada laporan divestasi resmi? Mengapa Mgr. ASB, sebagai otoritas tertinggi, memilih diam seribu bahasa? Tanpa transparansi, penolakan tambang itu hanya terasa seperti retorika yang dibiayai oleh keuntungan dari lubang tambang yang sama. Ini bukan sekadar manajemen aset; ini adalah integritas iman, kalau mau konsisten, sih.
TRAGEDI PBS
Kegelisahan saya memuncak pada kasus mundurnya Mgr. Paskalis Bruno Syukur (PBS), Januari lalu. Sebagai umat, saya bingung. Mgr. ASB adalah seorang Visitator Apostolik —penyidik rahasia Vatikan yang ahli mengungkap borok di berbagai keuskupan, katanya. Dia punya akses pada fakta, punya otoritas untuk bicara.
Namun, saat Mgr. Paskalis "dibunuh" karakternya di media sosial oleh narasi pembohong dari figur seperti FR atau FTS, para romo seperti N dan G—yang menggiring opini soal hedonisme hingga skandal aset RS Lebak—Mgr. ASB tetap konsisten diam.
Jika Mgr. Paskalis memang bersih (sebagaimana klaim saat pengunduran diri), mengapa KWI membiarkan kolega mereka sendiri menjadi martir di tangan gosip? Diamnya ASB adalah pembiaran sistemik. Keheningan ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa transparansi di lingkungan Gereja Katolik adalah barang mewah yang tidak mampu dibeli oleh masyarakat awam. Kita dibiarkan mengonsumsi "limbah informasi" sementara para pemimpin kita duduk tenang di atas takhta kenyamanan mereka. Sampai sini paham kan: kenapa KWI sering diam atau telat membicarakan kasus-kasus HAM dan ekologis atau kasus apa pun yang menimpa umat dan masyarkat warga. Bahkan ketika umat dibawa ke altar pembantaian di daerah tertentu.
PIKIR PAKAI LOGIKA
Ada lubang logika yang besar di sini. Bagaimana bisa seseorang begitu tajam menyelidiki kesalahan orang lain (sebagai Visitator), namun begitu abai membersihkan "kotoran " di rumahnya sendiri (sebagai Ketua KWI)?
Kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai bersajak tentang keutuhan ciptaan saat khotbah di hari Minggu atau yang sekadar mengamplifikasi branding diri, yang hebat khotbah dengan berhumor ria, tapi membiarkan sistem finansial Gereja merusak ciptaan dan medukung penghisapan darah umat (masyarakat). Kita tidak membutuhkan pemimpin yang diam saat saudaranya difitnah, hanya demi menjaga "citra institusi" atau demi persatuan yang ternyata sudah runtuh karena membiarkan gosip menjadi aksioma baru. Kecuali bila mereka adalah bagian dari yang memproduksi, mereproduksi gosip dan berdiri di atas gosip sebagai basis kekuasaan.
HARAPAN YANG TERSISA
Tulisan ini bukan karena benci, tapi karena bingung dengan situasi sekarang. Saya ingin Gereja saya tetap menjaga identitasnya sebagai "Garam dan Terang," bukan "Benteng Kegelapan dan Rasa Hambar karena dibangun di atas uang darah, kemunafikan dan penyembelihan saudara sendiri (umat sendiri)." Ketua KWI, Visitator atau kalian orang-orang yang pura-pura suci dan menuntut sopan santun religius: Kalian harus sadar bahwa di era digital ini, keheningan bukan lagi emas, tetapi penyesalan yang tertunda.
Pertobatan dimulai sebagai Lembaga dengan dua hal sederhana (jangan hanya suruh kami bertobat):
1. Buka laporan keuangan DPKWI secara transparan. Kesimpulannya pada kami bahwa tidak ada satu perak pun uang umat (pastor, awam, karyawan, biarawan/i) dipakai untuk mendanai perusakan Ibu Bumi dan menghisap darah umat entah di Borneo, Papua, dan tempat lainnya.
2. Berikan penjelasan atas kasus Mgr. Paskalis dan akui bahwa hasil visitasi menegaskan bahwa PBS tidak bersalah.
Jangan biarkan-doa kami di Rabu Abu kemarin menjadi bahan tertawaan karena jubah pemimpin kami masih berbau asap rokok dan debu batubara yang mereka kutuk sendiri. Atau abu tanda tobat datang dari abu rokok dan batu bara? (Pasti tidak, sebab yang penting taat pada norma liturgi)!

JPS, 26 Feb. 2026.


*******


https://www.facebook.com/

Dipostingpada Kamis, 26 Feb. 2026.



ANTARA MIMBAR DAN SAHAM
(Pesan untuk ketua KWI)
Ada suara yang berhembus kencang,
membelah langit doa dan dupa:
“KWI jangan munafik!”
Nama itu menggema; KWI
yang wajahnya kini dibaca
dalam sosok Mgr. ASB.
Di mimbar, kata-kata terdengar kudus,
berkilau seperti piala komuni.
“Kita menjaga bumi,
bukan menggali dan merusaknya.”
Langkah profetik, terdengar sebuah suara.
Tahun 2024, tambang ditolak.
Umat bertepuk tangan,
bangga punya gembala yang berani.
Tapi tepuk tangan itu pelan-pelan gugur
saat angka-angka berbicara lebih jujur dari khotbah.
Di balik pintu bendahara,
di sunyi laporan tahunan,
dividen tetap menetes
dari perut batubara,
dari nikel yang menganga,
dari asap tembakau
yang melayang di paru-paru rakyat kecil.
Antara mimbar ekologi dan portofolio saham;
iman berdiri di persimpangan, bingung memilih wajah.
Gedung megah berdiri, katanya demi pelayanan.
Tapi batu pertamanya disangga tangan pengusaha tambang.
Ironikan, doa dipahat di dinding, uang tambang jadi fondasi.
Lalu umat diminta taat, diam,
jangan gaduh, jangan kritik,
jangan buka aib keluarga sendiri.
Sementara di luar sana
seorang uskup lain; Mgr. PBS
diseret opini, dibunuh karakternya
oleh gosip dan narasi liar.
Dan sang Visitator Apostolik,
yang konon piawai membongkar borok,
memilih sunyi.
Diam, yang katanya bijak,
tapi terasa seperti pembiaran.
Diam, yang perlahan berubah
jadi tembok tebal antara hierarki dan umat.
Kami ini siapa? Anak-anak altar
yang cuma boleh percaya tanpa boleh tahu?
Transparansi jadi barang mewah.
Kebenaran jadi ruang VIP.
Umat cukup diberi remah klarifikasi
dan sisanya disebut “rahasia Gereja.”
Sementara kasus HAM berlalu,
tanah dirampas, hutan dilukai,
dan umat di daerah tertentu
dibawa ke altar pembantaian,
tanpa suara lantang dari para gembala.
Jadi kalau ada yang berteriak
“KWI jangan munafik!”
mungkin itu bukan kebencian.
Mungkin itu doa yang kehilangan sabar.
Karena iman tak butuh pencitraan.
Ia cuma butuh kejujuran.


JPS, 26 Feb. 2026.


********
https://www.facebook.com/jprastowo

Akun FB: Yustinus Prastowo
Dipost 28 Feb. 2026.



Bruno: Tuduhan dan Tragedi
Penyair Inggris, George Eliot menulis “tuduhan sering kali merupakan ketidaktahuan yang berteriak paling keras.” Kita adalah generasi yang disangkal Gereja empat abad lalu. Di Campo de' Fiori, Roma, berdiri tegak sebuah tragedi, sebuah patung abad ke-19 yang menatap tajam ke arah Vatikan dari balik tudung biarawannya. Di kakinya tertulis: “Untuk Bruno, dari generasi yang ia ramalkan, di sini, tempat api unggun berkobar.”
Patung Girdano Bruno adalah penanda, titik di mana peradaban berhenti sejenak mengambil jeda reflektif tentang sejarah yang berdiri di atas pedang dan jasad, ambisi dan kejayaan, tetapi juga penghakiman dan pengorbanan.
Masyarakat abad ke-21 adalah pentolan tragedi, genersi yang hampir batal, yang dibela dengan darah, diasuh di bawah tuduhan dan penghakiman. Generasi ini berdiri tegak sebagai bukti bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya.
Giordano Bruno oleh kebanyakan penulis adalah orang yang terlampau maju untuk zamannya. Memang, soal apakah Bruno benar atau bersalah hingga kini masih jadi perdebatan. Sains dan teologinya dianggap buruk, kosmologinya terlampau mistis. Ia dianggap menolak matematika dan eksperimen, dan hanya bertumpu pada keyakinannya sendiri pada simbol, geometri suci, dan segala hal yang begitu saja dianggap benar. Ia lebih dicap sebagai seorang mistik daripada saintis karena mengacaukan sains dan teologi. Tapi, lepas dari kontroversi yang menyertainya, apa yang pasti adalah bahwa dia dibunuh dengan dibakar hidup-hidup, sementara alasan vonis mati itu tetap tertutup rapat dalam hening yang dijaga dan diam yang munafik.
Pada tanggal 17 Februari yang baru saja kita lewati, 400 tahun lalu, Gereja membakar hidup-hidup seorang manusia yang lahir dari rahimnya sendiri atas nama otoritas dan ketertiban. Tiga abad tertutup hening, nama Giordano Bruno, seorang kosmolog, filosof, dan bekas biarawan Dominikan, hilang dari sejarah. Tapi kemudian, kisah itu memberontak keras. Pada abad ke-19 berdirilah sebuah monumen penting, peringatan yang dibangun atas kesadaran bahwa tuduhan dan tragedi hampir selalu lahir kembar. Monumen itu adalah tanda kesalahan yang diakui, penyesalan dan yang lebih dalam komitmen untuk mengambil pelajaran.
Dari kisah Giordano Bruno, kita belajar satu hal: Gereja paling terluka bukan oleh kritik, melainkan oleh ketakutan. Dan ketakutan adalah bukti kurangnya iman sebagaimana Yesus menegor para murid setelah Ia meredakan taufan sebab mereka ditelan ketakutan dan lupa bahwa Ia ada bersama mereka. Dalam malam paling kelam ketakutan itulah, kita butuh cahaya. Gosip dan tuduhan perlu diangkat ke taraf diskusi yang terhormat, serius, dan bermartabat sebelum tuduhan yang diberi makan oleh rumor berubah menjadi tragedi.
Yesus tidak pernah menjanjikan Gereja tanpa konflik. Yang Ia janjikan adalah Roh Kebenaran. Kadang kita butuh sedikit “badai” kecil untuk mengguncang rutinitas dan kembali mengingatkan kita bahwa kebenaran Tuhan ada dalam perahu kerapuhan kita sebagai pribadi dan Gereja. Keheningan total sering kali lebih merusak daripada guncangan yang membongkar harmoni semu.
Kasus Giordano Bruno, kemudian barangkali, Galileo Galilei memberi kita sejarah berharga sekaligus peringatan penting bahwa otoritas tanpa akuntabilitas rentan disalahgunakan. Karena itu, struktur yang memungkinkan evaluasi, audit, masukan, atau pendampingan independen bukanlah tanda kurang percaya, melainkan bentuk tanggung jawab bersama.
Baik hierarki maupun umat dipanggil pada kerendahan hati: mengakui bahwa Gereja terdiri dari manusia yang bisa salah. Pula godaan kuasa yang bisa membuat pongah, keji, dan tergelincir. Kerendahan hati membuka ruang pertobatan—dan pertobatan selalu menjadi sumber pembaruan Gereja.
***
Giordano Bruno dijatuhi vonis mati oleh Paus Klemens VIII pada 8 Februari 1600, dan dieksekusi mati pada 17 Februari di tahun yang sama di Campo de' Fiori atas tuduhan sebagai bidah yang tidak menyesal. Vonis situ dibacakan setelah pengadilan panjang yang ia lalui selama 7 tahun dalam hening dan kegetiran.
Seorang penulis menyebut bahwa lamanya masa pemenjaraan dan persidangan Bruno menunjukkan keresahan dari pihak Tahta Suci, pengakuan bahwa kasus terhadapnya jauh dari jelas. Bahkan hingga kini, perdebatan atas hukuman mati pada Bruno menunjukkan bahwa kita antara lain tidak tahu persis atas dasar apa hukuman mati itu diberikan. Anthony Gottlieb di The New York Times pada Desember 2008 menulis “hingga kini, lebih dari empat abad sejak ia dibakar, kita tidak tahu untuk apa sebetulnya Bruno berkorban, dan apa yang ia pertahankan dengan menolak mengaku salah sampai akhir.”
Kadang Bruno dibicarakan sebagai penista agama. Ia menyangkal keperawanan Maria, menyatakan Yesus sebagai seorang penyihir, menyangkal Tritunggal dan menyangkal Transubstansiasi. Tetapi bagi sebagian orang lain, ia adalah martir ilmu pengetahuan. Lagi pula, jika ia dihukum karena ajarannya perihal heliosentrisme (Matahari sebagai pusat semesta, bukan Bumi) yang dianggap sesat karena bertentangan dengan kebenaran iman, bukankah Nicolaus Copernicus telah lebih dulu mengatakan hal itu, dan justru diberi penghargaan oleh Paus Paulus III karena mendedikasikan karya utamanya De Revolutionibus Orbium Coelestium itu kepada Gereja? Apa masalah Bruno? Semua ini masih tertutup kabut gelap bernama keheningan dan rahasia.
Stephanie Merritt menulis, bahkan dari sel penjara terakhirnya, Bruno masih mati-matian berusaha agar tulisannya sampai ke tangan Paus alih-alih setuju untuk mencabut ajaran sesatnya di hadapan para Inkuisitor. Saat ini, dekrit hukuman yang menyebutkan delapan tuduhan bidah yang berbeda yang ia tolak untuk disangkal masih ada, tetapi catatan rinci tentang persidangannya di Roma hilang ketika Napoleon Bonaparte menjarah arsip Vatikan dan memindahkan sebagiannya ke Paris.
***
Kembali pada tragedi. Dari semua kiprah gemilangnya dalam ranah ilmu, Giordano Bruno secara kontras justru diingat melalui drama hukuman mati dirinya oleh Gereja. Ia tidak terutama dikenal karena heliosentrismenya, atau gagasan multijagatnya, tetapi drama penghakiman atas kebebasan berpikirnya. Bagi Gereja pun demikian, yang bertahan dalam ingatan publik bukanlah kebenaran teologis yang mereka bela, melainkan gambaran Gereja yang kejam, tidak kenal ampun, dan tertutup pada perbedaan. Warisan simbolik macam ini jauh lebih besar pengaruhnya dalam sejarah manusia.
***
Akhirnya, patung itu berdiri melawan inkusisi lama dan baru. Selama masih ada orang yang dibungkam atau disingkirkan karena berbeda, Bruno tetap menjadi simbol keberanian untuk melawan. Ia juga adalah simbol perlawanan terhadap tangan-tangan yang dengan ringan menuduh dan menghukum mati perlawanan. Mati tak semata fisik, juga pembunuhan terhadap upaya menyingkap kebenaran.
Monumen itu adalah kontradiksi paling keras. Ia mengangkat sejarah, tetapi menolak pengulangan sekaligus. Patung itu masih berdiri di antara kita agar tak ada “Bruno” lain yang dipasung sejarah dan narasi, untuk menegaskan bahwa martabat manusia selalu lebih besar dari sistem, otoritas, keutuhan dan harmoni semu. Sebab tuduhan memberi beban tanggung jawab lebih besar kepada mereka yang menunjuk jari, sebagaimana Giordano Bruno berujar untuk terakhir kalinya sebelum tubuh ringkihnya dibakar: “Kalian yang menjatuhkan hukuman ini barangkali merasa lebih takut daripada saya yang menerimanya.”
Jika hari2 ini seolah ada nama Bruno lain yang terngiang, biarlah itu menjadi penanda bahwa ingatan kita masih waras. Tentang hal-hal yang gelap dan remang. Perihal apa2 yang belum tersingkap. Dan itu modal penting untuk beragama secara sehat, yang tak dimatikan oleh dalih demi harmoni, otoritas, dan kesucian.
Bogor, 28 Februari 2026
Salam hangat
Yustinus Prastowo
Awam biasa



******
Masalah keuskupan Bogor ini, bisa baca juga pada akun FB:
Bisa Baca Akun FB: Renata Sukmawati

https://www.facebook.com/search/top/?q=Renata



https://www.facebook.com/share/p/1HuPNnqgta/