Kamis, 17 Februari 2022

“RP DAN RD” YANG TERCANTUM DI DEPAN NAMA ROMO.BEDANYA APA ?

“RP DAN RD” YANG TERCANTUM DI DEPAN NAMA ROMO.BEDANYA APA ?


Pasti Anda pernah melihat singkatan RD dan RP kan? Misalnya RD Emmanuel, lalu anda juga pernah melihat RP FX Agis Triatmo,O.Carm. Lantas maksudnya apa sih?

Nah berikut ini penjelasannya ya. Gereja Katolik mengenal 2 golongan imam, yakni: Imam Diosesan dan Imam Religius.

Apa perbedaan di antara keduanya?

1. GelarSecara resmi, gelar yang diberikan kepada Imam Diosesan adalah Reverendus Dominus (RD. / Tuan yang terhormat) Mereka juga sering disebut Presbiter atau disingkat Pr (di Indonesia biasa dikenal dengan Projo). Nah kalau  Imam Religius adalah Reverendus Pater (RP. / Bapa yang terhormat).

2. Kaul
Imam Diosesan tidak mengikrarkan kaul, namun menjalankan semangat kaul sebagai sebuah disiplin. Sedangkan, Imam Religius mengikrarkan kaul dan menjalankannya sebagai suatu kewajiban.

3. Wilayah
Imam Diosesan, secara umum, hanya bisa melayani dalam keuskupan tempat dia ditahbiskan (kecuali ditugaskan oleh uskup untuk tugas khusus). Sedangkan, Imam Religius dapat melayani di manapun kongregasinya melayani.

4. Pemimpin
Imam Diosesan tunduk kepada Uskup tempat ia ditahbiskan. Sedangkan, Imam Religius tunduk kepada pemimpin kongegrasinya dan juga kepada uskup tempat di mana ia berkarya.   Nah itu penjelasan singkatnya, diingat dan dibagikan ya.

Marilah kita terus berdoa bagi para imam, biarawan, biarawati, dan bagi kita sendiri agar panggilan kudus terus ditumbuhkan dalam hati kita masing-masing. Siapkah kita menanggapi panggilan Tuhan? Amen.

Sumber : Komsoskam.Com

https://parokitidarmalang.org/2020/11/18/rp-dan-rd-yang-tercantum-di-depan-nama-romo-bedanya-apa/



Jumat, 11 Februari 2022

SALIB - 3 JENIS SALIB

  SALIB - 3  JENIS SALIB

  1. Salib  hitam : menderita karena kesalaha sendiri. Makan terlalu byk sesuatu akhirnya sakit.
  2. Salib  merah: menderita karena menaggung  kesalahan  orang di luar dirinya, misalnya anak (anak).
  3. Salib putih: menderita  karena kecintaan demi menyelamatkan, misalnya  Salib Yesus Kristus.

https://www.youtube.com/watch?v=_uP028cUYEI
JPS, 12  Februari 2022





Rabu, 15 Desember 2021

Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik

 

Seminar Mempertanggung Jawabkan Iman Katolik

https://www.youtube.com/watch?v=2Pf6qwC-GF0

Seminar Mempertanggung Jawabakan Iman Katolik. Narasumber: Mgr. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm



_________

TANYA JAWAB IMAN KATOLIK BERSAMA Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm PART 1/2


https://www.youtube.com/watch?v=g1kLPyv8ooE



TANYA JAWAB IMAN KATOLIK BERSAMA Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm PART 2/2

https://www.youtube.com/watch?v=48LedlDrIt8


Kamis, 09 Desember 2021

ISTILAH _ ISTILAH DALAM ALKITAB

ISTILAH _ ISTILAH DALAM ALKITAB


Pohon Tarbantin: pohon terkuat di Surga (?)  ( https://www.youtube.com/watch?v=xca7GoT7P54)


Kamis, 02 Desember 2021

SANTO - SANTA

 SANTO  - SANTA


Santo Fransiskus Asisi, Pengaku Iman

Tanggal Pesta: 4 Oktober

Sumber: WA


Giovanni Francesco Bernardone lahir di Asisi, daerah pegunungan Umbria, Italia Tengah pada tahun 1182. Ayahnya, Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, sedang ibunya Yohana Dona Pica, seorang puteri bangsawan picardia, Prancis. Ia dipermandikan dengan nama 'Giovanni Francesco Bernardone' tetapi kemudian lebih dikenal dengan nama 'Francesco' karena kemahirannya berbahasa Prancis yang diajarkan ibunya. la sangat dimanjakan ayahnya sehingga berkembang menjadi seorang pemuda yang suka berfoya-foya dan pemboros. Pada umur 20 tahun ia bersama teman-temannya terlibat sebagai prajurit dalam perang saudara antara Asisi dan Perugia. Dalam pertempuran itu ia ditangkap dan dipenjarakan selama 1 tahun hingga jatuh sakit setelah dibebaskan. Pengalaman pahit itu menandai awal hidupnya yang baru. Ia tidak tertarik lagi dengan usaha dagang ayahnya dan corak hidup mewahnya dahulu. Sebaliknya ia lebih tertarik pada corak hidup sederhana dan miskin sambil lebih banyak meluangkan waktunya untuk berdoa di gereja, mengunjungi orang-orang di penjara dan melayani orang-orang miskin dan sakit. Sungguh suatu keputusan pribadi yang datang di luar bayangan orang sedaerahnya dan orangtuanya. Tak lama kemudian ketika sedang berdoa di gereja San Damian di luar kota Asisi, ia mendengar suatu suara keluar dari Salib Yesus: “Fransiskus, perbaikilah rumahku yang hampir rubuh ini!“ Fransiskus tertegun sebentar lalu dengan yakin mengatakan bahwa suara itu adalah suara Yesus sendiri. Segera ia lari ke rumah. Tanpa banyak pikir dia mengambil setumpuk kain mahal dari gudang ayahnya lalu menjual kain-kain itu. Uang basil penjualan kain itu diberikan kepada pastor paroki San Damian untuk membiayai perbaikan gereja itu. Tetapi pastor menolak pemberiannya itu. Ayahnya marah besar lalu memukul dan menguncinya di dalam sebuah kamar. Ibunya jatuh kasihan lalu membebaskan dia dari kurungan itu. Setelah dibebaskan ibunya, ia kembali ke gereja San Damian. Ayahnya mengikuti dia ke sana, memukulnya sambil memaksanya mengembalikan uang hasil penjualan kain itu. Dengan tenang ia mengatakan bahwa uang itu sudah diberikan kepada orang-orang miskin. Ia juga tidak mau kembali lagi ke rumah meskipun ayahnya menyeret pulang. Ayahnya tidak berdaya lalu meminta bantuan Uskup Asisi untuk membujuk Fransiskus agar mengembalikan uang itu. Fransiskus patuh pada Uskup. Di hadapan Uskup Asisi, ia melucuti pakaian yang dikenakannya sambil mengatakan bahwa pakaian-pakaian itu pun milik ayahnya. Dan semenjak itu hanya Tuhanlah yang menjadi ayahnya. Sang Uskup memberikan kepadanya sehelai mantel dan sebuah ikat pinggang. Inilah pakaian para gembala domba dari Umbria, yang kemudian menjadi pakaian para biarawan Fransiskus. Fransiskus tidak kecut apalagi sedih hati dengan semua yang terjadi atas dirinya. Ia bahkan dengan bangga berkata: “Nah, sekarang barulah aku dapat berdoa sungguh-sungguh “Bapa kami yang ada di surga.“ Dan semenjak itu Sabda Yesus “Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menjual segala harta kekayaannya dan membagikannya kepada orang miskin“ menjadi dasar hidupnya yang baru. Sehari-harian ia mengemis sambil berkotbah kepada orang-orang yang ada di sekitar gereja San Damiano. Ia menolong orang-orang miskin dan penderita lepra dengan uang yang diperolehnya setiap hari. Ia sendiri hidup miskin. Kalau ia berbicara tentang nasehat-nasehat Injil, ia menggunakan bahasa lagu-lagu cinta yang populer dan bahasa-bahasa puitis. Ia sendiri rajin menyusun puisi-puisi dan selalu membacakannya keras­keras kalau ia berjalan jalan. la disebut orang sekitar dengan nama “Poverello“ (=Lelaki miskin). Cara hidupnya, yang miskin tetapi selalu gembira dan penuh cinta kepada orang-orang miskin dan sakit, menarik minat banyak pemuda. Pada tahun 1209, ada tiga orang bergabung bersamanya: Bernardus Guantevale, seorang pedagang kaya, Petrus Katana, seorang pegawai, dan Giles, seorang yang sederhana dan bijak. Harta benda mereka dipakai untuk melayani kaum miskin dan orang-orang sakit. Bersama denigan tiga orang itu, Fransiskus membentuk sebuah komunitas persaudaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah ordo yaitu “Ordo Saudara-saudara Dina“, atau “Ordo Fransiskan.“ Tak ketinggalan wanita-wanita. Klara, seorang gadis Asisi meninggalkan rumahnya dan bergabung juga bersamanya. Bagi Klara dan kawan-kawannya, Fransiskus mendirikan sebuah perkumpulan khusus. Itulah awal dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan atau Ordo Kedua Fransiskan. Fransiskus ditahbiskan menjadi diakon dan mau tetap menjadi seorang diakon sampai mati. Ia tidak mau ditahbiskan menjadi imam. Lebih dari orang-orang lain, Fransiskus berusaha hidup menyerupai Kristus. Ia. menekankan kemiskinan absolut bagi para pengikutnya waktu itu. Sebagai tambahan pada kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaat­an, ia menekankan juga penghayatan semangat cinta persaudaraan, dan kesederhanaan hidup. Ordo Benediktin yang sudah lama berdiri memberi mereka sebidang tanah. Demi sahnya komunitas yang dibentuknya, dan aturan hidup yang disusunnya, ia berangkat ke Roma pada tahun 1210 untuk meminta restu dari Sri Paus Innosensius III (1198-1216). Mulanya Sri Paus menolak. Tetapi pada suatu malam dalam mimpinya, Paus melihat tembuk-tembok Basilik Santo Yohanes Lateran berguncang dan Fransiskus sendiri menopangnya dengan bahunya. Pada waktu pagi, Paus langsung memberikan restu kepada Fransiskus tanpa banyak bicara. Lagi-lagi Ordo Benediktin menunjukkan perhatiannya kepada Fransiskus dan kawan-kawannya. Kapela Maria Ratu para Malaekat di Portiuncula, milik para rahib Benediktin, kira-kira dua mil jauhnya dari kota Asisi, diserahkan kepada Fransiskus oleh Abbas Ordo Benediktin. Fransiskus gembira sekali. Ia mulai mendirikan pondok-pondok kecil dari kayu di sekitar kapela itu sebagai tempat tinggal mereka yang pertama. Kemudian Chiusi, seorang tuan tanah di daerah itu, memberikan kepadanya sebidang tanah di atas bukit La Verna, di bilangan bukit-bukit Tuscan. La Verna kemudian dijadikannya sebagai tempat berdoa dan bermeditasi. Semangat kerasulannya mulai membara dari hari ke hari. Dalam hatinya mulai tumbuh keinginan besar untuk mempertobatkan orang­orang Muslim di belahan dunia Timur. Ia mulai menyusun rencana perjalanan ke Timur. Pada musim gugur tahun 1212, ia bersama seorang kawannya berangkat ke Syria. Tetapi nasib sial menghadang mereka di pertengahan jalan. Kapal yang mereka tumpangi karam dan mereka terpaksa kembali lagi ke Italia. Tetapi ia tidak putus asa. Ia mencoba lagi dan kali ini ia mau pergi ke Maroko melalui Spanyol. Tetapi sekali lagi niatnya tidak bisa terlaksana karena ia jatuh sakit. Pada bulan Juni 1219, ia sekali lagi berangkat ke belahan dunia Timur bersama 12 orang temannya. Mereka mendarat di Damaieta, delta sungai Nil, Mesir. Di sana mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perang Salib yang berkemah di sana. Nasib sial menimpa dirinya lagi. Ia ditawan oleh Sultan Mesir. Saat itu menjadi suatu peluang baik baginya untuk berbicara dengan Sultan Islam itu. Sebagai tawanan ia minta izin untuk berbicara dengan Sultan Mesir. Ia. berharap dengan pertemuan dan pembicaraan dengan Sultan, ia dapat mempertobatkannya. Sultan menerima dia dengan baik sesuai adat sopan santun ketimuran. Namun pertemuan itu sia-sia saja. Sultan tidak bertobat dan menyuruhnya pulang kepada teman-temannya di perkemahan setelah mendengarkan kotbahnya. Setelah beberapa lama berada di Tanah Suci, Fransiskus dipanggil pulang oleh komunitasnya. Selama beberapa tahun, ia berusaha menyempurnakan aturan hidup komunitasnya. Selain itu ia mendirikan lagi Ordo Ketiga Fransiskan. Ordo ini dikhususkan bagi umat awam yang ingin mengikuti cara hidup dan ajarannya sambil tetap mengemban tugas sebagai bapa-ibu keluarga atau tugas-tugas lain di dalam masyarakat. Para anggotanya diwajibkan juga untuk mengikrarkan kaul kemiskinan dan kesucian hidup. Kelompok ini lazim disebut kelompok “Tertier“. Tugas pokok mereka ialah melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam keluarga dan masyarakat dan mengikuti cara hidup Fransiskan tanpa menarik diri dari dunia. Ordo Fransiskan ini berkembang dengan pesat dan menakjubkan. Dalam waktu relatif singkat komunitas Fransiskan bertambah banyak jumlahnya di Italia, Spanyol, Jerman dan Hungaria. Pada tahun 1219 anggotanya sudah 5000 orang. Melihat perkembangan yang menggembirakan ini maka pada tahun 1222, Paus Honorius III (1216-1227) secara resmi mengakui komunitas religius Fransiskan beserta aturan hidupnya. Pada tahun 1223, Fransiskus merayakan Natal di daerah Greccio. Upacara malam Natal diselenggarakan di luar gereja. Dia rnenghidupkan kembali gua Betlehem dengan gambar-gambar sebesar badan. Penghormatan kepada Kanak-kanak Yesus yang sudah menjadi suatu kebiasaan Gereja dipopulerkan oleh Fransiskus bersama para pengikutnya. Pada umur 43 tahun ketika sedang berdoa di bukit La Verna sekonyong-konyong terasa sakit di badannya dan muncul di kaki dan tangan serta lambungnya luka-luka yang sama seperti luka-luka Yesus. Itulah 'stigmata' Fransiskus. Luka-luka itu tidak pernah hilang sehingga menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan tubuhnya. Semenjak peristiwa ajaib itu, Fransiskus mulai mengenakan sepatu dan mulai menyembunyikan tangan-tangannya di balik jubahnya. Fransiskus dikagumi orang-orang sezamannya bahkan hingga kini karena berbagai karunia luar biasa yang dimilikinya. Ia dijuluki “Sahabat alam semesta“ karena cintanya yang besar dan dalam terhadap alam ciptaan Tuhan. Semua ciptaan menggerakkan jiwanya untuk bersyukur kepada Tuhan dan memuliakan keagunganNya. Seluruh alam raya beserta isinya benar-benar berdamai dengan Fransiskus. Ia dapat berbincang-bincang dengan semua ciptaan seperti layaknya dengan manusia. Semua disapanya sebagai 'saudara': saudara matahari, saudari bulan, saudara burung-burung, dll. Ia benar-benar menjadi sahabat alam dan binatang. Lama kelamaan kesehatannya semakin menurun dan pandangan matanya mulai kabur. Dalam kondisi itu, ia menyusun karyanya yang besar “Gita Sang Surya.“ Salah satu kidung di dalamnya, yang melukiskan tentang 'keindahan saling mengampuni' dipakainya untuk mendamaikan Uskup dengan Penguasa Asisi yang sedang bertikai. Ia diminta untuk mendamaikan keduanya. Untuk itu ia menganjurkan agar perdamaian itu dilakukan di halaman istana uskup bersama beberapa imam dan pegawai kota. Ia sendiri tidak ikut serta dalam pertemuan perdamaian itu. Namun ia mengutus dua orang rekannya ke sana dengan instruksi untuk menyanyikan lagu “Gita Sang Surya“, yang telah ia tambahi dengan satu bagian tentang 'keindahan saling mengampuni'. Ketika mendengar nyanyian yang dibawakan dengan begitu indah oleh dua orang biarawan Fransiskan itu, Uskup dan Penguasa Asisi itu langsung berdamai tanpa banyak bicara. Menjelang tahun-tahun terakhir hidupnya, ia mengundurkan diri. Sebab, di antara saudara-saudarariya seordo terjadilah selisihpaham mengenai penghayatan hidup miskin seperti yang dicintai dan dihayatinya sendiri. Pada tanggal 3 Oktober 1226 dalam umur 44 tahun, Fransiskus meninggal dunia di kapela Portiuncula. Dua tahun berikutnya, ia langsung dinyatakan 'kudus' oleh Gereja. Fransiskus adalah orang kudus besar yang dikagumi Gereja dan seluruh umat hingga kini. Kebesarannya terletak pada dua hal berikut: kegembiraannya dalam hidup yang sederhana, menderita lapar dan sakit, dan pada cintanya yang merangkul seluruh ciptaan. Ketika Gereja menjadi lemah dan sakit karena lebih tergiur dengan kekayaan dan kekuasaan duniawi, Fransiskus menunjukkan kembali kekayaan iman Kristen dengan menghayati sungguh-sungguh nasehat-nasehat dan cita-cita Injil yang asli: kerendahan hati, kemiskinan dan cinta.!


_____________________________________________________


Santo Fransiskus Xaverius, Pengaku Iman

Tanggal Pesta: 3 Desember


Francesco de Yassu Javier lahir di istana Xavier di Navarra, bagian utara Spanyol pada tanggal 7 April 1506. Orangtuanya seorang bangsawan kaya raya. Pendidikan dasarnya berlangsung di Navarra dan kemudian dilanjutkan di Universitas Paris pada usia 19/20 tahun. Di Paris ia selalu bergaul dengan orang-orang terpelajar dan terkemuka. Salah seorang teman pergaulan dan sahabatnya ialah Ignasius Loyola. Ignasius mempunyai pengaruh besar terhadap jalan hidup Fransiskus di kemudian hari sebagai seorang misionaris besar dalam sejarah Gereja. Pertanyaan dasar yang membuka lembaran hidupnya yang baru ialah: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, namun kehilangan jiwanya?“ Pertanyaan ini sungguh mempengaruhi sikapnya yang mengilhami jalan hidupnya sehingga ia berani mengabdikan seluruh hidupnya sebagai seorang Abdi Allah bagi penyebaran Injil dan pembangunan Kerajaan Allah di dunia. Bersama Ignasius Loyola dan lima rekannya yang lain, termasuk Petrus Faber, Fransiskus mengikrarkan kaulnya pada tanggal 15 Agustus 1534 di gereja Montmatre. Upacara pengikraran kaul ini menandai awal berdirinya Serikat Yesus yang secara resmi direstui oleh Paus Paulus III (1534-1549) pada tahun 1540. Selain kaul kemiskinan dan kemurnian hidup, mereka juga berjanji untuk membantu paus dalam usaha memberantas berbagai ajaran sesat dan menyebarluaskan iman Kristen. Fransiskus ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 24 Juni 1537. Setahun kemudian, ia berangkat ke Roma dan bersama Ignasius, ia menyelesaikan berbagai urusan yang berkaitan dengan pendirian Serikat Yesus dan misinya. Pada tanggal 16 Maret 1540, Xaverius meninggalkan rekan-rekannya di Roma dan berangkat ke Portugal untuk memenuhi undangan Raja Yohanes III, yang meminta imam-imam Yesuit untuk mewartakan Injil di wilayah jajahan Portugis di India. Bersama dua rekannya dari Portugis, Fransiskus memulai perjalanan yang sulit itu pada tanggal 7 April 1541. Mereka tiba di Goa, India pada tanggal 6 Mei 1542 dan mulai berkarya di India Selatan dan Sri Langka. Karyanya di Goa diberkati dengan keberhasilan yang gemilang. Dengan cara pewartaannya yang menarik dan kesalehan hidupnya, ia berhasil menawan hati banyak orang dan mempermandikan mereka menjadi pengikut-pengikut Kristus. Ia dengan berani membela orang-orang pribumi yang menderita karena tingkah penguasa sebangsa maupun penguasa kolonial yang korup sambil mengajari mereka ajaran-ajaran Kristen yang mengutamakan cinta kasih. Dalam sebuah suratnya kepada Ignasius pada tanggal 15 Januari 1544, ia menulis: “Lenganku sering terasa sangat letih dan sakit karena membaptis begitu banyak orang dan mengajari mereka kewajiban-kewajiban iman Kristiani dalam bahasa mereka.“ Pada tahun berikutnya, sekitar tanggal 27 Januari, ia mengabarkan lagi ke Roma bahwa ia sudah mempermandikan kurang-lebih 10.000 orang dalam waktu satu bulan. Diceritakannya pula tentang kecintaan mereka padanya karena perbuatan-perbuatan baik dan ajaib yang dilakukannya di tengah-tengah mereka. Selama tiga tahun (1542-1545), Fransiskus Xaverius mewartakan Injil di pantai Barat India. Semua perbuatannya yang agung itu terdengar juga hingga ke Malaka. Oleh karena itu, pada musim semi tahun 1545, ia tiba di Malaka dan mewartakan Injil di sana. Selama berada di sana ia memanfaatkan waktunya untuk membina akhlak dan hidup perkawinan penduduk Malaka yang sangat merosot karena kekayaan yang berlimpah-ruah. Ia rajin berkotbah dan mengajar orang-orang yang sudah lama tidak memperhatikan kebutuhan rohaninya. Demi keberhasilan karyanya ia dengan tekun mempelajari bahasa Melayu dan menerjemahkan ajaran-ajaran Kristen dan doa-doa dalam bahasa Melayu. Awal tahun 1546, ia berlayar dengan kapal dagang ke gugusan kepulauan di Indonesia bagian timur, terutama di Maluku. Ia mencatat: “Para pelaut menyita seluruh waktuku dari pagi hingga malam: terus menerus mendengarkan pengakuan dosa, mengunjungi orang sakit, memberikan sakramen-sakramen dan penghiburan rohani kepada mereka yang akan meninggal dan sering pula berkotbah. Selama masa puasa saya kerjakan itu . . . Pulau Ambon banyak penduduknya, di antaranya tujuh desa yang beragama Kristen. Begitu tiba, saya mengunjungi desa-desa itu dan memberikan Sakramen Permandian kepada anak-anak yang belum menerimanya. Kira-kira 390 mil dari situ terdapat suatu negeri, Pantai Moro namanya. Konon, di sana banyak orang Kristen yang sama sekali belum mendapatkan pelajaran agama. Saya akan pergi ke sana secepatnya. Saya menulis laporan ini supaya kamu tahu, betapa kamu dibutuhkan di sini. Memang saya sadar, bahwa kamu diperlukan di India juga, tetapi pulau-pulau ini sangat membutuhkan pertolongan yang lebih besar lagi.“ Fransiskus mempermandikan kira-kira 1000 orang Ambon dan mempersiapkan kedatangan imam-imam baru. Lalu ia menuju ke Ternate pada bulan Juli 1546. Setiap pagi Fransiskus berkotbah kepada saudagar-saudagar Portugis, yang seluruh pikirannya dijejali dengan urusan-urusan perdagangan rempah-rempah dan wanita. Malam hari ia mengumpulkan orang-orang berbahasa Melayu, melatih mereka baik-baik untuk mengerti dan menghafalkan doa-doa serta menyanyikan cerita-cerita Kitab Suci. Tentang hasil jerih-payahnya, ia meriulis: “Syukur kepada Allah! Di Ternate ini sudah menjadi kebiasaan, anak lelaki di jalan-jalan dan anak perempuan di rumah, para buruh di perkebunan dan nelayan-nelayan di laut, siang-malam menyanyikan lagu-lagu suci, bukan lagi nyanyian-nyanyian kotor. Mereka senang menyanyikan lagu Aku Percaya, Bapa Kami, Salam Maria, Sepuluh Perintah Allah, Perbuatan-perbuatan Belaskasih, Pengakuan Dosa Umum serta banyak lagu dan doa sejenis. Mereka itu, baik yang baru bertobat maupun yang masih kafir, menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Syukur kepada Allah bahwa saya dengan cepat disukai, baik oleh orang Portugis di pulau ini maupun oleh orang pribumi yang beragama Kristen dan yang bukan!“ Setelah Fransiskus mengatur kedatangan pengganti-penggantinya, ia kembali ke Malaka untuk selanjutnya pergi ke Jepang. Tentang rencana kerasulannya di Jepang ia menulis kepada Ignasius: “Iman kita harus diwartakan kepada orang-orang Jepang, sebab mereka mempunyai hasrat dan kerinduan yang besar untuk mendengarkan warta Injil dan menjadi Kristen.“ Pada tanggal 14 Juni 1549, Fransiskus berlayar ke Jepang ditemani oleh Pater Cosmas de Torres, Bruder Juan Fernandez, Anger, seorang Jepang yang sudah bertobat dan dua orang lainnya. Mereka tiba di Kagoshima, Kyushu pada tanggal 15 Agustus 1549. Mula-mula mereka berusaha mempelajari bahasa Jepang dan menerjemahkan ajaran-ajaran Kristen ke dalam bahasa daerah setempat. Dari Kagoshima, pada bulan Agustus 1550 Fransiskus bersama kawan-kawannya berlayar ke Honshu, pulau terbesar dari gugusan kepulauan Jepang. Orang-orang Jepang menyambut baik mereka dan sangat antusias mendengarkan pewartaan Injil. Mereka tertarik sekali dengan ajaran-ajaran Kristen yang disampaikan dengan penuh rasa hormat dan keberanian. Satu setengah tahun di Jepang penuh dengan kerja keras. Kecemburuan dan perlawanan dari rahib-rahib Budha sangat gencar namun semuanya dapat diatasi. Pada tahun 1552 Xaverius didesak untuk kembali ke India guna menyelesaikan masalah-masalah administratif yang timbul selama ia tidak ada. Pater Torres dan Bruder Fernandez menetap di Jepang untuk melanjutkan karya misi di sana. Setelah menyelesaikan masalah-masalah Yesuit di India, Xaverius mengalihkan perhatiannya ke Tiongkok, sebuah negara besar yang pada waktu itu tertutup bagi orang-orang asing. Pada bulan April 1552, ia berlayar menuju Cina dengan sebuah kapal Portugis dan didaratkan di pulau Sanchian, di depan muara sungai Chukiang. Di sana ia menunggu jemputan perahu yang bersedia menyelundupkannya ke daratan Tiongkok. Tetapi ia tiba-tiba jatuh sakit dan dalam waktu dua minggu ia menghembuskan nafas terakhir di sebuah gubug, ditemani hanya oleh seorang pemuda Tionghoa yang telah menemani dia dari Goa. Fransiskus meninggal dunia di Sanchian pada tanggal 3 Desember 1552. Fransiskus Xaverius adalah seorang sahabat bagi semua orang. Ia sangat energik dan menarik, rendah hati dan penuh pengabdian. Sebagai seorang pendekar karya misi, ia mendirikan pusat-pusat katekumenat dan sekolah-sekolah, dan berusaha mendidik imam-imam pribumi di setiap tempat yang ia kunjungi. Demi keberhasilan karyanya ia dengan tekun mempelajari bahasa daerah. Pastor Ludwig, sejarawan Gereja yang terkenal, menjuluki Fransiskus Xaverius sebagai seorang “Misionaris Perintis Agama Salib“ di Asia dan misionaris terbesar semenjak Santo Paulus. Dengan semangat heroiknya, ia mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa Asia sambil tetap mengingatkan Gereja akan panggilannya untuk mewartakan Sabda Allah kepada semua bangsa. Pada tahun 1622 ia dinyatakan 'kudus' oleh Paus Gregorius XV (1621-1623). Karena teladan hidupnya, Paus Pius X (1903-1914) mengangkat dia sebagai pelindung utama karya misi.

Minggu, 21 November 2021

MUKJIZAT DALAM DOA

 MUKJIZAT DALAM DOA




Segalanya Mungkin....


Mungkin ada di antara kita yang sempat menonton peristiwa unik yang sempat terjadi pada audiensi umum bersama dengan  Paus Fransiskus tanggal 20 Oktober bulan lalu. Sementara audiens berlangsung seorang bocah berumur 10 tahun bernama Paolo Bonavita menerobos naik ke tangga podium dan mendekati Paus Fransiskus. Rupanya bocah ini sangat tertarik dengan zucchetto (topi kecil yang dikenakan Paus), ia begitu asik di sana menyelidiki tentang zucchetto yang dikenakan Paus.


Melihat anak kecil yang berdiri dekat Paus, Uskup Leonardo Sapienza yang duduk di sebelah kanan Paus beranjak dari tempat duduknya dan memberikan kursinya kepada bocah itu. Rasa penasaran bocah itu terhadap zuccheto barulah terhenti ketika Paus Fansiskus memberikan satu zuccheto miliknya kepada bocah itu, dan kemudian beranjak kembali ke tempat duduknya bersama ibunya. 


Ternyata anak yang bernama Paolo Bonavita ini menurut laporan dari CBS news, berasal dari Italia dan dia berada di Roma untuk tes medis karena dokter memperkirakan bahwa anak ini menderita tumor otak, selain bahwa dia juga memiliki autisme dan epilepsi. 


Paus menunjuk Paolo sebagai contoh dari kebebasan dalam refleksinya, ketika Paolo dengan yakin dan percaya diri melangkah menaiki tangga podium di Aula Paulus VI dan mendekati Paus. Ibu Paolo, Elsa Morra mengatakan, “langkah paolo itu adalah hadiah nyata”. 


Ibu Paolo, Elsa Morra, tidak pernah mengira bahwa anaknya bisa melangkah sendirian menaiki tangga podium, karena selama ini anaknya Paolo selalu membutuhkan bantuannya. Elsa Morra sendiri sempat bertemu dengan Paus Fransiskus pada peristiwa itu. Dia berkisah bahwa Paus Fransiskus menggenggam tangannya sambail berkata, “Bagi anda, yang tidak mungkin tidak ada,” demikian disampaikannya kepada CBS news. 


Kurang dari sebulan kemudian, dokter melaporkan kepada Elsa Morra bahwa puteranya Paolo tidak lagi memiliki tanda-tanda mengidap kanker, kesehatannya menunjukkan gejala yang baik.


Atas apa yang dialami oleh puteranya, Elsa Mora mengatakan ia akan memberi tahu Paus, berterima kasih atas mujizat yang dialami puteranya. 


**

Bagi Tuhan tak ada yang tidak mungkin, jangan biarkan keputusasaan menguasai hidup kita. Serahkan semua perkara kita pada-Nya, Dia masih di sana, akan tetap di sana peduli kepada siapa saja yang berharap pada-Nya. 


Selamat Berakhir Pekan

Tuhan Memberkati 

Romo Jack Dambe Cjd


Sumber: WAG -  GARESA - Diposting Rony  Rama pada Sabtu, 20 Nov. 2021


_______________________________________________



Kamis, 18 November 2021

BELAJAR DARI TOKOH KATOLIK (HIRARKI)

 

BELAJAR DARI TOKOH KATOLIK (HIRARKI)

Kardinal Ignatius Suharyo (Uskup Semarang lalu pindah ke  Keuskupan Agung Jakarta)


Kardinal Ignatius Suharyo diangkat Paus Fransiskus menjadi anggota Dewan Kepausan yang membidangi urusan dialog antar agama. Beliau juga mendapatkan kepercayaan dari Tahta Suci untuk menjadi salah satu anggota Kongregasi Evangelisasi Bangsa-bangsa.


Berada dalam posisinya sekarang tidak pernah terbersit dalam benak Kardinal Prof. Dr. Ignatius Suharyo. Harapannya semula hanya sederhana, menjadi imam paroki, yang melayani umat secara langsung dan tinggal di tengah-tengah jemaat.  


“Tidak gampang bercerita mengenai jalan hidup saya sehingga menjadi imam. Kakak saya yang nomor dua sudah menjadi seorang imam rahib, sementara kakak-kakak yang lain, saat itu sedang mengikuti pendidikan calon imam,” kenangnya. “Sebagai anak kelas enam SD, saya mengatakan eksplisit kepada orang tua, biarlah kakak-kakak mengambil jalan menjadi pastor, saya tidak! 


Semasa kanak-kanak Suharyo bercita-cita menjadi seorang polisi. Namun, Suharyo mengakui, setiap keluarganya berkumpul dalam doa malam, orang tuanya senantiasa menaikkan permohonan agar ada anak-anaknya yang nanti menjadi pastor, suster atau bruder. Bagi keluarga Katolik Jawa, di era 1950-1960-an, menjadi pastor merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan. 


Suatu hari dalam pelayanan misa di desanya, Pastor yang melayani ibadah bertanya, ”Apakah kamu berminat masuk seminari?” Suharyo menjawab bersedia. Jawaban yang berlawanan dengan pernyataannya kepada orang tua. Tak lama kemudian, Suharyo mengikuti tes masuk pendidikan menengah calon imam (seminari) di Mertoyudan, Yogyakarta. “Bayangkan saya saat itu masih berusia 11 tahun, tentu belum mengerti tentang pilihan jalan hidup,” terangnya.


Suharyo tidak banyak bertanya dan belajar taat menjalani pilihannya tersebut. Ikrar pertama untuk menjalani pilihan sebagai imam dinyatakan Suharyo di kelas empat seminari. Sejak saat itu, Suharyo tidak pernah mempertanyakan lagi pilihan hidup yang telah dia ambil, hingga tiba masa penahbisan imam. Jalan pikiran Suharyo sederhana, selagi ia tidak dikeluarkan di tengah-tengah proses pendidikan, berarti Tuhan memang menetapkan dirinya untuk menjadi imam. 


Ignatius Suharyo ditahbiskan menjadi imam dioses Keuskupan Agung Semarang pada 26 Januari 1976. Pelayanan di paroki ternyata tidak genap satu tahun dijalaninya. “Sekitar sembilan bulan setelah melayani paroki, saya diutus untuk studi lanjut ke Roma. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya,” kata Suharyo. “Saya tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang guru atau dosen.” Namun penugasan Kardinal Darmojuwono (alm.) dijalaninya dengan taat. 


Sepulangnya dari Roma, Suharyo kembali ke almamaternya, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma dan menjalani tugas sebagai pengajar Kitab Suci. Tugas tersebut dijalaninya selama tujuh belas tahun lamanya. Suharyo sempat berpikir, menjadi dosen merupakan ujung dari perjalanan karya pelayanannya. Namun rencana Tuhan seringkali lain dari pikiran manusia. 


Pada 1997, Suharyo ditunjuk menjadi Uskup Agung Semarang. Penunjukan tersebut di luar perkiraannya. “Tidak pernah ada orang yang bercita-cita menjadi seorang uskup,” katanya. Ia merasa dirinya tidak memiliki kesiapan apa pun. Pekerjaan sebagai dosen “hanyalah” mengajar, sementara uskup memiliki tugas yang begitu luas, mulai dari mengurus umat hingga aset gereja. 


Meskipun merasa tidak siap, Suharyo tetap setia menjalankan panggilan. Pada saat itulah Suharyo memilih motto hidup sebagai uskup, ”Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati.” Dalam hati Suharyo tertanam pidato perpisahan Paulus kepada para penatua di Efesus di dalam Kisah Para Rasul 20:19, di mana sang rasul mengungkapkan pernyataan panggilannya, ”Serviens Domino Cum Omni Humilitate” atau “Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati”. Semboyan tersebut dijadikan visi hidupnya dalam menjalani tugas panggilan pelayanan. 


Sesudah dua belas tahun di Semarang, ia tidak pernah menyangka suatu ketika masih akan berpindah sebagai Uskup di Keuskupan Agung Jakarta. “Ketika ditugaskan menuju Jakarta, banyak teman seangkatan yang sudah memasuki usia pensiun. Saya sendiri sudah memasuki usia 60 tahun. Jarang sekali seorang uskup dipindahkan ke tempat yang lain,” katanya. “Namun, para imam seperti kami tidak bisa memilih jalan lain kecuali taat pada tugas dan panggilan,” lanjutnya. 


Modal utama melayani Suharyo dari awal  pelayanannya adalah keyakinan akan tuntunan Tuhan. Keyakinan tersebut dihayatinya sejak janji suci penahbisan imam. Ia selalu berusaha menjalankan setiap tugas sebaik mungkin. Banyak rekannya menyatakan Suharyo adalah sosok tekun dan pekerja keras. 


“Ketika saya menjalani panggilan sebagai dosen, saya sadar bukan seorang yang pandai bicara. Maka, setiap mempersiapkan materi kuliah, saya melakukan persiapan mati-matian dan memerlukan waktu berhari-hari. Semua saya lakukan agar saya bisa menjalankan tugas mengajar dengan baik,” katanya. 


Ketika pada 1997 dipercaya menjadi Uskup di Keuskupan Agung Semarang, Suharyo belajar untuk mendengarkan apa masukan dari rekan sekerja dan umat. “Pada masa itu, di Semarang ada sekitar 80 paroki yang saya kunjungi satu demi satu. Saya mendengarkan umat berbicara dan berdiskusi dengan mereka,” katanya. Setelah merangkum semua masukan umat, Suharyo mengajak umat merumuskan ide-ide tersebut dalam aksi. 


Pada 26 Januari 2006, Suharyo pindah pelayanan ke Jakarta.  Suharyo, yang meskipun mengaku tidak begitu mengenal Kota Jakarta, belajar menjalani panggilannya. Menurutnya, gereja Katolik sudah memiliki struktur yang baku, pemimpin hanya tinggal mengembangkan pelayanan sesuai struktur tersebut. 


Sebagai seorang penggemar sepak bola, Suharyo memandang pelayanan keumatan bagaikan bermain olah raga tersebut. Dalam menjalankan pelayanan, umat dan para imam cukup bermain sesuai aturan yang berlaku. Hasil akhir bergantung pada kemampuan para pemain dan cara bermainnya. Tidak jarang dibutuhkan improvisasi dalam permainan, namun menurut Suharyo harus tetap sesuai dengan aturan dan hukum gereja yang ada, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. 


Bagi Mgr. Suharyo, Alkitab pada dasarnya berbicara tentang dua hal. Mengenai siapakah Allah, siapakah manusia, dan relasi antara keduanya. Bagaimana baiknya cara umat membaca Kitab Suci? Banyak orang memandang Alkitab penuh dengan hal-hal yang membingungkan dan tak jarang saling bertolak belakang. Menanggapi kesulitan umat, Suharyo mencoba memandu melalui tulisannya dalam buku kecil “Paham-Paham Dasar Tentang Kitab Suci” yang menjelaskan bagaimana umat mesti memandang Kitab Suci dan tulisan di dalamnya. 


Firman Tuhan sekaligus juga merupakan anugerah, yang isinya tidak dapat dipahami hanya dengan akal pikiran manusia. Karena itu, cara yang paling pas menurut Suharyo, sebelum membaca Kitab Suci umat perlu berdoa, mohon tuntuntan dan pertolongan Roh Kudus. 


Terkait harapannya mengenai peran umat Katolik, Kardinal Ignatius Suharyo menyatakan, muara keyakinan yang dirinya bangun dan ajarkan kepada jemaat terangkum dalam Lukas 6:36, ”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”


Melalui ayat ini, Kardinal Suharyo mengajak umat membentuk dirinya menjadi umat Tuhan yang beriman, bersaudara, dan berbela rasa. Jika umat merasa diri sungguh beriman maka ia harus membangun persaudaraan di dalam komunitasnya dan juga di tengah orang-orang di sekitarnya. Termasuk dengan mereka yang berbeda keyakinan. Umat mesti berbela rasa dengan sesama agar komunitasnya dapat tetap hidup dan bertumbuh. 


Sebagai seorang Kardinal dari negeri yang mayoritas beragama muslim, Kardinal Suharyo senantiasa terkagum-kagum dengan Dasar Negara kita, Pancasila. Dirinya memandang, Pancasila harus menjadi panutan dalam setiap karya pastoral. Sejak empat lima tahun lalu ketika isu intoleransi, rasisme, hoaks, dan sebagainya muncul, ia selalu mendorong gereja-gereja lokal khususnya Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk mengambil sikap cinta tanah air. Spiritualitas cinta tanah air ini dituangkan dalam Arah Dasar Pastoral KAJ, “Mengamalkan Pancasila”. “Saya berharap Pancasila dapat menginspirasi iman umat Katolik dalam mengembangkan rasa cinta tanah air,” tegasnya. 


Dengan demikian umat Katolik sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia mesti bekerjasama dengan semua pihak yang berkehendak baik untuk mewujudkan masyarakat yang makin bermartabat, adil dan sejahtera bersama. Seperti nyata dalam semboyan yang pernah digaungkan pahlawan kemerdekaan kita, Mgr. Soegijapranata, ”100 % Katolik, 100 % Indonesia.”


©️ 2021 Lembaga Alkitab Indonesia

______________________