Jumat, 12 Maret 2021

GEREJA YANG SENANTIASA BERUBAH

 GEREJA YANG SENANTIASA  BERUBAH


Gereja berada pada arus zaman. Gereja harus  beradabtasi dengsn perubah. Dalam aspek saja Gereja harus berubah? Dalam banyak hal, termasuk  dslsm bidang Pendidiksn. Kurikulum pendidikan Gereja harus  diubsh  juga. Gereja Katolik  memiliki Kitab Suci yang llebih banyak daripada  Gereja Krsten lainnya, 73 buku. mulai Kitab Kejadian hingga Wahyu.

  1. Bagaiamana 73 buku itu harus sudah dibaca tuntas setisp umat Katolik   saat Sekolah Dsar. Level selanjutnya hanya mempedalam. 
  2. Bagaimana Gereja harus memasukkan unsur kewirausahaan dan teknologi daalam pewartaannya




Kamis, 11 Maret 2021

KUNJUNAGN PAUS KE IRAK

 KUNJUNAGN  PAUS  KE IRAK

Oleh : Dahlan Iskan


PAUS Francis berusia 84 tahun. Ayatollah Ali al-Sistani berumur 90 tahun. Keduanya bertemu, Sabtu lalu. Selama 40 menit. Yang dibicarakan: kekerasan atas nama agama harus diakhiri. 


Pertemuan bersejarah itu terjadi di rumah Ali al-Sistani –Grand Ayatollah di Iraq. Di kota Najaf. Iraq bagian selatan. Sudah dekat dengan Iran.


Rumah Sistani berada di dalam sebuah gang yang sempit. Rumah itu sendiri luasnya hanya 70 m2 –sedikit di atas rumah sederhana untuk ukuran Indonesia. Pun itu bukan rumah sang imam sendiri. Itu rumah kontrakan –600.000 dinar Iraq/bulan. Atau sekitar Rp 200.000/bulan.


Paus terbang dari Baghdad –ibu kota Iraq– menuju Najaf. Hanya sekitar 30 menit. Saya pernah jalan darat dari Baghdad ke Najaf: sekitar 2 jam. Bersama istri, anak wedok Isna Iskan, suaminyi, dan cucu pertama Icha.


Saya sampai berkali-kali memutar video berita kunjungan pemimpin tertinggi dunia Katolik ke Najaf itu. Terutama video bagaimana Paus harus turun dari mobil di mulut gang. Lalu harus berjalan menyusuri gang dengan langkah khas orang tua.


Tempat pertemuan itu sendiri memang terlihat sangat sederhana. Ayatollah al-Sistani mengenakan jubah ''kebesaran'' seorang imam besar aliran Syiah: serbahitam. Paus mengenakan jubah kepausan: serbaputih.


Kita tidak tahu pembicaraan dua pemimpin agama itu. Semuanya tertutup. Kita hanya tahu dari siaran pers –satu dari Sistani dan satunya dari Paus Francis. Tapi isinya sama: perlunya kekerasan atas nama agama diakhiri.


Dari Sistani ada tambahan yang lebih mencerminkan keadaan di Iraq: orang Kristen Iraq berhak hidup aman dan damai seperti warga Iraq lainnya. "Itu dijamin oleh konstitusi Iraq," ujar siaran pers dari Sistani.


Sikap Sistani itu sudah bisa dibaca jauh-jauh hari. Sikap itulah yang membuat kunjungan Paus ke rumahnya menjadi mungkin.


Berbulan-bulan staf kedua belah pihak membahas kunjungan itu. Ada saja hambatannya. Bukan soal perbedaan iman tapi soal keamanan. Iraq masih belum aman. Maka pengamanan di sepanjang gang itu menjadi faktor yang paling sulit.


Terakhir ada faktor tambahan: Covid-19.


Tapi tekad Paus sangat kuat untuk ke Iraq. Belum ada Paus sebelumnya berani ke Iraq. Paus Francis adalah yang pertama. Yang saat kunjungan dilakukan sudah menjalani vaksinasi suntikan kedua.


Di depan gang rumah Sistani terbentang satu spanduk. Isinya sangat damai dan menyejukkan. Kalimat di spanduk itu diambil dari kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib –panutan utama pengikut Syiah. Ali adalah salah satu dari empat sahabat tepercaya Nabi Muhammad. Yang juga menantu Nabi: ayah dari Sayyidina Hassan dan Hussein –cucu kesayangan Nabi.


"Kita ini bersaudara, kalau bukan saudara seiman adalah saudara sesama manusia," bunyi kalimat di spanduk itu.


Makam Sayyidina Ali ada di Najaf. Saya ke makam itu waktu ke Najaf dulu.


Dan Grand Ayatollah Sistani sendiri masih keturunan dari Sayidina Ali.


Sistani sebenarnya lahir di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran yang amat indah. Lalu bersekolah agama di Qom –kota suci kaum Syiah, sekitar 100 km dari Tehran.


Dari sini Sistani melanjutkan sekolah ke Najaf di Iraq. Sejak itu Sistani menjadi warga Iraq. Tahun 1993 Sistani menjadi Grand Ayatollah di Iraq. Ia juga masuk 100 tokoh intelektual dunia dan 50 intelektual Islam.


Selama pemerintahan otoriter Saddam Hussein, Sistani menjadi tahanan rumah. Masjidnya ditutup. Setelah Amerika menyerbu Iraq Sistani masuk tokoh pro-demokrasi. Bahkan ia menyerukan agar wanita ikut memilih.


Bagi para suami yang melarang istri pergi ke TPS Sistani berkata: para wanita Syiah harus mengikuti jejak Zainab –putri Sayyidina Ali. Zainab memang ikut rombongan Hussein ke Najaf –yang kemudian menjadi saksi pembantaian di Karbala, ketika perjalanan 1.000 Km rombongan itu tinggal 70 Km saja dari Najaf.


Umat Kristen adalah kelompok yang paling menderita di Iraq. Mereka berada di tengah konflik antara Islam Syiah (65 persen) dan Islam Wahabi (30 persen).


Apalagi ketika ISIS menguasai Iraq dan Syria. Sistani sangat anti ISIS –mengeluarkan fatwa untuk memerangi ISIS.


Sistani sendiri –dalam beberapa wawancara di masa itu– mengatakan, pembunuhan terhadap umat Kristen bukan dilakukan oleh umat Islam Iraq melainkan oleh pengikut aliran Wahabi yang datang dari luar.


Dengan kalimatnya itu, Sistani seperti ingin mengesankan bahwa di Iraq tidak ada masalah antara Syiah dan Sunni. Yang membuat masalah adalah masuknya Wahabi ke Iraq.


Tanpa menyebut nama, yang dimaksud tentunya satu ini: Arab Saudi. Yakni negara yang beraliran Wahabi. Mungkin yang dimaksud Sistani adalah Arab Saudi sebelum era putra mahkota Mohamad bin Salman. Kini Arab Saudi kian menuju ke arah liberal.


Kedatangan Paus ke Iraq telah menenangkan umat Kristen. Apalagi Paus bertemu Ayatollah Sistani. Sistani seperti agak berbeda dengan umumnya Ayatollah di Iran. Sistani percaya pada demokrasi. Bahkan ia mengecam demokrasi di Iraq belum bisa diterapkan sepenuhnya.


Sikap Sistani itu menarik di kalangan Barat. Sejak lima tahun lalu beberapa lembaga di Inggris –juga kolumnis terkemuka harian New York Times mengusulkan Sistani untuk mendapat hadiah Nobel perdamaian. Demikian juga asosiasi umat Kristen di Iraq.


Pun, Paus Francis. Telah membuat sejarah penting. Beliau begitu ngotot datang ke Iraq –di tengah semua bahaya yang ada. Bahkan Paus juga ziarah ke kota Ur –sekitar 300 Km dari Najaf. Di situlah Nabi Ibrahim lahir. Ilmuwan sudah sepakat di Ur-lah Abraham lahir. Meski begitu tetap saja banyak daerah lain yang masih mengklaim Ibrahim lahir di daerah mereka.


Dari Ur, di umurnya yang 74 tahun, Abraham melakukan perjalanan suci 1.000 Km ke Syria. Lalu jalan lagi 1.000 Km  ke Mesir. Terakhir jalan lagi 1.000 Km ke Kanaan –sekarang Israel– untuk menetap di situ. Itu sekitar 4.000 tahun sebelum Masehi.


Tentu, saya memonitor media Barat untuk mengikuti dan menulis kunjungan Paus yang bersejarah ini. Media Timur Tengah tidak cukup detail melaporkannya.


Dua tahun lalu Paus Francis juga ke Uni Emirat Arab. Paus  berhasil menandatangani deklarasi damai dengan para tokoh Islam aliran Sunni dan Wahabi –termasuk Presiden Al Azhar dari Kairo.


Kini hal yang sama dilakukan Paus ke dunia Syiah –yang diikuti oleh 200 juta umat Islam di dunia.


Peta dunia memang sedang berubah. Ada yang membicarakan perdamaian di Timur Tengah. Ada juga yang membicarakan perang di Laut China Selatan.(Dahlan Iskan)


_______



Senin, 08 Maret 2021

KUMPULAN RENUNGAN

 KUMPULAN RENUNGAN

Pesan Damai Dibalik Aksi Bom


https://infolabuanbajo.com/pesan-damai-dibalik-aksi-bom/



Pesan Damai Dibalik Aksi Bom

 0 397

*Oleh Inosensius Sutam

Bom meledak lagi di Gereja Katedral Makasar pada minggu palma atau minggu palem (28 Maret 2021). Minggu yang menjadi awal dari pecan suci dan yang lain menyebutnya sebagai minggu sengsara. Sebutan yang terakhir ini mungkin relevan dengan kesengsaraan akibat teror bom ini. Kutukan dan kecaman serta ucapan solidaritas pun mengalir deras dari seantoro Indonesia. Bom ini menghancurkan fisik dan materi, tapi tidak boleh menghancurkan jiwa dan roh persaudaraan dan perdamaian.

Hal ini tentu sesuai dengan roh minggu palma. Liturgi minggu ini dimulai dengan pemberkatan daun palem, lalu perarakan dan masuk meriah ke dalam Gereja. Kemudian dilanjutkan dengan liturgi Sabda yang berpuncak pada kisah sengsara Yesus Kristus. Disusul dengan liturgi Ekaristi.

Bacaan pada saat pemberkatan daun palem sungguh menggembirakan. Narasi yang memekarkan imaginasi sosial, kultural, politis, dan tentunya spiritual. Lautan daun palem segar itu dilambaikan. Sebuah suasana suka dan gembira. Yerusalem sejenak lepas dari penat, dan bergembira ria. Semua seperti disiram embun surgawi di tengah dahaga akan Sang Almasih, Sang Pembawa perdamaian dan keselamatan.

Pekikan ‘Hosana Putra Daud” membahana membelah angkasa. Burung-burung pun bersukaria mengepak sayap dengan lemah gemulai seolah-olah ikut menari ria. Debu-debu beterbangan tersentuh kaki yang menari riang. Baju-baju dihamparkan dijalan. Badan telanjang diselimuti ceria yang bertunas.

Semua kata-kata pujian mengalir seperti semburan Sungai Yordan yang membasahi gurun kering tanpa henti. Memancar dan menyembul seperti tak ada habisnya. Masuknya Yesus ke Yerusalem adalah sebuah peritiwa peninggian dan pemuliaanNya secara manusiawi, sosio-kultual, dan historis.

Yesus adalah Raja, dan Ia pantas disanjung, dielu-elukan, dipuja-puji, dan dimuliakan. Ia seorang pemimpin yang populis: dekat dengan rakyat kecil dan bersatu dengan penderitaan mereka. Dia menjadi harapan mereka: menjadi penyambung lidah dan jembatan perjuangan dalam segala bidang. Ini sejalan dengan warna hijau daun palem: warna harapan akan mekar, bertumbuh, dan jayanya hidup. Yerusalem menjadi kota damai, kota abadi.

Tetapi rasa abadi dan damai itu seperti sesaat dan sejenak saja. Kemudian semuanya ternyata berganti seiring dengan tenggelamnya sang surya, seiring dengan bergantinya hari, dan seiring dengan layunya daun palem yang dimakan waktu dalam sengat halus matahari musim semi.

Daun palem yang dilambaikan itu telah putus dari tangkai kehidupan. Mereka rentan. Segar sejenak, layu kemudian. Daun palem tak jauh berbeda dari keadaan hati rakyat Yerusalem yang jauh dari tangkai kehidupan Sang Ilahi. Antusias pada awal, dan layu kemudian. Semuanya berubah. Pekikan pujian “Hosana Putera Daud”, berubah menjadi pekikan benci yang mencekik, “Salibkan Dia”. Yesus yang dianggap sebagai raja berubah menjadi seorang penjahat.

Keledai tungganganNya berubah menjadi salib yang menindih. Pakaian mereka yang dihamparkan berubah batu-batu jalanan salib yang kasar. Daun palem yang dilambaikan berubah menjadi cemeti. Itulah kisah sengsara Yesus Kristus. Itu yang dikisahkan pada Bacaan Injil, kisah sengsara, dalam liturgi minggu palma.

Siapakah mereka yang balik menentang Yesus Kristus? Pertama, bisa jadi dan kemungkinan besar mereka yang menyanjung dan memuji Dia pada saat Dia memasuki Yerusalem. Mereka mungkin kecewa atau dibelokkan hatinya oleh berbagai kepentingan atau dihasut dengan fitnah keji dan kejam tentang Yesus. Kedua, bisa jadi masa tandingan dan bayaran dari para lawan atau musuh Yesus yang memang sudah bertentangan dengan Dia sepanjang hidup publiknya. Ketiga, bisa juga gabungan dari kedua kelompok ini.
Mengapa mereka balik menentang Yesus? Pertama, sebenarnya di belakang kelompok-kelompok penentang Yesus di atas, ada struktur besar elit politik dan agama yang merasa terancam dan iri hati.

Mereka ingin menjatuhkan Yesus Kristus, karena telah menjadi ancaman nyata dari luar struktur. Yesus sudah menjadi figur publik yang pengaruhNya semakin membesar dan pengikutnya semakin banyak. Mereka menghasut massa. Kedua, hal itu menemukan momentumnya, karena Yesus tidak mau menjadi raja politis mereka.

Mengapa mereka mau menjadikan Yesus sebagai raja? Sebagai bangsa kecil dan minoritas dalam segala hal yang sedang dijajah bangsa Roma dan selalu terancam oleh bangsa besar sekitarnya, orang Yahudi pada zaman Yesus memang sungguh mengharapkan seorang tokoh mesianis besar seperti Musa, Yosua, Saul, Daud, Simson, dan tokoh-tokoh perjanjian lama yang berkekuatan super. Mesias bahkan lebih dari mereka semua. Mereka melihat dalam diri Yesus banyak kriteria mesianis yang terpenuhi. Yang belum ada tentu bisa ditambahkan.

Yesus sangat bijak dan cerdas. Berani. Sederhana. Dekat dengan orang kecil. Bisa menyembuhkan, bahkan membangkitkan orang mati, dan sederet mukjizat lainnya. Namun antara Yesus dan para pemujaNya ternyata ada perbedaan besar. Perbedaan itu terdapat dalam isi harapan dan cara mewujudkannya.

Yesus tampil dengan postur dan gestur yang sangat lain dan berbeda dengan harapan mesianis sosio-politis. Dia pun menolak permintaan mereka. Mengapa Yesus menolak? Dua alasan. Pertama, Yesus datang untuk semua manusia, seluruh bumi dan alam semesta. Dia Raja alam semesta. Ia ingin merangkum semua manusia. Ia raja damai yang ingin membangun persaudaraan dan persekutuan antara semua manusia dan semua ciptaan. Ia tidak rasis dan diskriminatif. Kedua, Yesus Kristus adalah raja spiritual, yang ingin membawa perdamaian yang disimbolkan oleh keledai yang ditunggangNya.

Yesus ingin menguasai dunia jiwa dan roh manusia, dan bukan terutama fisik dan struktur luar dalam bidang politik. Yesus bermain pada akar dan pokok kehidupan, mereka bermain pada cabang, ranting, daun, bunga, dan buahnya. Bukan terutama bangsa penjajah itu yang harus dilawan tetapi cara berpikir, budaya, mentalitas, adat-istiadat yang menyebabkan orang berpikir, berbicara, dan bertindak untuk menjajah yang lain. Itulah yang harus dilawan. Hal itu ada pada pikiran, pada jiwa, dan roh manusia. Itu yang harus diubah. Ini misi Yesus Kristus.

Penjajah itu bukan hanya bangsa besar dan Roma tetapi setiap individu: mereka juga adalah penjajah yang lain dalam keluarga, dalam bentuk budaya patriarkal yang kental misalnya. Mental untuk menindas yang lain itulah yang harus dibasmi dan diganti dengan budaya damai dan cinta. Ia mati sebagai benih damai dan cinta. Daun palem konon juga adalah lambang kemenangan martir atas kematian. Ini adalah tanda harapan akan kehidupan setelah kematian. Dalam kematianNya di salib, Yesus ingin memutuskan rantai kebencian, kekerasan, dan dendam.

Narasi minggu palma ini adalah jawaban spiritual terhadap bom di Katedral Makasar. Bom ini laksana pekikan benci yang mencekik dari penentang Yesus. Jika kita membalasnya dengan kebencian, maka kerajaan maut dan iblis semakin besar. Kita semakin hancur. Bom menghancurkan badan, tetapi tidak bisa menghancurkan roh dan jiwa. Ia menghancurkan materi tetapi tidak pernah bisa menghancurkan cinta.

*Penulis adalah rohaniwan katolik dan dosen di UNIKA Santu Paulus Ruteng.


__________________





Percik Firman : Di manakah “Gunung Tabor” Hidupmu?

Minggu, 28 Februari 2021

Minggu Prapaskah II

Bacaan Injil : Mrk 9:2-10


Saudari/a ku ytk., 

Saya mengenal seorang ibu yang wajahnya selalu ceria. Orangnya energik. Murah senyum dan murah hati. Saya tahu beliau seperti ibu-ibu yang lain pasti mempunyai masalah (mungkin juga hutang hehe...). Tetapi ia tetap gembira, tegar dan kuat menjalani hidup ini. 


Saya pernah tanya, “Bu, supaya bahagia resepnya apa yaaa?” Beliau menjawab, “Pasrah Tuhan dengan berdoa, Romo”.


Berdoa. Berserah diri pada Tuhan. Itu pula yang dilakukan Yesus bersama tiga murid intiNya (Petrus, Yakobus dan Yohanes) di Gunung Tabor yang hening. Dengan doa di Gunung Tabor itu ditegaskan siapa Yesus dan apa misinya. 


Di sana terjadi peristiwa transfigurasi (penampakan kemuliaanNya). Yesus berubah rupa dan wajahnya berseri-seri. Ia dinyatakan sebagai Anak Allah.


Melalui sabda Tuhan pada hari Minggu Prapaskah II ini kita semua diingatkan untuk menyediakan waktu untuk berdoa seperti Yesus. Di tengah-tengah karya pelayanan-Nya, Yesus mengkhususkan waktu untuk menyepi, masuk dalam keheningan dan berdoa kepada Bapa-Nya. 


Inilah yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini bagaimana Yesus naik ke Gunung Tabor. “Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes  dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi”. 


Teladan Yesus ini semakin menegaskan kepada kita mengenai pentingnya doa dalam kehidupan kita. Di tengah kesibukan, pekerjaan, dan kegiatan-kegiatan kita sehari-hari, yang seringkali menyita banyak waktu dan tenaga, kita harus berani mengkhususkan waktu untuk masuk dalam keheningan dan berdoa. 


Pentingnya keheningan dalam hidup ditegaskan oleh Santo Antonius Abas. Beliau mengungkapkan, “Jika seekor ikan keluar dari air, ia akan lemas dan mati. Demikian juga manusia. Jika manusia keluar dari keheningan, kita akan lemas dan mati’.


Kalau selama ini kita merasa masih kurang dalam berdoa dan mengusahakan keheningan, baiklah salah satu bentuk pertobatan dan matiraga di masa Prapaskah ini adalah meningkatkan doa dan keheningan kita. Mari menemukan ‘gunung tabor’ hidup kita. 


Doa yang kita lakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan menghasilkan buah dalam kehidupan kita sebagaimana dialami Yesus, “berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat”. Doa itu memancarkan kemuliaan, kedamaian, dan kesucian. Maka, kita seringkali menjumpai bahwa orang-orang yang tekun berdoa itu menunjukkan kematangan dan memancarkan kesucian dan kedamaian hidup. 


Mereka selalu gembira, wajahnya ceria, kata-katanya menyejukkan dan mencerahkan. Meskipun mereka tetap harus menghadapi aneka persoalan dan menanggung beban serta penderitaan hidup, mereka tetap bersemangat dan penuh pengharapan. Hal ini pun akan kita alami, kalau kita semakin tekun berdoa dan mundur sejenak dari aktivitas dengan hening. 


Pertanyaan refleksinya, bagaimana hidup doa Anda akhir-akhir ini? Di manakah “gunung tabor” Anda  selama ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari bumi Mertoyudan. # Y. Gunawan, Pr



Kamis, 04 Februari 2021

ROMO TULANG RUSUK

 ROMO  TULANG RUSUK

https://web.whatsapp.com/


Romo Getsemani


Kamis 04 February 2021

Oleh : Dahlan Iskan


HARI ini abu jenazah beliau diberangkatkan ke Kota Batu. Setelah disemayamkan satu malam di Surabaya. Juga setelah mampir satu malam di Semarang –dalam perjalanan asal abu itu dari Jakarta.


Nama almarhum: Romo Jusuf Halim. Beliau imam Katolik dari ordo SVD. Seorang Tionghoa asal Palembang. Yang meninggal karena Covid-19 di Jakarta, Jumat, 29 Januari lalu.


Romo Halim populer sekali. Karena karismanya. Karena marahnya. Karena humor-humornya. Karena jiwa ikhlas melayaninya.


Ordo SVD (Societas Verbi Divini), memang lebih fokus ke pendidikan dan sosial. Itu cocok sekali dengan jiwa Romo Halim.


 

Misalnya dalam merukunkan rumah tangga. Romo Halim terkenal karena bisa membuat suami-istri hidup rukun. Yang bertengkar bisa kembali damai. Yang mau cerai tidak jadi pisah. Yang sudah pisah ranjang bisa menyatu lagi.


Untuk itu Romo Halim mendirikan paguyuban Tulang Rusuk. Anda sudah tahu maksudnya: istri itu terbuat dari tulang rusuk suami. Awal di zaman Adam dulu. Tidak boleh pisah.


Saat Romo Halim meninggal, anggota Tulang Rusuk sudah 20.000 orang. Mereka begitu berterima kasih kepada Romo Halim.


Di Surabaya saja anggotanya 4.000 orang. Bukan karena terlalu banyak pasangan yang bertengkar di Surabaya. Tapi karena ketuanya memang tokoh pengusaha besar: Teguh Kinarto. Yang aktif sekali. Yang perumahan murahnya terbesar di Jatim.


Dan itu pula sebabnya mengapa abu jenazah Romo Halim ''harus'' mampir Surabaya. Terlalu banyak yang ingin memberi hormat kepada sang Romo –meskipun hanya bisa secara online.


Di Surabaya abu itu disemayamkan di sebuah rumah Jalan Mojopahit. Itulah kantor komunitas Santo Michael.


Bahwa kemudian Kamis hari ini abu diperjalankan ke Batu juga ada ceritanya. Di situlah, di lereng gunung itu, Romo Halim punya inisiatif membangun Taman Getsemani.


Nama taman itu diambil dari kisah kerasulan. Di sebuah lereng gunung di Jerusalem terdapat sebuah taman. Namanya Taman Getsemani. Di situlah dipercaya Jesus berdoa untuk terakhir kalinya. Sebelum disalib.


Taman Getsemani di  Batu itu sudah jadi. Ada yang mengira itulah taman ''rumah abu''. Agar semua Romo yang meninggal abunya disimpan di situ. Begitulah media sosial berspekulasi secara luas. Bahkan, disebut di medsos, di Taman Getsemani itulah abu Romo Halim akan disimpan abadi.


"Beliau yang punya ide, ternyata abu beliau yang pertama disimpan di situ". Begitu kata medsos.


Sebenarnya tidak begitu. Saya bertemu dengan pengusaha real estate Sidoarjo. Yang juga anggota Tulang Rusuk. Namanya: Johanes Tjandra.


Empat tahun lalu Tjandra ziarah ke Israel.  Bersama 50 orang lainnya. Dari seluruh Indonesia. Romo Jusuf Halim-lah yang memimpin ziarah itu.


Selama 15 hari ziarah, Tjandra menjadi akrab dengan Romo Halim. Ia semakin kagum pada karisma Romo itu.


Saat itulah lahir ide Romo Halim untuk membangun Taman Getsemani di Batu. Tjandra yang diminta membangun.


Taman itu berlokasi di sebuah vila seluas 1 hektare. Nama vilanya: DOMUS ARNOLDUS.


Di dalam kota Batu yang dingin. Di lokasi itu sudah ada vila besar. Terdiri dari 20-an kamar.


Di villa besar itulah para pastor yang sudah purna tugas menghabiskan masa tua. Ada yang sampai meninggal dunia. Ada yang hanya sementara –kemudian dijemput keluarga.


Saat ini ada sekitar 8 Romo purnatugas yang tinggal di villa itu.


Romo Halim ingin membuat para Romo-sepuh tersebut lebih bahagia. Dengan menambahkan taman yang indah di situ. Termasuk satu bangunan yang bisa untuk acara serba guna.


Hari ini abu Romo Halim akan diminta ''menyaksikan'' Taman Getsemani itu terakhir kalinya. Tahun lalu Romo Halim sempat ke Batu. Termasuk melihat taman baru itu. "Beliau puas sekali," ujar Tjandra.


Setelah itu tidak datang lagi. Romo Halim sangat menjaga diri dari virus korona. Beliau tidak ke mana-mana. Hanya di rumahnya di Tangerang, dekat Jakarta.


Disiplin itu juga dikenakan kepada tamu-tamu Romo. Yakni tamu yang tidak bisa ditolak. Romo tidak mengizinkan sang tamu membawa teman. Harus sendirian. Dan harus sudah tes Covid negatif.


Beliau juga sangat jarang ke kantor. Hanya kalau benar-benar terpaksa.


Pun acara-acara retreat Tulang Rusuk. Dibatalkan semua. Tahun 2020 kemarin tidak satu pun retreat Tulang Rusuk diadakan. Yang mendaftar sudah sangat panjang.


Sampai orang Surabaya membangun sendiri tempat retreat di Leduk, Trawas, dekat Tretes. Di lereng Gunung Penanggungan.


Setahun dua kali Tulang Rusuk retreat di situ: bisa untuk 120 orang. Acaranya selalu tiga hari: Jumat-Sabtu-Minggu.


Tiga hari penuh Romo Halim memimpin sendiri retreat itu. Sejak acara perkenalan di hari pertama. Sampai kebaktian penutupan di Minggu sore –khusus bagi yang Katolik.


Sedang yang beragama lain tidak perlu mengikutinya.


"Tiga hari itu kami dibuat hanyut oleh Romo Halim," ujar Teguh Kinarto.


Mereka hanyut oleh humor-humor beliau yang spontan. Oleh keharuan yang sampai membuat mereka semua menangis. Oleh keseriusan beliau kalau lagi marah. Dan oleh kesyahduan doa yang dipimpinnya.


Ada satu adegan yang tidak akan bisa dilupakan semua peserta retreat. Yakni di hari Sabtu. Ketika Romo Halim menunjukkan keihklasannya sebagai pelayan umat. Pelayan dalam pengertian sebenarnya.


Hari kedua itu Romo Halim duduk bersimpuh di lantai, bertumpu pada lutut beliau. Di depan lutut itu ada baskom berisi air. Di dekat baskom itu ada kursi. Peserta diminta duduk di kursi itu. Dengan telapak kaki direndam di air di dalam baskom.


Saat itulah, dengan duduk bersimpuh di lantai itu Romo Halim mencuci kaki umatnya. Dengan doa. Dengan kasih sayang. Dengan ketulusannya.


Baskom itu diganti dengan baskom yang baru. Dengan air yang baru. Satu peserta lagi diminta duduk di kursi. Merendam kaki di baskom. Kaki itu dicuci oleh Romo Halim. Sampai bersih. Sampai semua peserta mendapat giliran.


Yang suami-istri kaki mereka dimasukkan bersama ke baskom yang sama.


Memang ada yang datang ke retreat tanpa istri. Atau tanpa suami. Anda sudah bisa menebak: lagi bertengkar. Sering hari kedua pasangan mereka sudah menyusul.


Siapa saja - -tanpa melihat suku dan agama-- bisa menjadi anggota Tulang Rusuk. Syaratnya hanya satu: sudah kawin selama paling tidak lima tahun.


"Kalau belum lima tahun biasanya belum bertengkar," ujar Teguh Kinarto sambil tertawa.


Saya sebenarnya juga ingin ikut ke Batu. Tapi ada seruan tidak boleh ada yang datang - -karena Covid.


"Kemungkinan besar bukan di Batu abu beliau disemayamkan. Mungkin di Poh Sarang," ujar Johanes Tjandra.


Poh Sarang, di lereng gunung Wilis, Kediri memang menjadi salah satu Katolik Center di Jatim. Kebetulan sudah banyak juga Romo yang abunya disimpan di sana.


Tidak menyangka Romo Halim meninggal karena Covid. Begitu disiplin. Usianya pun baru 65 tahun –yang untuk zaman sekarang masih dibilang muda.


Awalnya, disangka, Romo Halim dapat serangan jantung. Beliau memang ada riwayat jantung.


Itu dua tahun lalu. Ketika beliau ke Australia. …


Rabu, 06 Januari 2021

GEREJA KATOLIK MANGGARAI

 GEREJA  KATOLIK  MANGGARAI


Semua Karena Cinta: 

Mengenang 100 Tahun SVD Berkarya di Manggarai Raya-NTT, 1920 – 23/9 – 2020


Oleh P. Kons Beo, SVD – Tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Sumber: https://florespos.co.id/berita/detail/semua-karena-cinta-mengenang-100-tahun-svd-berkarya-di-manggarai-rayantt-1920--239--2020


Hadir Dengan Sepenuh Hati

Kamis, 23 September 1920. Satu tonggak sejarah Gereja Katolik di wilayah Manggarai Raya-Flores berawal. Di hari itu, misionaris perdana SVD mulai menetap di Ruteng. Di tahun yang sama, 1920 itu, mulai berawal satu stasi baru bagi Serikat Sabda Allah, stasi Ruteng. Adalah P. Bernhard Glaneman, SVD dan P. Frans de Lange, SVD secara perlahan mengawali misi perdana itu. Inilah tapak awal ziarah missioner SVD di Manggarai Raya. Di tahun-tahun selanjutnya, barisan misionaris SVD secara perlahan injakkan kaki di wilayah ini. Tentu kehadiran para misionaris yang semakin bertambah itu berdampak pada pentingnya keberadaan sentrum pelayanan umat. Karenanya, Stasi Rekas, di wilayah barat Manggarai, dibangun tahun 1926, menyusul Lengko Ajang di tahun 1929 untuk wilayah utara dan timur Manggarai. Dari ketiga pusat misi ini, pada tahun-tahun selanjutnya, beranakpinaklah berbagai pusat pelayanan umat. Berkembang hingga hari ini. Bila disusun silsilah semua Paroki di wilayah keuskupan Ruteng, maka semuanya ‘berketurunan’ awal dari stasi Ruteng, stasi Rekas, dan dari  stasi Lengko Ajang.

Tentu, sebagian besar masyarakat (umat) Manggarai Raya tetap mengenang sosok-sosok tangguh misionaris Eropa yang telah patrikan sejarah hidup mereka di tanah Nuca Lale ini. Wilayah Barat tak mungkin lepas dari nama-nama seperti P. Eicmann, SVD dan P. Josef van Hoef, SVD; wilayah Lengko Ajang tetap abadikan nama P. Wilhem Janssen, SVD. Ada nama-nama seperti P. Jilis Verheijen, SVD yang mencintai dan menyusun Kamus Bahasa Manggarai; ada P. Wilhem van Bekkum, SVD yang sungguh mencintai Budaya Manggarai. Ada P. Jan van Roosmalen, SVD yang serius peduli akan  pendidikan para katekis dan rasul awam. Teringat pula P. Piet de Graaf dengan ‘tumari’ (tungku matahari), P. Hanz Runkel, SVD, P. Frans Mezaros, SVD, P. Stanis Ograbek, SVD. Dan tentu, para alumni senior  Seminari Pius XII-Kisol tak mungkin melupakan sosok si bangau putih P. Leo Peric, SVD, dan seterusnya.


Selain misionaris Eropa, barisan SVD Ruteng yang berasal dari tanah air yang telah berpulang juga tetap dikenang oleh umat di Manggarai Raya. Semisal P. Bruno Bras Conterius, SVD yang ‘terkenal di wilayah selatan; terkenang pula P. Karel Kale Bale, SVD, P. Yosef Delang, SVD, P. Hila Gudi, SVD yang cukup ‘ditakuti’ di wilayah Ka Redong dan sekitarnya, P. Blasi Woda, SVD, P. Frans Mido, SVD, P. Krispi Taso, SVD,  P. Agus Watu, sang musikus P. Piet Pedo Neo, SVD dan seterusnya. Hingga hari ini, masih ada misionaris Eropa yang beristirahat letih di hari tuanya. P. Gallus Mittermeier, SVD di Sengari Reo, P. Thomas Krump, SVD di Ketang-Rejeng, P. Ernst Waser, SVD di Wangkung Cumbi, dan P. Stefan Wroz, SVD di Wisma SVD - Kisol.

Memang, amat tak baguslah untuk menghitung-hitung segala jasa dan ‘perbuatan baik’ dari sebuah Serikat religius missioner, yang tugas dan panggilan memberitakan Injil adalah memang satu keharusan. Kurang lebih itulah kata-kata Uskup Ruteng, Mgr. Sipri Hormat saat memimpin perayaan Ekaristi Yubileum 100 tahun kehadiran SVD di  Manggarai Raya pada 8 September 2020. Namun, bagaimanapun, kata Mgr. Sipri dalam kotbahnya, “Kami menjadi kami seperti sekarang ini juga karena kehadiran Serikat Sabda Allah. Adalah waktu dalam segala kisah dan peristiwa yang telah jadi saksi dari semuanya. Cikal bakal Keuskupan Ruteng, bahkan seluruh keuskupan di wilayah Nusa Tenggara ini telah diarsiteki oleh Serikat Sabda Allah…..”

Setiap langkah perutusan religius-misioner dari anggota SVD selalu dipayungi dan dialasi oleh kekuatan cinta. Provinsial SVD Ruteng, P. Paul Tolo, SVD dalam sambutan Jubileum berkeyakinan, “Keberadaan SVD dan saya adalah karena kecintaan pada Sabda dan kecintaan pada kemanusiaan. Itulah yang dilakoni oleh SVD dan juga setiap anggotanya di mana pun ia diutus.” Ya, hanya dengan mencintai Sabda, setiap anggota SVD dapat menjalankan tugas paling utama sebagai SVD, yakni mewartakan Sabda Allah.

Setelah 100 Tahun di Wilayah Manggarai Raya?

Jalan panjang 100 tahun telah dilalui. Penuh perjuangan, dengan segala suka duka yang dihadapi oleh setiap anggota SVD yang diutus ke wilayah Manggarai Raya, dengan topografinya yang menantang ini. Tentu usia setelah 100  tahun ini bukanlah satu titik segera memasuki episode emeritus, atau purnabakti. Di puncak perhelatan jubileum 100 tahun ini, tak ada seruan ‘selesailah sudah.’ Tahun-tahun religius-misioner, dengan segala tindak dan gelagat pastoral missioner, tetap terbentang luas di depan. Pater Superior Jendral SVD, P. Paul Budi Kleden, SVD, dalam sapaan Jubileum menyentil segala yang menjadi reksa misoner SVD Ruteng yang sepatutnya diseriusi di tahun-tahun mendatang. Passion for the Word-Passion for Humanity, demikian tema perayaan Jubileum ini, mesti merambah dan menyentuh secara khusus kaum miskin dan sederhana, kaum yang tak beruntung nasibnya, “yang hak-haknya sering kurang diperhatikan.” Semuanya tentu tetap terjumpakan dalam pengalaman perutusan selanjutnya.

Di tahun-tahun mendatang, SVD Ruteng mesti tetap berikiprah. Mgr. Sipri tetap menaruh harapan pada kehadiran dan perutusan SVD di wilayah Manggarai Raya, sambil tetap ingatkan betapa pentingnya membaca tanda-tanda zaman yang disebutnya sebagai “kemutlakan”. “Dengan itu pula,” demikian Mgr Sipri, “Komitmen misi SVD akan selalu tepat sasar atau tak salah arah….orientasi missi yang bernafaskan Kitab Suci, pada cinta alam dan lingkungan, dan penanaman semangat misi tetap bercitra dan berdampak pada kehidupan masyarakat, umat, keluarga-keluarga….dan Keuskupan Ruteng secara keseluruhan.”

Jubileum 100 Tahun SVD Menetap di Manggarai Raya: Momentum Pertobatan Religius-Misioner

Jalan panjang 100 tahun SVD menetap di Manggarai dan kemudian berkembang selanjutnya dalam perutusan hingga saat ini, tak cuma bercitra anggun dalam heroisme perutusannya. Dalam kekuatan dedikasi dan pelayanannya, ‘luka-luka misioner’ tentu tak terhindarkan; kesaksian hidup yang kurang bersinar dan mentereng tentu telah menjadi tantangan yang serius pula. Misionaris tak luput dari seribu pertanyaan kesangsian, walau ia mewartakan hanya satu berita tentang keselamatan. Kesadaran akan keterbatasan, kerapuhan serta kelemahan adalah pemakluman akan kerendahan hati dan kesahajaan di hadapan Sang Firman. Dengan demikian, selalu ada harapan baru untuk menerima rahmat agar kembali dapat melanjutkan ziarah religius-misioner.

Mgr Sipri sungguh mengajak dan sekian menyentuh hati para anggota SVD Ruteng untuk kembali kepada  jati diri, kepada identitas utama sebagai SVD. Menurutnya, identitas diri itu ditemukan dalam Nama: Serikat Sabda Allah. Intimitas dalam dan bersama Sabda itu sendiri adalah kekuatan bagi setiap anggota SVD. Pertobatan misioner dapat tergapai ketika intimitas dalam Sang Sabda terbersit dalam penghayatan spriritualitas Triniter yang bernafaskan Kasih Allah Tritunggal, pada misteri inkarnasi Sabda Menjadi Manusia, dan pada seruan profetik alkitabiah. Pertobatan religius-missioner itu membawa harapan dan keyakinan akan perjuangan  demi martabat hidup manusia, demi kebaikan bersama dan demi kedaulatan alam lingkungan.

Pertobatan misioner tentu juga merupakan buah dari kehidupan bersama yang unggul, dari alam kerja sama yang sejuk dengan rekan-rekan atau dengan semua partner dialog, terutama kaum awam. Dan di atas segalanya, pertobatan religius-misioner menutut apa yang ditegaskan oleh Pater Superior Jendral SVD, P. Paul Budi Kleden, SVD, sebagai “pembaruan komitmen perutusan dan kesaksian hidup yang nyata,baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan.” Hanya dengan cara ini, SVD Ruteng dapat tiba pada cita-cita  dan pada sekian banyak harapan sebagaimana telah dirumuskan pada setiap kesempatan dari waktu ke waktu.

Sepotong Akhir Kata

Jubileum 100 tahun SVD menetap di wilayah Manggarai Raya telah dirayakan pada tanggal 8 September 2020, bertepatan dengan hari ulang tahun ke-145 Serikat Sabda Allah (8 September 1875). Hingga hari ini, barisan anggota SVD Ruteng dengan segala gema religius-misionernya tergabung dalam Provinsi SVD Ruteng, yang berkarya di Keuskupan Ruteng (Manggarai Raya), Keuskupan Weetabula (Sumba) dan Keuskupan Denpasar (Paroki St. Yusuf – Bima).

Oleh  SVD sejagat, Provinsi SVD Ruteng, sejak tahun 1993, juga diberi kepercayaan dan mandat untuk menjalankan Formasi Awal bagi para calon religius-misionaris SVD, di Novisiat Sang Sada – Kuwu. Terpujilah para formator yang tekun, sabar, setia serta berketeladanan dalam mendampingi barisan SVD yunior di zaman now ini.

Proficiat 100 tahun Serikat Sabda Allah (SVD) di Bumi Manggarai Raya NTT. Semuanya memang karena cinta: “Semoga kehendak Allah diluhurkan selama-lamanya. Jika kita ingin berkenan kepada ALLAH, maka kehendak-Nya harus kita hormati dan patuhi dengan penuh cinta.” (St. Arnoldus Janssen, Pendiri SVD – SSpS – SSpSAp).

Bersama Keluarga Besar Arnoldus Janssen, para rekan awam, serta segenap partner dialog, kita berdoa: “Di hadapan Terang Sabda, dan Roh Pemberi rahmat,  Lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman. Dan semoga Hati Yesus diam dalam hati semua manusia.”*


______

SEJARAH GEREJA KATOLIK  DI MANGGARAI

https://www.facebook.com/share/v/1FQniVRMZb/

Akun FB: Arllhe


  1. Geraja Katolik  St. Maria Penghibur orang sakit  Rekas, Manggarai Barat,  mulai dibangun 1923 dan diresmikan 1925.  Rereja Katolik Rekas merupakan  Gereja tertua di Manggarai Raya. 
  2. Gereja  Katolik  St. Maria Asumta Katedral Lama Ruteng.  Mulai dikerjakan tahun 1920 -an   dan diresmikan tahun  1929 atau 1930. 
  3. Geraja Katolik St, Maria Pemersatu Bangsa   Lengko Ajang, Kec. Sambi Ramoas, Kabupaten Manggarai Timur. Dibangun tahun 1927 . 

JPS, 13 Oktober 2026.



Senin, 12 Oktober 2020

CARLO ACUTIS - ORANG KUDUS MILENIAL

 FAKTA - FAKTA TENTANG VENERABILIS CARLO ACUTIS 

Sumber WA: AMIGOS HIMO TIONG - dishare oleh Rm. Dr. Ino Sutam,Pr.

https://web.whatsapp.com/




1. Carlo Acutis lahir di London, Inggris pada tanggal 3 Mei 1991.


2. Ayahnya bernama Andrea Acutis dan Ibunya bernama Antonia Acutis


3. Ia dibabtis pada tanggal 18 Mei 1991 di Gereja Our Lady of Dolours, London.


4. Ia dibabtis dengan nama Carlo Maria Antonia


5. Carlo Acutis masuk TK pada usia 4 tahun pada tahun 1995


6. Carlo Acutis masuk SD dan Sekolah Menengah di INSTITUTO TOMMASEO


7. Serial Anime favorit Carlo Acutis adalah Pokemon 


8. Pada tanggal 16 Juni 1998 di Biara Pertapa Perego, Carlo Acutis menerima Komuni Kudus Pertamanya. 


9. Gereja Paroki asal Carlo Acutis adalah Gereja Santa Maria Segreta, Milan


10. Carlo Acutis mengumpulkan data lebih dari 136 Mukjizat Ekaristi.


11. Carlo mengikuti Misa setiap hari. Menurut Nicola Gori, Postulatornya, " Carlo memimpin untuk menarik anggota keluarganya, orangtuanya untuk menghadiri Misa setiap hari. Dialah yang berusaha untuk menghadiri Misa dan meyakinkan orang lain untuk menerima Komuni setiap hari. 


12. Ketika mereka melakukan perjalanan, urutan kewajiban pertama yang diminta Carlo adalah menemukan sebuah Gereja dan mencari jadwal Misa


13. Carlo sangat ahli dalam bidang komputer hingga teman-temannya yang lebih tua dengan gelar Teknik Komputer menyebut dia Jenius.


14. Salah satu tempat favorite Carlo adalah Asisi, tempat kelahiran St. Fransiskus, di daerah Umbria, Italia


15. Carlo menjadi seorang Katekis pada usia 11 tahun


16. Carlo mengaku dosa dan menerima Sakramen Tobat seminggu sekali


17. Carlo sangat berdevosi kepada Bunda Maria Rosario khususnya dengan gelar Bunda Maria Fatima dan Bunda Maria dari Pompeii 


18. Carlo tahu cara menggunakan Adobe Photoshop, Dreamweaver, PowerPoint dan program - program rumit lainnya.


19. Carlo adalah seorang pencinta binatang. Ia memiliki kucing dan anjing sebagai binatang peliharaannya.


20. Menurut sepupunya, Carlo biasa membuat film pendek dimana tokoh tokoh protagonist utamanya adalah hewan peliharaannya, dia sendiri membuat dialognya sambil berbicara dengan cara Chipmunk.


21. Carlo menghabiskan dua setengah tahun untuk meneliti dan membuat katalog tentang mukjizat Ekaristi di seluruh dunia .


22. Carlo berperan penting dalam pertobatan Rajesh Mohur, seorang "Teman sejatinya" dan Kolaborator keluarganya dari Agama Hindu ke Agama Katolik karena Contoh cara hidup Carlo


23. Carlo memiliki gaya hidup sederhana. Ketika ibunya menyarankan untuk membelikan Carlo barang-barang mahal seperti sepasang sepatu baru, Ia menolak.


24. Salah satu tempat favorit Carlo adalah Monte Subasio di provinsi Perugia, Umbria, Italia Tengah, dimana daerah lerengnya terletak kota tua Asisi dan Spello


25. Carlo adalah pembawa damai. Ia membela orang-orang yang menjadi korban bullying


26. Carlo berdevosi kepada St. Fransiskus Asisi dan St. Antonius Padua


27. Carlo membaca banyak buku dan mempelajari Software Komputer dan Programming secara otodidak


28. Carlo belajar di Sekolah Menengah Atas Instituto Leone XIII (sebuah lembaga Yesuit)


29. Ayah Carlo adalah Andrea Acutis, memiliki Ibu asal Polandia, ia jarang muncul di Gereja karena banyak bekerja


30. Carlo sangat peka terhadap situasi dan masalah yang dihadapi teman-temannya 


31. Carlo menyukai video games, diantaranya Gamecube, Xbox dan Playstation. 


32. Carlo percaya bahwa cara yang paling efektif untuk menolong jiwa-jiwa di api penyucian adalah Misa Kudus.


33. Briciola adalah nama anjing kesayangan Carlo, masih hidup hingga saat ini dan berusia 15 tahun


34. Carlo mendokumentasikan Penampakan Bunda Maria di Bechwat, Lebanon


35. Carlo menyukai olahraga Sepak Bola


36. Walaupun Carlo tidak terlalu mahir dalam SepakBola, ia tetap menikmatinya dan menjadi salah satu Fans dari Tim Sepak Bola A.C. MILAN

Ia memiliki Jersey dengan tulisan nama idolanya Paul Scholes (8), pemain Manchester United. 


37. Menurut salah satu teman baik Carlo, ia merasa beruntung bertemu dengan Carlo dan menganggap Carlo sebagai seorang Kristen sejati.


38. Carlo bekerja sebagai seorang relawan di sebuah dapur untuk memasak Sup bagi orang miskin


39. Setiap hari Carlo menghabiskan waktu beberapa menit untuk berdoa dengan tenang dihadapan Tabernakel 


40. Carlo suka membuat lucu. Ia selalu membuat teman-teman sekelasnya tertawa dan kadang-kadang membuat lucu dengan meniru Guru Bahasa Perancis mereka


41. Pada saat usia dimana anak laki-laki cenderung membaca cerita-cerita global yang tak berguna, Ia membaca buku tentang Api penyucian dan doa-doa yang dipersembahkan bagi jiwa-jiwa yang menderita di api penyucian. 


42. Selain ketertarikannya pada Komputer, Sepakbola, Games, ia juga tertarik dengan Mobil-mobil.


43. Walaupun Carlo berasal dari keluarga yang kaya raya, ia tidak pernah meninggikan diri diatas mereka yang lainnya


44. Antonia Salzano, ibu dari Carlo mengatakan bahwa puteranya membawanya kembali kedalam Iman Katolik.


45. Carlo tertarik pada seorang gadis, yakni teman sekelasnya, tetapi mereka hanya sedikit sekali berinteraksi karena mereka masih terlalu muda.


46. Carlo memiliki apa yang disebut dengan "kotak" untuk menjadi orang suci


47. Carlo berdevosi kepada para malaikat kudus


48. Carlo memiliki devosi khusus kepada St. Mikhael dan sering mengunjungi tempat Kudusnya di Gargano


49. Upaya Carlo adalah misionaris sejati:

(1). Menjangkau sebanyak mungkin orang


50. (2). Memperkenalkan mereka pada keindahan dan kegembiraan akan persahabatan dengan Yesus


51. Carlo terinspirasi oleh karya karya sesama orang Italia yakni Beato James Alberione.

Beato James Alberione adalah seorang pendiri Paulines dan Puteri-puteri St. Paulus. Beato James Alberione dan komunitas religius yang ia dirikan dikenal karena meletakkan bentuk baru media dalam pelayanan Injil. 


52. Dengan kekayaan Carlo, ia berhati-hati untuk tidak menghabiskan uangnya. Ia bahkan berdonasi untuk Biara Kapusin di Viale Piave, Milan, Italia, yang melayani memberi makan kepada orang-orang yang tidak mempunyai rumah. 


53. Selain memberi uang untuk orang-orang miskin, ia juga mendonasikan 'sleeping bags' kepada para tunawisma saat perjalanannya untuk menghadiri Misa di Gereja Santa Maria Segreta.


54. Kegiatan Carlo selain Komputer dan SepakBola, ia juga mengajar Katekese kepada anak-anak, memberi makan orang-orang miskin di kantin Caritas, dan menghabiskan waktu dengan anak-anak Oratory.


55. Pada september 1991, keluarga Carlo kembali dari London ke Milan, negara merela berasal yakni Italia.


56. " KETIKA ANDA BERJEMUR DIBAWAH MATAHARI, KULIT ANDA MENJADI KECOKLATAN. TETAPI KETIKA ANDA MENEMPATKAN DIRI ANDA DIHADAPAN YESUS DALAM EKARISTI, ANDA MENJADI ORANG KUDUS." Carlo Acutis


57. Carlo memiliki beberapa model surgawi muda dalam kehidupannya yakni: 

- Santo Fransisko Marto dan Santa Yasinta Marto

- Santo Dominikus Savio

- Santo Tarsisius

- Santa Bernadeta Soubirous


58. "Carlo memiliki Yesus didalam hatinya. Sungguh-sungguh Kemurnian. Jika kau memiliki hati yang benar-benar murni, kau benar-benar dapat menyentuh hati orang lain." ( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


59. "Anda tidak perlu memandang Carlo sebagai seorang yang sempurna, dia adalah seorang anak yang harus didisiplinkan". ( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


60. "Carlo sedikit perfeksionis tetapi tidak obsesif. Dia selalu mencoba untuk memperbaiki". ( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


61. "Carlo suka makan dan pada satu titik dia merasa terlalu memanjakan diri. Ia kemudian memaksakan diri lebih banyak pantang - untuk makan dan menikmati makanan tetapi pada waktu yang tepat dan cara yang tepat. Dia berjuang tapi dia mencapainya". ( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


62. "Pasti mukjizat yang dilakukan oleh Perawan Maria selama penampakannya di bumi dapat sangat membantu untuk meningkatkan iman banyak orang. Bagaimana mereka bisa diabaikan." Dia sering bertanya, "Permohonan yang Bunda Maria dapat berikan kepada kita? Namun", dia berkata, "mengetahui iman kecil kita, dalam kebaikan keibuannya, Bunda Maria ingin melakukan keajaiban yang tak terhitung jumlahnya dengan tepat untuk membantu kita percaya, namun terlepas dari tanda-tanda yang menakjubkan ini, masih banyak orang, hingga hari ini, tetap tidak peduli." - Carlo Acutis


63. Carlo pernah berkata, "Mereka akan mengantri untuk menonton konser, tapi tidak mau berdiri sesaat saja di depan Tabernakel." 

Carlo berkata kepada ibunya bahwa ketika dia berada di depan Ekaristi Kudus, Ia merasakan Jiwanya terangkat dengan cara tertentu.


64. Bersemangat untuk melakukan sesuatu untuk menarik jiwa kepada Yesus, Carlo muda mulai mengumpulkan data mukjizat Ekaristi. Dia diyakinkan bahwa orang-orang tidak mampu untuk menjauh dari Misa Kudus jika mereka tahu tentang mukjizat - mukjizat Ekaristi yang diakui. 


65. "MENGAPA MANUSIA SANGAT PEDULI DENGAN KEINDAHAN TUBUH MEREKA, TETAPI TIDAK MENGKHAWATIRKAN KEINDAHAN JIWA MEREKA" - Carlo Acutis


66. "Aku akan mati muda." Carlo diyakinkan bahwa dia tidak akan hidup hingga tua. Dia meninggal pada tanggal 12 Oktober 2006 pada usia 15 tahun, karena Leukimia. 


67. Carlo didiagnosa menderita Leukimia, tiga hari sebelum kematiannya. Dia dikuburkan di Asisi sesuai dengan keinginannya. 


68. Sesaat sebelum kematiannya, Carlo mempersembahkan penderitaannya bagi Bapa Suci dan Gereja. 


69. Ketika Dokter yang merawatnya bertanya kepadanya apakah dia begitu menderita, Carlo menjawab: " Ada orang-orang yang lebih menderita dariku."


70. Pemakaman Carlo dipenuhi dengan orang-orang yang membanjiri jalan-jalan di Milan. Para remaja berpakaian rapi dari Sekolah Menengah Atas Yesuit Carlo bercampur dengan tunawisma dan penjaga pintu asing yang tak terhitung jumlahnya, termasuk orang-orang dari agama lain. Ini adalah orang-orang yang orangtuanya bahkan tidak pernah tahu bahwa Carlo berteman dengan mereka dalam perjalanan pulangnya dari sekolah setiap hari. 


71. Beberapa hari setelah pemakaman, saat fajar sebuah suara membangunkan saya: 'wasiat'. Saya membongkar kamarnya, berpikir bahwa saya akan menemukan tulisan di sana. Tidak ada. Saya menyalakan komputer, instrumen yang saya sukai. Di meja, ada video pendek yang dia rekam sendiri di Asisi tiga bulan sebelumnya. 

"Saat beratku 70 pounds, aku ditakdirkan untuk mati." Dan aku memandang Langit tanpa beban." 

( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


72. Pada hari-hari terakhir Carlo, ia verkata kepada ibunya, " Kita selalu dinantikan di Surga." Dan sesaat sebelum kematiannya, ia dengan gembira berkata kepada ibunya, " Saya bisa meninggal dengan bahagia, karena saya tidak mensia-siakan waktu hingga satu menit pun untuk hal-hal yang tidak menyenangkan Tuhan." 


73. Proses kanonisasi Carlo dimulai pada tanggal 15 Februari 2013, Carlo diumumkan sebagai HAMBA TUHAN. Pada tanggal 13 Mei 2013, Paus Fransiskus mengumumkan Carlo sebagai VENERABILIS pada tanggal 5 July 2018.


74. Berbagai Mukjizat yang berhubungan dengan Carlo segera terjadi diantaranya: Seorang wanita berusia 45 tahun yang sudah tidak bisa mengandung lagi selama bertahun-tahun, kemudian Hamil lagi seminggu setelah pemakaman Carlo.

Ada lagi wanita lain yang menderita penyakit Kanker kemudian disembuhkan secara ajab pada saat pemakaman Carlo. 


75. Mengapa mementingkan apakah anda bisa memenangkan seribu pertempuran jika anda sendiri tidak bisa menang melawan hasrat yang merusak anda sendiri? Tidak masalah. Pertarungan sebenarnya adalah dengan diri kita sendiri - Carlo Acutis 


76. Carlo sangat menyadari perlunya menggunakan waktu dengan baik dan bahkan saat itu - mereka memiliki pesan saat itu juga - dia berpikir ini adalah penggunaan waktu yang sangat buruk. 

Dia melihat internet sebagai sebuah cara untuk menjangkau banyak orang, tetapi dia juga mengatakan betapa mengerikannya bahwa internet juga dipakai oleh setan, terutama, bahkan kemudian, UNTUK PORNOGRAFI.

( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


77. Carlo sangat sadar, sangat sadar, tentang perjuangan orang lain. Seolah-olah dia bisa melihat dosa apa yang ditanggung orang-orang tersebut dan DIA SELALU BERUSAHA MEMBANTU ORANG. Teman-temannya berjuang melawan ketidakmurnian dan bereksperimen dengan narkoba. Dia selalu berusaha membantu mereka. 

( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


78. Carlo mengatakan bahwa Kematian adalah awal dari kehidupan baru. Tuhan mengizinkan, sayangnya, Salib dan penderitaan karena dosa asal. 

Dia percaya bahwa Sakramen-Sakramen adalah BelasKasih Allah untuk memampukan kita menanggung penderitaan .

( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


79. Sebelum kematian Carlo, ia berkata kepada ibunya, " Mama, saya ingin meninggalkan rumah sakit ini, tetapi saya tahu saya tidak akan melakukannya dalam keadaan hidup, saya akan memberimu tanda-tanda, bahwa saya bersama Tuhan. GOLGOTA UNTUK SEMUA ORANG. TIDAK SEORANG PUN YANG BISA MELARIKAN DIRI DARI SALIB".


80. "IN CHRISTUS VIVIT (KRISTUS HIDUP)." -Khotbah Paus Fransiskus kepada Orang-orang muda. Paus mengatakan Carlo Acutis adalah role model bagi orang-orang muda zaman ini yang sering tergoda oleh penyerapan diri, isolasi, dan kesenangan. 


81. Mukjizat yang menuntun pada beatifikasi Carlo termasuk kesembuhan seorang anak laki-laki dari Brazil yang menderita penyakit pankreas bawaan yang langka selama tiga hari. Keluarga anak tersebut berdoa novena dengan seorang Imam yang berdevosi khusus kepada Venerabilis Carlo Acutis. Pada hari ketiga anak tersebut mengatakan bahwa ia ingin makan. Para Dokter kemudian menyampaikan bahwa anak tersebut telah sembuh sepenuhnya. 


82. Pada tanggal 23 Januari 2019: Jasad Carlo Acutis, digali sesuai dengan Hukum Kanonik dan dipindahkan ke lokasi yang sesuai dalam rangka persiapan pemindahan mereka ke tempat renunsiasi di Asisi. 


83. "Terus- teruslah meninta pertolongan Malaikat pelindungmu. Malaikat pelindungmu harus menjadi teman baikmu" - Carlo Acutis 


84. Ketika Carlo masih kecil, ia pergi ke pantai, ia membawa serta masker, dan membuat permainan "PERGI BERBURU" untuk sampah-sampah di pantai. Ia sering membawa anjing-anjing untuk berjalan-jalan di taman dan mengumpulkan sampah yang ada disana. Hanya hal-hal kecil untuk membuat sudut dunia yang lebih baik. 

( Antonia Salzano, ibunda Carlo Acutis)


85. Orang-orang yang menghadiri pemakaman Carlo memperhatikan bahwa dari Jasad Carlo tercium aroma bunga lili. Mereka menghubungkannya dengan Kemurniannya dan devosinya kepada St. Antonius dari Padua.


86. Carlo sangat mencintai Bunda Maria, dan tidak pernah melewatkan janjinya untuk berdoa Rosario Kudus yang ia sebut, 'KENCAN YANG PALING ROMANTIS SEPANJANG HIDUP SAYA'. 


87. Apakah anda pernah berpikir bahwa suatu hari nanti putera anda akan diangkat untuk dihormati di altar? Mereka bertanya kepada Ibunda Carlo, Antonia Salzano, dalam interview terbaru. Ia menjawab: " SAYA YAKIN DIA SUDAH MENJADI ORANG KUDUS SEJAK DIA MASIH HIDUP. IA MENYEMBUHKAN SEORANG WANITA DARI PENYAKIT TUMOR, DENGAN MEMOHON KEPADA BUNDA MARIA DARI POMPEII."


88. Website yang dibuat Carlo masih naik di internet. www.miracoli.eucaristici.org

Pameran internasional tentang keajaiban Ekaristi yang diciptakan dan dirancang oleh hamba Tuhan, VENERABILIS CARLO ACUTIS.


Diterjemahkan oleh S Katholik 

Sumber: Tropa ni Carlo Acutis 

#GROUPAGAMAKATHOLIK 

#SKATHOLIK

Rabu, 26 Agustus 2020

HAL BERDOA: APA YANG KITA DAPAT DARI TUHAN

 HAL BERDOA: APA YANG KITA DAPAT DARI TUHAN


[09:53, 8/27/2020] Mm Juan: Kebor diong kole hitu gra emkoe Rafly🤭🤭🤭🤣🤣

[09:57, 8/27/2020] Mm Juan: Dapat tulisan sebagus ini, sayang untuk tidak dishare == 😊


Suatu kali seorang Ayah ditanya oleh anaknya:


"Mengapa Ayah selalu rajin berdoa padahal keadaan ekonomi kita tetap biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dgn seringnya Ayah berdoa secara teratur kepada Allah ?".


Sang Ayah menjawab:


"Tidak ada yg Ayah dapat, malah Ayah banyak kehilangan; tetapi ....... Ayah akan beritahu kepadamu Nak, apa-apa saja yang hilang itu ...".


Ternyata yang hilang adalah:

- Kekuatiran.

- Kemarahan.

- Depresi.

- Kekecewaan.

- Sakit Hati.

- Kerakusan.

- Ketamakan.

- Kebencian.

- Kesombongan.


"Setiap kali setelah berdoa Ayah selalu kembali menjadi tenang".


Kadangkala, jawaban atas doa kita tidak selalu tentang "apa yg kita dapat" tetapi justru "apa yg hilang" dari kehidupan kita.


Janganlah selalu mengukur kebaikan Allah dari "apa yang kita dapat" karena terkadang Allah bekerja lewat "apa yang hilang" dari kehidupan kita...


Dahsyatnya KUASA Doa


⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌Ĝöð Blҽŝs Yöű·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣


Sumber: WAG  Keluarga Wela Jakarta

https://web.whatsapp.com/


JPS, 27 Agustus 2020

____________________________________________________________