JPs, 13 Feb. 2026.
Yustinus Prastowo
oesptSnrod2gi72rf 0u1iiu.1u5Fa4meu94 p980 bklllu2ml913r51mgh ·
Dipost: 5 Feb.
2026
Akun FB: Yustinus Prastowo
Aksi di Kedubes Vatikan. Ada Apa?
Sejak kami melakukan Aksi 1000
Lilin di depan Kedubes Vatikan, banyak pertanyaan dan pro kontra berdatangan.
Dari yang sungguh2 ingin tahu dan mendalami hingga yang sekadar mendukung atau
mencela. Untuk semua respon, saya berterima kasih. Itu tanda Gereja masih
hidup, berdenyut. Bukan fosil atau monumen tua tak berguna. Di titik ini kita
patut bersyukur.
Selanjutnya ada gugatan, kenapa
mesti mengumbar urusan internal Gereja ke publik, khususnya di jalanan. Gereja
bukan entitas politik dan tidak menganut demokrasi, tetapi hierarki yang punya
cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan.
Saya jawab lugas. Ruang publik
kini tak dibatasi yang fisik. Justru belakangan ini media sosial menjadi ruang
publik yang paling aktif dan berpengaruh. Warganet berjejaring, bertukar
informasi, saling kritik, bahkan tak jarang saling serang. Kini advokasi pun
kerap dilakukan via medsos dan efektif: mulai dari menggugat jalanan rusak, tak
setuju dengan perilaku pejabat, mendukung penindakan pada perusak lingkungan,
hingga menolak kenaikan tunjangan pejabat negara. Agustus 2025 adalah gerakan
cukup besar yang dimulai dari medsos.
Maka mempartisi jalanan vs
medsos itu kurang tepat. Keduanya sudah menjadi lokus perbuatan hukum yang
diatur dan punya implikasi. Bisa sama2 memalukan atau memuliakan.
Kenapa tak berkomunikasi dengan
hierarki? Terus terang saya sendiri bingung. Silang sengkarut soal pengunduran
diri Mgr Paskalis ini terkesan dibiarkan. Begitu banyak informasi membanjiri
medsos tanpa penjelasan otoritas yang memadai. Bahkan ada beberapa tudingan
yang dijadikan rujukan banyak orang dan terkesan valid. Implisit mendaku
bersumber dari otoritas. Makian, hujatan, dan serangan ke pribadi Mgr Paskalis,
yang didahului surat dua pastor Keuskupan Bogor, menambah kebingungan.
Jika ekspresi jalanan
disayangkan dan dihujat, kenapa ada surat dua pastor yang sangat telanjang dan
mengumbar aib uskupnya, dibiarkan terjadi. Lagi2, dijadikan rujukan. Apakah
mereka yang secara formal belajar hukum gereja dan teologi itu pantas melakukan
itu? Dan kenapa ini tak dianggap sebagai pelanggaran dan hal aneh? Kami bahkan
buru2 dihardik dengan hukum kanonik, tanpa kesediaan membaca substansi seruan
dan ajakan refleksi kami.
Saya sengaja posting dan
diserang di Threads, platform medsos yang sengaja saya pilih untuk menguji arus
opini umat Katolik. Saya sudah kebal dengan serangan begini. Lima tahun
membantu Bu Sri Mulyani, saya terbiasa menghadapi urusan yang lebih berat dan
keras, dan biasa saya hadapi sendiri.
Prinsip saya jelas: saya tak
gegabah bersikap sebelum mendengarkan dan mendapatkan cukup informasi dan
mengujinya. Begitu yakin saya melakukan sesuatu yang benar, urusan selanjutnya
tinggal sanggup sediakan energi untuk bertarung opini. Dan saya sungguh
merasakan Roh Kudus bekerja. Begitu banyak yang berempati dan berbagi informasi
dan perasaan, bahwa kami sedang berjuang demi cinta tulus pada Gereja.
Di trotoar depan gerbang
Kedutaan, kami tak memaki, tak ada hujatan atau tuntutan. Kami sepenuhnya
menerima keputusan Paus. Tak ada desakan Mgr Paskalis diangkat kembali menjadi
Uskup Bogor. Kami hanya ingin ada terang pada kabut pertanyaan yang
menyelimuti. Pernyataan Mgr Paskalis bahwa ada tekanan, dan di sisi lain ada
orang yang dengan percaya diri mendaku punya informasi akurat tentang kesalahan
Mgr Paskalis.
Mudah merekonstruksi ini. Jika
klaim orang tersebut benar, bahwa informasi yang dia terima akurat, maka hanya
ada kemungkinan: hasil visitasi apostolik bocor. Saya yang awam beranggapan
semua ini rahasia dan hanya boleh diketahui hierarki sangat terbatas, guna
pengambilan keputusan Bapa Suci. Jika klaim itu keliru, bersamaan dengan surat
terbuka dua pastor Keuskupan Bogor yang diumbar ke publik dan memantik
perpecahan: dibiarkan tanpa penjelasan apapun.
Apakah dalih Gereja tak menganut
demokrasi lantas bisa dimaknai anti pada pertanyaan2 mendasar tanpa prasangka
seperti yang kami ajukan? Dan apakah otoritas sudah berhitung cermat jika ini
berlarut maka akan menggerus trust? Kenapa beberapa pihak begitu mudah bersikap
formal-legalistik, sikap yang oleh Paus Fransiskus ditentang dengan pendekatan
pastoral yang lebih humanis.
Ada pula kritik ke kami, seolah
hanya fokus dan militan ke isu Mgr Paskalis dan abai pada isu lain seperti
Papua, Maumere, dan lainnya. Sama sekali tidak. Di tempat dan kesempatan lain
kami turut mengadvokasi dengan cara kami. Tapi lebih mendasar, isu2 besar itu
hanya akan tersentuh dan tuntas diadvokasi jika kita bisa menyelesaikan isu
internal ini secara terang. Mestinya tak sulit memahami korelasi ini. Kita
hanya sanggup menuntaskan perkara besar saat sudah teruji pada perkara2 kecil.
Tampaknya kita mesti menyadari
ada yang salah dan masalah di internal Gereja. Barangkali kita ini hipokrit,
menjalankan hidup-ganda dengan menyembah Tuhan dan Mammon sekaligus. Dalam
situasi seperti ini menjadi tak penting berapa orang yang mendukung kita. Ini
jika kita sepakat kita tak sedang menang-menangan. Bahkan saya mendapat kabar
banyak pastor yang mestinya bisa dengan mudah mengambil sikap hitam-putih,
tetiba menjadi abu2.
Saya tak pesimis. Kebenaran akan
menemukan jalannya sendiri. Dan saya secara sadar dan bertanggung jawab telah
memilih jalan saya. Barangkali berisiko, tapi hidup ini cuma sekali, dan saya
ingin sesekali berarti. Martin Luther banyak dihujat dan baru memperoleh
pengakuan baik dan tulus dari Vatikan, 500 tahun kemudian.
Sesuai bidang keilmuan saya,
saya akan fokus pada pemeriksaan aspek keuangan saja. Kebetulan saya sudah
membaca dan sedang mempelajari dengan cermat dan mendalam laporan keuangan dan
dokumen2 otentik lain terkait RS Misi Lebak. Ini pintu masuk polemik dan titik
tengkar awal. Saya tidak mau berdebat teologis dan dogmatis, termasuk masuk ke
sensasi isu perempuan. Bagi saya semua ini urusan moral publik yang seharusnya
tak rumit.
Mohon ditunggu dalam beberapa
hari ke depan saya akan merilis analisis saya terhadap hal ini. Kebetulan saja
saya pernah belajar akuntansi dan pernah menjadi auditor. Dan rasanya tak akan
ada yang abu2 lagi, semestinya hitam-putih dan benderang.
Langkah ini saya tempuh sebagai
kontribusi saya untuk penyelesaian yang lebih objektif dan fair: menguji
tuduhan soal keuangan dengan standard keilmuan yang teruji. Agar tak jatuh pada
suka atau tak suka yang subyektif. Temasuk menangkal kemungkinan para Sengkuni
pecundang merasa jadi pemenang.
Seorang sahabat berusaha
meyakinkan saya bahwa Mgr Paskalis bukan orang baik. Saya pun bukan orang baik.
Dan yang merasa lebih baik, silakan melemparkan batu pertama kali! Di sini kita
tak hendak membuktikan baik-buruk tetapi benar-salah. Dasarnya adalah tuduhan
yang telah diumbar dan tersebar.
Saya hanya ingin Gereja Katolik
memanfaatkan momen ini untuk berkaca, berbenah, membuka dialog yang terbuka,
dan rekonsiliasi. Tak akan ada pengampunan tanpa penyingkapan kebenaran. Juga
tak perlu saling menyalahkan.
Saya hanya umat biasa yang ingin
terlibat. Di kerja sunyi dan tak populer ini saya senantiasa merunduk untuk
mendapat terang Roh Kudus, dan dengan rendah hati hormat dan taat pada Bapa
Suci dan para Uskup gembala kami. Usai ini, semoga Gereja Katolik Indonesia
sanggup kembali menjadi kompas moral bagi banyak urusan bangsa. Bangsa yang
sedang dilanda masalah korupsi, kerusakan lingkungan, kemiskinan dan
ketimpangan ekstrem, hedonisme akut - yang jangan2 iblis saja sudah gagal memahami.
Yustinus Prastowo
oesptSnrod2gi72rf 0u1iiu.1u5Fa4meu94 p980 bklllu2ml913r51mgh ·
Dipost: 22
atau 23 Feb. 2026
Tentang Sensus Fidei dan Cara
Baru Menggereja
Pasca aksi di depan Kedubes
Vatikan dan tulisan pertama saya, kami mendapat respon yang luar biasa. Ada pro
kontra, hal yang amat wajar dan jadi tanda Gereja berdenyut dan hidup. Ada satu
hal yang agak mengusik saya, penggunaan adagium Roma locuta causa finita est
dan sindiran sebagai kelompok kepo, pembangkang Paus, atau Katolik jalanan.
Saya paham pasti ada goncangan. Namun lagi-lagi saya percaya tulisan pada obat
batuk: kocok dahulu sebelum diminum! Goncangan yang membawa kemujaraban dan
penyembuhan. Di pusara Bapak saya, katekis dan misionaris awam yang mengabdikan
seluruh hidupnya untuk Gereja, saya menulis permenungan ini.
Adagium kuno Roma locuta causa
finita ini sering dikutip saat terjadi perdebatan teologis. Artinya kurang
lebih, jika Roma sudah bicara, maka perkara selesai. Ini menegaskan otoritas
Paus dalam hal ajaran iman. Adagium ini kerap diasalkan ke Santo Agustinus
sebagai ucapan untuk melawan Pelagianisme, sebuah bid'ah yang dianggap
menyimpang dari ajaran resmi Gereja.
Cukup pasti, prinsip itu dipakai
dalam urusan ajaran iman dan moral yang menjadi kuasa Magisterium, bukan untuk
hal-hal terkait manajerial dan tata kelola. Maka terburu-buru menggunakan
adagium ini dalam sebuah perdebatan di ranah non-teologis bisa jadi tanda
kemalasan berpikir atau residu ultramontanisme radikal yang kurang percaya diri
pada prinsip fides quaerens intellectum, iman yang haus akan pencarian
pemahaman. Di tulisan berikutnya saya akan bahas ini berdasarkan buku
Catholicism karya sejarawan gereja masyur, John T McGreevy, agar kita punya
konteks historis yang utuh dan sanggup rendah hati justru karena paham.
Kitab Hukum Kanonik kan 212
mengatur demikian:
*§ 2 Adalah hak sepenuhnya kaum
beriman kristiani untuk menyampaikan kepada para Gembala Gereja
keperluan-keperluan mereka, terutama yang rohani, dan juga harapan-harapan
mereka.
*§ 3 Sesuai dengan pengetahuan,
kompetensi dan keunggulannya, mereka mempunyai hak, bahkan kadang-kadang juga
kewajiban, untuk menyampaikan kepada para Gembala suci pendapat mereka tentang
hal-hal yang menyangkut kesejahteraan Gereja dan untuk memberitahukannya kepada
kaum beriman kristiani lainnya, tanpa mengurangi keutuhan iman dan moral serta
sikap hormat terhadap para Gembala, dan dengan memperhatikan manfaat umum serta
martabat pribadi orang."
Jelas diatur, umat beriman
mempunyai hak, bahkan dalam taraf tertentu, kewajiban menyampaikan dan
melakukan hal-hal demi kebaikan Gereja. Ini disebut sensus fidei atau perasaan
iman umat, yang ada, hidup, dan tumbuh senafas dengan eksistensi Gereja itu
sendiri. Lumen Gentium 12 meneguhkan bahwa keseluruhan kaum beriman, yang telah
diurapi oleh Yang Kudus (lih 1Yoh 2:20 dan 27), tidak dapat sesat dalam
beriman. Ini bukan berarti opini umat selalu benar, melainkan ada intuisi iman
kolektif yang berasal dan dipelihara oleh Roh Kudus, dan tak boleh
dikesampingka begitu saja.
Maka penting membedakan opini
publik dan sensus fidei, agar upaya dialog mencari kebenaran tak mudah
dipatahkan dengan pendekatan legalistik-kekuasaan, dan sebaliknya, umat tak
jatuh dalam opini publik yang sekadar emosional, partisan, dan memecah belah.
Yang di era medsos ini direpresentasikan oleh viralitas hingga melahirkan
konsep epistemologi: apa yang benar adalah yang dipercakapkan berulang-ulang.
Jika demikian, maka kita dapat
menguji tuntutan umat akan transparansi penanganan suatu kasus manajerial atau
tata kelola, tentang prosedur penanganan yang adil, atau pentingnya menjaga
martabat seorang uskup ini merupakan opini publik belaka atau sensus fidei?
Batu uji pertama ada pada motif, apakah sekadar ekspresi sikap mbalelo dan
tidak suka atau justru dilandaskan pada rasa cintai pada Gereja? Upaya merawat
kebenaran dan keadilan dalam Gereja mestinya cukup meyakinkan untuk
memperlakukan kritik sebagai sensus fidei.
Sejarah Gereja tak kurang
memberi contoh keterlibatan ini justru menyelamatkan dan menjaga Gereja.
Misalnya, jemaat mula-mula yang dilibatkan dalam pemilihan uskup, kaum religius
yang mengingatkan bahkan menegur Paus, misalnya dalam kasus St Bernardus dari
Clairvaux yang menegur Paus Eugenius III demi kebenaran, atau saran para teolog
yang menjaga Paus dan Gereja dari kesesatan iman.
Dokumen Komisi Teologi
Internasional tahun 2014 bertajuk Sensus Fidei in the Life of the Church
mempertegas ini dengan beberapa kriteria seperti partisipasi aktif dalam hidup
Gereja, kesetiaan pada ajaran Gereja, kerendahan hati dan keterbukaan, dan
orientasi pada kesatuan, bukan perpecahan. Jika ini terpenuhi maka apa yang
terjadi bukanlah sikap melawan hierarki melainkan ekspresi peduli dan cinta
pada persekutuan.
Hal berikutnya yang dapat
menjadi rujukan dan penerang adalah gagasan Paus Fransiskus tentang
sinodalitas. Sinodalitas bermakna berjalan bersama, baik hierarki maupun umat.
Cukup jelas bahwa umat bukan sekadar objek pastoral, melainkan subyek eklesial.
Pertanyaan tentang transparansi dapat diletakkan dalam kerangka partisipasi
umat, kedewasaan iman awam, dan juga bukti bahwa Gereja bukan milik kaum
berjubah semata.
Maka di sini kita tiba pada
aspek yang krusial. Esensinya bukan pada umat yang bertanya tetapi pada
bagaimana sebaiknya hierarki merespon. Bila suara umat beriman yang tulus itu
kerap diabaikan dan gampang dipadamkan demi stabilitas semu, akan berpotensi
menciptakan jurang lebar antara hierarki dan umat, lalu melahirkan distrust
yang membesar. Sebaliknya, buru-buru dan serampangan memperlakukan tiap kritik
sebagai sensus fidei juga berbahaya lantaran menjadi jebakan relativisme dan
rawan jatuh pada populisme dangkal.
Tidak semua protes adalah sensus
fidei, dan kritik tidak serta merta pembangkangan. Dengan demikian penting
diupayakan proses discernment kolektif yang disandarkan pada kesediaan saling
menerima, sikap hormat, dan saling mendengarkan. Dari dialog yang sehat ini
dapat muncul daya kreatif yang memungkinkan lahirnya pembaruan. Transparansi
lantas dapat didekati dalam tegangan kreatif pentingnya merawat kekhasan
kepemimpinan komunio-hierarkis seraya menimba apa yang baik dari buah
modernitas. Yesus sendiri menegaskan:"Kebenaran akan memerdekakan kamu”
(Yoh 8:32). Dalam semangat ini, diskursus tentang transparansi bukan lagi
perkara teknis melainkan pastoral dan moral. Sebagaimana buah-buah baik
demokrasi tetap dapat dipetik tanpa harus mengancam model komunio-hierarkis.
Betul bahwa Gereja tak boleh
dipaksa menjadi korporasi, namun tak perlu pula ini jadi alasan untuk
berlindung pada ketertutupan. Hierarki tetap dapat berjalan beriringan dengan
penguatan regulasi, keterlibatan awam yang punya kompetensi, dan tata kelola
yang profesional. Transparansi bukan pula penelanjangan dan gerakan
mempermalukan tanpa privasi, yang menjurus pada anarkisme. Kerahasiaan kurial
dan keterbukaan publik dapat dikelola secara proporsional dalam batas-batas
yang terukur. Di sini sekali lagi sinodalitas menemukan pijakan pastoral yang
kuat. Mendengarkan umat bukan lagi pilihan melainkan spiritualitas Gereja itu
sendiri.
Akhirnya saya ingin
berkontribusi dengan memberikan masukan konkret berdasarkan pengalaman dan
keterlibatan di ruang publik, yakni pentingnya membangun model komunikasi baru
yang lebih terbuka, casual, dan merangkul. Zaman sudah berubah, suka tak suka
era medsos dan digital kini menjadi ruang percakapan dominan, lengkap dengan
keunggulan dan eksesnya. Apa yang dulu selesai dengan diumumkan, kini justru
hal tersebut mengundang pertanyaan-pertanyaan baru. Ini bukan pembangkangan
atau kemunduran iman tetapi tanda kedewasaan iman yang partisipatif.
Salah satu bentuk kegagapan
memahami pergeseran makna ruang publik adalah tudingan aksi di depan Kedubes
Vatikan sebagi tindakan memalukan mirip yang dilakukan Martin Luther tahun
1517, tapi bungkam terhadap penggunaan medsos untuk menebar fitnah dan
syakwasangka yang memecah belah.
Bukan saatnya lagi diam itu emas
dan bicara itu aib. Justru saat ini diperlukan membuka ruang-ruang percakapan
otentik yang dilambari semangat pencarian dan saling hormat. Komunikasi satu
arah dengan bahasa ketaatan tampaknya tak mencukupi lagi. Dibutuhkan gestur
kegembalaan yang merangkul, hangat, dan akrab. Edukasi tentang mekanisme
visitasi dan pengambilan keputusan tetap dapat disampaikan secara empatik dan
terbuka tanpa kekhawatiran melunturkan kewibawaan.
Mungkin ini saat yang tepat
menyusun protokol baru, menunjuk juru bicara yang luwes, kredibel, berwawasan
luas, dan empatik. Pula menjadi momen tetap menangkap arus keingintahuan umat
dengan membuka kanal yang lebih luas dan variatif. Jangan sampai mekarnya rasa
memiliki Gereja ini layu dan patah.
Saya ingin mensyukuri proses ini
seraya mengajak sahabat awam untuk terus berproses dalam semangat pencarian
kebenaran yang tulus. Sikap hormat pada hierarki dan pentingnya menjaga marwah
dan persatuan Gereja perlu terus dipertahankan. Saya optimis dan menaruh harap
apa yang sedang terjadi akan menjadi peristiwa spesial yang memupuk modal
sosial bagi transformasi Gereja Katolik Indonesia yang ditunggu kiprahnya
menjadi kompas moral dan rekan sepeziarahan mewujudkan kehadiran Allah bagi
yang miskin papa dan terpinggirkan. Per mundum ad coelum!
Gunungkidul, 22 Februari 2026
Dengan penuh cinta pada Gereja
Yustinus Prastowo
Awam Biasa
JPS, 23 Feb. 2026.
Catatan: F. Rahardi merupakan salah satu orang yang menghendaki Uskup Bogr, Paskalis Bruno Syukur, OFM mundur senagai Uskup Bogor. Dia turut menyoarkan di medsos bahwa Uskup Bogr, Mgr. PBS layak mundur karena peyalanggunaan kekuasaa (otoriter - mengusir konggregasi suter OSF - keluar dari RS Misi Lebak ), korupsi (penyelewengan keuangan) dan melanggar janji imamat (masalah dengan perempuan, yang bernama Puri) .
Oom Floribertus Rahardi kehilangan arah.... linglung.......???
SURAT DOMBA UNTUK GEMBALA
Keprihatinan Umat Keuskupan Bogor di Masa Sede Vacante
Kepada Para Gembala Terkasih di Keuskupan Bogor,
Salam dalam Kristus, Gembala Agung kita.
Saya menulis surat ini bukan dengan kemarahan, melainkan dengan hati yang hancur. Saya menulis bukan sebagai hakim, melainkan sebagai domba yang kehilangan arah. Saya menulis bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengingatkan panggilan suci yang telah Bapak-bapak terima pada hari tahbisan.
I. Keprihatinan Domba yang Kehilangan Gembala
Keuskupan Bogor kini sede vacante tanpa gembala. Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM telah pergi, meninggalkan kami dalam kebingungan dan kepedihan. Selama bertahun-tahun, kami mendengarkan surat gembala yang dibacakan dari mimbar, memberi kami arahan, penghiburan, dan harapan. Kini, di tengah kehampaan ini, izinkan saya sebagai domba menulis Surat Domba untuk Gembala.
Bukan karena saya merasa lebih suci atau lebih tahu. Bukan karena saya ingin memberontak terhadap hierarki Gereja yang saya cintai. Tetapi karena Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa Gereja adalah "Umat Allah" (Lumen Gentium 9), di mana setiap orang beriman termasuk kami, para awan memiliki hak dan kewajiban untuk menyuarakan keprihatinan demi kebaikan Gereja.
"Kaum awam, seperti semua orang beriman kristiani, berhak menerima dengan berlimpah dari para gembala rohani yang kudus, terutama bantuan sabda Allah dan sakramen-sakramen."
Lumen Gentium 37
Tetapi apa yang kami terima? Gembala yang tidak berbau domba.
II. Ketika Gembala Lupa Bahwa Mereka Juga Domba
Yesus berkata kepada Petrus: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh 21:17). Bukan "Kuasailah domba-domba-Ku" atau "Pilihlah domba-domba yang kamu sukai."
Menggembalakan berarti mengenal, mencintai, dan melayani tanpa diskriminasi, tanpa pamrih, tanpa agenda tersembunyi.
Namun, apa yang kami domba-domba-Mu, ya Tuhansaksikan?
1. Klerikalisme: Ketika Gembala Menjadi Raja
Paus Fransiskus berulang kali mengkritik klerikalisme sebagai "salah satu kejahatan terburuk" dalam Gereja (Letter to the People of God, 2018). Klerikalisme adalah ketika imam menempatkan diri mereka di atas umat, bukan di tengah umat.
Kami menyaksikan:
Gembala yang ketika dombanya ingin bertemu, harus dijadwalkan seperti CEO perusahaankami harus isi formulir, buat janji, antre, seolah-olah beliau terlalu sibuk untuk domba-dombanya sendiri.
Gembala yang tidak hadir di tengah umat setelah Misa Minggu, tidak menyapa, tidak mendengarkan keluh kesah kami, seolah-olah tugas sudah selesai begitu Misa usai, lalu masuk kamar, tidur, atau karaoke, minum wine dan makan babi panggang.
Gembala yang memilih-milih domba: yang kaya dilayani dengan senyum, yang miskin diabaikan; yang berpengaruh diundang makan malam, yang tidak berdaya disuruh tunggu.
Ini bukan yang Yesus ajarkan. Yesus mencuci kaki para murid (Yoh 13:14-15). Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 9:10-11). Yesus menyentuh orang kusta yang dijauhi masyarakat (Mat 8:3).
"Hendaklah para imam mengingat bahwa mereka dalam melaksanakan tugas mereka tidak boleh berpihak kepada orang atau golongan tertentu. Perhatian mereka harus ditujukan pertama-tama kepada mereka yang paling memerlukan bantuan rohani."
Pertanyaan kami: Apakah Bapak-bapak masih berbau domba? Atau sudah berbau parfum kemewahan dan jabatan?
2. Karierisme: Ketika Imamat Menjadi Tangga Karier
Ada gembala yang melihat imamat bukan sebagai panggilan untuk melayani, melainkan sebagai tangga untuk naik. Mereka mengejar jabatan, posisi strategis, kedekatan dengan uskup atau bahkan dengan Roma, bukan karena cinta pada domba, melainkan karena ambisi pribadi. Ada gembala yang tidak mau digeser dari posisi Kuria, hingga nangis Bombay ke umat menggembar gemborkan bahwa dirinya sudah tidak dianggap lagi oleh uskup padahal dia punya banyak jasa menjadi penghubung dengan Forkompimda Bogor dan Kepolisian serta Ormas di luar Gereja Katolik.
Paus Yohanes Paulus II dalam Pastores Dabo Vobis (1992) memperingatkan bahwa imamat harus "pelayanan, bukan kekuasaan" (PDV 21). Imam dipanggil untuk menjadi hamba, bukan tuan.
Tetapi kami melihat:
Gembala yang bermain politik, membentuk kubu, mencari dukungan untuk posisi tertentu.
Gembala yang tidak setia kepada uskup mereka sendiri, bahkan berjalan berseberangan, padahal pada saat tahbisan mereka berjanji ketaatan (Presbyterorum Ordinis 7).
Gembala yang berkumpul secara sembunyi-sembunyi di paroki tertentu, bahkan mengundang uskup dari keuskupan lain, tanpa sepengetahuan uskup mereka, untuk merencanakan agenda besar mungkin untuk menjatuhkan gembala utama mereka.
Ini bukan Gereja. Ini adalah istana dengan intrik politik kotor.
"Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
Matius 23:10-11
3. Gaya Hidup Hedon: Ketika Gembala Hidup Seperti Dunia
Kami tidak meminta Bapak-bapak hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kami tahu Bapak-bapak juga manusia yang butuh istirahat, rekreasi, dan kesejahteraan yang layak. Tetapi ada batas antara kesejahteraan yang wajar dan gaya hidup hedon yang bertentangan dengan sumpah kesederhanaan. Bukan ketika temu pastoral atau retreat parkiran berubah menjadi show room mobil, sementara domba-dombamu harus naik turun angkot untuk pulang pergi gereja demi mendapatkan pelayanan sakramen dari para gembala mereka.
Kami mendengar dan mohon, buktikan ini salah jika memang salah:
Gembala yang gemar judol (judi online)bagaimana mungkin seorang imam, yang seharusnya mengajarkan penguasaan diri, terjerat dalam kecanduan?
Gembala yang hobi memancing ditemani perempuan ini bukan hanya soal rekreasi, tetapi soal penampakan (scandal) yang merusak kepercayaan umat.
Gembala yang hidup mewah dengan uang persembahan umat sementara banyak umat berjuang untuk hidup sehari-hari.
Gaudium et Spes 72 mengingatkan bahwa semua harta milik harus digunakan "untuk kebaikan bersama" dan bukan untuk kepuasan pribadi yang berlebihan.
Pertanyaan kami: Jika imam saja hidup seperti ini, apa bedanya dengan dunia yang Bapak-bapak khotbahkan untuk kami tinggalkan?
4. Ketidaksiapan Pastoral: Gembala yang Tidak Memberi Makan
Yesus berkata kepada Petrus tiga kali: "Gembalakanlah domba-domba-Ku" (Yoh 21:15-17). Menggembalakan berarti memberi makanmemberi makanan rohani yang bergizi, bukan sekadar formalitas.
Namun, kami merasakan:
Kotbah yang tidak dipersiapkan terlihat jelas ketika pastor berbicara tanpa arah, mengulang-ulang hal yang sama, atau bahkan tidak relevan dengan bacaan hari itu. Kalimat di kotbah tidak jelas subyek, predikat, obyek dan keterangan. Apakah lulus mata kuliah homiletic dan retorika serta public speaking atau sudah lupa semua pedoman itu?
Gembala yang malas membaca bagaimana bisa memberi makan jika sendiri tidak makan dari Sabda Allah?
Gembala yang sok tahu dan tidak mau mendengarkan seolah-olah hanya mereka yang punya Roh Kudus, sementara kami, umat, hanya objek yang harus diajar, bukan subjek yang bisa berkontribusi, umat yang bodoh, calon penghuni neraka dan mereka pasti masuk surga, karena kuncinya ada di tangan mereka.
Presbyterorum Ordinis 4 menegaskan bahwa imam dipanggil untuk "mewartakan Injil Allah kepada semua orang" dengan "penuh semangat dan kebijaksanaan". Ini membutuhkan persiapan, studi, dan keterbukaan hati.
Pertanyaan kami: Jika gembala tidak memberi makan, apakah kami tidak akan kelaparan rohani?
III. Ketika Gembala Tidak Menghormati Gembala Utama
Yang paling menyakitkan bagi kami adalah ketidaksetiaan beberapa imam kepada uskup mereka sendiri. Pada saat tahbisan imamat, setiap imam berlutut di hadapan uskup dan berjanji ketaatan (Ritus Tahbisan, Janji Imam).
Namun, apa yang kami lihat?
Imam yang tidak mendukung uskup mereka, bahkan bekerja untuk menjatuhkannya.
Imam yang menyebarkan gosip tentang uskup tanpa bukti ini adalah fitnah, dosa berat menurut Katekismus Gereja Katolik 2477.
Imam yang bersekutu dengan kekuatan luar (termasuk uskup dari keuskupan lain) untuk menggulingkan uskup mereka sendiri.
Ini bukan hanya ketidaktaatan ini adalah pengkhianatan.
"Imam-imam dikhususkan untuk membantu tata imam; karena itu mereka, berkat sakramen imamat, dibentuk menurut gambaran Kristus Imam Agung, dan bersama dengan Uskup terikat dalam kesatuan Imamat."
Lumen Gentium 28
Jika imam tidak taat pada uskup, bagaimana kami, umat, bisa percaya pada kesatuan Gereja?
IV. Apakah "Sinodal" Hanya Slogan?
Tema APP 2026 adalah "Keluarga Sinodal yang Misioner dalam Perwujudan Iman". Kata "sinodal" berasal dari bahasa Yunani synodos—"berjalan bersama".
Tetapi bagaimana kami bisa berjalan bersama jika gembala berjalan sendiri, atau bahkan berjalan ke arah yang berlawanan?
Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium 31 menulis:
"Gereja yang 'keluar' adalah Gereja yang pintunya terbuka... bukan Gereja yang terjebak dalam dirinya sendiri."
Sinodal berarti:
Mendengarkan umat, bukan hanya memerintah
Berjalan bersama dalam kerendahan hati, bukan dalam arogansi
Melayani tanpa diskriminasi, bukan memilih-milih
Pertanyaan kami: Apakah Bapak-bapak benar-benar memahami apa itu sinodal? Atau ini hanya tema liturgis yang indah di atas kertas tetapi hampa dalam praktek?
V. Doa dan Harapan Domba yang Patah Hati
Bapak-bapak yang terkasih,
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi. Hanya Allah yang tahu hati. Saya menulis karena saya mencintai Gereja dan mencintai Bapak-bapak sebagai gembala kami. Saya menulis karena saya tidak ingin Gereja kami hancur oleh politik kotor, klerikalisme, dan karierisme.
Saya masih percaya pada Bapak-bapak. Saya percaya bahwa di balik semua kesalahan dan kelemahan, masih ada hati yang dipanggil Kristus. Saya percaya bahwa pertobatan itu mungkin, bahkan untuk gembala yang telah tersesat.
Permohonan Saya:
1. Bertobatlah. Akui kesalahan di hadapan Allah dan di hadapan kami, umat-Mu. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita" (1 Yoh 1:9).
2. Kembalilah kepada panggilan awal. Ingatlah hari tahbisan Bapak ketika Bapak berlutut dengan hati yang tulus, ingin melayani Kristus dalam diri domba-domba-Nya. Jangan biarkan ambisi duniawi menghancurkan keindahan panggilan itu. Kalau tidak kuat menahan hawa nafsu tinggalkan imamatmu, tanggalkan jubahmu dan menikahlah. Daripada tetap menyandang identitas imam, tapi suka jalan dengan istri orang.
3. Hiduplah sederhana. "Jangan kamu mengumpulkan harta di bumi... Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Mat 6:19-21). Hidup sederhana bukan berarti hidup melarat, tetapi hidup dengan prioritas yang benar: Allah, umat, kerajaan-Nya.
4. Dengarkan umat. Kami bukan objek pelayanan. Kami adalah rekan seperjalanan (synodos). Dengarkan kami. Belajarlah dari kami. Berjalan bersama kami.
5. Setialah kepada uskup. Jika ada masalah dengan uskup, selesaikan dengan cara yang Kristiani dan sinodal dialog terbuka, bukan intrik politik. Jika uskup salah, koreksi dengan kasih (Gal 6:1), bukan dengan pengkhianatan.
VI. Penutup: Kami Masih Berdoa untuk Bapak-Bapak
Meskipun hati kami hancur, kami tidak berhenti berdoa untuk Bapak-bapak. Setiap Misa, kami mendoakan para gembala kami meskipun kadang kami merasa sia-sia karena banyak gembala yang terjebak dalam karierisme.
Tetapi doa itu bukan untuk Bapak-bapak yang sempurna. Doa itu untuk Bapak-bapak yang lemah, yang tergoda, yang jatuh agar Bapak-bapak bangkit kembali.
Karena kami tahu: Bapak-bapak juga domba. Bapak-bapak juga butuh Gembala Agung, Yesus Kristus, untuk menuntun Bapak-bapak kembali ke jalan yang benar.
"Aku adalah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." Yohanes 10:11
Jadilah gembala yang baik, Bapak. Bukan gembala upahan yang lari ketika serigala datang.
Dengan doa dan harapan,
Floribertus Rahardi (F.Rahardi)
Seorang Domba yang Mencintai Gereja
Keuskupan Bogor, Indonesia
Masa Prapaskah 2026
********
KWI, JANGAN MUNAFIK!!!
Oktavia A. Maming - Umat
Akun FB: Fransiscus Anton
Dipost 24 Feb. 2026.
Disclaimer: Tulisan ini bukan sebuah tuduhan atau gugatan. Tetapi pertama2 adalah kerinduan untuk bertanya mengenai hal yang masih abu-abu. Ingin mencintai Gereja dengan cara yang jelas dan terang.
Sebagai orang yang tumbuh dalam tradisi Katolik, saya diajarkan bahwa "kebenaran akan memerdekakan kamu". Namun, melihat dinamika di Gereja Katolik Indonesia terutama yang melibatkan penerus para rasul di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) belakangan ini, saya justru merasa terjebak dalam keheningan yang menjengkelkan. Di bawah kepemimpinan Mgr. ASB (2022-sekarang), para hierarki sedang memainkan standar ganda yang sangat suci tetapi bo’ong. Dan, umat diajarkan oleh ASB untuk menjalankan dua hal ini: Pertama, bersikap munafik. Dua, membunuh saudara sendiri (umat sendiri boleh asal tidak ganggu kepentingan Gereja).
ANTARA MIMBAR EKOLOGI DAN PORTOFOLIO SAHAM
Sejujurnya, saya sempat bangga ketika KWI dengan tegas menolak izin tambang dari pemerintah pada tahun 2024. Itu langkah profetik. “Bukan kompetensi Gereja untuk menggali bumi,” kata mereka. Namun, kebanggaan itu luntur saat saya melihat data investasi Dana Pensiun KWI (DP KWI). Bagaimana mungkin mereka menolak tambang di depan umum, sementara di balik pintu bendahara, dana KWI disinyalir masih menghasilkan dividen dari emiten batubara, nikel, bahkan industri tembakau? Juga pembangunan gedung KWI didanai oleh pengusaha tambang. Ini munafik! Jadi kalau ada khotbah-khotbah suci melindungi ibu bumi, tahan-tahan dulu yah untuk puji.
Nah, jika ada yang membela dengan mengatakan, "Itu kan data lama (Portofolio DPKWI yang bisa diakses di web dpkwi), sekarang mungkin sudah tidak ada," maka pertanyaan saya sederhana: Mana buktinya?
Dalam etika investasi modern, pertobatan itu bukan sekadar niat batin, tapi transparansi radikal. Jika benar DPKWI sudah "bersih" dari saham pendarahan dan industri yang merusak paru-paru umat, mengapa tidak ada laporan divestasi resmi? Mengapa Mgr. ASB, sebagai otoritas tertinggi, memilih diam seribu bahasa? Tanpa transparansi, penolakan tambang itu hanya terasa seperti retorika yang dibiayai oleh keuntungan dari lubang tambang yang sama. Ini bukan sekadar manajemen aset; ini adalah integritas iman, kalau mau konsisten, sih.
TRAGEDI PBS
Kegelisahan saya memuncak pada kasus mundurnya Mgr. Paskalis Bruno Syukur (PBS), Januari lalu. Sebagai umat, saya bingung. Mgr. ASB adalah seorang Visitator Apostolik —penyidik rahasia Vatikan yang ahli mengungkap borok di berbagai keuskupan, katanya. Dia punya akses pada fakta, punya otoritas untuk bicara.
Namun, saat Mgr. Paskalis "dibunuh" karakternya di media sosial oleh narasi pembohong dari figur seperti FR atau FTS, para romo seperti N dan G—yang menggiring opini soal hedonisme hingga skandal aset RS Lebak—Mgr. ASB tetap konsisten diam.
Jika Mgr. Paskalis memang bersih (sebagaimana klaim saat pengunduran diri), mengapa KWI membiarkan kolega mereka sendiri menjadi martir di tangan gosip? Diamnya ASB adalah pembiaran sistemik. Keheningan ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa transparansi di lingkungan Gereja Katolik adalah barang mewah yang tidak mampu dibeli oleh masyarakat awam. Kita dibiarkan mengonsumsi "limbah informasi" sementara para pemimpin kita duduk tenang di atas takhta kenyamanan mereka. Sampai sini paham kan: kenapa KWI sering diam atau telat membicarakan kasus-kasus HAM dan ekologis atau kasus apa pun yang menimpa umat dan masyarkat warga. Bahkan ketika umat dibawa ke altar pembantaian di daerah tertentu.
PIKIR PAKAI LOGIKA
Ada lubang logika yang besar di sini. Bagaimana bisa seseorang begitu tajam menyelidiki kesalahan orang lain (sebagai Visitator), namun begitu abai membersihkan "kotoran " di rumahnya sendiri (sebagai Ketua KWI)?
Kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai bersajak tentang keutuhan ciptaan saat khotbah di hari Minggu atau yang sekadar mengamplifikasi branding diri, yang hebat khotbah dengan berhumor ria, tapi membiarkan sistem finansial Gereja merusak ciptaan dan medukung penghisapan darah umat (masyarakat). Kita tidak membutuhkan pemimpin yang diam saat saudaranya difitnah, hanya demi menjaga "citra institusi" atau demi persatuan yang ternyata sudah runtuh karena membiarkan gosip menjadi aksioma baru. Kecuali bila mereka adalah bagian dari yang memproduksi, mereproduksi gosip dan berdiri di atas gosip sebagai basis kekuasaan.
HARAPAN YANG TERSISA
Tulisan ini bukan karena benci, tapi karena bingung dengan situasi sekarang. Saya ingin Gereja saya tetap menjaga identitasnya sebagai "Garam dan Terang," bukan "Benteng Kegelapan dan Rasa Hambar karena dibangun di atas uang darah, kemunafikan dan penyembelihan saudara sendiri (umat sendiri)." Ketua KWI, Visitator atau kalian orang-orang yang pura-pura suci dan menuntut sopan santun religius: Kalian harus sadar bahwa di era digital ini, keheningan bukan lagi emas, tetapi penyesalan yang tertunda.
Pertobatan dimulai sebagai Lembaga dengan dua hal sederhana (jangan hanya suruh kami bertobat):
1. Buka laporan keuangan DPKWI secara transparan. Kesimpulannya pada kami bahwa tidak ada satu perak pun uang umat (pastor, awam, karyawan, biarawan/i) dipakai untuk mendanai perusakan Ibu Bumi dan menghisap darah umat entah di Borneo, Papua, dan tempat lainnya.
2. Berikan penjelasan atas kasus Mgr. Paskalis dan akui bahwa hasil visitasi menegaskan bahwa PBS tidak bersalah.
Jangan biarkan-doa kami di Rabu Abu kemarin menjadi bahan tertawaan karena jubah pemimpin kami masih berbau asap rokok dan debu batubara yang mereka kutuk sendiri. Atau abu tanda tobat datang dari abu rokok dan batu bara? (Pasti tidak, sebab yang penting taat pada norma liturgi)!
JPS, 26 Feb. 2026.