AGAMA (GEREJA) DAN NEGARA
KULIAH TEOLOGI SOSIAL POLITIK Dr. PAUL BUDI KLEDEN BERSAMA MAHASISWA PASCASARJANA TEOLOGI
https://www.youtube.com/watch?v=umTddh6SqHM
Carl Schmit: Politik adalah bentuk sekular dari Teologi
Fratelli tuti = persahabatan universal (40:55)
JPS, 5 Maret 2024.
Sesi tanya jawab:
Rio Nanto:
1. Esensi Teologi Politik itu adalah Ortopraksis, bukan ortodoksi. Sejauh mana efek dati model-model teologi yang Gereja terapkan, misalnya Teologi Hitam di Afrika, Teologi Dalit di India, Teologi Pembebasan di Amerika Latin, Teologi Publik (?) di Indonesia . Sejauh mana efek Teologi itu untuk menciptakan peradaban dunia yang lebih baik? Di Indonesia, kasus korumsi cukup banyak dan besar terjadi juga di daerah-daerah Katolik.
2. Mahasiswa: Eropa kebanjiran imigran, terutama dari Timur Tengah. Apakah ini tidak berdmapak buruk bagi peradaban Kristen Eropa? Di Masa depan Islam ada trend Islam semakin menguasai dunia, terutama dari segi jumlah.
Jawaban Pater Budi.
1. Suatu pengamatan, orang atau golongan paling sulit untuk diyakinkan untuk ditobatkan adalah para pemimpin agama sendiri. Paus Fransiskus selalu mengingatkan hal ini pada kuliahnya kepada anggota kurianya di Roma. Paus berbicara sangat keras karena sulit untuk menobatkan, menyakinkan para pejabat agama itu untuk menjadi semakin peka terhadap persoalan sosial dan kepekaan ini juga terumuskan dalam sikap hidup yang kongkrit. Godaan untuk berkoalisi dengan kekuasaan dan kekayaan itu sangat kuat. Kalau kita tidak berhasil untuk bekerja ke dalam, untuk diri kita sendiri , kelompok kita maka sangat sulit untuk mendapat pengaruh lebih luas. Pertanyaan ini penting bagaimana kita melewati proses transformasi, konversi (pertobatan) sehingga kita tidak menjadi orang yang dengan gampang menggunakan sakramen untuk megitimasi penyalahgunaan kekuasaan demi diri dan kelompok sendiri.
2, Ini kecemasan yang tidak bisa kita sembunyikan.
Persoalan utama di Eropa adalah masalah integrasi atau intercultural, bagaimana saling belajar dan saling memberi ruang serentak mengubah diri dalam situasi perbedaan dengan orang lain. Dalam konteks ini Eropa - menurut Pater Budi Kleden - tidak cukup fasih, tidak cukup ahli , tidak cukup punya pengalaman karena terlalu lama Eropa berada dalam konteks kamu dan kami, tidak punya cukup pengalaman integrasi , saling belajar dalam suatu perubahan. Ini berbeda dengan USA dan Australia yang lebih mudah berintegrasi. Di Eropa butuh waktu untuk berintegrasi menghadapi tantangan baru. Persoalan imigran sangat kompleks, bukan hanya soal Islam tetapi bagaimana memberika ruangan dan tempat kepada mereka untuk bisa mengembangkan diri, terutama bagi kaum muda. Banyak dari mereka (kaum imigran) itu orang yang baik sekali, tidak ada tendensi menggunakan kekerasan. Banyak dari antara mereka bisa berintegrasi dengan baik dan bisa mengembangkan bakatnya untuk kemajuan diri dan keluarganya. Memang ada juga yang menggunakan kekerasan dan tidak bisa berintegrasi dengan baik dan karena itu menjadi persoalan. Persoalan imigran di Eropa masih menjadi tantangan yang besar , perlu ditanggapi secara politis, budaya dan religi, bagaimana kita sebagai orang Kristen pernah menjadi mayoritas di Eropa, bagaimana membantu menyiapkan orang -orang kita untuk lebih aktif dalam proses interaksi sehingga terjadi kebersamaan yang damai, bukan permusuhan.
JPS, 5 Maret 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar